Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.
Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:
Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.
Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 6 - Dunia di Bawah Langit Kembar
Gerbang kedua tidak seperti yang pertama. Lengkungannya menjulang lebih tinggi, terbuat dari batu hitam yang berkilauan seperti permata, dan kabut di tengahnya berputar perlahan, memancarkan cahaya perak yang dingin namun menenangkan. Saat Kai melangkah mendekat, liontin di dadanya bersinar terang — emas murni yang menyatu dengan cahaya perak gerbang itu, seakan saling menyapa.
"Siap?" tanya Elara pelan, tangannya sudah memegang gagang pedang.
Kai mengangguk, memeluk Aurelia lebih erat. Gadis kecil itu tidak lagi takut — matanya justru berbinar penasaran.
"Berangkat," ucapnya mantap.
Mereka melangkah masuk. Sensasi kali ini berbeda — tidak ada tarikan yang membingungkan, melainkan perjalanan yang halus, seakan meluncur di atas permukaan sungai cahaya. Angin lembut membelai wajah mereka, dan sebelum mereka menyadarinya, langkah kaki sudah menapak tanah yang berbeda.
Langit di atas kepala mereka berwarna biru tua yang jernih, dihiasi dua bulan — satu berwarna perak pucat, satunya keemasan samar — yang melayang berdampingan, memancarkan cahaya lembut ke seluruh negeri. Di sekeliling mereka terbentang padang rumput berwarna ungu keemasan, yang bergoyang tertiup angin seolah ombak di lautan luas. Di kejauhan, kota-kota menara menjulang dengan dinding bercahaya, dan di antara mereka, jalur-jalur cahaya melayang di udara, menghubungkan tempat-tempat yang tampak mustahil dijangkau dengan kaki.
"Ini… Dunia Langit Kembar," bisik Ren takjub, matanya membelalak melihat pemandangan yang tak pernah ia bayangkan. "Tempat di mana energi langit dan bumi menyatu paling sempurna."
"Namun di sinilah ujian sesungguhnya dimulai," suara berat Dagan memecah kekaguman. Ia menunjuk ke arah bukit di depan mereka, di mana sebuah bangunan besar berdiri — benteng kuno yang terbuat dari batu putih, bendera lusuh berkibar di menara tertingginya. "Itu adalah Pos Jaga Pertama. Setiap orang yang melintasi dunia ini harus meminta izin dari Penguasa Langit. Dan kabarnya, mereka tidak mudah mempercayai orang asing."
Mereka berjalan menuju benteng itu. Semakin dekat, semakin jelas terlihat kesibukan di sana — penjaga berjubah putih berpatroli di dinding, memegang senjata yang ujungnya menyala cahaya lembut. Saat melihat rombongan Kai, pintu gerbang utama terbuka, dan sekelompok orang keluar menyambut mereka — bukan dengan senjata terhunus, melainkan dengan tatapan menyelidik.
Pemimpin mereka adalah seorang wanita berambut perak yang terikat rapi, wajahnya tenang namun tegas. Ia melangkah maju, menatap Kai tepat di mata, lalu pandangannya turun ke liontin di dadanya, lalu ke Aurelia di pelukannya.
"Aku Lyra, Komandan Pos Jaga," suaranya jernih dan tegas. "Kalian datang dari dunia bawah. Apa tujuan kalian melintasi wilayah kami?"
Kai meletakkan Aurelia perlahan di tanah, namun tetap berdiri dekatnya. "Namaku Kai. Ini Pasukan Kebangkitan. Kami tidak datang untuk menguasai atau merusak. Kami mencari cara menyembuhkan putriku — Aurelia. Penyakitnya hanya bisa diobati dengan energi murni dari dunia-dunia seperti ini."
Lyra mengerutkan kening. "Energi dunia kami tidak sembarangan diserap orang asing. Jika tubuhnya tidak mampu menampungnya, ia akan hancur, bukan sembuh."
"Kami tahu," jawab Elara melangkah maju. "Tapi ia membawa Darah Naga Tertinggi. Tubuhnya sendiri adalah wadah yang diciptakan untuk energi seperti ini."
Saat kata-kata itu terucap, ekspresi Lyra berubah. Ia mundur selangkah, menatap Kai dengan pandangan yang berbeda — campuran takjub dan waspada.
"Darah Naga…" bisiknya pelan. "Kisah itu bukan sekadar dongeng?"
"Nyata seperti napas kita," jawab Kai tenang. "Dan ia sedang diburu. Mereka yang menginginkannya sudah mengejar kami dari dunia asal."
Lyra terdiam lama, lalu memberi isyarat agar mereka mengikuti. "Masuklah. Tapi jangan berharap Penguasa akan mempercayai kata-kata ini dengan mudah. Ia adalah orang yang paling waspada terhadap ancaman dari luar."
Di dalam benteng, mereka dipersilakan beristirahat di ruangan yang sederhana namun nyaman. Aurelia segera tertidur pulas, tubuhnya semakin kuat namun masih membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya. Sementara itu, Kai duduk di dekat jendela, menatap dua bulan di langit, pikirannya berkelana jauh.
"Kau cemas," ucap Elara duduk di sampingnya pelan.
"Lyra tidak sepenuhnya menolak kami," jawab Kai tanpa menoleh. "Tapi ada sesuatu yang ia sembunyikan. Seakan nama Darah Naga membawa ketakutan di sini."
Ren yang berdiri di sudut ruangan berbicara pelan. "Aku mendengar percakapan dua penjaga tadi. Mereka bilang, sudah ada orang yang lewat ke sini sebelum kami. Orang yang mencari keturunan naga — dan mereka membawa perintah dari tempat yang disebut 'Menara Bayangan'."
Kai mengepalkan tangannya. "Jadi mereka sudah lebih dulu sampai."
"Belum tentu lebih dulu," Dagan menimpali, suaranya berat namun menenangkan. "Mungkin mereka mengirim pesan lebih cepat. Tapi mereka belum tahu persis siapa kami."
Malam itu, sesuatu terjadi. Saat seluruh benteng tertidur, cahaya merah menyala tiba-tiba di langit, membelah keindahan biru tua itu. Lonceng peringatan berbunyi nyaring, membangunkan semua orang. Kai melompat berdiri, Aurelia sudah terjaga di pelukannya.
"Serangan!" teriak seseorang dari luar.
Mereka berlari ke halaman benteng. Di sana, puluhan sosok berjubah gelap menyerang penjaga benteng, senjata mereka memancarkan asap hitam yang melumpuhkan siapa pun yang terkena. Lyra bertarung di garis depan, namun jumlah musuh terlalu banyak.
"Melindungi warga!" perintah Kai tegas. "Ren, bantu penjaga gerbang! Dagan, lindungi sayap kiri! Elara, ikutku!"
Kai melesat ke tengah pertempuran, cahaya keemasan memancar dari tubuhnya, membentuk perisai yang mendorong musuh menjauh dari para penjaga yang terluka. Ia tidak menyerang membabi-buta — ia melindungi, menopang, memberi ruang bagi mereka yang lemah untuk mundur.
Namun pemimpin pasukan penyerang itu muncul — sosok tinggi bertopeng, pedangnya berkilauan dengan cahaya hitam pekat. Ia melompat ke arah Kai, serangannya begitu cepat hingga Kai hampir tak sempat menangkis.
"Serahkan anak itu," suaranya menggelegar, bergetar di udara. "Dan kau boleh hidup."
Kai menatapnya, lalu menyadari sesuatu — gerakan pedang itu, cara berdiri, semuanya mengingatkannya pada seseorang yang dulu ia kenal.
"Kau…" bisiknya tak percaya. "Guru?"
Sosok itu tertegun sesaat, lalu tertawa dingin. "Murid yang dibuang akhirnya mengenali gurunya. Sayang sekali, kau terlambat."
Ia melepaskan serangan yang begitu kuat hingga Kai terpental mundur, menabrak dinding benteng, napasnya tertahan. Aurelia berteriak cemas, berlari ke arahnya tanpa takut.
"Ayah!"
Jari-jari kecilnya menyentuh dada ayahnya, dan seketika itu, cahaya hangat memancar dari tubuh gadis itu — bukan emas, melainkan putih keemasan, lebih murni, lebih lembut, namun jauh lebih menenangkan daripada yang pernah Kai miliki. Cahaya itu menyebar, tidak hanya menyembuhkan luka Kai, tetapi juga mendorong musuh mundur seakan terbakar oleh sinar matahari yang tak sanggup mereka hadapi.
Pemimpin bertopeng itu mundur tergesa-gesa, menatap Aurelia dengan pandangan yang bercampur takut dan serakah. "Kekuatan… yang sejati…" bergumamnya, lalu berteriak, "Mundur! Kita tidak bisa melawannya malam ini!"
Pasukannya lenyap seketika, seperti kabut yang tersapu angin.
Kai bangkit perlahan, tak memedulikan tubuhnya yang masih terasa sakit. Ia memeluk Aurelia erat-erat, matanya berkaca-kaca. "Kau… menyelamatkan Ayah."
Gadis kecil itu tersenyum malu-malu. "Ayah juga selalu menyelamatkanku. Jadi aku ingin melindungi Ayah juga."
Di samping mereka, Lyra berdiri memandang mereka dengan pandangan yang berubah sepenuhnya. Ia melangkah maju, menunduk hormat kepada Kai, lalu kepada Aurelia.
"Maafkan keraguanku," ucapnya tulus. "Kau bukan sekadar pembawa kekuatan, Kai. Kau membawakan harapan. Dan gadismu… ia adalah keajaiban yang tak pernah kami duga."
Kai mengangguk pelan. "Mereka akan kembali, Lyra. Dan kali ini dengan kekuatan yang lebih besar."
"Biarkan mereka," jawab Lyra tegas, menarik pedangnya dan menancapkannya ke tanah di depan Kai. "Pasukan Kebangkitan tidak sendirian lagi. Mulai hari ini, seluruh kekuatan Pos Jaga berdiri di pihakmu."
Matahari pertama mulai terbit di ufuk timur, menyinari langit kembar yang perlahan berubah warna menjadi keemasan lembut. Kai menatap teman-temannya, menatap Lyra dan pasukannya, lalu ke arah Aurelia yang tersenyum di pelukannya.
Perjalanan ini makin berbahaya, musuh makin dekat, dan rahasia di balik pengkhianatan makin terungkap. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian. Dan untuk pertama kalinya, ia paham — kekuatan terbesar bukanlah yang ada di dalam darahnya, melainkan orang-orang yang berdiri di sisinya.