NovelToon NovelToon
SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas / Orang Disabilitas / Nikah Kontrak
Popularitas:52.7k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.

Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.

Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.

Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Satu Panggilan yang Berarti

Alisha perlahan membuka mata ketika cahaya pagi yang menyelinap melalui celah tirai menerpa wajahnya.

Ia masih berada dalam pelukan Ares. Begitu mencoba mengubah posisi, tubuhnya langsung menegang.

“Auwh...”

Suara kecil itu membuat Ares terbangun. Tangannya yang semula berada di pinggang Alisha langsung bergerak menahan tubuh perempuan itu.

“Kenapa? Sakit?” tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.

Alisha menggigit bibir. Pipinya memanas. “Dikit.”

Ares langsung mengangkat tubuhnya sedikit. “Bagian mana?”

“Gak apa-apa.” Alisha menarik selimut lebih tinggi. “Cuma agak perih. Badanku juga pegal semua.”

Sorot mata Ares berubah. “Maaf.”

Wajah Alisha memerah. “Ini gegara kamu.”

Ares terdiam sesaat, lalu terkekeh kecil. “Maaf.”

Alisha langsung memukul dadanya pelan. “Jangan ketawa.”

Ares menangkap tangan itu. “Tapi semalem kamu juga gak nolak pas aku minta tambah.”

“Diam.” Telinga Alisha ikut memerah.

Ares tersenyum kecil sebelum kembali menariknya ke dalam pelukan. Ia mengecup puncak kepala Alisha dengan lembut. “Hari ini izin dulu.”

“Aku masih bisa masuk kantor.”

“Gak.” Kali ini suara Ares terdengar tegas.

“Ares...” Alisha sendiri baru menyadari panggilan itu. Tidak ada lagi Tuan.

Ares pun tampaknya menyadarinya. Tatapannya sempat berhenti pada wajah Alisha, tetapi ia tidak mengomentarinya. “Jangan nekat pergi, nanti aku kirim surat dokter ke kantormu."

“Tapi—”

“Gak ada tapi.” Ares merapikan selimut sampai menutupi tubuh Alisha. “Istirahat.”

Alisha mengembuskan napas pasrah.

“Aku harus ke kantor.” Ares mengecup bibir Alisha sekilas sebelum bangkit dari ranjang. “Jangan banyak gerak.”

Ares mengenakan kimono tidurnya, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Begitu pintu tertutup, Alisha menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya. Tangannya menyentuh bibir sendiri.

"Aku tadi manggil dia Ares."

Entah sejak kapan nama itu terasa begitu mudah keluar. Dan awalnya adalah saat ia mendesahkan nama pria itu semalam.

 

Di dalam kamar mandi, Ares berdiri beberapa saat di depan wastafel. Sudut bibirnya terangkat samar ketika ingatan tentang malam tadi kembali muncul.

Ia sudah begitu lama menahan diri, tetapi semalam Alisha sendiri yang memilih untuk tetap berada di sisinya. Tidak ada paksaan. Tidak ada rasa terpaksa yang menghantuinya setelahnya.

Ares mengusap wajahnya sambil mengembuskan napas panjang. Entah kenapa, untuk pertama kalinya ia merasa lega.

Bukan hanya karena akhirnya bisa memenuhi keinginannya, tetapi karena perempuan yang selama ini membuatnya takut kembali percaya pada seseorang justru memilih mempercayainya.

Senyum tipis kembali muncul di wajah Ares. Ia menyalakan pancuran. Namun sebelum masuk ke bawah aliran air, pikirannya kembali pada satu hal.

Alisha memanggil namanya tanpa embel-embel apa pun.

“Ares.”

Hanya satu panggilan sederhana, tetapi entah kenapa terus terngiang di kepalanya.

Ares terkekeh pelan. “Gawat.”

Kini yang membuatnya sulit mengendalikan diri bukan lagi sekadar hasrat.

Ia mulai menyukai kedekatan itu.

Sementara di kamar, Alisha masih memeluk bantal, pipinya kembali memanas mengingat malam tadi.

Dan pagi ini, tanpa perlu membicarakannya, mereka berdua sama-sama tahu.

***

Pagi itu Arga kembali datang ke perusahaan tempat Alisha bekerja.

Dimas berjalan beberapa langkah di belakangnya sambil membawa map berisi dokumen kerja sama.

“Bukannya pembahasan kontraknya sudah hampir selesai, Pak?” tanya Dimas ketika mereka memasuki lobby.

“Masih ada beberapa hal yang perlu dipastikan," jawab Arga tanpa menoleh.

“Bukannya bisa dibahas lewat email?”

Arga meliriknya sekilas. “Bisa.”

Dimas mengangkat alis. “Tapi?”

“Aku mau lihat langsung gimana cara kerja mereka sebelum keputusan akhir dibuat.”

Arga masih mengingat perempuan yang ditemuinya kemarin. Alisha. Tidak banyak bicara, tidak berusaha menarik perhatian, tetapi justru itu yang membuatnya penasaran.

Karena itu, pagi ini ia sengaja meminta pertemuan lanjutan dengan bagian administrasi yang menangani dokumen kerja sama.

“Siapa yang menangani dokumen dari pihak mereka?” tanyanya santai.

Dimas membuka map. “Tim administrasi. Kemarin yang bantu Alisha.”

Arga mengangguk kecil. “Kalo begitu, minta dia ikut.”

Dimas menatapnya beberapa detik. “Untuk pembahasan administrasi?”

Arga menoleh sedikit. “Memangnya kenapa?”

“Enggak.” Dimas langsung menggeleng, menyembunyikan senyum kecil.

Beberapa menit kemudian mereka tiba di ruang meeting. Begitu memasuk, Arga langsung melirik sekeliling.

Hanya ada seorang staf pria yang berdiri menyambut mereka.

“Selamat pagi, Pak Arga. Silakan duduk.”

Arga membalas dengan anggukan. Ia masih sempat melirik ke arah pintu sebelum duduk. “Biasanya yang menangani pembahasan ini Bu Alisha, 'kan?”

Staf itu mengangguk. “Betul, Pak. Tapi hari ini saya yang menangani.”

“Begitu.” Arga mengangguk seolah tidak mempermasalahkannya.

Dimas yang duduk di sampingnya membuka laptop.

Namun beberapa menit kemudian Arga menutup kembali map di depannya. “Ada satu bagian yang ingin saya konfirmasi.”

Staf itu langsung mengambil pulpen. “Bagian mana, Pak?”

“Beberapa poin yang kemarin dibicarakan dengan Bu Alisha," jawab Arga.

“Oh, kalau soal itu saya sudah menerima catatannya.”

“Bisa saya lihat?” pinta Arga.

Staf tersebut menyerahkan dokumen.

Arga membacanya sebentar, lalu menunjuk salah satu bagian. “Di sini ada perubahan dari pembahasan sebelumnya.”

Staf itu ikut melihat. “Yang ini, Pak?”

“Iya.” Arga mengangkat wajah. “Kalo gak salah, kemarin asisten saya sudah bahas bagian ini dengan Bu Alisha.”

Staf itu mengangguk. “Benar, Pak.”

“Berarti akan lebih cepat kalo saya konfirmasi langsung dengan beliau.” Nada Arga tetap santai. Tidak ada permintaan terang-terangan.

Namun staf itu tampaknya menangkap maksudnya. “Akan saya hubungi beliau.”

Arga bersandar. “Gak perlu kalo memang sedang sibuk.” Ia berhenti sebentar. “Tapi kalo memungkinkan, saya ingin pastikan poin ini hari ini. Agar setelah ini kami gak perlu bolak-balik revisi.”

Dimas melirik Arga dari samping. Ia tahu betul. Kalau hanya soal dokumen, sebenarnya staf di hadapan mereka sudah cukup.

Arga sedang mencari alasan lain.

Staf itu akhirnya meraih ponselnya. “Baik, Pak. Saya coba hubungi Bu Alisha.”

Arga kembali membuka map seolah tidak terlalu peduli. Namun ketika mendengar nama Alisha disebut, sudut bibirnya bergerak tipis.

Setidaknya, pagi ini ia masih punya kesempatan bertemu perempuan itu.

 

...✨“Saat dua hati mulai saling mendekat, selalu ada kemungkinan seseorang dari masa lalu datang membawa ujian. Karena mempertahankan seseorang bukan hanya tentang membuatnya tinggal, tetapi juga tentang membuatnya yakin bahwa memilih kita tidak akan menjadi kesalahan.”✨...

.

To be continued

1
anonim
Alisha tidak mau menerima panggilan telepon dari Ares. Pesannya juga tidak dibalas. Salahmu sendiri Ares. Nikmati saja kegelisahanmu sekarang.

Panggilan telepon dari pak Darto juga tidak diangkat.

Ares semakin tidak tenang, tidak tahu di mana Alisha sekarang.

Ares tidak ingin kehilangan Alisha. Alisha mengerti kalau kehidupan bersamanya dipenuhi rahasia, aturan, dan penantian tanpa kepastian.

Namun permasalahannya malam ini Alisha sangat kecewa dengan Ares.
anonim
Masih saja di suruh menutup mata. Alisha bukannya menutup matanya, tapi kini menutup hatinya untuk mengabaikan pesan-pesan dari Ares.

Begitu kecewanya Alisha, sampai tidak mau mengangkat panggilan telepon dari Ares.

Ares bingung sendiri. Dadanya sesak memikirkan bakal ditinggalkan Alisha.
anonim
Alisha hanya membaca pesan dari Ares. Tidak membalas pesan itu.

Terlambat. Ares datang, Alisha sudah pergi naik taksi.

Reki selalu menyadarkan Ares dengan kata-kata yang masuk akal.

Reki sampai berani berkata kepada Ares - Malam ini, anda melakukan kesalahan besar, Tuan.

Ares tidak bisa menghampiri Alisha karena tubuhnya tidak sanggup. Ares bisa memanggil Alisha, untuk datang. Masalahnya Ares masih belum mau wajahnya dilihat Alisha, Reki.

Reki terus mengucapkan kata-kata tentang kemungkinan-kemungkinan buruk.

Alisha berhenti berharap, dan memilih pergi dari Ares.
anonim
Reki saja panggil Alisha nyonya. Pria itu belum tahu siapa suami Alisha. Reki memberi ancaman pada pria itu.

Pria itu menganggap gurauan. Padahal dia jelas menghina Alisha.

Arga ini apa urusannya kalau Alisha istri Ares.

Alisha tidak menuruti kata Reki untuk tetap menunggu di mobil.
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana.. Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Yaaa, kalau kamu nggk mau kecewa sendirian, maka aja saja Ares, Alisha... 😂😂😂 Dengan begitu kan, kami kecewanya nggk sendirian Alisah... 😂😂😂 Ada yang menemani Ke Kecewaanmu... 😁😁😁
Fadillah Ahmad
Iyaaa maka dari itulah Alisha... Kalau Raka tidak mengerti maka, kamu harus menjelaskan kepada Raka, sampai Rala mengerti Alisha... 😂😂😂 Kamu saja belum pernah menjelaskan kepada Raka, Alisha... Yaaa manalah Raka bisa mengerti Alisha... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Apa yang di kstakan Adikmu Raka itu ada benarnya Alisha... Kamu jangan keras kepala dong Alisha... 😁😁😁 Mau sampai kapan kamu terus menyiksa dirimu Alisha? ha? 😂😂😂
anonim
Ares yang tak berdaya dengan tubuh mulai kehilangan keseimbangan, hanya bisa menahan amarahnya.

Ares tidak kuat melangkah, pandangannya berkunang-kunang. Keinginannya menghajar pria itu tak kesampaian.

Reki menolong Alisha dengan mengambil taplak meja di dekatnya. Tidak peduli apa yang ada di atas meja itu berjatuhan. Berantakan.

Reki segera membentangkan taplak untuk menutupi tubuh Alisha. Reki berusaha menyelamatkan Alisha dari tatapan orang-orang.

Amarah Alisha sedikit mereda saat menyadari Reki sedang berusaha melindunginya dari tatapan orang-orang.

Reki berbalik menghadap pria yang menghina Alisha dan menatap tajam, pria itu keder tentunya.
anonim
Ini ada pria hidung belang melecehkan Alisha dengan kata-kata yang tak pantas didengar. Mata jalangnya tanpa sungkan mengamati tubuh Alisha.

Masih juga mengeluarkan kata-kata yang sangat menghina Alisha.

Kapuoook kau pria hidung belang, tamparan dari tangan Alisha mendarat dengan keras di pipinya.

Malu juga tuh pria, dilihat para tamu yang berada di sekitar mereka.

Alisha tidak terima dihina sedemikian rupa. Pria itu pun nggak terima ditampar pipinya, padahal jelas kalimatnya penuh hinaan, pelecehan juga tuh.

Alisha nggak takut sedikitpun sama pria yang nggak tahu diri itu. Dia lawan pria itu .
anonim
Alisha memandang Ares yang juga sedang memandangnya. Alisha tahu Ares sedang tidak baik-baik saja kondisinya. Ares tampak menahan sakit, bahkan kesulitan bernapas.

Alisha dan Ares sama-sama saling mengkhawatirkan kondisi mereka.

Alisha mengkuatirkan Ares yang terlihat sakit, Ares juga mengkuatirkan keadaan Alisha yang pasti malu dengan gaun basah tampak garis tubuhnya.
anonim
Dalam kondisi tubuhnya yang kian memburuk Ares tak berdaya menghampiri Alisha untuk menolongnya.

Reki berjalan menuju Alisha. Ares hanya bisa memandang Alisha.

Arga kecewa tidak sesuai yang diharapkan. Ares tidak menghampiri Alisha sendiri, tapi menyuruh Reki untuk melindungi.

Arga melihat kondisi Ares yang tampak buruk, namun perhatiannya tetap tertuju kepada Alisha.
Oma Gavin
nah kan kalau saling jujur dan terbuka kan lebih enak sekarang baik" kalian berdua turunin ego masing" saling melengkapi saling percaya dan Inga musuh terbesar kalian arga yg pasti tidak akan menyerah setelah tau hubungan kalian berdua
Sri Kadek
lanjut
Septi Wijaya
bapak Ares, bagaimana tanggapan anda? atas kehamilan istri anda
Eka Burjo
terimakasih update nya, oke lanjut 👍👍
+1
noted🌚
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak... Ceritanya makin seru Kak 😁😁😁🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!