Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Satu Panggilan yang Berarti
Alisha perlahan membuka mata ketika cahaya pagi yang menyelinap melalui celah tirai menerpa wajahnya.
Ia masih berada dalam pelukan Ares. Begitu mencoba mengubah posisi, tubuhnya langsung menegang.
“Auwh...”
Suara kecil itu membuat Ares terbangun. Tangannya yang semula berada di pinggang Alisha langsung bergerak menahan tubuh perempuan itu.
“Kenapa? Sakit?” tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
Alisha menggigit bibir. Pipinya memanas. “Dikit.”
Ares langsung mengangkat tubuhnya sedikit. “Bagian mana?”
“Gak apa-apa.” Alisha menarik selimut lebih tinggi. “Cuma agak perih. Badanku juga pegal semua.”
Sorot mata Ares berubah. “Maaf.”
Wajah Alisha memerah. “Ini gegara kamu.”
Ares terdiam sesaat, lalu terkekeh kecil. “Maaf.”
Alisha langsung memukul dadanya pelan. “Jangan ketawa.”
Ares menangkap tangan itu. “Tapi semalem kamu juga gak nolak pas aku minta tambah.”
“Diam.” Telinga Alisha ikut memerah.
Ares tersenyum kecil sebelum kembali menariknya ke dalam pelukan. Ia mengecup puncak kepala Alisha dengan lembut. “Hari ini izin dulu.”
“Aku masih bisa masuk kantor.”
“Gak.” Kali ini suara Ares terdengar tegas.
“Ares...” Alisha sendiri baru menyadari panggilan itu. Tidak ada lagi Tuan.
Ares pun tampaknya menyadarinya. Tatapannya sempat berhenti pada wajah Alisha, tetapi ia tidak mengomentarinya. “Jangan nekat pergi, nanti aku kirim surat dokter ke kantormu."
“Tapi—”
“Gak ada tapi.” Ares merapikan selimut sampai menutupi tubuh Alisha. “Istirahat.”
Alisha mengembuskan napas pasrah.
“Aku harus ke kantor.” Ares mengecup bibir Alisha sekilas sebelum bangkit dari ranjang. “Jangan banyak gerak.”
Ares mengenakan kimono tidurnya, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Begitu pintu tertutup, Alisha menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya. Tangannya menyentuh bibir sendiri.
"Aku tadi manggil dia Ares."
Entah sejak kapan nama itu terasa begitu mudah keluar. Dan awalnya adalah saat ia mendesahkan nama pria itu semalam.
Di dalam kamar mandi, Ares berdiri beberapa saat di depan wastafel. Sudut bibirnya terangkat samar ketika ingatan tentang malam tadi kembali muncul.
Ia sudah begitu lama menahan diri, tetapi semalam Alisha sendiri yang memilih untuk tetap berada di sisinya. Tidak ada paksaan. Tidak ada rasa terpaksa yang menghantuinya setelahnya.
Ares mengusap wajahnya sambil mengembuskan napas panjang. Entah kenapa, untuk pertama kalinya ia merasa lega.
Bukan hanya karena akhirnya bisa memenuhi keinginannya, tetapi karena perempuan yang selama ini membuatnya takut kembali percaya pada seseorang justru memilih mempercayainya.
Senyum tipis kembali muncul di wajah Ares. Ia menyalakan pancuran. Namun sebelum masuk ke bawah aliran air, pikirannya kembali pada satu hal.
Alisha memanggil namanya tanpa embel-embel apa pun.
“Ares.”
Hanya satu panggilan sederhana, tetapi entah kenapa terus terngiang di kepalanya.
Ares terkekeh pelan. “Gawat.”
Kini yang membuatnya sulit mengendalikan diri bukan lagi sekadar hasrat.
Ia mulai menyukai kedekatan itu.
Sementara di kamar, Alisha masih memeluk bantal, pipinya kembali memanas mengingat malam tadi.
Dan pagi ini, tanpa perlu membicarakannya, mereka berdua sama-sama tahu.
***
Pagi itu Arga kembali datang ke perusahaan tempat Alisha bekerja.
Dimas berjalan beberapa langkah di belakangnya sambil membawa map berisi dokumen kerja sama.
“Bukannya pembahasan kontraknya sudah hampir selesai, Pak?” tanya Dimas ketika mereka memasuki lobby.
“Masih ada beberapa hal yang perlu dipastikan," jawab Arga tanpa menoleh.
“Bukannya bisa dibahas lewat email?”
Arga meliriknya sekilas. “Bisa.”
Dimas mengangkat alis. “Tapi?”
“Aku mau lihat langsung gimana cara kerja mereka sebelum keputusan akhir dibuat.”
Arga masih mengingat perempuan yang ditemuinya kemarin. Alisha. Tidak banyak bicara, tidak berusaha menarik perhatian, tetapi justru itu yang membuatnya penasaran.
Karena itu, pagi ini ia sengaja meminta pertemuan lanjutan dengan bagian administrasi yang menangani dokumen kerja sama.
“Siapa yang menangani dokumen dari pihak mereka?” tanyanya santai.
Dimas membuka map. “Tim administrasi. Kemarin yang bantu Alisha.”
Arga mengangguk kecil. “Kalo begitu, minta dia ikut.”
Dimas menatapnya beberapa detik. “Untuk pembahasan administrasi?”
Arga menoleh sedikit. “Memangnya kenapa?”
“Enggak.” Dimas langsung menggeleng, menyembunyikan senyum kecil.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di ruang meeting. Begitu memasuk, Arga langsung melirik sekeliling.
Hanya ada seorang staf pria yang berdiri menyambut mereka.
“Selamat pagi, Pak Arga. Silakan duduk.”
Arga membalas dengan anggukan. Ia masih sempat melirik ke arah pintu sebelum duduk. “Biasanya yang menangani pembahasan ini Bu Alisha, 'kan?”
Staf itu mengangguk. “Betul, Pak. Tapi hari ini saya yang menangani.”
“Begitu.” Arga mengangguk seolah tidak mempermasalahkannya.
Dimas yang duduk di sampingnya membuka laptop.
Namun beberapa menit kemudian Arga menutup kembali map di depannya. “Ada satu bagian yang ingin saya konfirmasi.”
Staf itu langsung mengambil pulpen. “Bagian mana, Pak?”
“Beberapa poin yang kemarin dibicarakan dengan Bu Alisha," jawab Arga.
“Oh, kalau soal itu saya sudah menerima catatannya.”
“Bisa saya lihat?” pinta Arga.
Staf tersebut menyerahkan dokumen.
Arga membacanya sebentar, lalu menunjuk salah satu bagian. “Di sini ada perubahan dari pembahasan sebelumnya.”
Staf itu ikut melihat. “Yang ini, Pak?”
“Iya.” Arga mengangkat wajah. “Kalo gak salah, kemarin asisten saya sudah bahas bagian ini dengan Bu Alisha.”
Staf itu mengangguk. “Benar, Pak.”
“Berarti akan lebih cepat kalo saya konfirmasi langsung dengan beliau.” Nada Arga tetap santai. Tidak ada permintaan terang-terangan.
Namun staf itu tampaknya menangkap maksudnya. “Akan saya hubungi beliau.”
Arga bersandar. “Gak perlu kalo memang sedang sibuk.” Ia berhenti sebentar. “Tapi kalo memungkinkan, saya ingin pastikan poin ini hari ini. Agar setelah ini kami gak perlu bolak-balik revisi.”
Dimas melirik Arga dari samping. Ia tahu betul. Kalau hanya soal dokumen, sebenarnya staf di hadapan mereka sudah cukup.
Arga sedang mencari alasan lain.
Staf itu akhirnya meraih ponselnya. “Baik, Pak. Saya coba hubungi Bu Alisha.”
Arga kembali membuka map seolah tidak terlalu peduli. Namun ketika mendengar nama Alisha disebut, sudut bibirnya bergerak tipis.
Setidaknya, pagi ini ia masih punya kesempatan bertemu perempuan itu.
...✨“Saat dua hati mulai saling mendekat, selalu ada kemungkinan seseorang dari masa lalu datang membawa ujian. Karena mempertahankan seseorang bukan hanya tentang membuatnya tinggal, tetapi juga tentang membuatnya yakin bahwa memilih kita tidak akan menjadi kesalahan.”✨...
.
To be continued
Raka pengertian, kakaknya di suruh sering-sering tidur di rumah, tidak perlu nungguin dirinya.
Alisha jadi bisa punya waktu untuk suaminya, kalau tidak bisa nungguin Raka. Tidak harus cari alasan kalau Raka tanya-tanya.
Alisha setelah sarapan pergi ke rumah sakit.
Raka sudah dipindahkan ke ruang lain, masih di lantai yang sama.
Ares tetap memikirkan kenyamanan Raka dan Alisha dengan memindahkan ruang rawat serta ada sofa.
Pak Darto pengurus rumah memberikan sebuah kartu akses untuk masuk rumah kepada Alisha. Dan memberi tahu Alisha kalau pakaian sudah disiapkan di lemari, termasuk perlengkapan mandi, dan makeup atas perintah Ares.
Ares baik sekali. Alisha juga disediakan sopir untuk mengantarnya pergi. Tapi Alisha memilih naik ojek online.
Ares juga menuruti kemauan Alisha untuk tidak memindahkan adiknya ke kamar perawatan VIP.
Ares memberikan surat pernikahan mereka setelah mendengar penjelasan Alisha kenapa sampai minta surat itu.
Ares tak lupa mengelupas foto dirinya terlebih dahulu, sebelum memberikan surat itu kepada Alisha.
Sampai segitunya, biar Alisha benar-benar nggak mengenal wajahnya.
kalo iya, itu sangat berbahaya, dalam kondisi tertentu, dia bisa berbuat nekat....
semoga Alisa dan Raka masih dalam pengawasan orang-orangnya Ares
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
kacau ini orang 🤣🤣
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔