Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32
Setelah semua tiba.
Malam mulai melingkupi Istana Dalam. Angin dingin berhembus pelan menyusuri lorong-lorong batu, membawa aroma kelopak bunga malam yang mekar di pekarangan.
Di dalam kediamannya yang sunyi, Xiao Yu sedang duduk di tepi pembaringan. Ia baru saja selesai membersihkan sisa debu perjalanan pada belati kecilnya sebelum menyembunyikannya kembali ke balik lipatan kasur.
Bao'er berdiri di dekat jendela, bertugas mengawasi suasana luar yang remang-remang.
"Yu'er... ada bayangan mendekat," bisik Bao'er pelan, tubuhnya mendadak tegang.
Xiao Yu dengan sigap mengubah posisi duduknya, memasang kembali raut wajah lesu dan polos. Jemarinya menarik selimut nipis hingga menutupi kakinya.
Ketukan halus terdengar di pintu samping kediaman
"Buka pintunya Bao'er," perintah Xiao Yu.
Bao'er mengangguk dan mendekat ke pintu. Tangan Bao'er terjulur membuka pintu kayu itu sedikit, sosok Selir Lan melangkah masuk dengan cepat.
"Oh Yang Mulia selir Lan," ujar Bao'er terkejut. Karena ini tidak biasa. Dia datang dengan A-chui. Gadis itu melihat ke arah Bao'er dengan tatapan gembira. Mungkin dengan dua pelayan selir yang lain, dia tidak dekat.
Xiao Yu melongok ke arah pintu setelah mendengar nama selir Lan di sebut. Selir Lan? Untuk apa dia kesini? batin Xiao Yu.
"Silakan masuk." Bao'er mempersilakan selir Lan masuk bersama A-chui. Lalu Bao'er segera menutup pintu kembali dan berjaga rapat di dekat ambang pintu.
"Oh, Selir Lan. Suatu kehormatan bagiku di kunjungi." Xiao menunduk memberi hormat.
"Jangan terlalu formal, Xiao Yu. Bukanlah kita sudah berteman?" Selir Lan tersenyum.
Xiao membalas senyuman itu.
"A-chui berikan bawaan kita," pinta Selir Lan.
"Baik, Nona." A-chui melangkah maju dan menyerahkan sebuah keranjang ukir kecil berisi beberapa buah persik merah segar yang mengeluarkan aroma manis lembut.
Bao'er menerima keranjang buah persik itu dengan membungkuk sopan, lalu membawanya ke meja kecil di sudut ruangan.
"Terima kasih, Selir Lan." Xiao Yu mengangguk dan tersenyum. "Bao'er. Bawakan teh untuk tamu kita."
"Baik, Nona."
"Ayo kita duduk selir Lan." Xiao Yu mempersilakan perempuan lemah lembut itu duduk.
"Xiao Yu," ujar Selir Lan dengan suara berbisik namun jujur. "Terima kasih atas bantuanmu di Hutan Selatan malam itu. Maaf, aku baru mengucap terima kasih secara resmi."
"Tidak perlu merasa sungkan, Selir Lan. Kita wajib membantu sesama selir hidup dalam istana seperti ini," kata Xiao Yu bisa bicara bijak karena lawannya bicaranya adakah selir Lan yang baik. Namun jika itu selir lain, dia ragu untuk bijak.
"Senang mendengarnya. Kamu paham kalau hidup di dalam istana itu tidak menyenangkan." Selir Lan menghela napas. "Aku heran orang-orang kenapa suka sekali hidup di dalam istana. Padahal disini tidak begitu menyenangkan."
"Nona Lan sedikit tertekan," kata A-chui menambahkan. Bao'er datang membawa cangkir teh untuk tamu mereka.
Xiao Yu mengangguk tipis. Sadar kalau bukan hanya dia yang tidak menyukai suasana istana yang begitu sesak. Ternyata bukan aku saja yang tidak menyukainya. Xiao seperti punya teman.
"Maaf, aku membicarakan apa yang ada dalam hatiku." Selir Lan lupa kalau mungkin saja selir lain berpikiran tidak sama dengannya.
"Tidak apa-apa. Aku juga demikian. Menurutku tinggal di istana adalah penjara," kata Xiao Yu yang langsung membuat Bao'er tegang. Karena kata-kata itu berbahaya.
"Nona ..." Bao'er mengingatkan.
Xiao Yu melirik sambil tersenyum. "Aku sudah bisik-bisik, Bao'er."
Bao'er menipiskan bibir protes.
Melihat interaksi itu, Selir Lan mengerjap. "Kalian tampak akrab sekali. Senang melihatnya." Ada tatap mata takjub keliatan melihat interaksi keduanya.
"Tentu. Kita sudah berteman lama," ujar Xiao Yu setuju. Bao'er tersenyum mengangguk.
Selir Lan mengangguk pelan, tatapan matanya melembut penuh rasa hangat yang tulus. "Pantas saja. Di tempat yang dipenuhi intrik dan kepalsuan seperti ini, memiliki satu orang kepercayaan yang bisa diajak berbagi napas adalah sebuah berkah yang sangat langka."
Ia lalu menoleh ke arah A-Chui yang berdiri siaga di belakangnya. "Dia juga orang yang paling dekat denganku," ujar Selir Lan sambil menatap A-chui hangat.
Xiao Yu merasa bersyukur kalau selir Lan masih punya pegangan dalam hidup di istana ini. Karena dia saja yang punya keahlian beladiri harus tetap waspada, apalagi yang tidak punya keahlian semacam itu.
Selir Lan mengikis jarak duduknya sedikit, menatap lurus ke dalam iris mata Xiao Yu. Kelembutan di wajahnya terlihat jelas. Tapi kali ini raut wajah itu tampak serius.
"Xiao Yu. Soal kamu yang menyembunyikan keahlianmu itu, apa pangeran juga tidak tahu?" bisik Selir Lan rendah.
Sesaat hening. Selir Lan dan A-chui menunggu, Bao'er dan Xiao Yu sedikit tegang.
"Kenapa aku harus cerita kepada Selir Lan?" tanya Xiao Yu santai.
Selir Lan mengerjap. Dia terkejut dengan kepolosan pertanyaan yang dilontarkan tanpa basa-basi itu. Namun, ia tidak tersinggung. Sebuah senyum tipis yang sarat akan rasa bersalah terkembang di bibirnya.
"Oh, maaf jika itu menyinggungmu. Aku hanya merasa ingin tahu," ujar Selir Lan dengan nada berbisik yang jujur. "Karena kamu pernah menolongku di Hutan Selatan malam itu, aku jadi ingin tahu siapa kamu sebenarnya."
Selir Lan jeda sejenak, menatap mata Xiao Yu dengan mata murni. "Tentu kamu jangan terlalu percaya padaku. Di dalam istana tidak bisa begitu saja percaya pada orang lain bukan?"
"Lalu kenapa selir Lan bicara sesantai itu disini?" tanya Xiao Yu.
"Ah, benar. Aku tampak santai, ya?" Selir Lan tersenyum geli. Menyadari kalau sejak tadi dia tidak tegang.
"Karena nona Xiao adalah orang baik," kata A-chui.
Xiao Yu melirik pada pelayan itu. "Baik ya ... Aku tidak yakin." Xiao Yu tidak mau orang berekspektasi tinggi padanya.
"Tapi... aku rasa Selir Xiao uga sedikit yakin padaku," kata Selir Lan.
"Kenapa?" potong Xiao Yu memiringkan kepala.
"Karena jika kamu tidak yakin, kamu pasti akan membunuhku," jawab Selir Lan tenang tanpa ada nada ancaman.
Xiao Yu mengerjap, lalu seketika tergelak pelan. Tawa kecilnya tertahan di balik lengan gaun sutranya, terdengar begitu jernih namun membuat suasana di sudut meja itu makin intens.
"Aku tampak begitu mudah membunuh ya?" gumam Xiao Yu di sela tawanya.
"Nona Xiao tidak suka membunuh. Dia hanya terlihat garang saja kalau sedang bertarung," kata Bao'er meluruskan. Takut Xiao Yu disalahpahami.