Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.
Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".
Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.
Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.
Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Bayangan di Tanah Utara
Angin di utara terasa berbeda—tajam, dingin, dan membawa bau salju yang jauh. Kabut tipis menyelimuti hutan pinus yang tak berujung, membiarkan cahaya matahari menembus hanya dalam garis-garis pucat. Ling Yue dan Li An telah berjalan tiga hari tanpa henti, menjauh dari lembah tersembunyi itu, menembus wilayah yang kini sepenuhnya dikendalikan oleh pasukan Kekaisaran.
"Di depan sana," bisik Li An, menahan langkah dan menunjuk ke celah pepohonan, "jalur utama melintasi desa itu. Jika kita lewat, kita harus berhati-hati."
Ling Yue mengintip dari balik batang pohon besar. Di bawah sana, di tepi sungai yang membeku, desa itu tampak sunyi—terlalu sunyi. Asap dari cerobong tak naik, pintu-pintu tertutup rapat, dan di alun-alun desa berdiri tiang bendera hitam dengan lambang naga yang mencengkeram pedang—tanda wilayah yang telah diduduki.
"Mereka sudah sampai," gumamnya pelan.
Li An meremas gagang pedangnya. "Jika kita berbelok, kita akan terlambat setidaknya lima hari. Tapi lewat desa itu... risikonya besar."
Ling Yue meletakkan tangan di dadanya, tempat kelopak bunga cahaya tersimpan tersembunyi di balik pakaian. Sejak meninggalkan gua itu, benda itu sesekali berdenyut hangat, seolah merasakan sesuatu yang belum bisa mereka lihat. Saat ini, kehangatannya semakin kuat.
"Kita tidak bisa membiarkan mereka mendahului kita," ucapnya tegas. "Dan... ada sesuatu di desa itu. Sesuatu yang memanggil."
Mereka menyusup perlahan, memanfaatkan bayangan rumah-rumah kayu yang gelap. Tidak ada prajurit yang terlihat berpatroli—namun keheningan itu justru terasa lebih mengerikan. Saat mereka mendekati bangunan terbesar di tengah desa, suara tawa kasar terdengar, disertai denting gelas.
"Di dalam balai desa..." Li An mengintip dari celah jendela yang retak. "Mereka ada di sana."
Ling Yue mengintip juga. Ruangan itu penuh prajurit. Di tengahnya, di atas meja panjang yang berantakan, peta-peta terbentang—menandai jalur pegunungan, persembunyian, dan jejak yang sama yang sedang mereka ikuti. Namun yang membuat darahnya membeku adalah sosok yang berdiri di ujung meja.
Pria itu mengenakan jubah ungu tua yang bermotif awan emas—pakaian yang hanya dipakai oleh penasihat tertinggi di istana. Wajahnya tidak terlihat jelas, namun postur dan suaranya membuat Ling Yue menahan napas.
"Semua jejak mengarah ke utara," suaranya rendah dan tajam. "Bunga Kabut tidak bisa lari sejauh itu. Mereka pasti bersembunyi di pegunungan ini."
"Tapi Tuan..." salah satu jenderal berbicara, "pasukan kami belum menemukan apa pun. Hutan ini seolah menelan orang."
Pria berjubah ungu tertawa dingin. "Klan Bunga Kabut selalu menyembunyikan jalannya. Tapi sekarang kita punya kuncinya." Ia mengangkat tangan kanannya. Di telapak tangannya, bercahaya sepotong batu retak—sama persis dengan giok yang pernah dibawa Rouran. "Selama ini kita hanya mencari. Sekarang kita akan dipandu."
Ling Yue mundur perlahan, jantungnya berdebar kencang. "Mereka punya cara untuk melacak kita," bisiknya kepada Li An. "Batu itu... terhubung dengan yang kita miliki."
Li An mengerutkan kening. "Kalau begitu, semakin kita bergerak, semakin mudah mereka menemukan kita. Kita harus memutuskan hubungan itu."
"Bagaimana?"
"Kita tidak memutusnya," mata Li An menajam, "kita menyesatkannya."
Saat mereka berdiskusi, suara langkah kaki berat terdengar mendekat dari arah pintu belakang. Mereka terpaksa mundur, menyelinap ke gudang kayu di samping balai desa, dan di sana, di sudut yang gelap, mereka menemukan sesuatu yang tak terduga—sekelompok warga desa yang meringkuk ketakutan, dipisahkan dari keluarga mereka, dijaga oleh dua prajurit yang kini tertidur lelap karena minum berlebihan.
Di antara mereka, seorang gadis kecil berusia sekitar sepuluh tahun menatap Ling Yue dengan mata lebar namun tak bersuara. Saat Ling Yue mendekat, gadis itu menyodorkan selembar kain usang yang dipegangnya erat.
"Ibu bilang... ini untuk orang yang membawa cahaya," bisiknya nyaris tak terdengar.
Di kain itu tergambar peta sederhana yang menandai jalan lain menuju pegunungan—jalur rahasia yang melewati gua bawah tanah, menghindari pos pengawasan Kekaisaran sepenuhnya.
"Siapa ibumu?" tanya Ling Yue pelan.
Gadis itu menunduk, matanya berkaca-kaca. "Dia pergi bersama yang lain... bilang akan mencari keluarga kami." Ia menunjuk ke arah peta. "Katakan... katakan padanya aku menunggunya."
Ling Yue meremas tangan kecil itu pelan. "Aku berjanji. Kami akan mencarinya."
Mereka meninggalkan gudang itu diam-diam, membawa peta itu dan tekad yang baru. Di luar, angin semakin kencang, membawa kabut yang semakin tebal—sempurna untuk menyembunyikan jejak mereka.
"Jalur ini memotong waktu perjalanan menjadi dua hari," kata Li An, melipat kain itu dan menyimpannya di dada. "Tapi melewati gua bawah tanah itu berbahaya. Konon banyak yang tersesat dan tak pernah kembali."
Ling Yue merasakan kehangatan di dadanya semakin kuat, seolah kelopak bunga itu menyetujui peta tersebut. "Kita tidak punya pilihan lain. Dan... aku merasa ada yang menunggu kita di sana."
Sebelum berangkat, Ling Yue menoleh sekali lagi ke arah desa yang tertindih itu. Pria berjubah ungu itu masih ada di dalam, merencanakan sesuatu yang mengerikan. Namun namanya, suaranya—semuanya terasa begitu asing namun akrab sekaligus. Seperti bayangan yang pernah dilihatnya di masa kecil, sebelum semuanya berubah.
"Li An..." ucapnya pelan. "Apakah kau mengenali pria berjubah ungu itu?"
Li An terdiam lama, rahangnya mengeras. "Aku tak ingin percaya... tapi jika benar siapa yang kupikirkan, maka musuh kita jauh lebih dekat dari yang dibayangkan." Ia menatap ke arah hutan yang gelap. "Dan ia mengetahui setiap langkah yang pernah kuambil sejak kecil."
Misteri semakin dalam, namun mereka tidak bisa berlama-lama. Mereka berbalik dan menghilang ke dalam kabut, menuju mulut gua yang tersembunyi di balik tebing tertutup lumut—pintu masuk ke dunia di bawah tanah yang sunyi dan penuh rahasia.