NovelToon NovelToon
Reyna: Putri Asli Yang Kembali Untuk Balas Dendam

Reyna: Putri Asli Yang Kembali Untuk Balas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Putri asli/palsu
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.

Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.

Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.

Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Aula utama Hotel Grand Hyatt berubah menjadi lautan cahaya dan kemewahan. Gala Amal Arland tahun ini bukan sekadar acara penggalangan dana, ini adalah panggung penobatan Reyna Arland sebagai ratu baru di dunia bisnis ibu kota. Ratusan tamu dari kalangan elit, mulai dari pengusaha, politisi, hingga selebriti berkumpul dengan gaun haute couture dan jas seharga rumah.

Di tengah ruangan, berdiri di atas panggung yang disinari lampu sorot, Reyna mengenakan gaun *red carpet* berwarna merah darah dengan potongan bahu yang tajam dan tegas. Rambutnya disanggul rapi, memamerkan leher jenjangnya. Ia tidak terlihat seperti gadis muda yang baru saja mengambil alih perusahaan; ia terlihat seperti seorang penguasa yang siap menelan dunia.

Di barisan depan, Adrian Blackwood duduk dengan tongkatnya, menatap Reyna dengan senyum tipis yang penuh arti.

"Selamat malam, para tamu kehormatannya," suara Reyna bergema melalui mikrofon, tenang dan memikat. "Malam ini, Arland Group tidak hanya berkomitmen untuk berbagi kekayaan, tetapi juga untuk membangun kembali kepercayaan. Kepercayaan pada institusi, dan kepercayaan pada keluarga..."

ZZZT.

Tiba-tiba, layar LED raksasa di belakang Reyna berkedip. Suara dengungan statis memecah keheningan. Musik latar mati.

Para tamu mulai berbisik-bisik. Di sudut ruangan, Clarissa yang menyamar sebagai staf katering, dan Bobby si jurnalis gosip yang bersembunyi di balik pilar, saling bertukar pandang penuh kemenangan.

Layar itu menyala kembali. Namun, bukan logo Arland Group yang muncul.

Sebuah video berdurasi dua menit mulai diputar. Video itu menampilkan ruang kerja Richard di mansion. Dalam rekaman itu, Reyna terlihat berdiri, berteriak dengan wajah marah, lalu dengan kasar mendorong Richard hingga pria tua itu jatuh menabrak meja. Audio yang menyertainya jelas menangkap suara Reyna yang memaki, Kau tua bangka brengsek! Kau akan kureguk habis hartamu!"

Ruangan itu meledak dalam kehebohan. Gasparan dan teriakan kecil terdengar di mana-mana. Kamera ponsel mulai mengarah ke panggung.

"Ya Tuhan, itu benar-benar gila!"

"Tidak heran ayahnya terlihat begitu tertekan belakangan ini!"

"Perusahaan ini di tangan orang gila!"

Di atas panggung, Reyna tidak bergerak. Ia tidak panik. Ia tidak mencoba membantah. Ia hanya berdiri di sana, membiarkan video itu selesai diputar hingga layar kembali hitam.

Bobby, di balik pilar, sudah siap menekan tombol publish di laptopnya. Clarissa tersenyum licik di balik topeng pelayannya. Kau tamat, Reyna, pikirnya.

Namun, ketika layar menyala kembali, senyum di wajah Clarissa perlahan lenyap.

Reyna masih berdiri di tempat yang sama. Ia mengangkat mikrofonnya. "Rekaman yang sangat mengesankan," ucap Reyna, suaranya memotong kehebohan ruangan dengan ketenangan yang mengerikan. "Sayangnya, ada satu masalah kecil. Rekaman itu palsu."

Layar di belakangnya berubah. Kali ini, yang muncul bukanlah video, melainkan deretan kode pemrograman, waveform audio, dan peta pelacakan IP address.

"Analisis forensik digital yang dilakukan oleh Divisi Audit Internal kami menunjukkan bahwa audio dalam video tersebut telah dipisahkan dari aslinya dan di dubbing menggunakan software AI," jelas Reyna, nadanya datar seperti seorang dosen yang sedang membongkar plagiarisme mahasiswa bodoh. "Dan pelacakan IP address menunjukkan bahwa video itu diunggah ke server penyiaran hotel ini dari sebuah ponsel burner yang terdaftar atas nama... Clarissa Arland."

Wajah Clarissa di sudut ruangan seketika pucat pasi. Kakinya terasa lemas.

"Tapi itu belum semuanya," lanjut Reyna. "Maya, putar rekaman aslinya."

Layar berganti. Kali ini, video yang diputar adalah rekaman CCTV dari sudut yang berbeda, sudut yang tidak diketahui oleh Clarissa. Video itu menunjukkan kejadian yang sebenarnya.

Richard yang sedang marah, melemparkan asbak kaca ke arah Reyna. Reyna yang menghindar, lalu mendorong Richard hanya untuk melindungi dirinya sendiri dari lemparan kedua. Dan yang paling penting, di sudut ruangan, terlihat Clarissa dan Julian sedang berbisik, tertawa, dan merekam kejadian itu dengan ponsel mereka untuk kemudian diedit.

Keheningan yang absolut menyelimuti aula. Para tamu yang tadi menghina Reyna kini menunduk malu, sementara tatapan mereka beralih dengan ngeri ke arah Clarissa.

"Memalsukan bukti, memfitnah anggota keluarga sendiri, dan mencoba menghancurkan reputasi publik seorang CEO adalah tindakan pidana berat sesuai Pasal 310 dan 311 KUHP, serta Undang-Undang ITE," suara berat seorang pria terdengar dari pintu masuk utama.

Komandan Polisi Sektor Cybercrime melangkah masuk, diikuti oleh empat orang petugas berseragam. Mereka tidak berjalan ke arah panggung, melainkan langsung menuju sudut ruangan tempat Clarissa dan Bobby bersembunyi.

"Bobby Santoso, Anda ditangkap atas tuduhan pemerasan dan pencemaran nama baik. Clarissa Arland, Anda juga ditangkap atas tuduhan yang sama serta percobaan sabotase korporasi," ucap sang Komandan tegas.

"Tidak! Tunggu! Ini salah paham!" Clarissa menjerit, mencoba melarikan diri, namun Maya sudah lebih dulu melangkah maju, mencengkeram lengan gadis itu dengan cengkeraman besi yang menyakitkan.

"Lepaskan aku! Aku putri Richard Arland! Kalian tidak bisa menyentuhku!" teriak Clarissa, air mata dan ingus kini benar-benar mengotori wajahnya yang tadi berusaha terlihat rapi. Ia menatap ke arah panggung, mencari-cari sosok Reyna. "Kak Reyna! Tolong! Katakan pada mereka ini salah! Aku adikmu!"

Reyna menatap Clarissa dari atas panggung. Tatapannya tidak mengandung kemarahan, tidak ada kebencian yang meledak-ledak. Hanya ada kekosongan yang luas dan dingin.

"Aku tidak punya adik," ucap Reyna ke dalam mikrofon, suaranya bergema di seluruh aula. "Adikku sudah mati lima tahun lalu, ketika ia memilih untuk menjadi ular di dalam rumahku sendiri."

1
Susi Nugroho
Lanjut
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Sribundanya Gifran
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!