Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.
Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.
Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Sesuai Ekspektasi
# Tak Sesuai Ekspektasi #
Helaan napas Nyonya Jolly yang berat masih saja menggambarkan ketidakpuasan, membuat Sora semakin dilanda kebingungan. Tawaran dari Nyonya Evelyn rasanya terlalu jomplang. Apalagi Bundanya tadi terang-terangan mengaku lebih memilih bersikap realistis jika ada uang satu miliar rupiah di depan mata.
Keduanya terdiam dengan tatapan kosong, bergelut dengan pikiran masing-masing. Haruskah Sora jujur pada Bundanya? Jika Beliau tahu tentang pemberian deposit fantastis dari orang tua Axcel, apakah Bundanya akan membatalkan rencana pertunangan dengan Easton dan memberi restu untuk Axcel?
Namun, bagaimana jika reaksinya justru berbanding terbalik? Sora takut tidak bisa meluruskan kesalahpahaman yang sudah mengakar kuat.
Sora menggelengkan kepala cepat, berusaha mengusir kemungkinan-kemungkinan terburuk yang belum tentu terjadi. Mengurungkan niat untuk jujur adalah pilihan paling aman menurutnya, setidaknya untuk hari ini. Sora butuh waktu untuk memikirkan pertimbangan yang bijak bagi dirinya sendiri dan kedua orang tuanya. Masih ada waktu tiga hari ke depan, rasanya itu sudah lebih dari cukup.
"Sebentar, Bunda bayar bill-nya dulu. Habis itu kita sekalian belanja, ada barang yang perlu Bunda beli," ucap Nyonya Jolly sembari beranjak.
Sora mengerutkan kening. Kenapa jadi Bundanya yang membayar tagihan makanan yang tak seberapa itu? Padahal yang mengundang mereka adalah Easton dan ibunya.
Setelah membayar tagihan dan memberikan uang tip kepada pelayan, Nyonya Jolly menjelaskan bahwa Nyonya Neselyn tadi pergi terburu-buru karena ada urusan mendadak yang harus ditangani sendiri. Mungkin karena panik, wanita itu sampai lupa membayar tagihan makanan mereka.
"Pffftttt... HAHAHAHA!"
Tawa yang meledak tiba-tiba itu hampir memekakkan gendang telinga Mark. Pria itu refleks melepas earphone yang terpasang di telinganya. Itu adalah suara tawa khas Nyonya Evelyn yang sedang menikmati pijatan sembari berendam di jacuzzi ruang spa.
Sedari awal, setelah Nyonya Evelyn meninggalkan Sora usai sarapan, Beliau memang memerintahkan Mark untuk membuntutinya. Nyonya Evelyn penasaran ingin tahu apa yang dibahas Sora setelah menerima uang deposit sebesar itu. Menurut Mark, jika hanya merekam lalu mengirimkannya nanti, Nyonya Evelyn pasti tidak akan sabar. Itulah mengapa Mark memilih melakukan panggilan telepon langsung agar majikannya bisa mendengar secara real-time. Beruntung, meja di belakang Sora kosong dan penyamaran Mark cukup sempurna untuk tidak disadari Sora.
Sebenarnya Nyonya Evelyn sedikit kecewa karena tidak mendengar reaksi pamer Sora mengenai uang deposit tersebut. Harusnya Sora bercerita dan pamer pada Bundanya agar misinya berhasil penuh. Ditambah lagi, Nyonya Jolly secara tidak langsung mengaku siap menerima mahar satu miliar jika uang itu memang nyata di depan mata.
Namun, kekecewaan itu terobati saat Nyonya Evelyn mendengar keluhan Nyonya Jolly mengenai kapasitas keluarga Wistlen hingga masalah tagihan makanan yang lupa dibayar. Satu poin kemenangan berhasil dipegang Nyonya Evelyn. Hal itu membuatnya kembali bersemangat, meskipun putra tunggalnya sendiri malah bertingkah konyol dan membuang waktu dengan bermain game dirumah.
" Hatchii..."
"Tuan, apa perlu saya panggilkan Dokter Darla? Kebetulan Tuan Besar sudah mengganti dokter keluarga dengan Dokter Darla. Jangan sampai flu Tuan bertambah parah, nanti bisa mengganggu jadwal kuliah," saran Rio.
Axcel bergumam pelan. Saran Rio boleh juga disetujui, sekalian ia bisa melakukan konsultasi pribadi. Namun dalam hati, Axcel mengutuk orang-orang yang sedang membicarakannya, jika nanti Dokter Darla menyatakan tubuhnya sama sekali tidak terserang virus influenza.
"Sora, apa kamu nanti bersedia kalau setelah menikah harus tinggal di kediaman Wistlen? Bunda tidak yakin Ayahmu akan setuju soal itu. Nyonya Neselyn bilang itu sudah jadi tradisi keluarga mereka," ujar Nyonya Jolly di dalam mobil.
Sora langsung menegakkan posisi duduknya, menatap sang Bunda yang sedang memijat kening. Tidak ada kesepakatan seperti itu antara dirinya dan Easton! Kemarin Easton jelas-jelas mengatakan akan membawanya tinggal di vila yang akan mereka desain sendiri, bukan di rumah utama keluarga Wistlen.
Nyonya Jolly menatap sekilas putri semata wayangnya, lalu kembali menghela napas panjang sembari memijat keningnya yang berdenyut. Suasana canggung di dalam mobil itu membuat Bi Muna yang duduk di belakang ikut khawatir. Namun, pelayan senior itu tidak berani ikut campur.
"Nyonya, apa kita perlu mampir ke apotek sebentar? Saya bisa turun kalau Nyonya butuh obat sakit kepala," tawar Bi Muna hati-hati.
Gelengan pelan dari Nyonya Jolly semakin membuat Sora dan Bi Muna cemas. Semua kerumitan ini memang bermula dari salah paham yang tidak bisa dijelaskan Sora, hingga membuat Bundanya menempuh cara kilat seperti ini.
Sora merengkuh jemari Bundanya, memijat lembut area di antara ibu jari dan jari telunjuk Nyonya Jolly untuk membantu meredakan sakit kepala sang Bunda. Mungkin ini pertanda bahwa ia harus berani menjelaskan semua duduk perkaranya, seperti saat ia bercerita jujur pada Nyonya Evelyn. Urusan percaya atau tidak, bisa ia pikirkan belakangan. Lagipula, Sora merasa ada yang aneh, seolah keluarga Easton sedang memanfaatkan kesempatan ini untuk memaksakan pernikahan sesuai kemauan mereka sendiri.
Atau jangan-jangan... keluarga Easton sebenarnya sudah tahu alasan utama Nyonya Jolly ingin memelihara pertunangan dan menikahkan Sora secepatnya?
Berbagai pertanyaan dan teori liar berputar mengaduk-aduk otak Sora. Ia bahkan mendadak teringat ucapan Nyonya Evelyn tentang bayangan tinggal seatap dengan ibu mertua serta para ipar. Persaingan antar menantu wanita di rumah besar konon tidak kalah mengerikan dibanding persaingan istri sah dan para madu.
Sora yang sejak kecil tumbuh sebagai penguasa tunggal kasih sayang orang tuanya tentu tidak akan sanggup menghadapi pertempuran sefrontal itu hanya demi memperebutkan perhatian mertua. Dan bagaimana jika kelak ada yang menjebaknya, sementara Easton tidak bisa membela?
Ketakutan Sora bergulir begitu jauh tanpa sadar sampai mobil mereka tiba di halaman rumah. Saat Sora tersadar dari lamunannya, sang Bunda rupanya sudah turun lebih dulu.
---
"Gimana, Dok? Eh... maaf, Tante. Apa aku beneran kena flu? Tapi rasanya badanku nggak kenapa-napa," tanya Axcel polos saat diperiksa di kamarnya.
Dokter Darla tersenyum geli. Jelas saja pria muda di depannya ini sehat bugar tanpa virus sedikit pun. Sangat tidak mungkin tubuh sebugar Axcel mendadak tumbang hanya karena bersin beberapa kali.
Dokter Darla langsung menawarkan sesi konsultasi singkat dan beberapa teknik terapi otak agar pikiran Axcel lebih rileks. Baru kali ini Axcel merasa begitu antusias. Pembawaan Dokter Darla yang hangat dan memperlakukannya seperti anak sendiri membuat Axcel merasa nyaman untuk terbuka.
Coretan-coretan medis yang hanya bisa dibaca oleh kalangan dokter mulai memenuhi separuh buku catatan Dokter Darla. Ia menyimak setiap cerita Axcel, berusaha memetakan hal-hal penting yang mengikat jiwa pria muda itu selama ini, tentang sosok Axcel dan kepribadian Ino. Mana sebenarnya jiwa yang menjadi jati diri utama?
Situasinya mirip seperti teka-teki gambar yang belum tersusun rapi, permusuhan dua jiwa yang saling berebut kendali. Itu baru kesimpulan awal. Dokter Darla merasa perlu mendengar informasi dari berbagai sudut pandang, mulai dari Nyonya Evelyn hingga para staf senior yang sudah lama melayani keluarga Pierce. Semua itu penting untuk memahami pola kemunculan Ino. Andai saja Ino bisa dipanggil muncul secara sukarela, tentu analisisnya akan jauh lebih mudah.
"Harusnya aku ngajak Sora si 'pawang' Ino, Tan. Tapi ya... mau gimana lagi, besok dia mau nikah sama Easton. Padahal dia udah janji mau nikah sama aku. Emmm... aku sempet ngancem dia, Kalau nggak bisa selesaikan misi, dia harus tanggung jawab nikah sama aku dan jadi pawang Ino selamanya. Laaah, sekarang malah kabur! uang mahar dari Mama juga dikembaliin semua, Tan," adu Axcel panjang lebar dengan wajah bersungut-sungut.
"HAAAAH? Hahaha!"
Dokter Darla tertawa sampai matanya menyipit terhalang pipinya yang chubby. Bagaimana bisa anak bujang sebesar ini bertingkah lugu seperti anak kecil? Bukannya dikejar dan dimenangkan hatinya dengan cara romantis yang bikin berdebar, Axcel malah memilih jalan mengancam! Pantas saja gadis itu memilih kabur. Siapa yang mau diancam menikah hanya untuk dijadikan pengasuh seumur hidup? Sungguh menggemaskan sekaligus konyol.
"Axcel... kamu sebenarnya ada rasa sayang nggak sama dia? Siapa tadi namanya? Sora?" tanya Dokter Darla penasaran.
Axcel terdiam sejenak. Dahi dan alisnya bertaut, menunjukkan raut bingung. Rasa sayang yang bagaimana? Selama ini yang dirasakan Axcel hanyalah rasa nyaman dan percaya jika berada di dekat Sora, plus rasa kesal luar biasa karena gadis itu ingkar janji. Axcel memang bertekad merebut Sora dari Easton, tetapi ia tidak ingin terburu-buru, kecuali jika Easton mulai membatasi pergaulan mereka.
"Ya... kalaupun aku butuh Sora, memangnya salah, Tan? Aku kan butuh dia buat ngilangin Ino selamanya. Aku belum pernah kepikiran hal lain selain kondisi perusahaan Papa yang harus segera aku tangani. Mama juga udah waktunya pensiun dan menikmati hidup. Jadi aku harus sembuh gimana pun caranya. Lagian awal mula dia terima kesempatan ini kan secara sukarela," bela Axcel tidak mau kalah.
Dokter Darla berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Memaksa orang itu nggak baik Axcel. Kalau Sora bisa membantu dengan tulus, kamu juga harus memperlakukannya dengan tulus. Bisa saja kan kalau kamu tulus, hatinya luluh dan mau berdiri di sampingmu tanpa perlu berpikir untuk menikah dengan orang lain?"
"Jadi maksud Tante, aku harus dapet hatinya Sora dulu biar posisi pawang Ino aman? Gitu?" potong Axcel polos. "Tapi Sora nggak mau pacaran, Tan. Maunya langsung nikah kayak sama Easton. Aku juga belum mau kalau dipaksa nikah muda! Aku mau fokus mikirin Mama sama perusahaan dulu!"
Dokter Darla menepuk jidatnya sendiri. Baru kali ini ia hampir kehilangan kesabaran menghadapi pasien. Efek kedekatannya dengan Nyonya Evelyn membuat Dokter Darla merasa sedang menasihati anaknya sendiri yang super keras kepala.
Dokter Darla akhirnya mengakhiri sesi konsultasi hari ini karena harus mengunjungi pasien lainnya. Beliau berjanji akan datang kembali besok untuk mengumpulkan informasi tambahan dari Nyonya Evelyn dan para staf rumah. Sebelum berpamitan, ia memberikan pesan penting agar Axcel mencoba mengajak Sora bertemu dengannya, sekaligus mengingatkan Axcel untuk memperlakukan Sora dengan hati yang tulus tanpa paksaan.
"Haaah... gimana caranya ngebujuk Sora, ya?" gumam Axcel frustrasi usai kepergian Dokter Darla. "Rio! Riooo... tolongin aku!"
---
Malam itu, langit membendung warna hitam pekat, mengabarkan hujan deras yang siap turun. Bintang-bintang bersembunyi di balik awan, menghilang dari panggung malam.
Di kamarnya, Sora membiarkan pintu balkon terbuka lebar, hanya ditutupi tirai tipis yang melambai ditiup angin. Hawa dingin yang membawa aroma tanah basah menerpa tubuh Sora yang sedang duduk memeluk lutut di atas ranjang dengan tatapan kosong.
"Soraaa... Soraaa... kabur yuk! Nggak enak tahu nikah mudaaa!"
Sebuah bisikan memanggil dari arah balkon, disusul suara benda kecil yang mendarat di atas karpet.
"Aww! Apa sih, Rio! Sakit tahu! Jangan lempar-lempar batu!" maki seseorang berbisik dengan nada kesakitan.
Sora menoleh kaget ke arah balkon. Di balik tirai yang tersingkap angin, tampak siluet Axcel yang berdiri bertengger di pembatas balkon dengan Rio yang memegangi tangannya panik dari bawah!
" Axcel? Kamu ngapain disiniii...? "
⭐⭐⭐⭐⭐
Akankah aksi nekat Axcel menyusup ke balkon kamar Sora di tengah malam berhasil meluluhkan hati Sora, atau justru memicu kekacauan baru di rumah keluarga Sora menjelang hari pertunangan?
*Halo Kiravers! Axcel makin hari makin konyol aja nih, berani-beraninya panjat balkon malam-malam demi bujuk Sora! Menurut kalian, Sora bakal luluh atau malah nendang Axcel dari balkon? Jangan lupa tinggalkan jejak suka dan komentar kalian ya! Sampai jumpa di bab selanjutnya!*