**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**
Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.
Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.
Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.
Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.
Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...
**suamiku sendiri membunuhku.**
Aku pikir kematian adalah akhir.
Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.
Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.
Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.
Suamiku masih belum menjadi suamiku.
Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.
Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.
Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.
Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.
Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 - JEJAK DI BAWAH LANTAI KAYU
Serpihan kaca jendela yang pecah berhamburan di atas lantai marmer, memantulkan pendar cahaya lilin yang berkedip gelisah di ruang kerja Edward Arlena. Di luar, desau angin malam merangsek masuk membawa hawa dingin dari taman belakang yang gelap gulita.
Adrian tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan satu gerakan cepat, ia menarikku merosot ke bawah meja kerja mahoni yang kokoh, sementara tangan kanannya mengangkat pistol laras pendek dengan posisi siaga penuh. Matanya yang kelam menatap tajam ke arah jendela yang kini menganga lebar, membaca setiap perubahan arah angin dan bayangan yang bergerak di luar.
"Bastian!" panggil Adrian dengan suara bariton rendah namun berwibawa, menembus dinding sunyi rumah tua Menteng.
"Posisi aman di sektor koridor utama, Tuan Besar!" suara Bastian membalas cepat dari ujung lorong lewat saluran komunikasi terenkripsi. "Belum ada pergerakan mencurigakan di lantai dua, tapi perimeter luar mendeteksi sinyal komunikasi frekuensi militer."
Aku mencengkeram erat lembar surat peninggalan Edward di tanganku. Kertas linen itu terasa dingin di ujung jemariku. Kalimat terakhir dari surat tersebut masih berdengung liar di dalam kepala: Kunci dari seluruh rahasia dewan bayangan... disembunyikan di dalam brankas pribadi di bawah lantai kamar tidur ibumu di vila tua Puncak. Dan orang yang memegang kunci kombinasinya saat ini... adalah satu-satunya saksi hidup yang mengkhianati Helena malam itu.
Saksi hidup. Siapa orang yang dimaksud Edward? Apakah Darmawan? Ataukah ada figur lain dari masa lalu yang sengaja disembunyikan di balik bayang-bayang?
"Nadia," panggil Adrian pelan. Suaranya menyadarkanku dari lamunan panjang. Ia menolehkan kepalanya, menatapku lekat-lekat. Sorot mata pria itu memancarkan ketenangan mutlak di tengah situasi yang bisa merenggut nyawa kapan saja. "Kita harus bergerak sekarang. Rumah ini sudah ditandai."
Aku mengangguk tegas, melipat surat itu dengan cepat dan menyelipkannya ke dalam saku bagian dalam mantelku. "Vila tua Puncak. Kita harus ke sana sebelum orang-orang Darmawan mendahului kita."
Adrian mengulurkan tangan kirinya, membantuku bangkit berdiri secara perlahan. Begitu kami keluar dari ruang kerja, Bastian bersama dua operator taktis Valois telah bersiaga di koridor utama. Tidak ada waktu untuk menyelidiki lebih jauh siapa penembak gelap yang tadi merusak jendela; prioritas kami sekarang adalah memotong langkah para pengkhianat sebelum mereka menutup akses menuju kebenaran.
Dua jam kemudian, mobil van utilitas hitam yang kami tumpangi melaju membelah jalanan sunyi menuju kawasan dataran tinggi Puncak, Bogor. Kabut tebal mulai turun menyelimuti jalanan berkelok-kelok yang dikelilingi oleh perkebunan teh yang menghitam di kegelapan malam.
Vila tua milik keluarga Arlena berdiri terisolasi di atas bukit kecil, dikelilingi oleh deretan pohon pinus tinggi yang mendesau tertiup angin pegunungan. Bangunan kolonial berlantai dua itu tampak suram, mengingatkan pada memori masa kecil yang terkubur dalam-dalam di bawah tumpukan abu dan air mata.
Kendaraan kami berhenti di balik rimbunnya semak-semak, berjarak seratus meter dari gerbang utama vila. Mesin dimatikan sepenuhnya, menyisakan keheningan malam yang hanya diisi oleh suara jangkrik dan deru angin dingin.
"Pemeriksaan termal menunjukkan ada dua titik panas di dalam bangunan utama," lapor Bastian sambil menatap layar pemantau taktis di tangannya. "Mereka sudah berada di dalam, Nona Besar. Setidaknya ada empat orang bergerak di lantai atas."
Aku menatap bangunan tua itu dari balik kaca jendela mobil. Cengkeraman tanganku pada gagang senjata di balik mantelku semakin menguat. "Mereka mencari brankas yang sama."
"Tetap di belakangku," ucap Adrian singkat, suaranya tidak membantah. Ia membuka pintu mobil dan melangkah turun lebih dulu, diikuti oleh Bastian dan operator taktis lainnya yang bergerak bagai bayangan senyap menembus kabut Puncak.
Pintu samping vila tidak terkunci—atau lebih tepatnya, sengaja dibuka untuk menyambut kedatangan kami.
Kami melangkah masuk ke dalam koridor yang berbau lembap dan kayu lapuk. Debu tebal menutupi setiap perabotan kuno di ruang tamu. Dengan isyarat tangan yang terukur, Adrian memimpin penyergapan menaiki tangga kayu menuju lantai dua, menuju satu-satunya ruangan yang menjadi tujuan utama: kamar tidur mendiang Helena Arlena.
Pintu kamar itu setengah terbuka. Dari celahnya, pendar cahaya lampu senter tampak menyapu dinding-dinding kamar yang dipenuhi kenangan masa lalu.
Suara gesekan benda berat terdengar dari dalam, disusul oleh suara napas seseorang yang tengah membongkar sesuatu di sudut ruangan.
Adrian memberi aba-aba dengan kepalan tangannya. Dalam sepersekian detik, ia menendang pintu kayu itu hingga terbuka lebar.
"Jangan bergerak!" bentak Adrian tajam, mengarahkan senjatanya tepat ke tengah ruangan.
Sosok yang tengah berlutut di lantai dekat sudut kamar terperanjat kaget, menjatuhkan linggis kecil dari tangannya. Cahaya senter terjatuh ke lantai, memantulkan pendar terang ke arah wajah pria paruh baya berambut beruban yang menoleh perlahan ke arah pintu.
Mataku membelalak lebar. Aku mengenali wajah itu dengan sangat baik—pria yang dulu berdiri di samping ibuku, pengurus rumah tangga setia yang dikabarkan tewas dalam kebakaran malam itu.
"T-Tuan Muda...?" bisik pria tua itu terbata-bata, menatapku dengan mata berkaca-kaca penuh penyesalan.
Dan di detik yang sama, sebelum sepatah kata pun sempat terucap, sebuah titik merah sinar laser tiba-tiba muncul tepat di tengah dahi pria tua itu dari arah jendela belakang yang gelap.