NovelToon NovelToon
Kau Yang Ku Rawat Hingga Sembuh

Kau Yang Ku Rawat Hingga Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: SulSya

Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.

Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.

Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.

Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.

Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.

Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab34

Layar laptop di hadapan Maya memantulkan cahaya putih samar-samar, memperjelas bayangan kerutan tipis di dahi wanita itu.

Sudah hampir sepuluh menit Maya menatap mutasi rekening tabungan bersama yang tertera di layar internet banking. Angka di baris saldo akhir terasa keliru.

Ia mengucek matanya, berharap salah membaca. Namun, kenyataan pahit itu tetap tertera di sana: Penarikan Tunai - Rp15.000.000, diikuti Transfer Keluar - Rp25.000.000 hanya dalam kurun waktu tiga hari terakhir.

"Mas Bagas..." bisik Maya pelan, suaranya tercekat di tenggorokan.

Uang itu adalah tabungan yang mereka kumpulkan bertahun-tahun untuk uang muka rumah impian.

Setiap rupiah di sana mewakili jam lembur Maya, jatah belanja bulanan yang ditekan hemat, serta impian sederhana untuk memiliki atap sendiri.

Suara derit pintu depan memecah keheningan rumah. Bagas melangkah masuk, bersenandung kecil sembari melepas sepatu kulitnya. Di tangannya menggantung sebuah tas belanja dari merek pakaian wanita papan atas.

"Kamu belum tidur, May?" tanya Bagas santai sembari membenahi kerah kemejanya.

Maya memutar kursi kerjanya lambat-lambat, menatap suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Mas dari mana?"

"Oh, ada urusan kantor sebentar tadi. Selesai rapat, terus makan malam sama klien," jawab Bagas tanpa ragu, melemparkan kunci mobil ke atas meja.

"Klien? Atau Rania?"

Langkah Bagas terhenti seketika. Ekspresi wajahnya mengeras dalam hitungan detik, meski ia berusaha keras menguasai diri. "Mulai lagi, kan? Kamu selalu curigaan tanpa alasan. Aku ini kerja keras buat kita, May."

"Kerja keras buat kita, atau kerja keras buat memanjakan wanita lain?" Maya berdiri, menunjuk ke arah layar laptopnya.

"Coba Mas jelaskan ke aku. Ke mana perginya empat puluh juta dalam tiga hari dari tabungan masa depan kita?"

Bagas mendengus, mengalihkan pandangannya. "Itu... itu modal putaran proyek baru. Aku butuh dana cepat, nanti kalau cair juga balik lagi."

"Modal proyek?" Maya tertawa sumbang, air mata pertama meluncur di pipinya.

"Sejak kapan modal proyek dibayarkan di boutique designer di pusat perbelanjaan mewah? Sejak kapan operasional kantor butuh perhiasan emas?"

"Maya, jaga bicaramu!" suara Bagas meninggi, mencoba menutupi kegugupannya dengan amarah. "Kamu nggak tahu apa-apa tentang bisnis!"

"Aku tahu angka, Mas! Aku yang memegang pembukuan keluarga ini sejak hari pertama kita menikah!" teriak Maya, suaranya bergetar menahan kepedihan mendalam. "Tabungan itu bukan cuma uangmu.

Ada keringatku di sana! Kenapa Mas tega nguras semuanya?"

Di tempat lain, suasana restoran fine dining bernuansa remang masih membayang di ingatan Bagas. Baru beberapa jam lalu, ia duduk di sana bersama Rania.

Rania, wanita muda dengan pesona anggun yang menuntut standar tinggi, tersenyum manis saat menerima kotak perhiasan dari velvet hitam.

Di dalamnya melingkar sebuah gelang berlian polos namun elegan—hadiah yang dibeli Bagas dengan penarikan tunai kemarin sore.

"Mas Bagas baik banget... Tapi sebenarnya Rania nggak enak kalau direpotkan begini," ucap Rania kala itu dengan suara lembut yang membuai. Matanya berbinar menatap kilauan berlian di jemarinya.

"Untuk kamu, nggak ada kata kerepotan, Rania. Kamu berhak dapat yang terbaik," balasan Bagas hari itu terasa begitu gagah di telinganya sendiri. Ia merasa menjadi lelaki utuh yang dihargai dan dipuja.

Namun kini, kembali ke rumah kecil mereka, lamunan manis itu hancur berantakan berhadapan dengan kenyataan.

"Kamu merusak suasana saja, Maya," ucap Bagas dingin, memotong lamunannya sendiri. "Uang itu bisa dicari lagi.

Kenapa kamu harus sekikir ini soal uang?"

"Kikir?" Maya menatap Bagas seolah tak mengenali pria yang dinikahinya empat tahun lalu itu.

"Aku hemat bukan karena kikir, Mas! Aku mengalah tidak beli baju baru berbulan-bulan supaya kita punya rumah sendiri! Supaya anak kita nanti punya tempat tinggal yang layak!"

"Nanti! Nanti! Selalu bicara soal nanti!" Bagas melangkah mendekati Maya, menyudutkan wanita itu dengan tatapan tajam.

"Aku butuh investasi sekarang! Relasi bisnis itu butuh penampilan, butuh impresi! Rania itu punya jaringan luas yang bisa bantu karirku naik!"

"Jangan tamengkan karier untuk menutupi perselingkuhanmu, Mas Bagas!" seru Maya tegas. "Aku bukan wanita bodoh.

Gelang yang kamu belikan buat Rania minggu lalu, tas yang ada di tanganmu sekarang... itu semua bukan investasi bisnis.

Itu tumbal untuk harga dirimu yang haus pujian!"

Napas Bagas memburu. Kata-kata Maya tepat menghantam bagian paling rentan dari ego pribadinya.

"Cukup, Maya! Aku suami di rumah ini. Aku yang cari uang terbesar, dan aku berhak menggunakan uang itu sesuai keputusanku!"

"Uang bersama adalah kesepakatan bersama!" tegas Maya. "Kalau kamu ambil tanpa izin, itu mencuri, Mas. Kamu mencuri masa depan kita demi wanita lain!"

Bagas melempar tas belanjaan di tangannya ke atas sofa dengan kasar. "Terserah kamu mau mikir apa. Aku capek. Aku mau tidur."

"Kembalikan uangnya, Mas," bisik Maya pelan namun dingin, membuat langkah Bagas terhenti di depan pintu kamar.

"Apa kamu bilang?"

"Kembalikan seluruh uang tabungan yang sudah kamu pakai.

Atau besok pagi, aku sendiri yang datang ke kantor kamu dan bertanya langsung ke Rania berapa harga hadiah-hadiah yang sudah dia terima dari suamiku."

Bagas menoleh, membelalak tak percaya. "Kamu berani mengancam aku?"

"Aku tidak mengancam, Mas. Aku cuma mempertahankan apa yang menjadi hakku dan masa depanku," sahut Maya tenang, meski matanya sembap oleh air mata. "Pilihannya ada di tanganmu."

Bagas mengepalkan tangannya rapat-rapat, menatap Maya dengan kemarahan yang membeku, sementara keheningan malam menyelimuti rumah yang kini terasa makin asing bagi mereka berdua.

1
Ma Em
Bagas tdk tau diri diwaktu dia sakit Maya yg mengurusnya sekarang setelah sehat malah mau menyingkirkan Maya tanpa memberi kompensasi apapun , semoga usaha Bagas yg dia agung agungkan itu bangkrut dan menerima karma yg sangat menyedihkan karena sdh berkhianat .
SulSya
👍terimakasih kk penyemangat maya
Ma Em
Ayo Maya bangkit tunjukan pada Bagas bahwa tanpa dia Maya bisa cari uang dan sukses , buat Bagas menyesal karena sdh menceraikan mu Maya .
Ma Em
Alhamdulillah Maya selamat dan ada orang yg menolong .
Ma Em
Maya kamu kok bisa kalah dari Bagas sampai ngemis ngemis bikin malu saja , semoga Maya bisa sukses balas si Bagas buat dia menyesal dan berlutut minta maaf sama Maya tapi jgn mau untuk memaafkan nya .
Ma Em
Bagus Maya kamu hrs tegas jgn bisanya cuma nangis itu wanita lemah , Maya hrs berani buat Bagas menyesal setelah ditinggalkan sama Maya .
Ma Em
Thor yg benar nama suami Maya itu sebenarnya Bagas atau Aris jadi bingung , sebentar dipanggil Bagas sebentar dipanggil Aris .
SulSya: Rania mengaku kepada Maya bahwa nama pacar nya itu Aris kepada Maya agar tidak ketahuan sama maya
total 1 replies
Ma Em
Maya kamu jgn cuma nangis cepat bergerak dan selidiki kelakuan Bagas diluar rumah seperti apa kelakuan nya .
SulSya: iya itu, ini malah nangis aja
total 1 replies
SulSya
🙏🙏
Ma Em
Lelaki modelan Bagas yg tdk pantas ditolong sama maya dulu lbh baik biarkan saja dia cacat dan tdk bisa berjalan lagi , sungguh menyebalkan setelah sehat dan mapan malah melupakan Maya yg merawat dan banting tulang untuk membiayai Bagas .
SulSya: bener banget tuh kak, besok kita siksa dia
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!