NovelToon NovelToon
PRADA TRACE : Melacak Jejak Arwah

PRADA TRACE : Melacak Jejak Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / TKP
Popularitas:97.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.

Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.

Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke Pelukan

“GILANG!” panggil Nino lagi.

Mendengar teriakan Nino, Gilang yang masih menyusuri hutan langsung menghentikan langkahnya.

“GUE DI SINI, BANG!” teriak Gilang sambil memainkan senternya untuk memberi kode kepada Nino dan Asep.

Dalam kegelapan, Nino melihat cahaya senter yang berkedip-kedip. Pria itu segera mendekati cahaya tersebut, disusul oleh Asep.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Nino begitu melihat Gilang.

“Iya, Bang. Tapi agak susah nih cari jasad mereka.” Gilang menunjuk tujuh arwah yang bersamanya.

“Ahqam!” panggil Asep.

Dalam hitungan detik, Ahqam langsung muncul bersama Eris. Pandangannya langsung tertuju pada tujuh arwah yang penampilannya sangat mengenaskan.

“Tolong bantu cari jasad mereka di mana!” perintah Asep.

“Si Jung Kook sama Prisa emangnya nggak bisa bantu kamu?” tanya Ahqam sambil melihat Jung Kook dan Prisa.

“Aku, kan, bukan anjing pelacak,” jawab Prisa membela diri.

“Heleh, ngeles aja. Kalian berdua ikut aku. Biar aku kasih tahu caranya!”

Jung Kook dan Prisa langsung mengikuti Ahqam. Keduanya memang masih harus banyak belajar dari jin berusia ribuan tahun tersebut agar bisa membantu Gilang dan Pradipta dalam keadaan genting.

“Yang satu udah ketemu, Bang. Di sini tempatnya.”

Gilang segera menunjukkan tempat dia menemukan jasad arwah pertama. Tak butuh waktu lama, mereka sudah tiba di lokasi pertama.

Dengan bantuan senter, Nino memperhatikan keadaan jasad tersebut dengan saksama. Terdapat banyak luka di tubuh jasad tersebut. Namun, luka yang paling fatal adalah di bagian kepala.

“Sepertinya korban dipukul menggunakan batu. Coba kalian cari batu yang digunakan. Pasti pelaku membiarkan batu itu tetap berada di sini,” ujar Nino kepada petugas patroli yang mengikutinya.

“Lo ingat, nggak, terakhir kali lo dipukulin di mana?” tanya Gilang.

“Ingat. Ayo aku tunjukin”

Sambil mengesot, arwah tersebut menuju tempat dirinya bergulat dengan Opan hingga akhirnya tewas di tangan pria itu.

“Ini lokasi tempat aku disiksa sampai mati,” ujar arwah tersebut setelah sampai di tempat pembunuhannya. Dia juga menggambarkan bentuk batu yang digunakan untuk menghantam kepalanya.

Gilang segera mencari batu yang dimaksud. Setelah beberapa saat, dia menemukan batu yang mirip dengan batu yang digambarkan arwah tadi. Selain itu, ada bercak merah di batu tersebut.

“Bang! Batunya udah aku temuin!” teriak Gilang.

Salah seorang petugas patroli mendekat. Petugas itu mengenakan sarung tangan, lalu memasukkan batu tersebut ke dalam plastik bening.

Sementara itu, Asep dan Nino berpencar untuk menemukan lokasi jasad para arwah yang telah berhasil diketahui Ahqam.

Mereka memberi tanda agar petugas patroli bisa menemukan lokasi tersebut dan mengevakuasi jasad-jasad itu.

Setelah menandai lokasi jasad-jasad tersebut, Nino dan Asep memberi instruksi kepada petugas patroli untuk mencari tanda yang sudah mereka buat.

Di sanalah jasad-jasad tersebut dibuang. Setelah itu, mereka segera mendekati Gilang.

“Kalian lebih baik pulang. Masalah di sini biar ditangani petugas patroli. Kita mau bawa korban dan pelaku ke kantor buat dimintai keterangan.”

“Kita ikut ke kantor, Bang. Soalnya tiga klien kita juga ada di sana,” jawab Gilang.

“Ya, udah. Ayo.”

Tanpa membuang waktu, Nino dan Asep segera menuju mobilnya. Gilang bergegas masuk ke dalam mobil Pradipta. “Bang, kita ke rumah tadi. Para korban dan pelaku mau dibawa ke kantor Polda.”

Pradipta segera menyalakan mesin mobil. Pria itu mengikuti mobil Nino yang sudah bergerak lebih dulu.

Setibanya di rumah penampungan, para korban sudah dievakuasi dan para pelaku sudah diamankan. Gilang terkejut saat mengetahui bahwa jumlah pelaku ternyata ada tujuh orang. Seingatnya, dia hanya mengikat enam orang.

“Lah, ini yang satu siapa?” tanya Gilang sambil menunjuk Artos.

“Itu si mesum yang suka pamer rudal mininya,” celetuk Alma.

“Oh, jadi elo yang sering pamer anak burung perkutut.” Gilang mendekati Artos. Pria itu hanya menunduk karena tidak mau Gilang melihat wajahnya.

“Cih, burung seuprit aja dipamer-pamer,” ledek salah satu korban penculikan.

“Yakin kalau masuk, nggak bakal sampai ujung. Cuma di pertengahan doang,” sambung yang lain.

“Lo udah sunat belum sih?” tanya perempuan berambut kecoklatan.

“Sama terong aja, masih gedean terong kayanya,” sahut Jelita asal. Padahal dia tidak benar-benar memperhatikan ukuran rudal Artos.

“Mau gue kasih tahu rumah Mak Erot, nggak? Kali aja dari sosis so nice, jadi sosis kanzler,” sahut Alma.

Para petugas yang sedang mendata nama dan alamat para korban penculikan tidak bisa menahan tawanya mendengar celetukan para gadis itu.

“Buset, tuh lambe kagak ada saringannya,” celetuk Gilang.

Sebagai sesama lelaki, Gilang merasa malu juga mendengar komentar pada gadis itu. Apalagi mereka sedang membicarakan benda pusaka yang tidak bisa dilihat, apalagi dipegang sembarang orang.

“Kalian kami bawa dulu ke kantor Polda untuk dimintai keterangan. Setelah itu, baru boleh pulang. keluarga kalian akan diminta menjemput ke sana,” ujar salah satu anggota Tim Dua.

“Anjani, Jelita, sama Alma ikut mobil kita aja,” usul Pradipta.

Satu per satu, para korban menaiki mobil yang digunakan petugas. Karena jumlah korban cukup banyak, mereka sampai menggunakan empat mobil, termasuk mobil yang digunakan Nino.

Ada juga korban yang dibawa oleh ambulans karena keadaannya lemas dan membutuhkan perawatan.

Sementara itu, para pelaku dibawa menggunakan mobil patroli, sedangkan Jelita, Alma, dan Anjani ikut di mobil Pradipta.

Kendaran-kendaraan tersebut mulai meninggalkan lokasi. Suara sirene terdengar memecah kesunyian di tempat tersebut.

Sesampainya di kantor Polda, para korban langsung dimintai keterangan. Keluarga korban juga segera dihubungi dan diminta menjemput korban di kantor tersebut.

Gilang dan Pradipta terus berada di sana. Mereka masih menunggu kedatangan ketiga klien yang menggunakan jasa mereka.

Satu jam kemudian, Rini, Danti, dan Nelly datang hampir bersamaan bersama suami masing-masing, kecuali Nelly yang datang tanpa suami. Mereka bergegas memasuki kantor Polda.

“Alma!” panggil Rini sambil mencari-cari anaknya.

“Mama!” Mendengar suara mamanya, Alma bergegas mendekat. Gadis itu langsung memeluk mamanya erat. Keduanya berpelukan sambil menangis.

“Syukurlah kamu selamat,” ujar Rini sambil mengusap punggung anaknya.

“Kamu baik-baik aja?” tanya ayah Alma.

“Aku baik, Pa.” Alma langsung memeluk ayahnya. Perasaan gadis itu menjadi lebih tenang setelah bertemu dengan kedua orang tuanya.

Tak jauh dari mereka, Anjani juga berada dalam pelukan kedua orang tuanya. Gadis itu tak bisa menahan tangisnya begitu bertemu dengan kedua orang tuanya.

“Kamu nggak diapa-apain, kan?” tanya Danti sambil melepas pelukannya.

“Iya, Ma. Aku takut, Ma. Selama ini aku dan yang lain disekap. Untung aja ada yang datang menyelamatkanku. Katanya Mama yang kirim mereka.”

“Iya, sayang. Syukurlah Mama meminta bantuan pada orang yang tepat dan kamu bisa ditemukan.”

Danti memeluk anaknya erat. Dia sangat bersyukur Anjani berhasil ditemukan dalam keadaan baik dan tidak kekurangan apa pun.

Selain mereka, Nelly juga merasa lega sekaligus bahagia karena anaknya berhasil ditemukan dalam keadaan selamat.

“Aku takut, Ma. Aku takut nggak bisa ketemu Mama lagi,” ujar Jelita sambil menangis.

“Mama juga takut. Syukurlah akhirnya kamu bisa ditemukan.”

Setelah beberapa saat, Nelly melepaskan pelukannya. Wanita itu kemudian menemui Gilang dan Pradipta.

Tanpa bantuan mereka, belum tentu anaknya akan ditemukan secepat ini. Selain Nelly, Danti dan Rini juga ikut menemui dua pria tersebut.

“Terima kasih. Berkat pertolongan kalian, anakku berhasil ditemukan dan selamat,” ujar Nelly.

“Sama-sama, Bu. Saya juga bersyukur Jelita dalam keadaan hidup saat kami temukan,” jawab Pradipta.

“Apa ada korban yang tidak selamat?” tanya ayah Alma.

“Ada, Pak. Ada sekitar delapan jasad yang ditemukan di tempat itu,” jawab Gilang.

“Ya, ampun,” ujar Rini sambil menutup mulutnya. Wanita itu sangat bersyukur anaknya ditemukan dalam keadaan selamat.

“Karena kalian sudah bertemu, kami pamit,” ujar Pradipta.

“Soal bayarannya, akan saya transfer ke rekening PRADA TRACE,” ujar ayah Alma.

“Saya juga akan mentrasfer besok,” sambung ayah Anjani.

“Saya juga akan memberikannya besok,” pungkas Nelly.

“Iya, Pak, Bu. Kalau begitu, kami permisi.”

Karena tidak ada urusan lagi, Pradipta dan Gilang segera meninggalkan kantor Polda. Keduanya langsung menuju mobil Pradipta.

“Kita ke tempat Giana dulu,” ujar Pradipta sambil menyalakan mesin mobil. Pria itu masih mengkhawatirkan salah satu anggota PRADA TRACE tersebut.

“Tapi udah malam, Bang. Emangnya kita boleh masuk?” tanya Gilang.

“Oh iya. Kalau gitu, kita telepon aja.”

Pradipta segera mengambil ponselnya, lalu menghubungi Giana. Untuk beberapa saat, panggilannya belum terjawab hingga akhirnya terdengar suara orang lain, bukan suara Giana.

“Halo,” jawab Leya dari seberang.

Jantung Pradipta berdebar tak karuan begitu mendengar suara yang menjawab panggilannya. Dia yakin bahwa pemilik suara tersebut adalah gadis cantik yang sudah membantu mereka tadi.

***

In Syaa Allah, hari ini sampai dua hari ke depan aku bakal crazy up. Kalau sempat, langsung baca ya dan komen yang banyak biar aku semangat🤗

1
Sari Hastuti
wah²
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
yuupp mencurigakan sekali 😂
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
nahhh kek nya yg patut di curigai Viona deh...... knp ujug² mengklaim LAKSONO SUPPLY milik kita🤔....
biarpun dia itu istrinya ....sapa tau dia ingin menguasai harta suaminya....dan juga polis asuransi jiwa yang sangat besar.....kan selama ini dia selalu berselisih paham dgn adik iparnya Khalisa .... hubungannya gk baik....bisa aja setelah semua di miliki di kuasai dia akan usir Khalisa 😔
sakura hanae @ mimie liyana❤️
Pintar juga pelakunya. Mobil pun di hilangkan 🤔
tehNci
Asyik...mari kita menebak-nebak, siapakah sebenarnya yg menginginkan kematian Gian? Istrinya? adik kandungnya? atau ada aorangnlain? Semakin menarik dengan penampilan sikap Viona dan Khalisa yg sungguh sangat bertolak belakang.
tehNci
Naah jadi bimbang nih. Sekarang aku pindah haluan..Khalisa dalang pembunuhan Gian? ah...ntahlah..
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Duh Astro baik" aja kan 🥺
tehNci
Jauh dari dugaan..Khalisa sangat judes dan hati² banget.... tambahnyakin kalo pelakunya adalah Viona
Teti Usmayanti
blm bisa membuktikan khalisa itu pelakunya karena blm ada bukti yg akurat dan saksi. msh abu abu euy.. pelaku pembunuh Gian.
Ayuk Witanto
sepertinya begituu
Ayuk Witanto
patut di curigai...mobilnya Gian juga hilang
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Apa Gian dibunuh oleh selingkuhan istrinya 🤔
Ani
yang mencurigakan belum tentu pelakunya mak...
Euis Sri
tapi kayaknya tetap Viona,.dia berusaha menutupinya dgn bersikap seakan lebih peduli atas menghilang nya Gian,. menurutku 🤭 ada udang di balik terigu,..peyeek 😅✌️
Febri Nayu
khalisa pantas di curigai
Khey Rachmat
fix ini mah si khalisa ..di segala berbulu dobma
Febri Nayu
kok iso ngerti lek Gian duwe vila dan sedang ada disana
secara logika haruse duduk wong adoh seh pelakune
dewi rofiqoh
Siapa ya yang tega bunuh gian? Apa motif ya?
Safitri Agus
masih belum tau🤔
Safitri Agus
coba tanya ke istrinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!