NovelToon NovelToon
Aura Clarissa

Aura Clarissa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:681
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.

Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.

Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Tagihan Dimeja Kafe

"Gimana, Pak Darrel sudah telepon lagi belum?" seru Santi saat melihat Aura duduk diam menatap layar laptopnya yang dipenuhi barisan kata.

Jemari lentik Aura berhenti menari di atas papan ketik. Ia mendongak, menatap Santi yang tersenyum lebar di hadapannya. "Mbak, aku nggak mau lagi berhubungan sama dia. Aku nggak minat buat bikin novelku jadi film."

Senyuman Santi luntur seketika. Ia menggeser laptop Aura sedikit ke samping, lalu memegang kedua pundak penulis itu dengan gemas. "Langka, Aura! Di mana-mana penulis itu pengin novelnya diangkat jadi—"

"Tapi aku enggak, Mbak!" sela Aura cepat, menepis halus tangan santi.

Santi menghela napas panjang dan menarik tangannya. "Aura, sampai kapan kamu mau nulis capek-capek kalau novelmu cuma stuck di pembaca seratus ribu tanpa jadi apa-apa?"

Aura tak menjawab. Bibirnya terkatup rapat. Ia memilih diam dan kembali menatap layar laptop, berusaha mengalihkan gemuruh di dadanya dengan mengetik ulang kalimat yang meragukan.

"Pak Daffa juga nawarin sesuatu yang bikin kamu melongo selain film," lanjut Santi, mengubah taktik.

Nama Daffa membuat jemari Aura kembali membeku. Ia menurunkan layar laptopnya sedikit, menatap wajah editornya yang kini tampak teramat serius.

"Dia mau beli lisensi novelmu seratus juta, dengan syarat kamu batalkan semua rencana kerja sama dengan Darrel," jelas Santi sembari menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan tangkapan layar pesan pribadinya dengan Daffa.

Aura mengerutkan dahi. "Kenapa ya Mbak... kalau denger nama Daffa, rasanya nggak asing banget di telingaku?"

Santi langsung membalikkan ponselnya dan memamerkan foto profil Daffa di depan wajah Aura. "Ini Bos Daffa. Ganteng, kaya raya tujuh turunan, masih muda, tapi sayangnya sudah laku," cerocos Santi tanpa jeda.

"Tapi..."

Santi menempelkan telunjuknya di depan bibir Aura sebelum perempuan itu sempat menyela. "Tapi tetap gantengan Darrel, adiknya Daffa! Masih muda, sudah jadi CEO Gorge Pictures, dan yang paling penting dia..."

Drrrttt... Drrrttt...

Getaran nyaring ponsel Aura di atas meja memotong kalimat Santi. Mereka berdua refleks menunduk, menatap layar yang menyala bersamaan. Nama Darrel Gorge tertera jelas di sana.

Aura menatap layar itu dengan kening berkerut bingung. "Kok dia bisa tahu nomorku, sih?"

Santi hanya mengangkat kedua bahunya tak acuh. Tanpa persetujuan Aura, tangannya bergerak cepat menyambar ponsel itu dan menggeser ikon hijau ke atas.

"Mbaakk...!" gumam Aura panik setengah berbisik.

"Aura? Halo?" suara berat dan bernada tegas milik Darrel langsung terdengar dari speaker ponsel.

"I... iya, Pak. Ada apa ya?" sahut Aura kaku.

"Begini, Aura. Saya sudah menelpon semalam dan sepertinya kamu terlalu lelah untuk bicara. Jadi saya memutuskan untuk mengajak kamu bertemu siang ini. Ada hal yang sangat penting dan mendesak yang harus kita bahas," ujar Darrel tanpa nada basa-basi.

"Iya, Pak! Ini Aura sedang siap-siap mau jalan menemui Anda," sahut Santi cepat memotong sebelum Aura bersuara, lalu seketika mematikan sambungan secara sepihak.

"Mbaaaakkk!" omel Aura gusar seraya memukul pelan lengan editornya dengan buku catatan.

"Sudah, gih sana temui Darrel! Demi masa depan karya kamu!" dorong Santi dengan senyum tanpa dosa.

....

Suasana kafe di tengah kota siang itu terlampau bising. Rasanya tempat ini sangat tidak cocok untuk membicarakan urusan pekerjaan yang katanya amat penting.

Aura turun dari taksi. Flatshoes hitamnya melangkah pelan memasuki pintu kaca kafe. Hiruk-pikuk kehidupan kota besar di jam istirahat makan siang membuat tempat itu dipenuhi karyawan kantor sekitar.

Terlalu banyak kepala, aroma parfum yang beradu, serta kegaduhan suara yang membuatnya tidak nyaman. Ia memilih duduk di meja paling ujung yang agak terisolasi.

Untuk mengusir canggung, Aura memesan segelas iced lychee tea. Namun, hingga minumannya hampir habis tak tersisa, pria yang mengundangnya tak kunjung muncul.

Baru pada menit berikutnya, seorang pria berbalut kemeja hitam yang dua kancing atasnya terbuka duduk terburu-buru di kursi kosong depannya.

Napas Darrel terengah-engah, pelipisnya basah oleh keringat tipis seolah baru saja berlari marathon. Tanpa permisi, pria itu menyambar gelas minuman Aura dan mengurasnya hingga tetes terakhir.

"Hambar," cetusnya pendek seraya mengempaskan gelas kosong itu ke atas meja.

Aura mengerutkan dahi, menatapnya heran. "Kenapa baru datang, Pak?"

"Saya kebetulan ada rapat mendadak di kantor cabang dekat sini. Dan saya berlari karena lupa parkir mobil di sebelah mana," sahut Darrel seraya memegangi dadanya, menata napasnya yang sesak.

"Bapak tidak apa-apa?" tanya Aura, sedikit prihatin.

Darrel hanya mengacungkan jempolnya ke udara tanpa bersuara.

Setelah memesan air mineral dan menghabiskannya dalam beberapa tegukan, kondisi Darrel mulai membaik. Pria itu membetulkan posisi duduknya, menyandarkan siku di meja, lalu menatap Aura lekat-lekat dengan intonasi yang mendadak dingin dan mengintimidasi.

Melihat perubahan gestur itu, Aura meremas jemarinya dan meletakkan ponselnya di atas meja.

"Jadi begini, Aura. Saya mau mengajak kamu bertemu dengan kakek saya minggu depan. Ini masih ada kaitannya dengan proyek adaptasi novelmu," jelas Darrel lurus.

Aura makin mengernyitkan alisnya. "Maaf, Pak. Saya kira kemarin di pesta saya sudah jelaskan kalau saya tidak—"

"Aura... " sela Darrel cepat, ia mendekatkan wajahnya dengan Aura hingga hampir menyentuh hidung mancung perempuan itu.

"Apa kamu lupa?... Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan tempo hari di kamar hotel," lanjut Darrel, suaranya merendah namun amat tajam.

Deg!

Aura membeku di tempatnya. Wajahnya seketika pucat pasi. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Darrel akan membawa kembali ingatan mengerikan itu di tempat umum seperti ini menagih tanggung jawab atas malam tak bermoral yang bahkan tak pernah Aura rasakan atau ingat sedikit pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!