Lia hanyalah gadis biasa. Hidup sederhana, bekerja keras membantu orang tuanya, tidak punya harta, tidak punya nama besar. Ia hanya ingin menjalani hari dengan tenang dan jujur.
Namun takdir membawa ia melangkah masuk ke dunia yang sama sekali asing — dunia mewah, dingin, dan penuh aturan milik Arga, pewaris tunggal kekayaan keluarga paling berpengaruh di kota itu.
Pertemuan mereka bukan karena kebetulan. Sebuah perjanjian lama mengikat kedua keluarga, memaksa mereka menikah. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah kewajiban yang harus ia penuhi. Bagi Lia, ini adalah awal dari perjalanan yang menguji ketabahan, kesetiaan, dan hatinya.
Di antara dua dunia yang tak pernah bertemu, bisakah cinta tumbuh? Apakah gadis biasa seperti Lia mampu menembus dinding dingin yang dibangun Arga? Atau pada akhirnya, ia hanya akan menjadi kisah singkat yang terlupakan di istana megah itu?
"Aku mungkin tidak lahir dengan harta, tapi aku lahir dengan hati yang mampu mencintaimu seutuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tindakan yang Mengagetkan
Berita itu datang tanpa mengetuk pintu, menyebar dari mulut ke mulut di antara kerabat, hingga akhirnya sampai ke telinga Arga — kerabat jauh yang menuntut hak waris telah memperkuat posisinya, mengajukan bukti-bukti yang meragukan keabsahan perjanjian puluhan tahun lalu, dan berencana membawa masalah ini ke pengadilan terbuka. Bukan sekadar sengketa harta — ini adalah upaya untuk mempertanyakan hak Arga berdiri di tempatnya, meragukan namanya, memecah belah keluarga yang sudah lama rapuh.
Suasana di rumah itu berubah seketika. Langkah kaki terdengar tergesa, telepon berbunyi terus-menerus, surat-surat bertumpuk di meja ruang kerja. Wajah-wajah yang biasanya tenang kini tampak tegang. Para penasihat hukum datang dan pergi, berbicara dengan nada rendah namun mendesak. Arga menjadi lebih pendiam, lebih banyak berdiri di dekat jendela menatap ke luar, jarang tersenyum, tidur lebih sedikit dari biasanya.
Namun yang lebih mengagetkan bukanlah berita itu — melainkan apa yang terjadi sesudahnya.
Satu per satu kerabat yang dulu tampak dekat mulai menjauh. Mereka yang dulu memuji-mulai kini berbisik di sudut ruangan, mempertanyakan keputusan Arga, membandingkannya dengan Rania yang katanya berasal dari keluarga yang lebih berpengaruh, lebih bisa diandalkan. Bahkan ada yang datang berkunjung bukan untuk membantu, melainkan untuk menyarankan — dengan nada yang seolah-olah memberi nasihat bijak — bahwa mungkin langkah terbaik adalah menarik diri, atau setidaknya... mencari pendamping yang lebih bisa menjaga nama baik keluarga di masa sulit ini.
Aku mendengarnya sendiri dari bibir salah satu kerabat tertua, saat Arga sedang tidak ada di ruangan itu. "Kau gadis baik, Lia. Tapi kau harus paham — saat badai seperti ini, seseorang dibutuhkan yang tahu cara menghadapi dunia luar. Seseorang yang memiliki koneksi, yang dipahami oleh lingkaran mereka. Arga membutuhkan pendamping yang bisa memperkuat kedudukannya, bukan yang justru menambah keraguan orang lain."
Kata-kata itu tajam, namun aku tidak membalas. Aku hanya menunduk, menyimpan perasaan itu di tempat yang dalam. Mungkin mereka benar. Mungkin di saat ia paling membutuhkan kekuatan, aku justru menjadi beban.
Namun tindakan yang mengagetkan datang bukan dari mereka — melainkan dari Arga.
Pagi itu, surat kabar kota terbesar memuat pernyataan resmi yang ditandatangani oleh Arga sendiri. Isinya singkat, tegas, dan membuat semua orang terdiam: ia tidak akan menukar siapa pun, tidak akan mengorbankan apa pun yang berharga baginya, dan jika ada yang menganggap kehadiranku sebagai kelemahan, maka biarlah — ia lebih memilih mempertahankan kebenaran hatinya daripada semua harta di dunia ini.
Dan itu belum semuanya.
Siang harinya, di hadapan seluruh keluarga besar, para penasihat hukum, dan mereka yang selama ini berbisik di belakang, Arga berdiri tegak di ruangan yang paling megah, tempat di mana keputusan-keputusan penting biasanya diambil. Ia tidak membacakan naskah yang disiapkan orang lain. Ia berbicara sendiri, dengan suara yang tenang namun terdengar hingga ke sudut paling jauh ruangan itu.
"Kalian berbicara tentang warisan," ucapnya, menatap satu per satu wajah mereka yang hadir. "Tentang tanah, bangunan, nama baik. Namun ada satu hal yang tidak kalian hitung — warisan yang ditinggalkan ayahku bukan sekadar harta. Ia meninggalkan pesan: harta bisa habis, nama bisa rusak, tapi kepercayaan dan kesetiaan tidak bisa dibeli dengan uang."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan tegas. "Kalian menyarankan aku meninggalkan Lia karena ia tidak berasal dari dunia yang sama dengan kita. Kalian berkata ia lemah, ia tidak mengerti, ia akan menjadi beban. Kalian salah. Justru karena dia, aku tidak lagi takut. Justru karena dia, aku tahu apa yang benar-benar berharga."
Ia menoleh ke arahku, yang berdiri di sisi pintu, tak percaya apa yang kudengar. Tatapannya lembut, penuh keyakinan yang tak tergoyahkan.
"Sebelum Lia datang, aku hidup sendirian di rumah besar ini. Aku memiliki segalanya, tapi tidak memiliki apa-apa yang sungguh berarti. Dia datang bukan membawa harta, bukan membawa pengaruh — dia membawa ketulusan yang tidak pernah kulihat di antara kalian. Dia mencintaiku saat tidak ada yang melihatku. Dia menemaniku saat aku paling sepi. Dan sekarang, di saat aku paling sulit, kalian menyuruhku mengusirnya? Demi harta?"
Suaranya meninggi sedikit, namun tetap tenang. "Jika harta ini hanya bisa dimiliki dengan mengkhianati orang yang paling tulus kepadaku, maka biarlah hilang. Aku lebih memilih hidup sederhana bersamanya daripada menjadi orang terkaya di dunia ini sendirian."
Keheningan menyelimuti ruangan itu. Tidak ada yang berani menyahut. Tidak ada yang berani menatap matanya.
Arga melangkah mendekat ke arahku, menggenggam tanganku erat di hadapan semua orang. "Inilah pendampingku. Inilah wanita yang kupilih untuk menemani sisa hidupku. Jika kalian menerimanya, kalian menerimaku. Jika tidak... maka maafkanlah aku — aku tidak bisa berjalan di jalan yang kalian pilih."
Ia menggandeng tanganku keluar dari ruangan itu, meninggalkan mereka yang terdiam, meninggalkan semua bisikan, semua tuntutan, semua ketakutan yang selama ini mengikat kami. Langkah kakinya mantap, tidak ragu, tidak menoleh ke belakang.
Saat kami sampai di halaman kecilku, tempat yang tenang dan aman, ia baru melepaskan tanganku, menatapku dengan napas yang sedikit memburu namun matanya bersinar teguh.
"Kau tidak perlu melakukan itu," ucapku, air mata menetes deras di pipiku. "Mereka bisa mengambil semuanya."
Ia mengusap air mataku dengan lembut. "Semuanya? Tidak ada yang lebih berharga darimu. Jika aku kehilangan semuanya, tapi tetap memilikimu, aku tidak akan miskin. Tapi jika aku mempertahankan segalanya dan kehilanganmu... aku akan menjadi orang paling miskin di dunia."
"Tapi... ini semua yang kau miliki sejak kecil," kataku gemetar.
Ia tersenyum, senyum yang damai dan bahagia. "Aku baru benar-benar memiliki sesuatu sejak bertemu denganmu. Rumah ini, tanah ini, nama ini — semuanya hanya benda. Kau adalah rumahku yang sebenarnya."
Tindakan itu mengagetkan semua orang — kerabat, penasihat, bahkan diriku sendiri. Namun itu bukan keputusan yang diambil dalam kemarahan sesaat. Itu adalah keputusan yang tumbuh dari keyakinan yang dalam: cinta tidak ditimbang dengan harta. Kesetiaan tidak ditukar dengan kedudukan. Dan orang yang benar-benar mencintaimu akan berdiri di sisimu, bahkan saat seluruh dunia memintanya berpaling.
Berita itu menyebar luas. Ada yang mengagumi, ada yang menggelengkan kepala, ada yang memprediksi kejatuhannya. Namun Arga tidak peduli. Ia tetap melangkah bersamaku, tegak, tenang, bangga. Ia tidak menyembunyikanku. Ia tidak malu. Ia justru memperlihatkan kepada semua orang: inilah pilihanku, dan aku tidak menyesalnya.
Malam itu, saat kami berbaring berdampingan, aku bertanya pelan, "Apakah kau tidak takut?"
Arga memelukku erat, mencium keningku lembut. "Aku takut — takut kehilanganmu. Selain itu, tidak ada yang kutakuti lagi. Selama kita bersama, apa pun yang terjadi, kita akan menghadapinya. Jika harus mulai dari awal, kita mulai bersama. Jika harus hidup sederhana, kita bahagia bersama."
Ia menatapku lekat-lekat di bawah cahaya lampu yang redup. "Kau pernah berkata kau hanyalah gadis biasa. Ingat itu, katamu. Tapi kau lupa satu hal — gadis biasa inilah yang mengubah hidupku. Gadis biasa inilah yang membuatku berani menjadi diri sendiri. Dan tidak ada harta, tidak ada nama, tidak ada apa pun di dunia ini yang bisa menggantikan tempatmu."
Tindakan itu mengagetkan semua orang. Namun yang lebih mengagetkan adalah ketenangannya setelah melakukannya — seakan ia akhirnya menemukan kedamaian yang dicarinya seumur hidup. Ia tidak menyesal. Ia tidak ragu. Karena ia tahu: ia telah memilih sesuatu yang jauh lebih kuat dari apa pun yang bisa diwariskan — cinta yang tulus, setia, dan tak tergoyahkan.