NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Wiwi

Valen Adisty, seorang gadis yatim yang gigih dan penuh semangat, baru saja menyelesaikan pendidikan kedokterannya dan bersiap memulai karier sebagai dokter muda. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika takdir membawanya masuk ke dalam pernikahan tak terduga dengan Kevin Axelle Rayyan, seorang dokter spesialis tampan, dingin, dan sangat disegani di rumah sakit tempat Valen bekerja.
Di mata orang lain, Kevin adalah sosok dokter hebat yang perfeksionis, pendiam, dan sulit didekati. Namun di balik jubah putih dan tatapan matanya yang tajam, Kevin menyimpan kehangatan—sekaligus sifat posesif yang luar biasa tajam hanya untuk Valen seorang.
Sebagai dokter baru sekaligus istri rahasia dari dokter senior papan atas, Valen harus berjuang menyeimbangkan profesionalitas kerjanya dengan dinamika rumah tangganya yang penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ajakan Kevin

Valen tertegun. Jemarinya yang meremas ujung sprei makin mengencang. Pernyataan Kevin yang tanpa aling-aling itu sukses membuat lidahnya mendadak kelu. Keheningan menyelimuti sejenak, bukan lagi keheningan canggung, melainkan ketegangan manis yang menuntut jawaban.

"Kev..." panggil Valen pelan, mencoba mengumpulkan sisa pertahanan dirinya. "Loe sadar ngomong apa? Kita baru ketemu beberapa kali. Loe bahkan belum tahu jelek-jeleknya gue."

Helaan napas halus terdengar dari seberang garis telepon, disusul kekehan tipis yang terasa begitu dekat di telinganya. "Gua udah lihat loe melotot, ngomel-ngomel, salah tingkah, sampai makan martabak dengan pipi mengembung kaya tupai. Menurut gua, itu udah cukup menggambarkan seorang Valen. Gua nggak butuh alibi atau masa penjajakan bertahun-tahun cuma buat paham kalau gua tertarik."

"Tapi gue baru mau wisuda, Kev. Apa loe nggak malu kalau..."

"Dan gua seorang dokter spesialis yang jam tidurnya berantakan," potong Kevin tenang. "Gua tahu dinamika dunia kita, Val. Justru karena itu gua nggak mau buang waktu. Besok malam jam tujuh, gua jemput. Kaki kamu udah aman buat jalan santai, asal nggak pakai high heels. Deal?"

Valen menggigit bibir, menatap lampu kamar yang temaram. Dorongan untuk menolak demi menjaga gengsi mendadak luluh oleh ingatan tentang senyum Kevin di balkon semalam.

"Gue... pikir-pikir dulu," cetus Valen, perlawanan terakhirnya.

"Gua anggap itu kata 'ya'," sahut Kevin cepat dengan nada penuh kemenangan. "Sekarang tidur. Calon dokter nggak boleh begadang kalau nggak lagi jaga malam. Obat pusingnya diminum."

"Sok mengatur banget," sungut Valen, walau senyum tipis terukir di bibirnya.

"Bukan sok mengatur, tapi perhatian. Bedanya tipis," balas Kevin jenaka. "Sampai ketemu besok malam, Valen. Good night."

"Mmm... night, Kev."

Panggilan terputus. Valen menurunkan ponsel lalu menyandarkan kepala ke bantal. Layar yang kini gelap memantulkan bayangan wajahnya sendiri yang sedang tersenyum lebar. Sambil mendengkus pelan, ia menarik selimut rapat-rapat untuk menyembunyikan wajahnya yang memanas.

Keesokan harinya, suasana rumah terasa berbeda. Sejak sore, sang Bunda sibuk bolak-balik di lantai bawah sambil sesekali melirik ke arah tangga. Tepat pukul enam sore, beliau mengetuk pintu dan melongokkan kepala ke dalam kamar.

Di sana, Valen tampak berdiri di depan cermin, menggonta-ganti baju untuk yang keempat kalinya.

"Katanya cuma hubungan dokter dan pasien?" goda sang Bunda seraya bersandar di bingkai pintu.

Valen terperanjat dan refleks melempar kaus di tangannya ke atas kasur. "Bunda! Biasain ketuk pintu dulu!"

"Bunda udah ketuk dua kali, kamu aja yang terlalu fokus," kekeh beliau seraya mendekati lemari dan mengambil sebuah gaun kasual berwarna krem berbahan katun lembut. "Pakai yang ini. Bahannya nyaman kalau nanti Dokter Kevin ajak jalan ke area outdoor."

"Bunda... ini cuma makan malam biasa," kilah Valen, meski tangannya tetap menerima gaun tersebut.

"Makan malam biasa nggak bikin anak Bunda ganti baju empat kali sejam," sahut ibunya terkekeh sambil menepuk bahu Valen. "Cepat siap-siap. Tadi Kevin sempat kirim pesan ke Bunda, nanyain kamu suka makan apa kalau malam Minggu."

Mata Valen membelalak. "Dia punya nomor Bunda?!"

"Tentu saja. Dokter profesional harus punya komunikasi yang baik sama keluarga pasiennya, kan?" goda ibunya dengan senyum misterius sebelum melangkah keluar.

Tepat pukul sembilan belas nol-nol, raungan halus mesin mobil berhenti di depan pagar. Tak lama, bel pintu berbunyi. Valen menarik napas panjang, merapikan rambutnya yang terurai, lalu melangkah turun dengan hati-hati.

Di ruang tamu, Kevin sedang berbincang akrab dengan ibunya. Pria itu menanggalkan jas putih dokternya, berganti mengenakan sweater rajut abu-abu gelap dengan lengan digulung sebatas siku dan celana chinos hitam. Tampilannya santai, namun tetap memancarkan aura matang.

Menyadari kehadiran Valen, Kevin menghentikan pembicaraan. Matanya terkunci pada sosok Valen yang berjalan turun, memancarkan pendar kagum yang terang-terangan.

"Nah, itu Valen sudah siap," ujar sang Bunda memecahkan keheningan.

Kevin maju beberapa langkah, mengulurkan tangan saat Valen menapaki anak tangga terakhir. "Kaki kamu gimana? Masih sakit pas jalan?"

Valen menyambut uluran tangan itu untuk menjaga keseimbangan. "Udah jauh mendingan. Penanganan awal dari dokter spesialisnya ternyata ampuh."

Kevin terkekeh pelan. "Baguslah kalau pasiennya penurut." Ia beralih menatap ibunda Valen. "Tante, saya izin ajak Valen keluar sebentar. Sebelum jam sepuluh malam sudah sampai rumah lagi."

"Santai saja, Nak Kevin. Yang penting dijaga, jangan sampai kakinya terkilir lagi," balas ibunya ramah.

Perjalanan dua puluh menit membawa mereka menuju sebuah kafe rooftop yang tersembunyi di daerah perbukitan. Tempat itu dinaungi lampu-lampu gantung hangat dengan pemandangan city lights yang membentang luas. Kevin membimbing Valen menuju meja sudut paling strategis.

"Suka tempatnya?" tanya Kevin setelah memesan dua cangkir cokelat hangat.

Valen menatap pendar cahaya kota di kejauhan dengan mata berbinar. "Bagus banget, Kev. Rasanya kebosanan gue beberapa hari ini menguap begitu saja"

"Gua selalu ke sini kalau otak gua udah jenuh sama bau antiseptik dan bunyi monitor EKG," ujar Kevin seraya menyandarkan tubuhnya. "Di rumah sakit, segalanya tentang hidup dan mati. Tempat ini satu-satunya ruang di mana gua bisa ngerasa jadi manusia biasa."

Valen menoleh, mendapati garis tegas di wajah Kevin melunak di bawah pendar lampu temaram. "Pasti berat ya jadi dokter bedah spesialis di usia muda?"

"Berat, tapi itu pilihan gua," sahut Kevin pelan. Pandangannya mengunci fokus Valen. "Sama kaya pilihan gua buat nemuin loe malam ini. Itu bukan keputusan impulsif, Val."

Valen meremas cangkir cokelatnya, meresapi hangat yang merambat ke jemari. "Kev... jujur gue masih ragu. Loe udah mapan dan jadi spesialis hebat, sementara gue baru mulai perjalanan di dunia kedokteran. Jarak kita jauh."

Kevin menyilangkan tangan di atas meja, bertumpu agak condong ke depan. "Gua nggak nyari partner buat diajak bersaing di dunia medis. Gua nyari seseorang yang bisa bikin gua merasa 'pulang' setelah seharian bergelut dengan kelelahan. Dan pas gua lihat loe ngomel-ngomel di rumah sakit atau salah tingkah di balkon... gua ngerasa ketenangan itu ada di loe."

Suasana di antara mereka seolah membeku. Kata-kata Kevin terasa tulus tanpa nada kesombongan.

"Loe... pinter banget kalau ngomong," bisik Valen, berusaha menutupi rasa haru dengan senyum kecil.

"Gua cuma ngomong sesuai fakta medis dari perasaan gua sendiri," balas Kevin terkekeh. Ia meraih tangan Valen di atas meja, mengusap punggung tangannya lembut. "Gua nggak minta kepastian malam ini. Gua cuma mau loe kasih gua kesempatan buat membuktikan ucapan gua. Gimana?"

Valen menatap genggaman tangan Kevin, lalu beralih ke manik mata pria itu yang memancarkan keseriusan. Dinding pertahanan yang ia bangun perlahan runtuh.

Ia menarik napas panjang dan menyunggingkan senyum tulus. "Oke. Tapi ingat ya, Dr. Kevin... gue orangnya susah diatur dan galak. Kalau loe macam-macam, gue bikin loe nyesel."

Kevin tertawa renyah tawa paling lepas yang pernah Valen dengar darinya. Ia mempererat genggamannya.

"Tantangan diterima, Pasien," bisik Kevin hangat.

1
Intan Wiwi
sangat cocok untuk pembaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!