Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 SYUKURAN SEDERHANA DI RUMAH WIWI
Berita tentang keseriusan niat Zaki untuk melamar dan menikahi Wiwi menyebar cepat ke seluruh penjuru desa bagaikan angin musim semi.
Di sebuah komunitas pedesaan di mana ikatan sosial antarwarga masih dijaga dengan erat, sebuah lamaran bukanlah urusan privat antara dua orang saja, melainkan hajat besar yang melibatkan restu dan kebahagiaan seluruh tetangga.
Sebagai wujud rasa syukur yang mendalam kepada Sang Pencipta atas kelancaran proses lamaran tersebut, Pak Doyo bersama istrinya (Simbok) memutuskan untuk menggelar sebuah acara syukuran sederhana di rumah mereka pada suatu malam minggu.
Sejak sore hari, pekarangan rumah Pak Doyo sudah tampak sibuk. Para tetangga berbondong-bondong datang bergotong-royong. Bapak-bapak tampak sibuk mendirikan terop (tenda sederhana) dari bilah bambu dan terpal biru di halaman depan, sementara ibu-ibu sibuk meracik bumbu dapur di bagian belakang rumah untuk memasak hidangan konsumsi dalam jumlah besar.
Zaki, tentu saja, datang lebih awal untuk ikut membantu apa pun yang bisa dikerjakan. Ia mengenakan kaus polos berkerah dan celana bahan yang cukup rapi, bahu-membahu bersama para pemuda desa mengangkat meja dan kursi panjang pinjaman dari balai desa.
Tepat setelah salat Isya berkumandang, para warga desa mulai berdatangan memenuhi halaman dan ruang tamu rumah Pak Doyo.
Mulai dari para sesepuh desa, bapak-bapak pengurus mushala, hingga para pemuda karang taruna duduk bersila melingkar di atas karpet plastik yang membentang luas. Suasana malam itu terasa begitu hangat, dihiasi oleh pendaran lampu bohlam gantung yang menerangi area syukuran.
Acara dibuka secara resmi oleh perwakilan sesepuh dusun, yang bertindak sebagai pembawa acara sekaligus pemimpin doa. Dalam sambutannya yang disampaikan dengan bahasa Jawa halus penuh kearifan lokal, sesepuh tersebut menceritakan bagaimana perjalanan hidup Zaki yang kembali ke desa untuk merawat warisan orang tuanya, hingga akhirnya hatinya tertambat pada putri bungsu Pak Doyo.
"Dino iki, ing wengi sing pinuji iki, kita kabeh kumpul kanthi ati sing bungah... bersyukur marang Gusti Allah Swt amargo pinaringan nikmat sehat lan saged nekoni tasyakuran lamaranipun Nak Zaki kalihan Nduk Wiwi," (Hari ini, di malam yang mulia ini, kita semua berkumpul dengan hati yang gembira... bersyukur kepada Allah Swt karena diberi nikmat sehat dan bisa menghadiri tasyakuran lamaran Nak Zaki dengan Nduk Wiwi,) ucap sesepuh desa tersebut dengan suara yang berwibawa namun menenangkan.
Seluruh warga yang hadir mengangguk khidmat, mengucapkan kalimat Aamiin secara serempak setiap kali doa kebaikan dipanjatkan untuk keselamatan dan kelancaran jodoh kedua calon pengantin.
Di dalam rumah, tepatnya di dekat pintu kamar tengah yang sedikit terbuka, Wiwi duduk berdampingan dengan ibunya dan beberapa kerabat perempuan. Mengenakan gamis sederhana berwarna hijau lumut berbalut kerudung senada, wajah Wiwi tampak merona kemerahan.
Sesekali ia menunduk malu ketika para ibu-ibu di sekitarnya melemparkan senyuman menggoda, memuji kecantikannya malam itu.
Sesekali, Wiwi mencuri pandang lewat celah pintu, melihat sosok Zaki yang duduk bersila di antara kerumunan bapak-bapak di ruang utama, tampak begitu khusyuk mendengarkan doa-doa yang dipanjatkan untuk mereka berdua.
Selesai sesi doa bersama yang dipimpin oleh kyai kampung setempat, acara dilanjutkan dengan ramah tamah. Para warga dipersilakan menikmati hidangan sederhana yang telah disiapkan: nasi ambeng lengkap dengan ayam goreng kampung, urap-urap sayur segar, dan sambal terasi khas buatan Simbok yang terkenal lezat.
Pak Doyo, selaku tuan rumah, tampak berjalan keliling menyapa para tetangga sambil tersenyum lebar tiada henti. Kebanggaannya sebagai seorang bapak terpancar jelas di setiap kerutan wajahnya.
Ia beberapa kali menepuk bahu Zaki, memperkenalkan pemuda itu secara resmi kepada beberapa sesepuh dusun sebelah yang baru sempat hadir malam itu.
"Monggo, Pakdhe, dipun raup maemipun... Jangan sungkan-sungkan ya, Pak," (Silahkan, Pakde, dinikmati sajian makanannya... Jangan sungkan-sungkan ya, Pak...) ujar Zaki dengan ramah kepada setiap warga yang ia temui, menyalami tangan para tetua dengan penuh takzim.
Sikapnya yang sopan, rendah hati, dan mau membaur membuat seluruh warga desa semakin menaruh rasa hormat dan kasih sayang yang mendalam kepadanya.
Bagi Zaki, malam syukuran itu memberikan sebuah makna kepemilikan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Selama bertahun-tahun merantau di Jakarta, ia hidup dalam keterasingan di balik dinding-dinding beton apartemen dan kosan, di mana tetangga sebelah kamar pun sering kali tak ia kenal namanya.
Namun di sini, di bawah atap rumah sederhana milik Pak Doyo, di tengah-tengah ratusan warga desa yang mendoakannya dengan tulus, Zaki merasa benar-benar "pulang".
Ia merasa seperti benar-benar memiliki keluarga besar yang merangkulnya penuh ketulusan dan tanpa syarat.
Ketika acara berangsur-angsur usai menjelang pukul sepuluh malam dan para warga mulai pamit pulang sambil bersalaman, Zaki dan Wiwi akhirnya diizinkan untuk berdiri berdampingan di teras rumah menyalami para tetamu terakhir.
"Matur nuwun nggih, Kang... Mugi-mugi rawuhipun berkah," (Terima kasih ya, Mas... Semoga dilimpahkan keberkahan) ucap Zaki berulang kali kepada setiap warga yang berlalu.
Saat pekarangan rumah mulai sepi dan tersisa keluarga inti saja, Pak Doyo menghempaskan tubuhnya ke kursi bambu dengan napas lega, tertawa lebar.
"Wah, beres kabeh! Lancar jaya, Le! Warga kabeh melu seneng ndelok kowe karo Wiwi!" (Wah, beres semua! Lancar jaya, Nak! Warga semua ikut senang lihat kamu sama Wiwi!) ucap Pak Doyo dengan wajah yang sumringah bahagia.
Zaki tersenyum lebar, melirik sekilas ke arah Wiwi yang berdiri malu-malu di sampingnya.
Di bawah pendaran lampu teras yang temaram, malam itu terasa begitu sempurna, menjadi babak pembuka yang manis menuju hari-hari besar yang telah menanti di depan mata.
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
( duhh aku komen apa sihh) next aja ya