Bosan dengan kisah cinta biasa? Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan ketagihan lewat kisah Hazelia!
Gadis muda yang super ceria, tengil, dan penyayang ini terpaksa menunda mimpinya demi menjadi office girl di perusahaan raksasa demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya. Siapa sangka, ketidaksengajaannya menabrak sang CEO dingin, Tuan Mahrup, justru memercikkan benih cinta tak terduga!
Dari ruang pantry penuh gosip hingga diangkat menjadi asisten pribadi, Hazel harus menghadapi cemburu rekan kerja, tuduhan miring, hingga kembalinya masa lalu Sang Tuan yang penuh rahasia. Bisakah ketulusan gadis sederhana ini meluluhkan hati pria sekaku es dan melewati badai ujian cinta mereka?
Penasaran bagaimana kelanjutan hubungan beda kasta yang penuh drama dan kejutan ini? Yuk, baca selengkapnya dan ikuti liku-liku cinta Tuan Mahrup dan Hazel sekarang juga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OGMTM-26
Mata Luna Terpejam Menerima Bentakkan Kasar Bos nya dengan Kedua tangan yang mengepal Erat ia berdesis
"Saya gaakan biarin kamu menang hazel,NGGAK AKAN"
"Sekarang, angkat kaki dari ruangan saya! Kemasi semua barang-barangmu, dan jangan pernah tunjukkan lagi mukamu di perusahaan ini!" bentak Mahrup tanpa perasaan.
Luna menunduk dalam dalam sementara kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh hingga gemetar dan menahan air mata yang menggenang.
"Baik Tuan"Ucapnya dengan Suara yang tercekat di tenggorokan
Luna membalikkan badan dengan sisa sisa tenaganya ia keluar dari ruangan tersebut.
Setelah kepergian Luna, amarah di wajah Mahrup menguap begitu saja. Dia berbalik, lalu menatap Hazel dengan pandangan yang mendadak penuh kelembutan.
Mahrup melangkah mendekat, meraih jemari Hazel, lalu menggenggamnya dengan hangat.
"Saya bisa maafin dia kali ini, Hazel," ucap Mahrup pelan, suaranya terdengar begitu berat dan serak.
Dia mengusap punggung tangan Hazel dengan ibu jarinya, lalu menatap lurus ke mata wanita itu. "Tapi kalau sekali lagi dia berani menyentuh atau menyakiti kamu, saya nggak akan tinggal diam. Saya sendiri yang akan buat dia menyesal."
Hazel menelan ludah dengan gugup, wajahnya perlahan memanas. Dia mendongak, mencoba menatap mata teduh Mahrup meski dengan pandangan yang salah tingkah.
"Te-terima kasih, Tuan Mahrup," bisik Hazel terbata-bata. Dia meremas balik jemari pria itu demi menyembunyikan tangannya yang mendadak dingin karena saking gugupnya.
Setelah memberikan instruksi tegas pada HRD untuk memproses surat pengunduran diri Luna tanpa membawa kasus ini ke ranah hukum,sesuai permohonan Hazel,sang CEO bergegas kembali menuju lantai atas untuk menyelesaikan proyeknya.
Sementara itu, Hazel memutuskan turun ke ruang staf kebersihan di lantai dasar. Ada satu hal yang mengganjal di dadanya: ia ingin memastikan Luna membereskan barang-barangnya dengan tenang dan berpamitan secara baik-baik.
Pintu ruang OG terdorong pelan. Di dalam ruangan kecil itu, Luna sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam kardus bekas dengan gerakan kasar. Bahunya naik turun menahan isak tangis yang berubah menjadi napas memburu sarat amarah.
"Mbak Luna..." sapa Hazel lembut, melangkah mendekat dengan tatapan mata penuh keprihatinan. "Hazel cuma mau lihat Mbak... Mbak nggak apa-apa?"
Luna menghentikan gerakannya seketika. Ia membalikkan badan dengan hentakan keras, menatap Hazel dengan mata yang memerah dan berkilat benci. Tak ada lagi wajah memelas seperti di ruang HRD tadi,yang tersisa hanyalah kebencian yang makin membara.
"Enggak usah sok perhatian, Hazelia!" bentak Luna dengan suara melengking beracun. "Kamu datang ke sini cuma mau puas-puasin mata kamu kan?! Mau lihat betapa hancurnya aku setelah kamu menang di atas penderitaanku?!"
Hazel menggepalkan jemarinya, menggeleng pelan. "Enggak, Mbak! Demi Allah enggak! Hazel justru minta Tuan Mahrup supaya enggak mem-blacklist nama Mbak..."
"Justru itu yang bikin aku makin benci sama kamu!" potong Luna melangkah maju, membuang kardus di tangannya hingga isinya berserakan di lantai.
Gadis itu menuding wajah Hazel dengan jari gemetaran. "Kamu pikir aku butuh kasihan dari cewek kayak kamu, hah?! Kamu merasa sok suci dan sok jadi pahlawan hanya karena kamu bisa 'jinakkan' Pak CEO?! Pengampunanmu itu cuma penghinaan buat aku, Hazel! Kamu cuma mau bikin aku merasa kerdil dan berutang budi sama kamu!"
"Mbak Luna, Hazel tulus..." air mata Hazel menetes membasahi pipinya, hatinya perih luar biasa. "Hazel cuma enggak mau Mbak kehilangan masa depan..."
"Basi!" ludah Luna penuh kebiasan, menyambar tas bahunya.
"Dengar ya, Hazel... jangan pikir masalah kita selesai di sini. Kamu memang menang hari ini, tapi aku bakal pastikan suatu hari nanti kamu bakal jatuh lebih dalam dan merasakan kehancuran yang jauh lebih menyakitkan dari ini!"
Tanpa memberi kesempatan pada Hazel untuk membalas, Luna mendorong bahu Hazel kasar hingga gadis itu tersungkur pelan menabrak loker, lalu melangkah pergi membanting pintu dengan kencang.
Hazel terduduk di lantai dingin, menutup mukanya dan terisak pelan. Kebaikannya yang tulus justru dibalas dengan racun dendam yang makin pekat.
Namun, sebelum Hazel sempat menenangkan dadanya yang sesak, ponsel pintar di dalam saku blusnya berdering nyaring tanpa henti. Layar ponsel menampilkan panggilan darurat dari Rumah Sakit Mahardika .
Dengan jemari bergetar hebat, Hazel menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. Suara perawat di seberang telfon terdengar panik dan terburu-buru:
"Mbak Hazelia! Detak jantung Ibu Maria mendadak turun drastis dan tidak sadarkan diri! Tim medis sedang melarikannya ke ruang ICU sekarang juga!"
Dunia Hazel seketika runtuh. Kakinya lemas tak bertulang saat ia berlari keluar gedung menuju rumah sakit.
Satu jam kemudian, Hazel terduduk lemas di depan pintu kaca ruang ICU yang tertutup rapat. Air matanya tak berhenti mengalir, dadanya teremas oleh rasa takut yang luar biasa akan kehilangan sang ibu,satu-satunya pilar hidupnya.
Di tengah keputusasaan yang melumpuhkan itu, suara derap langkah sepatu tegap berdengung mantap di sepanjang koridor rumah sakit.
Mahrup muncul di ujung lorong, melangkah cepat dengan jas yang tersampir di lengannya. Tanpa mempedulikan pandangan orang lain, sang CEO langsung merengkuh tubuh gemetar Hazel ke dalam pelukannya yang hangat dan kokoh.
"T-Tuan... Ibu, Tuan..." tangis Hazel pecah di dada Mahrup.
"Saya ada di sini, Hazelia," bisik Mahrup lembut Ia entah mengapa ikut merasa sakit melihat PA nya menangis,dengan ragu ragu ia mengusap kepala Hazel dengan lembut"
Pria itu kemudian menoleh ke arah Dokter Spesialis utama yang baru keluar dari ruang perawatan, lalu menegaskan suaranya tanpa ragu sedikit pun:
"Lakukan segala tindakan medis terbaik untuk Ibu Maria. Pindahkan beliau ke fasilitas perawatan intensif tertinggi, dan masukkan seluruh biaya pengobatan serta operasinya ke akun pribadi saya!"