NovelToon NovelToon
Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Virgo kelabu

Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32

Telepon Nismara bergetar. Ada panggilan masuk dari Rizal. Ya memang hanya laki-laki itu yang punya nomor teleponnya. Nismara memandang Miranti seraya menempelkan telunjuknya sendiri di mulutnya. Miranti pun mengangguk mengerti.

"Hallo, Mas Rizal, ada apa?"

Terdengar tarikan nafas panjang dari Rizal di seberang sana. "Kak, barusan dicari Om Maryono......."

Ganti Nismara yang menarik nafas. "Ada apalagi sama Om Maryono ya, Mas?"

"Dia bilang kakak disuruh datang ke tempat kerja kakak, ditunggu big boss, katanya lagi dia dapat pesannya dari Tina." suara Rizal terdengar sangat pelan terkesan seperti sangat malas untuk bicara.

"Oh, oke, makasih ya, Mas."

"Eh, tunggu, Kak, jangan ditutup dulu!" Rizal berseru, mengerti betul bahwa Nismara akan segera mengakhiri pembicaraan.

"Gimana, Mas?"

Namun Rizal membisu hingga beberapa detik. Tarikan nafas nya terdengar menderu di telinga Nismara.

"Mas Rizal......."

"Jadi benar Kakak satu kerjaan sama Om Maryono?" tanya Rizal, suaranya para. Kentara ada rasa tidak suka.

"Em..... Nggak gitu, Mas. Jadi kantorku sama kantor Om Maryono deketan tapi bukan satu perusahaan." jawab Nismara.

"Oh. Tapi nanti Kakak jangan bilang kalau aku telepon ya, soalnya tadi aku bilang ke Om Maryono kalau aku nggak tahu nomor telepon Kakak. Bilang aja ketemu di rumah."

"Iya, maka......."

Tut.

Nismara belum selesai bicara tetapi telepon terputus seketika. Entah karena memang ditutup Rizal atau satu hal.

"Mir, aku harus pergi sekarang." kata Nismara. "Ada satu orang yang harus aku temui, dan ini mungkin akan mengarah ke pembunuhan Sherin."

Miranti mendesah sambil memandang ke arah lain. Beberapa menit lalu dia merasa sudah berhasil mempengaruhi Nismara untuk menyudahi penyelidikan gila ini. Satu telepon masuk bisa menggoyahkan segalanya.

"Aku khawatir dengan keselamatan kamu, Nis."

Nismara tidak merespon, dia berdiri dan bergegas pergi.

Hanya dalam waktu dua puluh menit Nismara sudah berada di Mahkota Gym dan menemui Tina. Untung gadis berparas Korea itu masih nongkrong di lantai tiga.

"Aku curiga sama kamu, Sof." kata Tina ketika Nismara sudah duduk menjajarinya. "Kenapa Om Mario sampai tahu kost mu, jangan-jangan......."

Tina terbahak kencang tanpa malu.

"Tau, nasibku sial banget, kebetulan kosku ternyata punya kakaknya dia, tapi aku mau pindah mulai hari ini." Sahut Nismara santai. "By the way ada apa?"

"Wei bilang kamu nanti malam akan dijemput, mau diajak ketemu Mister Thrang." Tina nyengir.

Nismara menarik nafas.

"Udah jangan gelisah...... abis ini nasib sialmu tamat. Jarang-jarang mister Thrang mau ketemu anak baru. Pesan ku cuma satu, yaitu jangan kebablasan."

Nismara meringis. Ntah harus merespon apa. Jadi daripada salah, Nismara diam saja sambil memainkan kuku-kuku jari tangan nya.

"Mana nomor kamu, biar nanti Wei menghubungi mu ya!" Tina mengambil telepon genggamnya.

Nismara menyebutkan dua belas angka, gantina mencatat langsung digawainya.

"Kamu sebaiknya istirahat dulu, Sof, sambil menunggu info dari Wei. Biar saat ketemu tambang emas itu fresh, terus jadi kesayangan deh."

Nismara tersenyum. "Okey deh. Eh, Tin, kenapa kamu baik sama aku? Kita kan baru kenal?"

"Udah sana jangan baper sama aku." ujar Tina mengibas tangan di depan muka Nismara.

Nismara tertawa, tanpa basa-basi lagi, dia pergi ke hotel tempat dia menginap kemarin. Sebenarnya tujuannya ingin mendinginkan hatinya yang tiba-tiba terasa meledak mendengar nama Mister Thrang. Bukan sekedar mengistirahatkan tubuh seperti yang Tina sarankan.

Tina menghela nafas. Semua gadis yang dia kenal di sini, punya cerita sendiri-sendiri sampai akhirnya tersesat dalam dunia ini. Dunia yang tidak semua orang tahu. Entah mengapa, dia merasa punya sedikit kesamaan dengan Sofia. Gadis berbadan cinta itu terlihat berpengalaman dengan laki-laki tetapi sering kebingungan di sini. Sama seperti dirinya dulu.

Hingga kini pun sebenarnya Tina masih keheranan, dengan gedung yang mewah dan begitu mencolok, kenapa aktivitas haram di dalam gedung ini bisa berjalan mulus luar biasa tanpa hambatan sedikit pun.

Sebelum di bawah oleh teman kencannya ke mahkota Gym, tina adalah gadis miskin yang sehari-hari dipeluk penderitaan. Ibunya sibuk mengusahakan uang dari jualan gorengan yang tak seberapa, sedang ayahnya entah ada di mana, sampai sekarang tidak pernah menyalahkan kepergian ayahnya karena ibunya memang perempuan yang bermulut tajam. Kata-kata yang keluar dari mulutnya hanyalah sumpah serapah dan keluh kesah memusingkan sekaligus membuat darah tinggi. Siapa laki-laki yang betah dengan perempuan seperti itu?

Syukurlah Tina hanya mewarisi kecantikan dari ibunya saja. Dengan kecantikan wajahnya Tina berhasil menarik beberapa teman pria di sekolahnya. Dari mereka pula Tina sering mendapat makanan gratis, makanan enak yang tidak pernah ada di rumahnya. Kemudian pergaulannya menjadi kebablasan. Makanan enak yang mencandu membuat dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Ada satu laki-laki yang terang-terangan membeli k3p3r4wan4n nya dengan harga sepuluh juta. Duit yang tak seberapa tapi itulah rupiah terbanyak yang pernah Tina punyai seumur hidupnya. Waktu bergulir, Tina mencari pria-pria kesepian yang mampu membuat perutnya kenyang. Sampai akhirnya dia mendarat di Mahkota Gym, dan diperkenalkan pada Wei dan Katy.

Saat sesi foto pertamanya dia bertemu dengan gadis cantik. Berkulit putih dengan d4d4 montok luar biasa untuk ukuran gadis berumur tujuh belas tahun.

"Nggak salah, Wei, bentukan papan begini? Emang bikin n4psu?" gadis itu, yang belakangan dia ketahui namanya Sherin, mencicit dengan lirikan melecehkan pada dirinya.

Beruntung Wei menyahut. "Kamu sama sekali tidak berhak menilai model ku Sherin."

"Kamu pasti Gadis miskin, yang mencari uang di sini ya?" bisik Sherin di telinganya. "Aku dong hanya mencari kesenangan."

"Ralat, cari perhatian, karena kamu tidak ada yang memperhatikan." tukas gadis di sebelah Sherin.

Sherin mendelik. "Diam kamu, Jo!"

"Hallo, Tina, jangan dengerin dia. Dia emang orang kaya, super kaya malah, tapi sayang nggak ada yang menginginkan dirinya di dunia ini. Tenang, kita di sini semua sama. Sama-sama rusak hahaha."

Tina selama ini tidak pernah ciut jika diancam. Hidup keras sejak kecil, ditambah mulut kotor ibunya, menjadikan mentalnya sekuat baja, tetapi dia adalah orang yang tahu diri menjadi pendatang baru. Lama kelamaan Tina dan Sherin justru berteman, meskipun aroma persaingan di antara gadis itu tidak bisa dihapus begitu saja.

Sherin pernah menantangnya bertaruh dalam memperebutkan lelaki. Dia bilang, lelaki gagah berkulit coklat itu adalah kekasih maminya.

"Namanya Samudra. Ayo bertaruh, Siapa yang bisa membawanya ke tempat tidur, jadi ratu sebulan dan keinginan apapun harus diturutin oleh yang kalah." Sherin mengulurkan tangannya kepada Tina. "Deal? Atau kau takut?"

Darah Tina bergolak. Dia berpikir saat itu, meskipun badan dia kalah kemana-mana dengan Sherin, tetapi dia lebih berpengalaman melayani pria.

"Okey. Deal." sahut Tina menerima uluran tangan Sherin.

Pertaruhan yang ternyata kosong sebab Samudra laki-laki yang tidak mudah tergoda kemolekan tubuh wanita. Sherin dan Tina harus gigit jari karena cara apapun yang mereka gunakan semuanya gagal sia-sia.

Rupanya Sherin mempunyai cara lain untuk memperolok-olok dirinya. Dengan menjadi kesayangan Mister Thrang, dia berusaha menyabotase pekerjaan Tina. Tawaran - tawaran Tina menjadi lebih sedikit dari biasanya, otomatis uang yang mengalir ke rekening Tina pun tidak lagi deras. Tina sampai puntang-panting untuk menutupi kebutuhannya yang sudah terlanjur bergaya high class. Tina sampai harus kembali menjajakan diri pada laki-laki berhidung belang, seperti semula sebelum dia berada di Mahkota Gym.

Meskipun mereka masih terlihat berteman, tetapi persaingan terus sengit setiap harinya.

"Sherin, aku nggak tahu kenapa kamu begitu membenciku, memangnya aku salah apa.?" Tina bertanya suatu hari. "Kamu sudah mendapat job dan lebih banyak, meskipun berulang kali kamu bilang tidak menginginkan uang, tapi kenyataannya kamu mengambil jatah uangku."

Gadis cantik itu menyeringai. "Aku itu ratu, Tin. Beginilah seorang ratu berlaku, suka-suka aku mau apa, yang penting hatiku senang."

"Hmmmm benar kata Jojo, Sherin ini punya penyakit haus perhatian." Tina berkata dalam hatinya.

"Tin, Bagaimana kalau kita bertaruh lagi?" tanya Sherin.

"Om Samudra? Bukan kah kita sudah sama-sama keok?" sahur Tina. "Dia sangat setia sama Mami kamu."

"Bukan, ini tantangan seru. Suami orang. Kalau kamu bisa membawanya tidur, aku nggak akan ganggu kamu lagi."

"Serius?"

Sherin menyeringai lagi. "Tapi istrinya galak banget. Aku aja hampir dibunuhnya, berani nggak?"

Tina tampak berpikir sebentar. "Jadi pemenangnya yang bisa bawa dia ke tempat tidur duluan?"

"Bukan..... kalau itu kamu udah pasti kalah, Tin. Dia sampai sekarang masih tergila-gila padaku. Bagiku yang semacam itu sudah nggak menantang." Sherin menepuk dada dengan sombong. "Coba kamu godain dia, waktumu seminggu. Badan tepos sepertimu dia doyan nggak hahahaha."

Tina pun tertantang, dan hanya dalam seminggu dia menang. Namun tidak lama dari waktu itu istrinya mengendus hubungan mereka. Benar kata Sherin, istrinya galak. Dengan bringas dia memukuli Tina, kalau saja saat itu Tina tidak mengatakan semua, habis sudah. Dia bahkan mengancam akan membuat Tina membusuk di penjara. Maka tanpa sepengetahuan Sherin, Tina katakan pada istri laki-laki taruhannya itu bahwa dia adalah suruhan Sherin.

"Maksud mu kamu disuruh Sherin untuk menghancurkan rumah tangga saya?"

Tina mengangguk. Dia punya bukti-bukti pesan saat dia membahas soal tersebut dengan Sherin.

"Tin, kau tidur?" Ella mengguncang badannya. Membawa Tina ke masa sekarang setelah lamunan jauh ke mana-mana.

"Berhenti, El." kata Tina. "Aku hanya sedang lelah."

"Tidurlah di kasur yang empuk, jangan merem di sini." sahut Ella.

"Aku lagi kepikiran Sherin."

Ella terbahak. "Kamu rindu berantem dengannya ya?"

Ganti Tina yang terbahak.

"Kau rindu Jojo juga? Ya udah mati aja sana!" seru Ella. Lagi-lagi terbahak.

"S14lan lo! Aku hanya terpikir, jangan-jangan Sherin beneran dibunuh istrinya orang itu."

1
Ar-Rasyid Fikri
ada pesan sebagai orang tua kallau anak adalah titipan walau hadir nya dari sebuah kesalahan, harus di perhatikan, di rawat di sayang, biar GK nyesel. nyesel kan kalau anak sudah salah jalan.

teka teki nya dapat. suka banget.
Ar-Rasyid Fikri
wah bisa-bisa nya muncul ide gitu tho Nis?
Rahma Wati
hayo lho Nis, gimana kalau gk mau dikasih uang. wah berabe ini
Rahma Wati
kasian Sherin dr kcl tdk diharapkan.
Maria
penuh dengan teka teki tp seru. Ada pelajaran yg BS kita ambil dr cerita ini. penyesalan pasti akan datang di belakang, kalau di depan itu namanya pendaftaran.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!