Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3
***
Malam pertama di villa keluarga Wiliam berlalu bagaikan mimpi buruk yang berbalut kemewahan. Lyn berbaring di atas ranjang king size beralaskan seprei sutra yang dingin, namun matanya sama sekali tak bisa terpejam. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan pengkhianatan mantannya di atas pesawat beradu dengan bisikan hangat Wiliam di lehernya. Aroma sandalwood milik pria paruh baya itu seolah masih menempel erat di indra penciumannya, membuatnya terus gelisah hingga fajar menyingsing.
Saat sinar matahari pagi menerobos tirai tipis kamar tamu lantai dua, Lyn memutuskan untuk turun. Ia mengenakan gaun santai lengan panjang berwarna merah muda lembut yang memperlihatkan leher jenjangnya. Kulitnya yang putih dan matanya yang sedikit sembab justru menambah kesan cantik yang pasrah dan manis—khas gadis berusia 21 tahun yang lugu.
Langkah kaki Lyn yang tanpa alas sepatu menginjak karpet tebal koridor lantai bawah. Suasana villa sangat hening. Saat melintasi lorong menuju ruang makan, pintu ganda berukir kayu mahoni di sebelah kirinya terbuka pelan.
Lyn menghentikan langkahnya seketika.
Wiliam melangkah keluar dari ruang kerja pribadinya. Pria paruh baya itu telah menanggalkan kemeja formal semalam. Pagi ini, ia hanya mengenakan sweter rajut kerah tinggi berwarna abu-abu gelap dengan celana kain berpotongan sempurna. Gaya pakaian santai namun memancarkan aura old money yang sangat kental. Rambut kelabunya tampak sedikit lebih acak namun tetap tertata rapi, memberikan kesan tampan yang matang dan sangat berbahaya bagi dada Lyn yang mendadak bergemuruh.
Pria itu memegang cangkir porselen berisi kopi hitam pekat. Saat matanya beradu dengan mata jernih Lyn, langkah Wiliam terhenti.
"Selamat pagi, Little Lady," sapa Wiliam dengan suara beratnya yang khas bangun tidur. Tatapannya menelusuri wajah Lyn dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan sangat kentara dan intim. "Bagaimana tidurmu di rumahku?"
Lyn meremas jemari tangannya sendiri di depan tubuhnya, menunduk sedikit demi menyembunyikan rona merah yang membakar kedua pipinya. "S-selamat pagi, Tuan Wiliam. Saya... tidur cukup nyenyak. Terima kasih atas ketersediaan Anda menampung saya di sini."
Wiliam menyeringai tipis. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Lyn dapat merasakan kehangatan tubuh pria itu. "Bohong," bisik Wiliam pelan. "Matamu yang sembab memberitahuku bahwa kamu menghabiskan malam dengan memikirkan hal yang tak berguna."
"Tuan Wiliam, saya..." Lyn mendongak, namun suaranya tercekat saat menemukan wajah Wiliam berada sangat dekat dengannya.
"Panggil namaku saat kita sedang berdua, Lyn," potong Wiliam tegas namun lembut. Tangannya yang bebas terangkat, ibu jarinya yang kasar dan hangat mengusap perlahan sudut bibir Lyn yang gemetar. "Kamu bukan staf di rumah ini. Kamu adalah tamu istimewaku."
Touch sederhana itu mengirimkan sengatan listrik yang aneh ke seluruh tubuh Lyn. Sebelum Lyn sempat merespons atau mundur, suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari arah tangga.
"Lyn! Kamu sudah bangun?"
Itu suara Clara. Lyn seketika tersentak dan mundur dua langkah secara refleks, melepas sentuhan tangan Wiliam. Wiliam sendiri tetap berdiri tenang di tempatnya, sama sekali tidak menunjukkan raut panik, seolah-olah interaksi intim mereka tadi adalah hal yang sangat alami.
Clara muncul dengan pakaian santai, tersenyum lebar saat melihat sahabatnya dan ayahnya berdiri di lorong. "Pagi, Pa! Pagi, Lyn!"
"Pagi, Clara," jawab Wiliam datar, kembali meneguk kopinya dengan santai.
Clara merangkul lengan Lyn. "Lyn, wajahmu masih agak pucat. Ayo kita sarapan! Paman Marco sudah menyiapkan pancake dan buah segar di meja makan luar dekat kebun anggur."
"Ah... iya, Clara," jawab Lyn canggung, matanya tak sengaja beradu lagi dengan Wiliam. Pria paruh baya itu menatapnya dari balik cangkir kopi dengan tatapan yang sangat posesif, seolah-olah menyatakan bahwa interaksi mereka belum selesai.
Suasana sarapan di teras luar terasa sangat menyenangkan bagi Clara, tetapi menjadi siksaan manis bagi Lyn. Wiliam duduk di ujung meja utama, membaca koran bisnis sambil sesekali meneguk espresso-nya. Meskipun pria itu tampak fokus pada lembar kertas di tangannya, Lyn bisa merasakan setiap gerak-geriknya terus diawasi. Setiap kali Lyn mengambil potongan buah atau meminum tehnya, mata sehitam jelaga milik Wiliam akan melirik tajam dari balik koran, menguncinya dalam perhatian rahasia yang intens.
Rasa bersalah yang teramat sangat mulai menggerogoti dada Lyn. Pria ini adalah ayah dari sahabat terbaikku sendiri... kenapa jantungku harus berdegup begini gila di hadapannya? batin Lyn menjerit.
Tiba-tiba, suara keributan terdengar dari arah gerbang utama villa. Seorang pelayan berjalan terburu-buru menghampiri meja sarapan dengan wajah panik.
"Permisi, Tuan Besar. Ada seorang pria muda di luar gerbang. Beliau memaksa masuk dan mengaku sebagai kekasih dari Nona Evelyn," lapor pelayan itu sopan.
DEG.
Sendok di tangan Lyn terlepas dan berdenting keras menabrak piring porselen. Wajah Lyn seketika pucat pasi. Pria pembohong itu... mantan kekasihnya berhasil melacak keberadaannya sampai ke villa ini!
Clara langsung berdiri dari kursinya dengan raut wajah marah. "Pria tidak tahu diri! Untuk apa dia datang ke sini?! Usir dia, Paman! Jangan biarkan dia menginjakkan kaki di tanah ini!"
"Tapi Nona, pria itu berteriak-teriak memanggil nama Nona Evelyn dan tidak mau pergi sebelum bertemu," tambah pelayan itu ragu.
"Biar aku yang keluar dan memaki pria brengsek itu!" seru Clara emosi, bersiap melangkah.
"Duduk, Clara."
Satu perintah singkat dari suara berat Wiliam seketika menghentikan langkah Clara. Suasana di teras mendadak membeku. Wiliam melipat korannya dengan sangat perlahan dan meletakkannya di samping cangkir espresso. Aura dingin dan intimidatif yang melingkupi pria tua itu mendadak menguat sepuluh kali lipat.
Wiliam berdiri anggun. Tingginya yang menjulang menaungi meja sarapan. Matanya beralih menatap Lyn yang sedang gemetar ketakutan di kursinya.
"Lyn," panggil Wiliam dengan nada suara yang sangat tenang namun tidak menerima bantahan. "Apakah kamu masih ingin bertemu dengan pria itu?"
Lyn menggelengkan kepalanya dengan cepat, matanya kembali berkaca-kaca karena panik. "T-tidak... saya tidak mau bertemu dengannya lagi, Wiliam. Saya mohon..."
Mendengar Lyn memanggil namanya langsung sesuai perintah tadi pagi, sudut bibir Wiliam terangkat sangat tipis. Sebuah kepuasan tersirat di mata elangnya.
"Bagus," ujar Wiliam pelan. Ia menoleh ke arah kepala pelayan Marco yang sudah berdiri siap di dekatnya. "Marco, suruh pengawal gerbang untuk mengamankan pria itu. Jika dia terus membuat keributan di propertiku, patahkan kakinya dan serahkan ke kepolisian lokal atas tuduhan pengrusakan dan pencerobohan hak milik."
Clara membelalak kaget. "Pa... Papa serius?"
"Aku tidak pernah bercanda soal ketenangan di rumahku, Clara," jawab Wiliam dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari Lyn. Wiliam kemudian melangkah mendekati kursi Lyn. Di depan mata Clara yang tampak heran, Wiliam membungkukkan tubuhnya, menangkup wajah mungil Lyn dengan sebelah tangannya yang besar dan hangat.
Ibu jari Wiliam mengusap lembut air mata yang nyaris jatuh di pipi Lyn.
"Jangan pernah takut pada hal-hal kecil seperti itu selama kamu berada di sisiku, Little Lady," bisik Wiliam dengan nada suara yang teramat posesif namun menenangkan. "Tidak ada seorang pun yang bisa menyentuhmu atau memaksamu di rumah ini. Mengerti?"
Lyn terpaku, terkunci dalam tatapan mata pria matang di hadapannya. Sentuhan tangan Wiliam di wajahnya terasa begitu dominan, seolah sang pria sedang menegaskan kepemilikannya secara penuh atas diri Lyn. Di tengah rasa bersalahnya pada Clara, hati Lyn justru merasa sangat terlindungi dan hangat dalam dekapan kekuasaan Wiliam.
"S-saya mengerti... terima kasih, Wiliam," bisik Lyn pasrah.
Wiliam tersenyum puas, melepaskan usapannya di pipi Lyn dengan sangat perlahan, meninggalkan jejak hangat yang membakar kulit gadis itu. Batasan antara ayah sahabat dan pria yang menginginkannya kini telah benar-benar terkikis habis.
Bersambung...
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻