Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.
Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.
Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalasan
Gilang langsung menyorotkan senternya ke jasad yang ditemukan Pradipta. Pria itu menoleh ke arah arwah yang masih mengikutinya. “Ini jasad lo?” tanya Gilang.
“Iya.” Arwah itu tidak bisa menahan tangisnya. Akhirnya mayatnya bisa ditemukan juga.
Pradipta segera bangun. Pria itu masih syok saat tahu bahwa dirinya tadi jatuh di atas mayat yang sudah mulai mengeluarkan bau menyengat. Dia berlari menjauh, kemudian mengeluarkan isi perutnya.
“Gue mending balik ke tempat tadi sambil nunggu Nino dan Asep.”
Tanpa menunggu jawaban dari Gilang, Pradipta langsung berlari keluar dari hutan.
Sementara itu, Gilang masih terpaku di tempatnya. Pria itu memandang ke arah depan tanpa berkedip. Sekitar beberapa meter di depannya, Gilang melihat cukup banyak makhluk astral yang berpenampilan seperti hantu ngesot tadi.
Pria itu segera menghampiri para arwah yang tampak berkerumun tersebut. Semua arwah tersebut berjenis kelamin perempuan.
“Kalian juga korban penculikan?” tanya Gilang.
“Iya. Aku diculik. Saat aku mencoba melarikan diri, aku dibunuh dan mayatku nggak tahu dibuang ke mana,” ujar salah satu arwah.
“Aku juga diculik. Tapi aku sakit. Karena sakitku bertambah parah, aku dibawa ke hutan ini lalu dibunuh,” sahut arwah lain.
“Aku juga diculik. Aku dirudapaksa oleh satu satu pelaku. Lalu, teman yang lain ikut melakukannya kepadaku. Karena tak kuat, aku meninggal saat mereka melakukan itu kepadaku. Aku nggak tahu di mana mayatku sekarang,” sambung arwah yang lain sambil menangis.
“Kami juga mencoba kabur. Tapi karena tempat ini dijaga ketat, akhirnya kami ketahuan. Kami dikembalikan ke rumah penampungan. Lalu kami mencoba kabur lagi. Di percobaan kedua untuk kabur, kami dibunuh.”
Gilang memandangi ketujuh arwah itu dengan tatapan prihatin. Mereka diculik dan dibunuh dengan keji. Bahkan mayat mereka pun tidak dikuburkan secara layak.
“Tolong temukan mayat kami. Kamu mau melakukannya, kan?” tanya salah arwah tersebut.
“Ya, aku akan menolong kalian. Tapi satu-satu, ya.”
Gilang mulai mecari jasad para korban dengan ditemani Jung Kook dan Prisa.
Sementara itu, di rumah penampungan, para korban penculikan masih berkumpul. Mereka menunggu polisi yang masih dalam perjalanan.
Kelima penjaga beserta Ruben perlahan mulai tersadar dari pingsan. Pria itu mencoba melepaskan diri, tetapi lakban yang mengikat tangan dan kakinya begitu kuat sehingga membuatnya kesulitan bergerak.
Alma mendekati Ruben. Wanita itu tidak menyangka bahwa salah satu pria yang menculiknya adalah kekasihnya sendiri.
“Alma, tolong aku, sayang,” ujar Ruben mencoba membujuk kekasihnya.
“Tega kamu, Ben. Kenapa kamu melakukan ini padaku? Kamu mau menjualku dan semua perempuan ini ke luar negeri, kan?”
“Aku bisa jelaskan, Al. aku terpaksa. Aku dipaksa melakukan ini. Aku diancam, Al!”
“Omong kosong! Kamu juga berusaha meniduri salah satu perempuan yang diculik, kan?!” tanya Alma dengan kemarahan yang begitu besar.
“Al, tolong buka ikatannya. Aku akan menceritakan semuanya padamu. Aku—“
PLAK!!
Tamparan keras Alma menghentikan ucapan Ruben.
“Beraninya kamu menamparku!” berang Ruben dengan mata nyalang.
“Lalu kamu mau aku membebaskanmu? Cuih!”
Ruben memejamkan matanya saat air liur Alma mengenai wajahnya. Pria itu menggerakkan tubuhnya, berusaha melepaskan ikatan di tangannya.
Alma tentu saja tidak membiarkan hal tersebut. Dia mengajak para korban untuk memukuli Ruben dan yang lain, kalau perlu sampai membuat mereka pingsan lagi.
“Aw! Aw!” Terdengar teriakan keenam pria itu saat para korban memukuli mereka. Ada yang memukul dengan tangan, kaki, atau alat lain yang ada di sana.
Di ruang belakang yang belum sempat digeledah, pelan-pelan pintu terbuka. Dari baliknya muncul Artos.
Saat Gilang dan Pradipta datang menyerbu, pria itu langsung bersembunyi di bagian belakang rumah. Perlahan, dia berjalan menjauh dari ruangan belakang.
Pria itu tercekat ketika melihat Ruben dan yang lain sedang dipukuli para korban. Dia berbalik dan hendak kabur dari pintu belakang. Nahas, kakinya menyenggol meja hingga gelas kaleng di atasnya terjatuh.
Mendengar suara benda terjatuh, Jelita dan Anjani langsung menoleh. Mata Anjani membelalak ketika melihat Artos yang hendak kabur.
“Kamu si mesum itu, kan!” teriak Anjani sambil menunjuk Artos.
Teriakan Anjani terdengar oleh yang lain. Beberapa perempuan muda itu bergegas menuju sumber suara tersebut.
Sama seperti Anjani, mereka juga mengenali Artos sebagai pria mesum yang sempat mengikuti dan menunjukkan alat kelaminnya.
Tanpa dikomando, mereka langsung mendekati Artos dan memukulinya.
“Ampun … ampun,” mohon Artos.
“Ampun? Enak aja minta ampun. Lo juga komplotan penculik itu, kan?” ujar Anjani sambil terus memukuli Artos.
“Ada pisau, nggak?” tanya salah satu perempuan.
“Kayaknya ada di dapur. Sunat aja, Teh. Biar burungnya yang udah mini, habis nggak bersisa!” sahut Jelita.
Wajah Artos seketika pucat. Dia menangkupkan kedua tangannya, memohon ampun kepada para korban yang sudah berubah menjadi wanita beringas.
Salah satu perempuan itu bergegas menuju dapur. Tak lama kemudian dia kembali dengan sebilah pisau di tangannya. Pisau itu berkarat di beberapa bagian.
“A-Ampun, Teh. Ampun,” ujar Artos yang semakin ketakutan. Pria itu mulai menangis.
Tanpa mempedulikan ucapan Artos, perempuan itu terus maju. Dia memberi arahan kepada yang lain melalui isyarat kepala. Mengetahui maksud isyarat tersebut, mereka langsung memposisikan Artos dalam posisi telentang.
Salah satu perempuan itu membuka ikat pinggang, lalu menurunkan celana Artos.
“Tolong. Tolong, ampun, Teh. Ampun,” mohon Artos.
Permohonan Artos diabaikan begitu saja. Dia berjongkok dan hendak menurunkan segitiga pengaman Artos. Belum sempat melakukannya, cairan berbau pesing merembes keluar dari segitiga pengaman tersebut.
“Belum gue apa-apain, pake ngompol segala!” maki perempuan itu sambil menendang kaki Artos.
Para gadis yang tengah memegangi Artos langsung melepaskan pegangan mereka, kemudian menjauh.
Artos yang sudah tidak berdaya, hanya bisa meringkuk. Tubuhnya bergetar karena ketakutan dan udara dingin yang menusuk.
Di tempat lain, Pradipta memilih menunggu di dalam mobil. Dia tidak mau lagi menemukan mayat yang sudah berbau busuk dan bentuknya tidak karuan.
Dari spion dalam, dia melihat mobil mendekat. Yakin bahwa yang datang adalah Nino dan Asep, Pradipta segera keluar dari mobil.
Nino menghentikan mobilnya di dekat mobil Pradipta. Jarak yang jauh dari kantor ke lokasi ini membuat mereka harus menempuh perjalanan cukup lama.
“Kalian baik-baik aja?” tanya Asep begitu turun dari mobil.
“Rumah penampungan korban ada di depan. Kalian jalan lurus aja sekitar empat ratus meter, nanti ketemu rumah di sana. Para korban dan penculiknya juga ada di sana,” ujar Pradipta.
Nino segera meminta anggota Tim Dua lainnya menuju rumah tersebut bersama dua mobil patroli dan ambulans.
“Gilang mana?” tanya Asep yang tidak melihat keberadaan Gilang.
“Gilang lagi di hutan. Tadi ada arwah yang minta ditemuin jasadnya. Udah ketemu satu, mayatnya udah mulai bau busuk.”
Pradipta kembali mual saat mengingat jasad yang ditemukannya. “Kayaknya ada lebih dari satu mayat yang dibuang ke hutan,” lanjutnya.
“Kamu tunggu di sini aja. Biar aku dan yang lain yang cari Gilang.”
Asep segera menghubungi pihak rumah sakit untuk mengirimkan lebih banyak ambulans. Pria itu juga menghubungi tim forensik untuk segera menyusul ke lokasi.
Anggota patroli yang masih berada di sana bersama Nino dan Asep segera menyusuri lokasi setelah memasukkan Opan dan empat temannya ke dalam mobil patroli.
Nino dan Asep mulai memasuki hutan dengan berbekal senter, diikuti oleh anggota patroli lainnya.
“GILANG!” panggil Nino sambil terus berjalan.
***
Artos dapat karmanya😂
oalah....
gk nyangka ternyata Khalisa toh pelakunya 🤔🙏🏻✌🏻
Gilang jd bulan²an temen nya.... Gilang di siksa.....padahal mah demi kerjaan juga ya Gilang tanya² soal ituu🤣🤣🤣
gian bs x y trus pantau mereka🤭