Berawal dari niat Baik yang berujung pada jatuhnya ia dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.
Jiang Chen, seorang pemuda yang putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja mewarisi jutaan pengetahuan rahasia medis dan kekuatan kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Pengawal itu menelan ludah dengan susah payah mendengar penjelasan medis aneh yang belum pernah dia dengar seumur hidupnya.
"Aku tidak peduli dengan penjelasanmu! Sembuhkan dia sekarang juga!" bentak pengawal itu sambil mengokang senjatanya.
Klik.
Suara pelatuk pistol yang ditarik itu membuat seluruh perawat di ruangan menjerit ketakutan.
Namun raut wajah Jiang Chen tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin dan mematikan.
Aura malas dan konyol yang sedari tadi menempel padanya sirna tak berbekas dalam sekejap.
"Simpan mainan besimu itu kalau kau bermaksud memohon bantuan dari seorang dokter," ucap Jiang Chen dengan suara berat.
Tatapan mata Jiang Chen mengunci mata pengawal itu, memancarkan tekanan mental yang sangat mengerikan.
Pengawal yang sudah terbiasa dengan pertumpahan darah itu entah kenapa merasa lututnya bergetar hebat ditatap seperti itu.
Insting bertarungnya berteriak memperingatkan bahwa pemuda kurus di depannya ini jauh lebih berbahaya daripada moncong senjatanya sendiri.
"Setiap detik kau menodongkan benda itu padaku, organ dalam majikanmu semakin hancur dimakan es," tambah Jiang Chen tanpa berkedip.
Tangan pengawal berbadan besar itu perlahan mulai gemetar.
Dia melihat wajah Shen Muxue yang kini sudah sepenuhnya tertutup oleh embun beku yang tebal.
Tring.
Pistol hitam itu akhirnya terlepas dari tangannya dan jatuh bergemerincing ke lantai keramik.
Pengawal yang sangat arogan itu tiba-tiba menjatuhkan kedua lututnya ke lantai, membungkuk dalam-dalam di depan Jiang Chen.
"Tuan, kumohon selamatkan Nona Muxue. Nyawaku sebagai taruhannya kalau sampai terjadi sesuatu padanya," mohon pengawal itu dengan suara parau.
Su Yuhan terbelalak kaget melihat pemandangan tidak masuk akal di depan matanya ini.
Seorang pengawal elit dari keluarga penguasa kota baru saja bersujud memohon pada pemuda gelandangan tanpa uang sepeser pun.
"Itu baru namanya sikap yang pantas saat meminta tolong," ucap Jiang Chen dengan nada puas.
Dia melangkah santai melewati pengawal yang berlutut itu dan berdiri tepat di hadapan kursi roda Shen Muxue.
Suhu di sekitar gadis itu benar-benar terasa seperti di dalam lemari pendingin daging.
Jiang Chen menarik napas panjang dan memfokuskan pikirannya.
"Ilmu warisan medis, jangan permalukan aku sekarang," batin Jiang Chen sambil menyatukan dua jarinya lagi.
Dia tidak mempedulikan tatapan puluhan pasang mata yang sedang mengawasinya di ruangan itu.
Tangan kanannya melesat cepat seperti kilat, menembus hawa dingin yang mengelilingi tubuh gadis itu.
Tap tap tap.
Tiga ketukan keras dan beruntun mendarat tepat di titik meridian dada bagian atas Shen Muxue.
Tidak berhenti sampai di situ, jari Jiang Chen terus bergerak turun menyusuri jalur meridian di perut dan bahu gadis itu.
Srak srak srak.
Setiap kali ujung jari Jiang Chen menyentuh tubuh Muxue, ada kilatan cahaya keemasan redup yang menyusup masuk menembus pakaiannya.
Itu adalah Qi murni yang dialirkan secara paksa untuk mencairkan sumbatan es di dalam pembuluh darahnya.
Dokter kepala menatap gerakan jari Jiang Chen dengan mulut ternganga.
"Itu, itu tidak mungkin metode akupunktur. Dia bahkan tidak menggunakan jarum sama sekali!" gumam dokter tua itu tak percaya.
"Tutup mulutmu dan perhatikan saja, Dokter," tegur Su Yuhan tiba-tiba, membuat dokter itu kembali terdiam malu.
Tubuh Jiang Chen mulai mengeluarkan keringat yang cukup banyak.
Mengalirkan energi Qi secara langsung ternyata menguras staminanya jauh lebih cepat daripada saat dia melumpuhkan para penjaga tadi.
"Titik terakhir, gerbang jantung," desis Jiang Chen sambil menekan kuat titik tengah dada gadis itu.
Wusss.
Sebuah gelombang panas tiba-tiba meledak dari tubuh Shen Muxue, menyapu udara dingin di sekitarnya dalam sekejap.
Lapisan es tipis yang menutupi kulit wajah dan bibir gadis itu mencair dengan sangat cepat.
Uap putih mengepul tebal ke udara layaknya air mendidih yang disiram ke atas bongkahan es batu.
Uhuk uhuk.
Shen Muxue tiba-tiba terbatuk keras, memuntahkan cairan berwarna hitam pekat yang berbau sangat busuk ke atas lantai keramik.
Tit. Tit. Tit.
Mesin monitor jantung yang sedari tadi menjerit lurus kini kembali menampilkan gelombang hijau yang sangat sehat dan kuat.
Bahkan detak jantungnya terdengar jauh lebih bertenaga daripada detak jantung Su Yuhan sebelumnya.
Rona merah jambu yang menandakan aliran darah sehat perlahan kembali mewarnai pipi gadis muda itu.
"Nona! Anda sudah sadar?!" seru pengawal itu sambil melompat bangun dari lututnya.
Dia menatap wajah majikannya dengan air mata haru yang menggenang di pelupuk matanya.
Shen Muxue membuka matanya perlahan, terlihat sedikit bingung melihat keramaian di sekelilingnya.
"Paman Zhao, kenapa udaranya tiba-tiba terasa sangat hangat?" tanya gadis itu dengan suara lembut yang menggemaskan.
"Aku tidak merasa kedinginan dari dalam dadaku lagi."
Mendengar ucapan majikannya, pengawal bernama Zhao itu langsung menoleh ke arah Jiang Chen dengan tatapan penuh pemujaan.
"Tuan, Anda, Anda benar-benar Dewa Penyelamat! Anda menghidupkannya kembali tanpa alat medis apa pun!" puji Zhao dengan suara bergetar.
Jiang Chen menarik tangannya dan mundur selangkah sambil mengusap keringat di dahinya.
Napasnya sedikit terengah-engah karena energinya cukup terkuras.
"Jangan berlebihan, aku hanya menghancurkan gumpalan energi dingin yang menyumbat jantungnya," jawab Jiang Chen merendah.
"Tubuhnya masih sangat lemah, dia butuh perawatan akupunktur rutin selama sebulan untuk benar-benar sembuh total."
Dokter kepala yang berdiri di pojok ruangan merosot lemas hingga jatuh terduduk di lantai.
Semua teori medis puluhan tahun yang dia pelajari di universitas barat seolah hancur berkeping-keping malam ini.
Dia baru saja menyaksikan sebuah keajaiban yang dilakukan hanya menggunakan sepasang tangan kosong.
Su Yuhan menatap Jiang Chen tanpa berkedip sedikit pun.
Pria yang awalnya dia anggap sebagai pemuda miskin mesum dan gila harta ini ternyata menyembunyikan kemampuan dewa di balik kemeja lusuhnya.
Rasa penasarannya kini telah berubah menjadi sebuah ketertarikan yang sangat kuat dan sulit untuk ditahan.
"Pria ini, aku harus menahannya di sisiku apa pun yang terjadi," batin Su Yuhan dengan tekad yang bulat.
Namun suasana lega di ruangan itu tidak berlangsung lama.
Suara deru mesin beberapa mobil mewah terdengar berhenti mendadak di area pelataran rumah sakit VIP.
Suara langkah kaki puluhan orang yang berjalan dengan sangat tergesa-gesa terdengar menggema memenuhi lorong luar.
"Tuan Besar Shen sudah tiba!" teriak salah satu perawat yang mengintip dari jendela pintu kaca.
Pengawal Zhao langsung merapikan jasnya dan berdiri tegap untuk menyambut kedatangan pemimpin tertinggi keluarga mereka.
Jiang Chen menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya kembali ke dinding.
"Sepertinya malam ini aku benar-benar tidak akan bisa tidur cepat," gerutu Jiang Chen sambil memijat bahunya yang pegal.