Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.
Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.
Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.
Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.
Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 : Festival Kembang Api?
Shen Rui pada dasarnya adalah definisi nyata dari kata 'malas' yang hidup dan bernapas.
Tidak ada seorang pun di sekte ini bahkan Tetua Pertama sekalipun yang tahu bahwa Shen Rui dan Shen Yuan sebenarnya mengalirkan darah murni bangsawan kultivator tingkat tinggi dari klan utama di ibu kota. Mereka berdua sengaja dikirim ke sekte pinggiran di lereng gunung ini, menyamar sebagai pemuda dari desa biasa. Tujuannya mulia untuk menggali potensi asli mereka tanpa bantuan harta keluarga, mencari pengalaman pahitnya dunia, dan yang paling penting bagi sang ayah belajar disiplin kultivasi yang ketat.
Namun, untuk kata terakhir itu, Shen Rui gagal total secara spektakuler.
Bolos kelas adalah rutinitas hariannya. Mulai dari bermain petak umpet dengan para senior pengawas, bersembunyi di dalam tong sampah dapur sekte berjam-jam sampai jubahnya bau sisa sayuran dan kulit bawang, hingga menyelinap ke kota di kaki gunung hanya untuk 'mencuri tanpa izin' bakpao hangat milik Bibi penjual di pasar. Dan setiap kali Rui membuat kekacauan, siapa yang harus menelan pil pahit omelan para Tetua? Tentu saja kakaknya yang malang dan selalu was-was, Shen Yuan.
Siang itu, di Aula Inti yang luas, seluruh murid sedang duduk bersila memejamkan mata. Hening. Khusyuk. Asap dupa cendana mengepul tipis di udara, membantu menenangkan sirkulasi Qi. Tetua Pertama duduk di atas mimbar, mengawasi dengan aura menekan.
"Yuan..." bisik Rui sangat pelan, matanya sedikit terbuka melirik ke kiri tempat kakaknya duduk.
"Diamlah," balas Yuan tanpa membuka mata, giginya terkatup rapat agar bibirnya tidak terlihat bergerak.
"Pantatku kebas. Apa kau pikir energi semesta bisa mengalir kalau pembuluh darah di pantat kita tersumbat lantai batu ini?" keluh Rui pelan, suaranya sarat akan penderitaan palsu.
"Fokus, Rui, atau Tetua Pertama akan benar-benar memenggal kita hari ini."
Rui mendengus bosan. Karena kakaknya menolak diajak bicara, sifat usilnya kumat. Jari telunjuk kirinya perlahan merayap bagai cacing, menyusuri lantai, lalu dengan gerakan kilat, ia menusuk dan menggelitik pinggang Yuan.
Yuan tersentak kecil, pundaknya terangkat, nyaris kehilangan keseimbangan titik Qi di Dantian-nya. "Apa yang kau lakukan, idiot?!" bisiknya tertahan, matanya melotot tajam ke arah adiknya.
"Mengecek refleks pertahanan kultivasimu. Kau terlalu lambat," bisik Rui polos, wajahnya sangat membosankan.
Sebelum Yuan bisa membalas, tangan usil Rui bergerak lagi. Kali ini ia menjangkau pelipis Yuan dan pluk mencabut paksa satu helai rambut kakaknya.
"AW! Sialan kau, Rui!" umpat Yuan tak tertahan, sebelah matanya menyipit menahan perih.
Rui malah tersenyum usil melihat wajah kakaknya yang merah padam karena menahan marah. Merasa kakaknya belum cukup menderita, pemuda berelemen es itu kembali mencondongkan tubuhnya ke depan. Dengan gerakan kilat tak kasat mata bak siluman pencuri, tangan Rui melesat dan memencet hidung Yuan kuat-kuat dengan ibu jari dan telunjuknya, menahan jalur napas kakaknya itu.
"Hmpf! Lepwaskhwan!" desis Yuan sengau, matanya membelalak panik. Ia berusaha menepis tangan adiknya sambil terus menjaga posisi sila agar tidak ketahuan.
"Katakan dulu kau mau membelikanku lima ayam panggang utuh nanti malam, baru aku lepaskan," tawar Rui berbisik santai dengan wajah tanpa dosa, terus menekan hidung Yuan yang kini mulai kehabisan oksigen.
Pergulatan kecil dan tarik-menarik konyol di antara keduanya akhirnya memecah fluktuasi energi spiritual di ruangan tersebut. Gelombang energi yang berantakan itu menyapu altar. Tetua Pertama yang sedang bermeditasi perlahan membuka matanya. Urat di dahinya menonjol keras hingga membentuk perempatan tebal.
“SHEN RUIIIIIIIIIIII!”
Raungan sang Tetua bukan sekadar suara itu adalah gelombang sonik murni yang diisi dengan ledakan Qi tingkat tinggi. Lantai batu bergetar hebat. Pilar-pilar aula bergoyang kencang seolah terjadi gempa bumi berkekuatan raksasa.
Para murid lain yang sedang dalam tingkat konsentrasi tinggi dan kondisi relaksasi total langsung kaget setengah mati. Gelombang kejut itu membuat konsentrasi mereka buyar seketika.
Bruk! Bruk! Bruk!
Ratusan murid nyungsep dan mencium lantai secara berjamaah. Bahkan Wang Jian, sang tuan muda sombong, hidungnya berdarah karena menghantam ubin marmer terlalu keras saat ia terkejut. Di tengah kekacauan aula yang mendadak runtuh itu, hanya Rui yang duduk santai sambil membersihkan telinganya dengan jari kelingking.
**
Malam harinya, angin musim gugur bertiup sejuk menyapu teras kayu asrama laki-laki.
Rui dan Yuan sedang duduk bersila menatap bulan purnama yang bersinar terang benderang. Setidaknya, Yuan sedang berusaha keras memurnikan pikirannya dari kejadian sangat memalukan siang tadi, sementara Rui malah sibuk menghitung berapa banyak bintang yang bisa ia hubungkan menjadi konstelasi berbentuk paha ayam.
"Pemandangan malam yang bagus, bukan?"
Sebuah kepala tiba-tiba muncul dari balik pagar teras. Sesaat kemudian, sesosok gadis berbaju kuning cerah melompat naik dengan ringan. Lin Yue. Entah ilmu meringankan tubuh aliran mana yang dipakainya, gadis ini selalu berhasil membobol sistem keamanan asrama laki-laki yang dijaga ketat layaknya sedang masuk ke halaman belakang rumah neneknya sendiri.
"Yue? Sedang apa kau di sini lagi?!" bisik Yuan panik, buru-buru menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada murid piket yang berpatroli. "Kalau Tetua melihatmu di sini, kita benar-benar akan disuruh menyikat seluruh tebing gunung!"
Lin Yue sama sekali tidak peduli pada kepanikan Yuan. Ia melangkah santai dan duduk bersila tepat di antara kedua bersaudara itu, menopang dagunya menatap langit. "Aku sedang menatap bulan. Kalian tahu? Aku punya hubungan batin yang sangat dekat dengan bulan."
Rui menoleh dengan mata berbinar penasaran, kepolosannya atau mungkin kebodohannya yang natural langsung terpancing ke permukaan.
"Benarkah? Hubungan seperti apa?" tanya Rui sangat antusias. "Apa bulan itu sebenarnya sepupumu yang jauh dari pihak paman ibumu? Atau... jangan-jangan kau ini sebenarnya bayi siluman kelinci yang dilahirkan dari bongkahan batu bulan yang jatuh ke bumi saat kiamat kecil?"
Yuan memijat pelipisnya perlahan. "Otakmu itu murni terbuat dari ampas tahu basi, Rui."
"Bukan sepupu," jawab Lin Yue sangat serius, mengabaikan makian Yuan. "Tapi, kalau aku menatap bulan dalam waktu lama, bulan menatapku balik. Romantis, kan?"
"Itu namanya kau melamun jorok, idiot," sahut Yuan tak habis pikir dengan isi kepala dua makhluk di sampingnya ini.
"Oh ya, lupakan soal bulan!" Lin Yue tiba-tiba mencondongkan tubuhnya, suaranya berubah menjadi bisikan penuh rahasia dan kegembiraan. "Kalian tahu tidak? Besok malam di alun-alun kota bawah gunung akan diadakan Festival Bunga Teratai Musim Gugur! Pasar malam raksasa paling meriah tahun ini!"
Telinga Rui langsung berkedut layaknya anjing pendeteksi harta karun. "Pasar malam?"
"Ya! Kudengar kembang apinya sebesar bukit! Dan yang paling penting..." Lin Yue mulai menghitung dengan jemarinya, matanya berapi-api penuh hasrat. "Ada manisan tanghulu buah persik berlapis madu kental, bakpao daging babi panggang yang kulitnya sangat lembut dan isinya lumer, sate cumi bakar bumbu pedas manis, bebek krispi ukuran besar yang digoreng kering, sup pangsit udang kuah kaldu hangat, kue bulan rasa teratai emas, manisan plum perak, dan arak pir manis!"
Mendengar daftar menu yang dibacakan seperti mantra suci itu, setetes air liur menetes dari sudut bibir Shen Rui. Matanya berubah kosong, menatap ke arah udara hampa seolah ia bisa melihat bebek panggang dan sate cumi menari-nari memanggil namanya.
"Bebek goreng... sate cumi manis... bakpao lumer..." gumam Rui seperti orang kesurupan.
"Kita berdua harus pergi ke sana besok!" seru Lin Yue semangat, menepuk paha Rui.
"Tidak. Sama sekali tidak." Yuan langsung memotong tegas, menyilangkan tangannya di dada dengan raut wajah kaku. "Kalian berdua sudah gila. Kita ini sedang dalam masa hukuman pantauan ketat Tetua Pertama. Kalau kita ketahuan kabur ke kota di saat masa hukuman, kakek iblis itu bukan cuma akan memotong telinga Rui, tapi dia akan mencincang kita bertiga jadi pakan siluman penjaga gerbang!"
"Kak Yuan penakut," ledek Lin Yue sambil menjulurkan lidahnya. Gadis itu lalu merogoh ke balik sabuk lengan bajunya dan mengeluarkan selembar gulungan peta lusuh hasil gambaran tangan. Ia membentangkannya di lantai teras. "Tenang saja! Aku sudah menyusun rencananya berhari-hari. Kalian lihat ini? Di belakang dinding dapur asrama perempuan, tepat di bawah pohon dedalu tua, ada satu lubang anjing yang tertutup semak-semak. Lubang itu tembus langsung ke luar segel menuju hutan bambu. Formasi pelindung sekte di area situ kebetulan sedang rapuh dan belum diperbaiki."
Rui buru-buru mengusap air liurnya dengan lengan baju. Wajah pemalasnya tiba-tiba sirna, berubah menjadi raut wajah seorang panglima perang yang sangat cerdas, serius, dan penuh determinasi. Kultivator jenius berelemen es ini akhirnya menemukan motivasi hidup sejatinya makanan festival.
"Ini bukan tentang takut atau berani dihukum, Saudaraku," kata Rui pada Yuan, menepuk pundak kakaknya dengan gaya memimpin yang sok bijak. "Ini tentang mencari pengalaman hidup. Bukankah ayah maksudku, ketua desa kita mengirim kita jauh-jauh ke sini untuk memperluas wawasan dan melihat dunia? Bagaimana kita bisa menguasai dunia kultivasi kalau kita bahkan tidak pernah turun untuk mempelajari tekstur sejati dari daging bebek panggang di pasar malam festival?"
"Alasan macam apa itu?! Bebek panggang sama sekali tidak ada hubungannya dengan keseimbangan Qi!" bantah Yuan, suaranya nyaris naik satu oktaf tapi ditahannya mati-matian agar tidak membangunkan murid lain.
"Lalu kau mau bagaimana? Kau mau ikut kami melihat dunia luar besok malam, atau mau jaga asrama sambil merangkai bunga teratai di kamarmu, Yuan?" goda Lin Yue dengan senyum licik, melipat kembali petanya. "Kalau kau tidak ikut, aku dan Rui tidak keberatan memakan porsi sate cumimu."
"Aku bertaruh Tetua Pertama sudah memasang mata-mata di setiap gerbang dan celah. Rencana lubang anjing ini murni bunuh diri massal!" rutuk Yuan, meremas rambutnya sendiri frustrasi. Namun, meski mulutnya menolak keras, sepasang matanya mulai melirik bolak-balik ke arah peta yang dimasukkan Lin Yue ke dalam bajunya.
Rui tersenyum lebar melihat pertahanan kakaknya goyah. Ia merangkul erat bahu Yuan. "Bagus. Jadi, sudah diputuskan. Jam berapa kita akan merangkak ke lubang anjing itu besok malam?"
***
Like kalau sukaaaaaaa