Namaku Aliqa Mardika, setelah lulus SMA orangtuaku menjodohkan ku dengan putra dari sahabatnya, yang bernama Davin Aryasatya dia berprofesi sebagai seorang Dokter Spesialis di Rumah Sakit Swasta.
Dengan berat hati aku menerima perjodohan ini, dengan harapan seiring kita bersama cinta akan hadir dengan sendirinya.
Ternyata aku memasuki hubungan yang salah, pria yang di jodohkan dengan ku telah memiliki hubungan dengan wanita lain.
Akan kah pernikahan ini berjalan dengan semestinya?
Ini adalah novel pertama ku, mohon maaf jika mengalami kesalahan dalam penulisan, mohon koreksinya.
Ditunggu like, komen & vote nya ya reader.. terimakasih 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divty Hardyfani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahan Aliqa
Aliqa tertidur dengan lelap diatas ranjang miliknya, Aliqa bangun dari tidurnya karena mendengar suara adzan magrib berkumandang.
Setelah melaksanakan sholat magrib Aliqa bergegas untuk pulang, Aliqa keluar dari dalam kamarnya melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.
"Al makan malam dulu sayang, sini kita makan bareng," ucap Bunda melihat Aliqa yang menghampiri mereka.
"Tak ada salahnya jika aku makan malam bersama kedua orang tua ku, Davin tak mungkin mengkhawatirkan ku, lagi pula Davin hanya akan memikirkan Mila," pikir Aliqa
"Iya bund Al akan makan dulu, Al sangat merindukan masakan Bunda."
"Sini duduk sayang, kita jadi jarang makan bersama setelah kamu menikah," ucap Ayah.
"Iya Ayah," Aliqa menarik kursi dan menghenyakan tubuhnya di atas kursi bersebelahan dengan Bunda.
Mereka fokus pada makanannya masing-masing dan sesekali melemparkan candaan, sebuah keluarga yang penuh kehangatan.
Setelah menyelesaikan makan malam, Aliqa berpamitan untuk segera pulang ke rumah suaminya. Ayah dan Bunda mengantarkan Aliqa hingga kedepan pintu.
"Aliqa pulang ya bun."
"Iya sayang, hati-hati."
"Sering-sering main kesini Al, ajak suami mu," ucap Ayah.
"Baik yah."
Mereka saling berpelukan, Aliqa mencium punggung tangan kedua orang tuanya takzim, kemudian berlalu meninggalkan kediaman orang tuanya.
***
Setelah kepulangan Davin dari tempatnya bekerja. Bi Atik lah yang membukakan pintu rumah, biasanya Aliqa lah yang akan membuka pintu rumah dan menyambut kedatangan suaminya dengan senyum indah miliknya.
"Pada kemana Bi?" Tanya Davin karena tak ada yang menyambut kepulangannya.
Davin tak merasa aneh jika Mila tak menyambut kedatangannya karena Mila memang jarang melakukan hal itu. Sementara Aliqa semenjak menjadi istri Davin meski perlakuan Davin tak baik terhadapnya Aliqa tetap berlaku layaknya seorang istri mengantar keberangkatan suaminya hingga kedepan pintu dan menyambut kepulangan suaminya.
"Nyonya Aliqa sejak siang pergi tuan, sementara Nyonya Mila ada didalam kamarnya," ucap Bi Atik menjelaskan ketidak hadiran majikannya.
"Aliqa pergi kemana Bi?"
"Nyonya Aliqa gak bilang apapun tuan."
"Yaudah, saya mau nemuin Mila dulu Bi." Davin berlalu meninggalkan Bi Atik untuk menuju kamar Mila.
Didalam kamar Mila sedang merebahkan dirinya, seraya memandangi cincin bermata berlian yang melingkar cantik di jari manisnya. Mila tak menyadari kedatangan Davin yang telah memasuki kamarnya.
"Sayang," ucap Davin membuat Mila terperanjat kaget.
"Vin, kamu sudah pulang? Mau mandi dulu?"
"Iya sayang, aku ingin merebahkan tubuh ku sebentar."
"Apa Aliqa berpesan pada mu, mengenai dia akan pergi kemana?"
"Mana aku tau sayang, lagian Aliqa masih muda Vin. Paling dia nongkrong bareng temen-temennya," ucap Mila sengaja memperkeruh suasana hati Davin.
"Gak mungkin, Aliqa tidak seperti itu. Dia pasti memiliki alasan lain." Davin berusaha berfikiran postif dan menahan rasa kesalnya karena tak mendapati Aliqa dirumah.
"Ya terserah, yaudah aku mau mandi dulu gerah."
Mila berlalu menuju kamar mandi, sementara Davin dari posisi rebahan nya begitu fokus melihat keluar jendela.
Tak terasa detik berganti menit dan menit berganti jam. Tak ada tanda-tanda Aliqa telah pulang. "Pergi kemana kamu Al?" gumam Davin dalam hati.
Davin memutuskan untuk melaksanakan ritual mandinya, beridiri di bawah shower dapat sedikit mendinginkan pikirannya. Hingga waktu makan malam tiba Aliqa belum kunjung datang.
Mila mengambilkan lauk pauk kedalam piring milik Davin, pria itu kini sedang memikirkan Aliqa. Setelah Mila mengisi piring milik Davin pria itu masih belum juga memakannya.
"Vin." Suara Mila telah membuyarkan lamunannya.
"Ya." Davin melirik kearah Mila.
"Ngelamunin apa sih? Nungguin Aliqa?Masakan Bi Atik enak loh, sayangkan kalo gak di makan! Biar nanti Aliqa makan sendiri aja Vin." Mila menyendok makanan ke mulut.
Davin memandangi jemari Mila yang megenakan sebuah cincin berlian.
"Dari mana kau mendapatkan cincin itu?" Tanya Davin dengan perasaan menyelidik.
"Iya aku lupa mau bilang, terima kasih sayang untuk cincinnya aku menyukainya, kau memang tau ukuran cincin yang aku kenakan."
"Tak seharusnya kau mengenakam cincin yang bukan milik mu." Kata-kata itu begitu saja keluar dari mulut Davin, pria itu merasa kesal ketika Mila mengenakan cincin milik Aliqa.
"Maksud mu apa Vin? Bukankah ini milik ku, karena aku menemukannya di dalam laci meja rias yang berada dikamar ku!"
"Meja rias yang berada dikamar mu adalah milik Aliqa." Ucapan Davin memancing emosi Mila.
"Maksud mu cincin ini milik Aliqa? Bukankah kau tidak mencintainya, untuk apa akau memberikannya! Kau hanya mencintai ku Vin!" Mila meninggikan suaranya, Mila tak terima jika Aliqa mendapatakan perlakuan istimewa dari Davin.
Davin merasa kesal dengan sikap Mila yang sesuka hatinya memakai barang tanpa meminta ijin terlebih dulu, namun Davin tak mau ambil pusing karena sekalipun Mila salah, Mila lah yang akan marah. Davin meraih tangan mulus milik Mila dan mengusapnya lembut untuk menenangkan emosi Mila.
"Aku akan mengembalikannya kepada Aliqa, tapi aku ingin yang lebih mahal dari yang Aliqa miliki," ucap Mila lembut.
"Iya sayang, apapun untuk mu dan anak kita."
Kali ini Davin sedang menahan emosi karena Aliqa tak kunjung pulang dan pergi tanpa memberi kabar dia akan pergi kemana. Untuk Mila sekalipun emosi Davin akan tetap berlemah lembut.
Aliqa telah memasuki rumah dan mendengar apa yang di ucapkan sepasang suami istri tersebut. Hatinya berdenyut nyeri, Davin hanya mementingkan Mila dari pada dirinya.
Aliqa langsung melangkahkan kakinya untuk menuju kamarnya, namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika Davin memanggilnya.
"Dari mana kamu jam segini baru pulang? Istri macam apa kamu ini huh!"
Kata-kata yang di keluarkan Davin melukai hatinya, namun Aliqa tetap melanjutkan langkahnya untuk menujuk kamarnya tanpa menghiraukan pertanyaan Davin.
"Apakah sopan seorang istri tak menjawab pertanyaan suaminya?" Davin meninggikan suaranya dan tak mendapati jawaban dari Aliqa. "Apakah orang tua mu tak mengajari mu sopan santun?"
Aliqa memutar badan, menatap penuh amarah pada Pria yang telah menyebut orang tuanya atas kesalahan dirinya, Davin menatap Aliqa penuh kemarahan, tapi sama sekali tak membuat Aliqa takut. "Jangan membawa nama orang tua ku, aku tak menyukai kau menyangkut pautkan kelakukan ku dengan cara didik mereka! Aku memang salah!" Aliqa meninggikan suaranya, mengepalkan tangannya menahan luka yang kembali tergores, meski luka lama masih menganga.
Buliran bening yang sejak tadi Aliqa tahan akhirnya jatuh juga, dengan sigap Aliqa menyeka, kemudian jalan dengan tergesa untuk memasuki kamarnya.
Aliqa mengunci pintu kamarnya, kali ini dia benar-benar ingin sendiri, menelusupkan wajahnya kedalam bantal, lagi dan lagi Aliqa harus menata setiap kepingan hati.
Didalam kamarnya Aliqa kembali menumpahkan tangisnya, perlakuan Davin sangat berbanding terbalik dengan yang di dapatkan oleh Mila, sekalipun Davin merasa kesal pria itu selalu berhasil meredamnya, sedangkan ketika Aliqa melakukan kesalahan Davin akan meluapkan emosinya dengan meledak-ledak.