NovelToon NovelToon
Damian: Jerat Sang Iblis

Damian: Jerat Sang Iblis

Status: tamat
Genre:Iblis / Romansa Fantasi / Hantu / Tamat
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: cinnamon girl

Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.

Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32 - epilog

Kedamaian di lembah terpencil itu mendadak retak tanpa peringatan.

Di atas batu sungai raksasa, tepat saat Helena sedang tertawa riang memeluk bekal makanannya, tubuh Damian yang bersandar di samping Cindy mendadak menegang kaku. Sepasang mata birunya yang semula memancarkan kehangatan seorang ayah seketika meredup pekat, berubah menjadi kilatan es yang berbahaya.

Hawa dingin ekstrem yang luar biasa masif mendadak meledak keluar dari pori-pori kulit Damian. Begitu dahsyatnya energi itu hingga seluruh air terjun yang jatuh dari ketinggian belasan meter seketika membeku menjadi tiang-tiang kristal es raksasa dalam hitungan mikrodetik. Rumput dan pepohonan hijau di sekeliling lembah langsung terlapisi embun beku yang tebal.

ROARRRR!

Harimau putih raksasa itu langsung melompat pasang badan, menatap lurus ke arah langit lembah yang mendadak berubah warna menjadi merah pekat berbau belerang.

"Damian...?" Cindy tersentak, rasa panik yang sudah tujuh tahun lamanya mati seketika membumbung tinggi di dadanya. Ia memegang lengan Damian yang kini mengeras laksana batu marmer. "Ada apa? Kenapa dingin sekali...?"

Damian tidak menjawab pertanyaan Cindy. Gerakannya begitu patah-patah dan cepat saat ia menurunkan Helena dari pangkuannya dan menyerahkannya ke dalam dekapan Cindy.

"Piko, bawa Nyonya dan Helena kembali ke rumah kolonial sekarang! Kunci seluruh segel!" perintah Damian dengan suara yang bukan lagi suara manusianya, itu adalah gema nada kematian dari dasar neraka.

“Tuan Agung...!” suara gaib sang harimau putih bergetar ragu.

"SEKARANG!" raung Damian.

Dengan sekali hentakan tangan, Damian memunculkan jubah hitamnya kembali. Sepasang sayap raksasanya yang dulu sempat hancur kini mengepak lebar, memercikkan bara api neraka yang membakar kristal-kristal es di sekitarnya.

Damian menoleh sekilas ke arah Cindy, menatap mata cokelat terang istrinya dengan tatapan yang sarat akan proteksi mutlak dan kepedihan yang mendalam. "Sang Penguasa sendiri yang turun, mijn liefde. Dia tidak akan pernah melepaskan keluarga kita sebelum raga ini hancur. Jaga Helena..."

"Damian, jangan! DAMIAN!" jerit Cindy histeris, mencoba menggapai jemari suaminya.

Namun terlambat. Tanpa menunggu sedetik pun, Damian mengepakkan sayapnya dan melesat membelah langit merah dengan kecepatan yang memutus batas ruang dan waktu, menghilang seketika meninggalkan kepulan asap hitam dan kristal es yang berjatuhan.

Piko langsung menyambar tubuh Cindy dan Helena, melompati dimensi untuk membawa mereka kembali ke benteng rumah kolonial sebelum badai gaib menghancurkan tubuh fana sang ratu.

BUMMMMMMMMM!

Langkah kaki telanjang Damian menapak keras di atas tanah hitam dimensi Pangilon. Ledakan energi dari kedatangannya meretakkan hamparan tanah batu tak bertepi itu.

Di sekelilingnya, udara berbau sangit, darah busuk, dan asap hitam yang begitu pekat. Tidak ada lagi jalan untuk melarikan diri. Kali ini, Damian tidak bertarung di lorong dimensi melainkan ia berada tepat di Pusat Dimensi Pangilon, tanah kekuasaan sang raja iblis purba.

Di hadapannya, berdiri sebuah benteng raksasa dari tengkorak mahluk-mahluk purba. Dan di atas singgasana batu yang menggelegar, sosok Sang Penguasa Pangilon bertubuh raksasa itu menundukkan kepalanya yang bertanduk ganda. Hidungnya yang sebesar pintu gerbang menyemburkan asap putih tebal, persis seperti banteng yang siap meremukkan mangsanya.

“HOHOHO... KAU KEMBALI LAGI, PANGERAN KECIL VAN DER Van!” suara menggelegar sang penguasa membuat tanah dimensi berguncang hebat, memicu gempa skala besar yang memunculkan lahar dingin di sekeliling mereka.

Damian menggenggam pedang mata duanya yang menyala merah-biru pekat. Ia mendongak, menatap sang penguasa tanpa ada sedikit pun rasa takut di dalam sepasang mata birunya yang sedingin es.

"Kau membunuh Panglimaku, kau menghancurkan prajurit-prajuritku, dan kau berani menikmati kebahagiaan di dunia fana bersama wanita manusia itu?" desis Sang Penguasa Pangilon, cakar raksasanya mencengkeram lengan singgasana hingga hancur berkeping-keping. "Kau lupa dari mana Batu Giok Sukma itu berasal! Kau milikku, Damian! Jiwamu sudah tertambat di dimensi ini sejak kau menandatangani janji darah tujuh tahun lalu!"

Damian melangkah maju satu langkah. Gerakannya begitu santai namun setiap tumpuan kakinya membekukan lahar di sekitarnya menjadi batu es hitam.

"Janji darah itu sudah saya lunasi dengan ratusan jiwa yang saya serahkan saat itu, Penguasa Pangilon," sahut Damian, suaranya berat, parau, dan mengalun dengan kepastian mutlak. "Jika kau menginginkan lebih, itu bukan lagi perjanjian... melainkan keserakahan."

"KAU BERANI MENYEBUTKU SERAKAH?!" raung sang penguasa hingga pusaran angin hitam bertiup brutal. "Aku adalah penguasa atas segala mahluk malam di alam ini! Kau hanyalah seekor iblis buangan dari benua barat yang berlindung di tanah Jawa! Menyerahlah, jadilah panglima baruku, atau aku sendiri yang akan turun ke dunia fana, meremukkan tulang-tulang wanita manusiamu, dan meminum darah putri setengah perimu itu sampai habis!"

Mendengar ancaman langsung terhadap Cindy dan Helena, aura Damian meledak ke titik puncaknya.

Dua tanduk di kepalanya memanjang dengan pendaran api biru yang membakar. Sayap hitam raksasanya membesar dua kali lipat, memamerkan puluhan mata gaib berwarna merah di sela-sela bulunya, wujud Iblis Murni yang belum pernah ia perlihatkan bahkan di hadapan Cindy sekalipun.

"Sebut nama mereka sekali lagi dari mulut busukmu itu..." desis Damian, suaranya bergema dari ribuan sudut dimensi, "...dan saya akan memastikan tidak akan ada lagi tempat bernama Dimensi Pangilon di jagat ini!"

Sang Penguasa Pangilon terkekeh kejam, bangkit berdiri dari singgasananya hingga tubuh raksasanya menutup langit hitam dimensi tersebut. Sebuah pedang besar berlapis lahar panas termaterialisasi di tangan raksasanya.

"AKAN KULIHAT SEBERAPA JAUH KEKUATAN CINTA MANUSIA ITU BISA MENYELAMATKAN NYAWAMU, DAMIAN!"

SWOSSHHHHH!

Sang Penguasa mengayunkan pedang raksasanya ke bawah, membelah tanah dimensi menjadi celah jurang yang dalam. Damian tidak menghindar justru dengan amarah terhebat dalam eksistensinya, sang Iblis Belanda melesat lurus ke atas, menerjang sang raja iblis purba untuk mengunci takdir keluarga kecilnya dalam pertempuran paling berdarah sepanjang sejarah dua alam.

Langkah kaki Cindy yang gelisah berderit konstan di atas lantai kayu tegel ruang keluarga. Gaun putihnya yang bagian bawahnya masih basah oleh air lembah kini menyapu lantai tanpa peduli. Wajah cantiknya pucat pasi, matanya sembab, dan kedua tangannya saling meremas jemari sendiri yang dingin ketakutan.

Di sudut ruangan, Helena duduk bersimpuh di atas karpet bulu tebal, memeluk sebuah boneka kain beruang yang mulai kusam. Di samping gadis kecil itu, Piko sang Harimau Putih Raksasa berbaring meringkuk dalam wujud redupnya. Bulu peraknya berpendar halus, menciptakan kubah energi tak kasat mata yang membungkus seisi rumah kolonial tua tersebut. Sepasang mata biru Piko tak lepas mengawasi pintu depan yang telah tertutup rapat oleh tiga lapis segel rajah milik Ki Renggo dan energi es peninggalan Damian.

"Bunda..." panggil Helena lirih. Suara mungilnya memecah hening yang mencekam di dalam rumah. "Kenapa Bunda jalan-jalan terus? Bunda pusing ya?"

Langkah Cindy terhenti seketika. Ia menoleh, menatap putri kecilnya dengan raut wajah yang hancur oleh rasa cemas yang tak tertahankan. Cindy berlutut di depan Helena, merengkuh kedua bahu kecil putrinya dengan tangan yang gemetar hebat.

"Helena... kamu gak papa, sayang? Ada yang sakit?" tanya Cindy beruntun, suaranya parau menahan bisikan tangis.

Helena menggeleng pelan. Jemari mungilnya terulur mengusap pipi ibunya yang dingin. "Helena gak papa, Bunda. Tapi... Papa mana? Kenapa Papa gak ikut pulang sama kita? Kenapa langit di lembah tadi merah seperti darah?"

Pertanyaan jujur dari bibir mungil Helena rasanya seperti sembilu yang menyayat dada Cindy. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos membasahi pipi.

"Papa... Papa sedang ada urusan sebentar, sayang," bisik Cindy memaksakan senyum yang teramat getir, memeluk Helena erat-erat ke dadanya. "Papa lagi berjuang... supaya kita bertiga bisa sama-sama terus."

*ROARRR...*

Piko menggeram rendah, memutar kepalanya menatap Cindy. Suara gaib sang khodam menggema lembut namun dalam di pikiran Cindy.

*“Nyonya, tenanglah. Gelombang emosimu yang kacau bisa memicu energi gaib di dalam darah Helena. Tuan Agung Damian memerintahkan hamba untuk mengunci tempat ini agar tidak ada hawa kematian dari Pangilon yang bisa melacak keberadaan Anda dan putri kecil ini.”*

Cindy mengusap air matanya kasar, lalu menatap mahluk agung itu dengan mata cokelatnya yang menyala cemas. "Piko, kamu bisa rasakan keberadaan Damian, kan? Gimana keadaannya di sana? Penguasa Pangilon itu... dia raksasa, Piko! Dia beda sama panglima kemarin!"

*“Pertempuran di pusat Pangilon adalah pertempuran tingkat tertinggi, Nyonya,”* sahut Piko tenang, meski sirat matanya memancarkan kewaspadaan mutlak. *“Bumi dimensi sana sedang berguncang hebat. Tuan Agung melepaskan seluruh wujud Iblis Murni miliknya. Energi es dan api birunya membakar separuh tanah Pangilon. Beliau tidak akan tumbang semudah itu, Nyonya. Cintanya pada Anda dan Helena adalah jangkar terkuat yang menahan sukmanya agar tidak hancur.”*

"Tapi aku takut, Piko! Tujuh tahun lalu dia pergi sebulan sampai tubuhnya hancur dan nyaris mati!" tangis Cindy akhirnya pecah. Ia menungkupkan wajahnya di kedua telapak tangannya. "Aku gak sanggup kalau harus nunggu satu bulan lagi tanpa tahu dia masih bernapas atau enggak... Aku gak sanggup kalau Helena harus tumbuh tanpa papanya..."

Helena yang melihat ibunya menangis sesenggukan langsung melepaskan bonekanya dan memeluk leher Cindy erat-erat. Gadis kecil itu menyandarkan kepalanya di bahu Cindy, lalu memejamkan mata birunya yang rapat.

"Bunda jangan menangis..." bisik Helena pelan. "Helena bisa rasakan Papa. Di sini..." Helena menarik tangan Cindy dan menempelkannya tepat di dada kecilnya, di mana detak jantungnya berdenyut hangat berpadu dengan Getaran Es Murni bawaan sang ayah.

"Papa sedang marah besar, Bunda. Papa bilang... Papa akan potong tanduk iblis jahat itu dan bawa pulang untuk Helena," lanjut Helena dengan polosnya, mencoba menghibur ibunya.

Cindy tertegun. Ia menatap manik mata biru Helena yang berkilat halus oleh pendaran keemasan. Rasa hangat yang menjalar dari telapak tangan mungil putrinya perlahan meredakan kepanikan liar di dada Cindy.

"Papa benar-benar bilang begitu di dalam pikiranmu, sayang?" tanya Cindy pelan, mengusap rambut lebat Helena.

Helena mengangguk mantap. "Iya! Papa suruh Helena jaga Bunda. Kata Papa, 'Jaga ibumu, *mijn liefde* kecil. Papa akan segera pulang sebelum senja esok.'"

Cindy memeluk Helena semakin erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher putrinya sambil mengembuskan napas panjang yang sarat akan doa dan harapan. Di luar rumah kolonial, angin malam berembus kencang menggetarkan dedaunan pohon beringin, membawa gema getaran pertempuran dahsyat dari dimensi seberang tempat di mana seorang suami dan ayah bertaruh seluruh keabadiannya demi kembali ke pelukan keluarga kecilnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!