NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 PERCAKAPAN PERTAMA YANG NORMAL

Hari ketiga masa hukuman sosial di Ruang Budaya dimulai dengan atmosfer yang jauh berbeda dari dua hari sebelumnya.

Tidak ada bantingan sapu, tidak ada bentakan amarah, dan tidak ada provokasi kekanak-kanakan dari Wira.

Pukul empat sore lewat sepuluh menit.

Sinar matahari keemasan menyusup melalui celah-celah kaca patri paviliun, melukiskan garis-garis cahaya yang hangat di atas lantai kayu jati yang kini sudah bersih mengkilap.

Wira berdiri di sudut ruangan, memegang sebuah lap microfiber kering di tangan kanannya. Ia sedang telaten membersihkan debu di rak buku bagian B, persis seperti instruksi Asmara.

Setiap gerakannya kini jauh lebih tenang, tidak lagi tergesa-gesa atau diselimuti emosi meledak-ledak seperti hari pertama.

Di meja administrasi, Asmara duduk dengan posisi yang sama—postur tegak, celemek cokelat menutupi seragamnya—sibuk merapikan tumpukan katalog arsip lama.

Keheningan di antara mereka masih terasa tebal, namun kali ini bukan lagi keheningan yang memekakkan telinga atau menyiksa mental. Itu adalah keheningan yang wajar, sebuah jeda damai di antara dua manusia yang mulai belajar untuk saling menurunkan senjata.

Wira melirik sekilas ke arah meja Asmara.

Ia menarik napas pendek, lalu menghembuskannya pelan, mengumpulkan keberanian yang entah mengapa terasa jauh lebih sulit dikumpulkan daripada saat ia menantang Bima berkelahi di lorong sekolah.

"Ra..." panggil Wira. Suaranya terdengar serak, namun diucapkan dengan nada yang benar-benar biasa—tanpa nada menyindir, tanpa provokasi.

Asmara menghentikan gerakan tangannya. Ia mendongak, menatap Wira dengan sepasang mata bulatnya yang jernih. Tidak ada tatapan dingin atau menusuk seperti kemarin. Yang ada hanyalah rasa ingin tahu yang tersimpan rapi di balik ketenangannya.

"Ada apa, Mas Wira?" tanya Asmara, suaranya halus, mengalun lembut tanpa duri.

Wira mengerjap sejenak, sedikit terkejut karena gadis itu merespons panggilannya dengan begitu cepat dan ramah. Ia menghentikan kegiatannya mengelap buku, memutar tubuhnya menghadap meja administrasi, lalu menyandarkan pinggangnya pada tepi rak kayu.

"Gue... cuma mau nanya," kata Wira, ragu-ragu. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Kemarin lo bilang... kalau gue takut denger suara hati gue sendiri. Lo bilang gue lari dari rasa bersalah."

Asmara tidak langsung menjawab. Ia merapikan lembaran kertas di depannya, lalu melipat kedua tangannya di atas meja, memberikan perhatian penuh kepada Wira. "Ya. Saya ingat."

Wira menunduk sejenak, memandangi ujung sepatu ketsnya yang sudah berdebu.

"Gue... Gue mikirin omongan lo itu semalaman di rumah," Wira mengaku jujur, sebuah pengakuan yang menuntut jatuhnya gengsi setinggi langit miliknya.

"Bude Ning juga sempet ngomel, karena gue tidur kemalaman, bolak-balik di kasur gara-gara mikirin itu."

Sudut bibir Asmara berkedut samar, membentuk senyuman tipis yang sangat nyaris tak terlihat. "Lalu? Apa yang Mas temukan setelah memikirkannya semalaman?"

Wira mendengus pelan, sebuah senyum pahit tersungging di bibirnya.

"Gue nemuin kalau... lo bener, Ra. Gue... Gue emang takut."

Wira mengangkat wajahnya, menatap lurus ke mata Asmara.

Tidak ada lagi topeng angkuh yang ia pasang.

Yang terlihat di wajah pemuda itu adalah kejujuran yang telanjang.

"Gue takut ngerasa kalau gue ini gagal," lanjut Wira lirih.

"Di Bogor, gue punya segalanya. Teman-teman yang selalu dukung gue, geng yang angkat nama gue, dan kebebasan buat ngelakuin apa aja tanpa ada yang ngatur. Tapi pas bokap ngirim gue ke sini... dibuang ke rumah Bude Ning yang aturannya kayak kamp militer, gue ngerasa hidup gue mendadak hancur."

Wira mengepalkan tangannya di samping paha.

"Gue marah sama semua orang. Gue marah sama bokap, gue marah sama Bude Ning, dan gue marah sama kota ini yang jalannya lambat banget. Makanya gue bikin keributan di mana-mana, biar orang-orang mandang gue, biar gue ngerasa kalau gue masih punya kuasa atas diri gue sendiri."

Asmara mendengarkan dengan seksama. Tidak ada interupsi, tidak ada ceramah moral yang menggurui.

Gadis itu membiarkan Wira menumpahkan isi kepalanya, memberikan ruang aman yang selama ini tidak pernah didapatkan pemuda itu di rumah maupun di sekolah lamanya.

"Warung sate bokap gue di Bogor itu rame banget, Ra," lanjut Wira, suaranya sedikit melunak, mengenang memori masa lalunya.

"Tiap hari bau arang, asap daging, teriakan pelayan, dan suara piring pecah. Rumah gue bising, tapi di situlah tempat gue ngerasa hidup. Pas gue dipindah ke Jogja... rumah Bude Ning terlalu sepi. Terlalu banyak aturan, terlalu banyak larangan. Gue ngerasa kesepian yang paling parah seumur hidup gue."

Untuk pertama kalinya sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di tanah Jogja, Wira menceritakan kisah hidupnya yang sebenarnya tanpa dibumbui keangkuhan.

Ia melepaskan baju zirah preman jalanannya, menunjukkan luka lecet di balik jiwanya yang selama ini ia sembunyikan di balik kepalan tangan dan senyum sinis.

Paviliun itu kembali diselimuti keheningan, namun keheningan kali ini terasa hangat, merangkul kedua remaja itu dalam sebuah jembatan empati yang baru saja terbentuk.

Beberapa saat berlalu dalam sunyi, sebelum akhirnya Asmara membuka suara.

Suaranya begitu lembut, mengalir menyejukkan rongga dada Wira yang sesak.

"Waktu kecil, saya juga pernah merasa sangat kesepian, Mas," ucap Asmara pelan.

Wira menoleh, menatap gadis itu dengan kening berkerut penasaran.

"Lo? Kesepian? Masa sih? Lo kan murid kesayangan guru-guru, ketua OSIS, hidup lo lurus-lurus aja."

Asmara tersenyum, senyum yang tulus dan penuh kenangan.

"Lurus bukan berarti tidak pernah sepi, Mas. Dulu, waktu Romo masih sering bertugas seharian penuh di Keraton, dan Ibu sibuk membatik sampai larut malam, saya sering merasa tertinggal di rumah ini. Teman-teman sebaya saya sibuk membicarakan tren dari Jakarta, mall-mall baru, atau musik-musik modern yang diputar di radio."

Asmara bangkit dari kursinya, berjalan mendekat ke arah tumpukan gamelan yang sudah bersih.

Asmara mengalihkan pandangannya ke arah perangkat gamelan di tengah ruangan itu. Tangannya terulur menyentuh ujung kain putih penutup gamelan tersebut.

"Saya sempat membenci tempat ini," lanjut Asmara, suaranya menyiratkan kejujuran yang mendalam.

"Saya benci harus duduk berjam-jam mendengarkan tembang Jawa yang tidak saya mengerti. Saya benci harus belajar menari tarian klasik yang gerakannya lambat dan melelahkan, sementara di luar sana dunia bergerak begitu cepat."

Wira mendengarkan dengan penuh perhatian.

Ia tidak menyangka gadis sesempurna Asmara pernah berada di posisi yang sama dengannya—merasa asing dan ingin memberontak pada lingkungannya.

"Lalu, apa yang bikin lo berubah pikiran?" tanya Wira penasaran. "Kenapa sekarang lo malah jadi pembela nomor satu budaya keraton?"

Asmara menoleh kembali, menatap Wira lekat-lekat. Ada binar kecintaan yang luar biasa besar terpancar dari sepasang mata bulat itu.

"Suatu sore, waktu saya berumur sepuluh tahun, saya menangis di pendopo karena merasa hidup saya diatur oleh tradisi kuno yang kaku," cerita Asmara dengan nada mengalun tenang.

"Kakek saya datang menghampiri. Beliau tidak memarahi saya. Beliau hanya mengajak saya duduk, lalu menabuh gamelan Saron satu kali."

Asmara memejamkan matanya sejenak, mengenang memori itu.

"Kakek bilang... --'Nduk, gamelan ini umurnya sudah ratusan tahun. Kayunya sudah tua, perunggunya sudah banyak yang aus. Tapi setiap kali ditabuh dengan ketulusan, dia tidak pernah menolak untuk mengeluarkan suara yang indah. Budaya kita bukan sekadar aturan tua yang mengikat, Asmara. Budaya kita adalah akar. Pohon yang kehilangan akarnya akan tumbang saat badai datang, tapi pohon yang akarnya menghujam ke dalam bumi, akan tetap berdiri kokoh meskipun angin menerpa sekencang apa pun'.--"

Wira tertegun.

Kalimat itu menancap kuat di benaknya. Dan Wira benar-benar meresapinya kali ini dengan hati yang sepenuhnya sadar.

"Sejak hari itu, saya berhenti melihat tradisi dan aturan sebagai sangkar yang mengekang," ucap Asmara penuh keyakinan.

"Saya melihatnya sebagai rumah. Tempat di mana saya berakar, tempat di mana saya menemukan ketenangan di tengah dunia yang gaduh. Jogja itu lambat, Mas Wira, karena kota ini ingin kita berhenti sejenak dan mendengarkan suara hati kita sendiri. Kota ini tidak sedang menahan langkah kita; kota ini sedang mengajari kita, bagaimana cara untuk kita bisa pulang."

Sebuah percakapan yang normal.

Tanpa nada tinggi, tanpa perdebatan ego, tanpa usaha saling menjatuhkan.

Wira terdiam lama sekali, mencerna setiap kata yang diucapkan Asmara.

Bayangan tentang kota Jogja yang membosankan di kepalanya perlahan mulai bergeser.

Ia mulai melihat kota ini dengan kacamata yang berbeda—bukan sebagai penjara tempatnya dibuang, melainkan sebagai sebuah tempat peristirahatan yang luas bagi jiwa-jiwa yang kelelahan.

"Jadi... lo jatuh cinta sama Jogja karena kakek lo?" tanya Wira akhirnya, mencoba mencairkan suasana dengan sedikit nada ringan.

Asmara tertawa kecil.

Tawa renyah yang terdengar sangat manis di telinga Wira, membuat jantung pemuda itu berdegup kencang dengan cara yang sama sekali berbeda dari rasa marahnya.

"Ya... Kurang lebih seperti itu," jawab Asmara, kembali berjalan menuju mejanya, dan merapikan pulpen di atas meja.

Ia lalu mendongak, menatap Wira dengan senyuman yang begitu tulus—senyum hangat yang benar-benar ia berikan secara sukarela, bukan senyum maklum atau senyum formal seperti hari-hari sebelumnya.

"Terima kasih sudah mau cerita soal Bogor, Mas," ucap Asmara lembut. "Cerita tentang warung sate dan kesibukan di sana... terdengar sangat hidup."

Wira merasakan wajahnya menghangat.

Ia buru-buru mengalihkan pandangannya kembali ke rak buku, pura-pura sibuk mengelap bagian yang sudah bersih, meski sudut bibirnya tak kuasa menahan senyum lebar yang merekah tanpa ia sadari.

"Ah, biasa aja kali, Ra..." elak Wira sok cool, meski dadanya bergemuruh hebat.

"Nanti kapan-kapan kalau lo main ke Bogor, gue ajak melipir ke warung bokap. Dijamin lo bakal puyeng sama bisingnya."

"Insya Allah, kalau ada kesempatan," balas Asmara tenang.

Sore itu, di antara debu-debu buku tua dan gemerincing samar instrumen gamelan, tembok es yang selama ini memisahkan mereka runtuh sepenuhnya.

Wira menyadari bahwa di balik ketegasan sang putri Abdi Dalem tersimpan kelembutan yang luas.

Dan di balik pemberontakan liar sang pemuda Bogor, tersimpan kerinduan yang sunyi akan sebuah rumah.

Percakapan pertama yang normal itu akan menjadi titik balik yang mengubah segalanya.

Menandakan bahwa "musim dingin" di Ruang Budaya telah resmi berakhir, bergantikan tunas-tunas "musim semi" yang mulai merayap di antara hati mereka berdua.

Namun...

Asmara tak pernah menduga...

Bahwa mulai esok hari...

Wira yang sudah mendengar beberapa petuah tentang kota Jogja, tentang diri Asmara itu sendiri, tentang filosofi akar budaya yang kokoh...

Wira akan menunjukkan sisi lainnya karena sudah mendapatkan semua petuah itu dari Asmara sore ini.

1
Kesya Ohilitean
aku senang sekali kerana novel mau membantu aku untuk mehilakan sertes
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Kesya... 😍😍😍

Semoga Kakak selalu sehat, ya... Selalu bahagia juga buat Kak Kesya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!