NovelToon NovelToon
Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Genggaman tangan Tante Rina terasa dingin dan sedikit gemetar, sangat kontras dengan gambaran wanita elegan dan penuh percaya diri yang selama ini Naya kenal. Di ambang pintu rumah Nessa, waktu seakan membeku. Udara sore yang membawa sisa-sisa aroma hujan sama sekali tidak mampu mendinginkan darah Naya yang kini mendidih, berpadu dengan rasa perih yang kembali mengoyak dadanya.

"Tante..." suara Naya keluar layaknya cicitan tertahan. Matanya terpaku pada wajah lelah ibunda Reno, sebelum akhirnya beralih menatap tajam ke arah pria yang berdiri pengecut di belakang ibunya.

Reno menundukkan kepala, memasang raut wajah penuh penyesalan. Pria itu memakai kemeja rapi, rambutnya disisir klimis, berusaha keras mengembalikan citra 'menantu idaman' yang sudah ia hancurkan berkeping-keping. Betapa liciknya pria ini. Setelah gagal menggunakan buket bunga Lily dan kata-kata manis di kantor, Reno kini menggunakan senjata terakhirnya: ibunya sendiri, kelemahan terbesar Naya.

"Sayang, tolong kasih Reno kesempatan bicara," isak Tante Rina pelan, meremas jemari Naya. "Reno pulang dalam keadaan kacau kemarin. Dia bilang kalian bertengkar hebat sampai kamu membatalkan semuanya. Naya, Tante tahu Reno pasti berbuat salah, tapi bukankah setiap hubungan ada ujiannya? Tiga tahun kalian bersama, Tante sudah menganggapmu seperti anak kandung Tante sendiri. Jangan tinggalkan Reno, Nak."

Dada Naya sesak. Hancur rasanya melihat wanita paruh baya yang begitu ia hormati menangis memohon di hadapannya demi seorang pria brengsek. Naya selalu memimpikan sosok ibu mertua seperti Tante Rina—hangat, penyayang, dan selalu mendukungnya. Namun, realita bahwa Tante Rina tidak mengetahui dosa besar apa yang telah dilakukan putranya membuat lidah Naya kelu.

Bagaimana mungkin ia tega mengatakan hal menjijikkan itu di depan seorang ibu?

"Naya, aku minta maaf," Reno akhirnya berani mengangkat wajahnya, menatap Naya dengan mata memelas yang dulu selalu berhasil meluluhkan hati Naya. "Aku benar-benar menyesal. Aku hancur tanpamu. Please, demi Mamaku, demi kita. Kita perbaiki semuanya dari awal ya?"

Amarah yang sejak tadi Naya tahan akhirnya meledak di ujung kerongkongannya. Tangannya yang berada dalam genggaman Tante Rina menegang. Naya membuka mulutnya untuk melontarkan makian, namun sebelum satu suku kata pun berhasil keluar, sebuah presensi besar dan hangat tiba-tiba muncul dari arah belakangnya.

"Aku rasa, tamu kita salah alamat."

Suara bariton yang berat, dingin, dan mematikan itu mengalun rendah, memotong isakan Tante Rina dan bualan Reno secara instan.

Naya tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara itu. Aroma cedarwood dan mint yang maskulin langsung menyelimuti tubuhnya, memberikan perlindungan absolut. Kafka melangkah maju, memposisikan tubuhnya yang tinggi tegap tepat di sebelah Naya. Pria itu menyisipkan dirinya di antara ambang pintu, menutupi separuh tubuh Naya dari pandangan Reno.

Raut wajah Reno seketika berubah pucat pasi saat melihat Kafka. Ingatan tentang cengkeraman maut yang nyaris mematahkan pergelangan tangannya di apartemen dan rasa malu karena diseret petugas keamanan di lobi kantor kemarin pasti kembali menghantam mental pria itu.

"Siapa ini, Nak Naya?" tanya Tante Rina bingung, menghapus sisa air matanya dan menatap Kafka dari atas ke bawah. Ia terintimidasi oleh aura dominan yang memancar begitu kuat dari pria muda di hadapannya.

Kafka menatap Tante Rina. Tatapan matanya yang semula setajam silet saat melihat Reno, sedikit melembut untuk menunjukkan rasa hormat kepada wanita yang lebih tua, meskipun nada suaranya tetap tegas dan tak terbantahkan.

"Saya Kafka, Nyonya. Adik dari pemilik rumah ini," jawab Kafka dengan sopan. Ia lalu mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, melepaskan genggaman tangan Tante Rina dari jemari Naya dengan sangat halus namun tidak menerima penolakan. Kafka kemudian menarik Naya sedikit ke belakang punggungnya, menjadikan tubuhnya sebagai tameng hidup.

"Maafkan ketidaksopanan saya," lanjut Kafka, kini memfokuskan pandangannya pada Reno dengan kilat amarah yang tertahan. "Tapi Naya sedang tidak ingin diganggu. Apalagi oleh orang yang tidak tahu malu membawa ibunya sendiri untuk menutupi kebusukannya."

"Jaga mulut lo, brengsek!" Reno tersulut emosi, harga dirinya kembali terkoyak di depan ibunya sendiri. "Gue datang ke sini baik-baik mau minta maaf sama cewek gue! Lo nggak punya hak ngelarang gue!"

"Cewekmu?" Kafka tertawa sinis, suara tawa yang kering dan meremehkan. "Wanita yang kau bawa ke ranjangmu tiga malam lalu, itu baru cewekmu. Naya sama sekali bukan milikmu lagi."

Pernyataan Kafka bagaikan bom waktu yang akhirnya meledak. Tante Rina tersentak mundur satu langkah, matanya membelalak lebar. Wanita itu menoleh perlahan ke arah putranya, wajahnya dipenuhi kebingungan dan syok yang luar biasa.

"R-Reno? Apa maksudnya ini? Kamu... bawa perempuan lain?" Suara Tante Rina bergetar hebat.

"Ma, itu bohong! Dia cuma mau ngerusak hubungan Reno sama Naya!" Reno gelagapan, wajahnya memerah karena panik. Ia mencoba meraih lengan ibunya, namun Tante Rina menepisnya dengan kasar.

Di dalam rumah, suara derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah ruang keluarga. Nessa, yang sepertinya menyadari keributan di depan, muncul dengan wajah murka.

"Heh, benalu! Ngapain lo ke sini?!" teriakan Nessa menggelegar, membuat siapa pun yang mendengarnya merinding. Sahabat Naya itu melangkah maju seperti singa betina yang siap menerkam. "Lo masih punya muka nampakin diri di depan rumah gue setelah lo nidurin cewek lain di kasur lo pas anniversary kalian?! Dan lo bawa Tante Rina ke sini? Sumpah ya, lo itu laki-laki paling pengecut dan paling menjijikkan yang pernah gue kenal!"

Tante Rina membekap mulutnya sendiri. Air mata kembali mengalir deras dari pelupuk matanya, kali ini bukan karena kesedihan memohon, melainkan karena rasa malu dan kecewa yang tak terhingga. Ia menatap Naya yang berdiri di belakang Kafka, mencari kebenaran.

Naya menelan ludah. Ia melangkah keluar dari balik punggung Kafka. Ini adalah pertarungannya. Ia tidak bisa selamanya bersembunyi di balik punggung pria ini. Naya menatap Tante Rina dengan sorot mata yang penuh penderitaan namun sangat teguh.

"Benar, Tante," ucap Naya, suaranya kini stabil dan dingin. "Naya memergoki mereka dengan mata kepala Naya sendiri. Tiga tahun Naya bertahan, Tante. Tapi untuk yang satu ini... Naya nggak bisa. Naya minta maaf, Naya sangat menyayangi Tante, tapi hubungan Naya dan Reno sudah benar-benar mati. Tolong jangan pernah datang menemui Naya lagi untuk memintanya kembali."

Plak!

Suara tamparan keras itu bergema di udara sore. Kepala Reno terlempar ke samping. Tante Rina berdiri dengan napas memburu dan tangan yang bergetar hebat setelah menampar putra kesayangannya sendiri.

"Mama malu punya anak seperti kamu, Reno! Sangat malu!" isak Tante Rina histeris. Wanita itu tidak sanggup lagi menatap wajah Naya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Tante Rina berbalik badan dan berlari kecil menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan.

Reno memegangi pipinya yang memerah. Ia menatap Naya dengan sorot mata penuh kebencian dan keputusasaan, namun saat ia melihat Kafka yang bersiap melangkah maju dengan tangan mengepal sempurna, nyali Reno langsung ciut. Ia mengumpat pelan, lalu membalikkan badan menyusul ibunya.

Begitu mobil Reno menjauh dan menghilang dari pandangan, pertahanan Naya kembali runtuh. Udara di sekitarnya mendadak terasa tipis. Lututnya lemas. Ia nyaris merosot ke lantai jika saja sepasang lengan yang kuat tidak segera menangkap pinggangnya.

"Kak Naya!" suara Nessa terdengar panik, namun Kafka lebih cepat.

Kafka merengkuh tubuh Naya ke dalam pelukannya. Pria itu tidak mengatakan apa-apa, hanya membiarkan Naya bersandar sepenuhnya di dada bidangnya.

"Bawa dia masuk, Kaf. Gue ambil minum dulu," ucap Nessa, suaranya melembut, menyadari betapa hancurnya sahabatnya itu setelah konfrontasi menguras emosi barusan.

Kafka setengah memapah, setengah menggendong Naya masuk ke dalam dan mendudukkannya di sofa ruang keluarga. Naya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia tidak menangis histeris, namun air mata mengalir dalam diam. Rasa bersalah karena menyakiti hati Tante Rina bercampur aduk dengan rasa lega karena beban kebohongannya akhirnya terangkat.

Kafka berlutut di atas karpet, tepat di hadapan lutut Naya. Pria itu meletakkan kedua tangannya di atas paha Naya, memberikan tekanan lembut yang menyalurkan kehangatan dan rasa aman.

"Kau melakukan hal yang benar, Kak Naya," Kafka bersuara, nadanya begitu rendah dan menenangkan. "Jangan pernah merasa bersalah karena melindungi harga dirimu sendiri."

Naya menurunkan tangannya, menatap Kafka melalui pandangannya yang mengabur oleh air mata. Pria di hadapannya ini... sejak kemarin selalu ada. Selalu menjadi pelindungnya. Menjadi tamengnya dari segala bentuk rasa sakit.

"Aku capek, Kaf," bisik Naya lemah. "Aku capek harus terus-terusan berhadapan sama masa laluku."

Kafka mengulurkan tangannya, ibu jarinya yang kasar dengan lembut menghapus jejak air mata di pipi Naya. Sentuhan itu tidak lagi membuat Naya terkejut, melainkan mengalirkan kenyamanan yang luar biasa memabukkan.

"Mulai detik ini, masa lalumu tidak akan bisa menyentuhmu lagi," Kafka berikrar dengan suara yang berat dan sarat akan ancaman bagi siapa pun yang berani mengganggu wanita di depannya ini.

Nessa datang membawa segelas air putih hangat dan meletakkannya di atas meja. Sahabatnya itu ikut duduk di sebelah Naya, memeluk bahunya erat.

"Udah, Nay. Itu yang terakhir kali. Besok gue bakal suruh security komplek blokir akses mobilnya si brengsek itu supaya nggak bisa masuk ke area perumahan kita. Lo aman di sini," hibur Nessa.

Malam harinya, rumah kembali terasa sunyi. Nessa sudah tertidur pulas setelah meminum obat sakit kepalanya. Hujan gerimis kembali membasahi Jakarta, menciptakan melodi pelan yang mengetuk kaca jendela.

Naya tidak bisa tidur. Pikirannya masih terlalu lelah namun otaknya menolak beristirahat. Ia melangkah keluar dari kamar, berniat mengambil air di dapur. Lampu lorong lantai dua sedikit temaram. Saat Naya melewati pintu kamar Kafka yang sedikit terbuka, ia menghentikan langkahnya.

Cahaya lampu meja dari dalam kamar Kafka menembus celah pintu. Karena rasa penasaran dan dorongan yang tidak bisa ia jelaskan, Naya mendorong pintu itu perlahan hingga terbuka sedikit lebih lebar.

Kafka sedang berdiri di dekat jendela kamarnya. Pria itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana training abu-abu. Punggung lebarnya yang dipenuhi otot-otot kokoh terekspos jelas di bawah cahaya temaram, menciptakan siluet maskulin yang luar biasa indah dan berbahaya. Di tangan kanannya, ia memegang sebatang rokok yang belum dinyalakan, hanya diputar-putar di sela-sela jarinya dengan gelisah.

Seolah memiliki radar di belakang kepalanya, Kafka tiba-tiba menoleh. Mata elangnya yang pekat langsung mengunci siluet Naya yang berdiri mematung di ambang pintu.

Alih-alih merasa terganggu privasinya, Kafka justru membalikkan badannya sepenuhnya menghadap Naya. Pria itu melempar batang rokoknya ke atas meja, lalu melangkah perlahan mendekati pintu. Setiap langkah Kafka memancarkan dominasi yang membuat napas Naya tersangkut di tenggorokan.

Naya berniat mundur, namun kakinya terasa dipaku ke lantai.

Kafka berhenti tepat di ambang pintu. Jarak mereka kini hanya dibatasi oleh kusen pintu kayu. Hawa panas dari tubuh pria yang setengah telanjang itu menyapu wajah Naya. Naya dengan susah payah mengalihkan pandangannya dari perut six-pack Kafka, menatap lurus ke mata pria itu.

"T-tadi pintunya kebuka... aku cuma..." Naya terbata-bata, merutuki kebodohannya sendiri yang tidak langsung kabur ke dapur.

Kafka tidak memedulikan alasan Naya. Pria itu mengangkat sebelah tangannya, menumpukannya di kusen pintu tepat di atas kepala Naya, mengurung wanita itu tanpa menyentuhnya. Sorot mata Kafka tidak lagi sekadar hangat dan melindungi seperti tadi sore; ada rasa lapar dan ketegangan yang mendidih di sana, gelap dan menuntut.

"Aku sudah berusaha sangat keras untuk menahan diriku sejak kau masuk ke rumah ini, Kak," suara Kafka terdengar sangat serak, nyaris seperti geraman yang menyiksa. Pria itu menundukkan kepalanya hingga hidungnya nyaris bersentuhan dengan hidung Naya.

Jantung Naya berdegup gila-gilaan. Ia bisa merasakan embusan napas Kafka di bibirnya.

"T-tahan dirimu untuk apa, Kaf?" bisik Naya, suaranya bergetar hebat.

Mata Kafka turun, menatap lamat-lamat bibir Naya sebelum kembali menatap matanya.

"Menahan diriku untuk tidak mengklaimmu detik ini juga," bisik Kafka posesif. Tangan kirinya terangkat, ibu jarinya membelai lembut rahang Naya, mengirimkan sengatan listrik yang melumpuhkan semua logika Naya. "Tapi setelah melihatmu disakiti berulang kali hari ini... kurasa masa percobaanku sebagai pria sabar sudah resmi berakhir."

Kafka memiringkan kepalanya, memangkas habis sisa jarak di antara mereka, membiarkan bibirnya menyapu sudut bibir Naya dalam sebuah gerakan lambat yang membuat dunia Naya berhenti berputar.

1
none name
up ka
Hk Hk
lanjut thorrrr, semangat
Hk Hk
bagus ceritane Thorrr😍
none name
up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!