Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu Darurat
Aris tidak langsung mengembalikan Nirmala ke kediaman Hadiningrat. Dia tahu, begitu konglomerat itu tahu putrinya selamat, pengaruh politik mereka akan langsung bergerak untuk membungkam kasus ini selamanya.
Setelah menitipkan Nirmala di sebuah rumah aman milik kerabat percayanya di pinggiran kota, Aris memacu mobil tuanya yang berhasil menyala kembali menuju markas Polresta Marunda. Jam menunjukkan pukul 03.15 pagi. Suasana kantor kepolisian sangat sepi, hanya ada beberapa petugas piket yang terkantuk-kantuk di lobi depan.
Menggunakan pintu belakang dekat ruang genset, Aris menyelinap masuk. Jaket kulitnya yang masih basah kuyup oleh sisa gerimis dia rapatkan. Tujuannya hanya satu: ruang arsip bawah tanah.
Aris mengeluarkan senter National besinya, sengaja tidak menyalakan lampu koridor agar tidak memicu kecurigaan. Pintu besi ruang arsip terbuka, setelah Aris memutar kunci duplikat yang disembunyikannya selama bertahun-tahun.Di dalam, ribuan map cokelat berdebu tersusun di rak-rak kayu.
Aris bergerak cepat menuju rak paling belakang, tempat dokumen-dokumen sebelum era 1960 disimpan. Matanya menyusuri kode-kode tahun yang tertulis di label rak. 1957... 1958... 1959. "Di mana posisinya..." gumam Aris, mengarahkan lampu senter kuningnya ke deretan map.
Tepat di sudut rak terbawah, dia menemukan sebuah kotak besi kecil berlogo kepolisian lama yang terkunci. Di atasnya tertempel label merah pudar bertuliskan: "Kasus 059/IV/Kebakaran-Lahan-Adat."
Aris tidak kehilangan akal. Bukannya mendobrak kotak yang akan menimbulkan suara gaduh, dia meraba saku celananya dan mengeluarkan sebuah pisau saku kecil. Dengan ujung pisau yang tipis namun kuat, dia mengotak-atik lubang kunci kotak besi tersebut selama beberapa menit, sampai berhasil kebuka.
Di dalamnya terdapat bundel dokumen asli berisi laporan otopsi korban kebakaran, peta batas tanah adat yang sah sebelum manipulasi, serta surat perintah pembungkaman kasus yang ditandatangani langsung oleh Bratasena Hadiningrat bersama kapolres zaman itu.
Tiba-tiba, suara langkah sepatu menuruni tangga menuju ruang arsip. Cahaya lampu senter lain mulai menembus celah pintu yang terbuka sedikit.
"Hei! Siapa di dalam?!" sebuah teriakan bariton keras dari arah koridor. Itu suara Ajun Komisaris Hendra, kepala satuan yang dikenal sangat dekat dan sering menerima dana gelap dari keluarga Hadiningrat.
Aris terperangkap. Pihak yang berkuasa tampaknya sudah mencium pergerakannya dan siap menghancurkan dokumen tahun 1959 ini malam ini juga.
Langkah sepatu lars Hendra terdengar semakin dekat di koridor luar. Aris tahu, jika dia tertangkap di sini dengan dokumen rahasia di tangan, tamat sudah riwayatnya dan juga riwayat Januar di Desa Talas.
Tanpa membuang waktu, Aris mendekap bundel berkas tahun 1959 itu di balik jaket kulitnya. Dia mematikan senter National-nya dan bergerak cepat menuju sudut paling belakang ruang arsip. Di sana, tertutup oleh tumpukan kardus bekas berdebu, terdapat sebuah pintu besi kecil yang berfungsi sebagai pintu darurat menuju jalur utilitas bawah tanah gedung.
Krieeek... Dum! Pintu didorong terbuka dari luar.
"Siapa di sana?! Keluar!" bentak Hendra, senter bersorot putih miliknya menyapu seisi ruangan. Di saat yang sama, Aris berhasil membuka grendel pintu darurat. Dia menyelinap masuk ke dalam lorong sempit yang pengap tepat sebelum lampu senter Hendra mengarah ke sudut rak tempatnya berdiri tadi.
Aris segera menutup kembali pintu besi itu dari dalam dengan sepelan mungkin. Lorong darurat itu sangat gelap, hanya diterangi oleh sedikit cahaya bulan yang menembus celah-celah jeruji ventilasi di ujung jalan.
Udara di dalam sini terasa lembap dan berbau. Mengetahui Hendra pasti akan menyadari hilangnya kotak besi tersebut dalam hitungan detik, Aris berlari setengah membungkuk melewati lorong beton yang panjang. Ujung lorong ini membawanya keluar ke sebuah area bongkar muat barang di bagian belakang markas Polresta.
Angin malam langsung menyambut wajahnya saat dia mendorong jeruji ventilasi yang longgar dan melompat turun ke atas tanah berlumpur. Aris segera berlari menuju mobil miliknya yang diparkir beberapa blok dari sana agar tidak memicu kecurigaan petugas jaga.
Begitu masuk ke dalam kabin mobil, dia melempar dokumen berharga itu ke kursi penumpang dan menyalakan mesin. Waktu terus berjalan, dan kini dia memiliki senjata hukum terkuat untuk menghancurkan dinasti Hadiningrat.
Dia harus menghadapi keluarga Hadiningrat secara langsung di rumah mereka dengan membawa bukti kelam ini untuk memaksa mereka mengaku, atau dia harus mencari sekutu lain di kota untuk mengekspos kasus ini ke publik secara massal.