Kehidupan kampus Sheyra selalu berjalan lancar dan tenang sebelum ia bertemu pria menyebalkan bernama Alvaro. Alvaro adalah seorang duda anak 1 yang tinggal berdua dengan anaknya. Di mata Sheyra, Alvaro merupakan pria berhati dingin, egois, dan jahat. Namun pandangan itu seketika runtuh ketika Sheyra melihat sisi lain Alvaro ketika bersama anaknya.
Takdir seolah membawa mereka untuk terus bertemu dan bertemu. Hingga akhirnya membuat cinta tumbuh di antara keduanya. Namun jatuh cinta tidaklah mudah. Masalah demi masalah selalu datang untuk menguji kekuatan cinta mereka.
Mulai dari Alvaro yang minder dengan statusnya, Sheyra sang pencemburu buta, seseorang dari masa lalu, restu keluarga hingga trauma berat Alvaro atas kematian istrinya.
Akankah keduanya bisa mengatasi permasalahan tersebut demi mempertahankan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzZura02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 - Bekal
Jam menunjukkan pukul 12 siang, waktunya makan siang untuk anak-anak di daycare. Seluruh anak-anak tengah duduk membentuk sebuah lingkaran besar mengelilingi meja bundar. Anak-anak duduk dengan tenang dan rapi menunggu makanan selesai dibagikan. Beberapa anak ada yang membawa bekal, sedangkan sisanya menyantap makanan yang disediakan oleh daycare.
Sheyra dan Mawar sibuk membagikan makanan dan minuman kepada anak-anak. Mereka berdua memastikan bahwa semua anak mendapatkan makanan tanpa terlewat satu pun.
“Kak! Aku mau lauk yang banyak!” seru Kenzie antusias ketika melihat menu makanan siang hari ini adalah sebuah lauk kesukaannya yakni ayam bumbu kecap.
Sheyra tersenyum, ia mengelus puncak kepala Kenzie dengan lembut. “Ken, semuanya dapat sama ya. Biar teman-teman yang lagi kebagian.” nasehat Sheyra.
Kenzie mengerucutkan bibirnya kecewa mendengar jawaban Sheyra. Melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Kenzie membuat Sheyra tertawa kecil. “Jangan ngambek, besok kakak bawakan makanan kesukaan kamu deh!” bujuk Sheyra. Ia mengatakan hal itu di telinga Kenzie berharap anak-anak yang lain tidak mendengarnya.
Mendengar perkataan Sheyra seketika membuat anak laki-laki itu bersorak kegirangan. Matanya menatap Sheyra dengan penuh binar, “Wah! Serius Kak?! Horeee!”
“Ssstttt.” Sheyra meletakkan jari telunjuknya di bibir. Pertanda bahwa Kenzie harus diam dan merahasiakan dari orang lain. “Ini rahasia, okay?” Sheyra mengedipkan sebelah matanya kepada Kenzie.
Kenzie tertawa kecil, “Iya Kak!” serunya senang. Setelah itu ia langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. Kini raut wajah kecewa yang Kenzie tunjukkan sebelumnya telah hilang sepenuhnya. Berganti dengan raut wajah ceria dan bahagia.
Menyadari hal tersebut membuat Sheyra merasa senang. Setelah selesai dengan Kenzie, Sheyra segera melanjutkan kembali pekerjaannya. Sekarang ia membagikan camilan sehat berupa buah-buatan kepada masing-masing anak.
“Aku gak suka ini.” celetuk Dhea, seorang anak perempuan berusia 3 tahun.
Sheyra menoleh kepada asal suara. “Kenapa Dhea? Buah mangga kan enak.” kata Sheyra lembut. Tidak lupa ia menunjukkan senyuman manisnya kepada gadis kecil itu.
Dhea langsung menggelengkan kepalanya, “Dhea gak suka. Gak enak.”
“Dhea udah pernah cobain belum?” tanya Sheyra sembari mengangkat sepotong mangga yang telah dikupas dengan garpu ditangannya.
Dhea menggeleng lagi, “belum.”
Sheyra tersenyum mendengar jawaban polos Dhea, “Kalau belum pernah mencobanya terus darimana Dhea tau kalau buah mangga itu gak enak?”
Dhea terlihat kebingungan menjawab pertanyaan Sheyra. Gadis kecil itu terdiam sambil terlihat berpikir. Namun, ia tidak menemukan jawabannya.
“Coba dulu ya. Setelah Dhea coba dan misalkan menurut Dhea tidak enak, Dhea boleh gak lanjutkan makannya.
Dhea tampak berpikir beberapa detik sebelum kemudian ia mengangguk pertanda setuju. Dhea membuka mulut kecilnya perlahan. Lalu ia membiarkan Sheyra memasukkan potongan kecil mangga itu ke dalam mulutnya. Dengan perlahan, Dhea mengunyah mangga itu kemudian menelannya.
Setelah tertelan, Dhea membulatkan matanya. Sebuah rasa yang pertama kali ia coba. “Enakkk!!” serunya sembari bertepuk tangan.
Sheyra tersenyum manis melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Dhea. Ia menatap Dhea dengan bangga. “Enak kan? Habiskan buahnya ya Dhea. Anak pintar.” Puji Sheyra sembari mengelus rambut Dhea dengan lembut.
“Kak Ei! Kak Ei!” suara anak perempuan tengah memanggil Sheyra. Berharap Sheyra akan melihat ke arahnya.
Mendengar namanya dipanggil membuat Sheyra langsung mencari sumber suara. Matanya menangkap sosok Lyra yang sedang melambaikan tangan ke arahnya. Jarak tempat duduk mereka cukup jauh sehingga Lyra harus berdiri agar dapat terlihat oleh Sheyra.
Sudut bibir Sheyra terangkat merespon panggilan Lyra. Sejujurnya Sheyra masih penasaran dengan hadiah apa yang akan Lyra berikan. Oleh karena itu, Sheyra terlihat jauh lebih riang.
“Cini!” (Sini)
Lyra mengeraskan suaranya memanggil Sheyra. Tangan mungilnya tetap melambai ke arah Sheyra agar Sheyra segera menghampirinya.
Sheyra mengangguk, “Tunggu sebentar ya!” kata Sheyra sembari memberi isyarat yang segera dibalas anggukan oleh Lyra. Sheyra segera membagikan semua makanan dengan cepat. Ia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar bisa datang kepada Lyra.
Setelah semua makanan dan minuman sudah dibagikan, seluruh anak-anak berdoa bersama kemudian menyantap makanannya masing-masing. Suasana kelas yang semula ramai kini menjadi sunyi karena semuanya fokus kepada makanan masing-masing.
Sheyra berjalan menuju tempat duduk Lyra. Menyadari kehadiran Sheyra didekatnya sontak membuat Lyra tersenyum riang. Lyra mengeluarkan sebuah kotak bekal lucu berwarna ungu lengkap dengan hiasan stiker melody dari dalam tasnya.
“Bekal siapa ini? Lyra bawa dua bekal?” tanya Sheyra penasaran karena menyadari bahwa di depan Lyra sudah ada kotak bekal berwarna pink yang ia tahu bahwa itu milik Lyra.
Lyra menggeleng cepat, “Bukan. Ini hadiah buat Kak Ei.” ujar Lyra sembari menyodorkan kotak bekal itu kepada Sheyra.
Sheyra menerima kotak bekal itu dengan ragu. Ia masih bingung dan bertanya-tanya. “Ini buat Kakak?” tanyanya memastikan.
Lyra mengangguk, “Iya! Papa bikin ini buat Kak Ei.. Kata Papa buat Kak Ei.” ucap Lyra meyakinkan.
Deg! Mendengar ucapan Lyra membuat Sheyra berdebar. Senyum tercetak jelas di bibirnya. Seketika ia terlihat salah tingkah. “Beneran?” tanyanya sekali lagi.
“Iya! Iya!” jawab Lyra polos.
Pipi Sheyra terlihat merona karena malu, “Ahahaha.. anu makasih Lyra. Hahah Kakak suka banget!”kata Sheyra tergugup. Ia mencoba menahan diri dan bersikap seperti biasa di depan Lyra agar tidak menimbulkan kecurigaan kepada gadis kecil itu. “Kakak, mau ke sana dulu ya. Bekalnya kakak bawa dulu. Gapapa kan?” Sheyra berpamitan kepada Lyra.
“Iya Kak Ei.” Lyra mengangguk dengan polosnya sembari menyendokkan nasi ke dalam mulut mungilnya.
“Okay. Lyra makan yang banyak ya! Habiskan bekalnya. Makasihhh buat ini. Kakak ke sana dulu.”
“Iya! Iya!”
Setelah pergi berpamitan, Sheyra meninggalkan Lyra bersama teman-temannya. Lyra terlihat sedang fokus menyantap makanannya. Sheyra mengambil duduk di depan kelas. Ia bergabung dengan Mawar yang ada di sana.
“Makan dulu Shey.” kata Mawar sembari menawarkan makanan kepada Sheyra.
“Iya Kak.” jawab Sheyra.
“Oh, tumben bawa bekal?” tanya Mawar heran setelah melihat Sheyra yang membawa kotak bekal. Tidak biasanya Sheyra membawa bekal karena biasanya gadis itu selalu memakan makanan yang disediakan oleh daycare.
“Ah, itu gapapa sesekali hehe.” alasan Sheyra. Ia menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
“Ohh.” bibir Mawar membentuk huruf O. “Kotak bekalnya lucu!” pujinya tiba-tiba.
Sheyra langsung malu-malu mendengar pujian Mawar. “Hahaha makasih.”
“Yaudah kalo gitu, aku ke toilet dulu ya. Jagain anak-anak dulu.” pinta Mawar yang segera dibalas anggukan oleh Sheyra.
Setelah kepergian Mawar, dengan cepat Sheyra langsung membuka kotak bekal pemberian Alvaro. Ia sangat penasaran dengan isi di dalamnya. Mata Sheyra membulat ketika mendapati nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi dan fried chicken. Menu makanan itu ditata rapi dan dihias dengan sayur-sayuran sehingga terlihat sangat menarik dan memanjakan mata. Siapapun yang melihatnya pasti tidak sabar untuk segera melahapnya.
Sheyra senang mendapatkan makanan ini. Ia mengambil ponsel di sakunya lalu menekan aplikasi kamera. Setelah itu ia memotret makanan tersebut berkali-kali. Tidak lupa ia mengirimkan foto makanan itu kepada Alvaro sambil mengucapkan terima kasih.
Sheyra tidak menyangka bahwa Alvaro akan memberinya makanan seperti hari ini. Sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Sheyra bertanya-tanya dalam hatinya. Sebenernya apa alasan Alvaro bersikap seperti ini padanya?
^^^Bersambung… ^^^