Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.
Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan di Ujung Senja
Pintu kaca lift bergeser terbuka dengan lembut, menampilkan interior lantai sepuluh gedung utama Kusuma Tower yang bernuansa modern minimalis. Cahaya lampu gantung kristal memantul sempurna di atas lantai marmer hitam yang mengkilap, menciptakan suasana yang tenang, eksklusif, dan penuh wibawa.
Rian melangkah keluar dari dalam kabin lift dengan mengenakan kemeja kasual rapi berbalut jaket hitam sederhana. Tidak ada secercah pun rasa canggung atau gugup di wajahnya, meskipun ia tahu bahwa di balik pintu ruang rapat eksekutif di hadapannya, para petinggi dewan komisaris dan direksi utama tengah menanti kehadirannya.
Dua orang pengawal berbadan tegap yang berjaga di depan pintu ruang rapat membungkuk hormat serempak saat Rian mendekat. Salah satu dari mereka membuka daun pintu kayu jati berukir halus tersebut perlahan.
"Silakan masuk, Tuan Rian. Direktur Hartawan dan para pimpinan divisi sudah menunggu Anda di dalam," ucap pengawal itu dengan nada sangat sopan.
Rian mengangguk singkat, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan. Ruangan seluas lapangan tenis itu dikelilingi oleh dinding kaca setinggi langit-langit yang menawarkan panorama spektakuler kota di bawah langit senja berona jingga kemerahan. Di tengah ruangan, sebuah meja rapat oval berukuran besar dari kayu mahoni dikelilingi oleh belasan kursi ergonomis.
Hartawan Kusuma duduk di ujung meja utama. Di sebelah kanannya duduk Wijaya, kepala divisi riset teknologi, sementara di sisi kiri dan kanan lainnya tampak beberapa anggota dewan komisaris senior dari Kusuma Group yang mengenakan setelan jas formal mahal.
Begitu melihat kehadiran Rian, Hartawan berdiri dari kursinya dan menyambut remaja itu dengan senyuman ramah penuh apresiasi. Ia mengangkat tangan kanannya, mempersilakan Rian mendekat.
"Selamat sore, Rian. Terima kasih sudah meluangkan waktu datang ke markas utama kami sore ini," sapa Hartawan hangat, suaranya menggema pelan di dalam ruangan yang kedap suara itu. "Silakan duduk di kursi sebelah kanan saya."
Rian berjalan tenang, lalu menarik kursi yang ditunjuk dan duduk tanpa keraguan sedikit pun. Ia menatap satu persatu wajah para petinggi korporasi di hadapannya dengan sorot mata yang tenang dan tajam.
"Selamat sore, Tuan Hartawan, Bapak-bapak komisaris," sapa Rian dengan suara jernih dan berwibawa, memecah keseningan formal di ruangan tersebut. "Saya menduga undangan sore ini berkaitan dengan finalisasi rancangan laboratorium riset pusat dan draf kemitraan strategis yang sempat disinggung sebelumnya."
Salah seorang komisaris senior—pria paruh baya berambut ubanan dengan kacamata berbingkai emas bernama Tuan Basuki—tersenyum tipis, menatap Rian dengan campuran antara rasa takjub dan rasa penasaran yang mendalam.
"Anak muda, kau langsung menebak inti permasalahan tanpa basa-basi birokrasi," kata Tuan Basuki dengan nada suara yang berwibawa. Ia melipat kedua tangannya di atas meja. "Sebelum kami meneken dokumen kerja sama resmi senilai miliaran rupiah ini, izinkan saya bertanya satu hal secara pribadi kepadamu."
Rian menoleh pelan, menatap Tuan Basuki lekat-lekat. "Silakan, Tuan Basuki."
"Tim ahli kami telah menelaah rancangan algoritma optimasi energi mikro yang kau susun untuk olimpiade nasional mendatang," lanjut Tuan Basuki serius. "Skema matematis yang kau gunakan melompati standar industri saat ini hingga beberapa tahun ke depan. Di usiamu yang baru menginjak tujuh belas tahun, dari mana persisnya kau mendapatkan inspirasi konseptual sekompleks itu?"
Hartawan Kusuma dan Wijaya ikut menatap Rian, menunggu jawaban yang akan meluncur dari bibir remaja tersebut. Di dunia korporasi dan riset teknologi tinggi, penemuan semacam itu biasanya lahir dari dedikasi puluhan tahun para profesor universitas terkemuka.
Rian tersenyum tipis. Ia tidak merasa terintimidasi oleh pertanyaan bernada menguji dari sang komisaris senior.
"Matematika dan sains bukanlah ciptaan manusia, Tuan Basuki," jawab Rian dengan nada tenang yang sangat berwibawa. "Manusia tidak pernah menciptakan hukum alam; kita hanya menemukan kembali pola-pola yang sudah ada sejak awal mula semesta terbentuk. Sebagian besar orang terjebak dalam kerumitan teori karena mereka melihat lembar-lembar rumus sebagai beban hafalan, alih-alih sebagai bahasa universal dari realitas itu sendiri."
Jawaban filosofis namun sangat mendalam itu membuat seisi ruang rapat terhenyak dalam kesunyian sesaat. Tuan Basuki tertegun, menatap Rian dengan mata terbelalak kagum sebelum akhirnya sebuah senyuman lebar tersungging di bibirnya.
"Bahasa universal dari realitas..." gumam Tuan Basuki pelan, mengulangi kalimat tersebut. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, tertawa kecil penuh kekalahan hormat. "Luar biasa. Jawaban yang melampaui batas nalar akademisi biasa. Sekarang saya mengerti mengapa Direktur Hartawan begitu bersikeras membuka pintu seluas-luasnya untukmu."
Hartawan tertawa renyah, merasa bangga atas jawaban Rian. Ia menoleh ke arah Wijaya dan memberi isyarat dengan anggukan kepala. Wijaya segera membuka map kulit tebal di hadapannya, lalu menyodorkan selembar dokumen kontrak resmi berlapis lambang perusahaan ke hadapan Rian, lengkap dengan pena mewah berbalut emas.
"Rian, dokumen ini adalah akta pendirian kemitraan riset independen antara dirimu dan Kusuma Group," jelas Hartawan dengan nada serius namun bersahabat. "Di dalamnya diatur bahwa kau akan memiliki kendali penuh atas arah pengembangan laboratorium riset teknologi mikro, didukung oleh fasilitas penuh tanpa ada ikatan birokrasi yang membatasi waktu belajarmu di sekolah."
Rian mengambil pena yang disodorkan, lalu membaca lembar demi lembar klausul kontrak tersebut dengan cermat. Melalui Mata Dewa Pengamat, kesadarannya memindai setiap baris teks hukum dan syarat administratif untuk memastikan tidak ada klausul tersembunyi yang merugikan prinsip independensinya.
Setelah memastikan semuanya bersih dan transparan, Rian menorehkan tanda tangannya di atas kertas kontrak dengan goresan tangan yang tegas, rapi, dan terukur.
Srekk...
"Kontrak telah disetujui," ucap Rian tenang sambil meletakkan kembali pena tersebut ke atas meja. "Saya pastikan hasil riset di laboratorium nanti akan membawa standar baru bagi efisiensi energi di negeri ini."
Seisi ruangan seketika bertepuk tangan meriah. Hartawan Kusuma tersenyum lebar, merasa bahwa langkah investasi terbaik yang pernah ia ambil sepanjang karier bisnisnya adalah memberikan kepercayaan penuh kepada remaja luar biasa di hadapannya.
Dua jam kemudian, setelah perbincangan panjang mengenai teknis pembangunan laboratorium dan jadwal persiapan grand final olimpiade nasional selesai, mobil sedan hitam pengawal yayasan mengantar Rian kembali ke kawasan rumah susun pinggiran kota.
Malam telah menyelimuti kota dengan selimut kelam berbintang redup. Ketika Rian melangkah keluar dari mobil di depan gerbang rumah susun, udara malam yang dingin menyapa kulitnya. Ia berjalan pelan menyusuri koridor lantai dua menuju kamarnya.
Kriiing...
Ponsel di dalam saku jaketnya berdering nyaring. Rian mengeluarkan ponsel tersebut dan melihat nama Maya tertera di layar. Ia mengusap layar dan mendekatkan perangkat itu ke telinganya.
"Halo, Rian!" suara Maya terdengar antusias di seberang sana, bercampur dengan suara gemercik air dan ketukan tombol kibor laptop. "Apakah kau sudah sampai di rumah?"
"Ya, aku baru saja tiba di depan kamar," jawab Rian tenang sambil membuka kunci pintu kayunya dan melangkah masuk ke dalam kamar yang temaram. "Ada hal penting yang ingin kau diskusikan selarut ini, Maya?"
"Maaf kalau aku mengganggumu malam-malam begini," ucap Maya sedikit merasa bersenjata. "Tapi tadi Pak Darma mengirimkan surel revisi mengenai susunan bab laporan akhir kelompok sains kita untuk seleksi regional minggu depan. Ada beberapa catatan kecil mengenai diagram alir energi yang ingin aku pastikan padamu."
Rian menyalakan lampu meja belajarnya, lalu meletakkan ransel hitamnya di atas kursi. "Bacakan bagian catatan yang perlu direvisi, Maya. Aku mendengarkan."
Selama sepuluh menit berikutnya, Rian membimbing Maya melalui sambungan telepon dengan penjelasan yang sangat runtut, logis, dan mudah dipahami, menyelesaikan setiap keraguan yang ada di benak ketua kelas tersebut hingga tuntas.
"Ah, begitu ya! Penjelasannya sangat jelas, Rian. Aku langsung paham bagian mana yang harus diubah sekarang," kata Maya dengan nada lega di ujung telepon. "Terima kasih banyak atas bantuannya. Istirahatlah yang cukup, sampai jumpa besok pagi di sekolah!"
"Sama-sama, Maya. Selamat malam," balas Rian singkat, lalu menutup panggilan tersebut.
Rian meletakkan ponselnya di atas meja, lalu berjalan ke tengah ruangan. Ia bersila di atas lantai kayu dengan posisi meditasi sempurna. Di sekeliling tubuhnya, pendar cahaya keemasan yang terang benderang berputar pelan mengikuti irama tarikan napasnya yang sangat teratur.
[ Pemberitahuan Sistem: Sinkronisasi energi spiritual dan resonansi kesadaran kosmik mencapai 125%. ]
[ Seluruh hambatan mental dan karma dunia fana telah dibersihkan sepenuhnya. ]
Deretan teks transparan berwarna keemasan melintas di retinanya, berkedip lembut sebelum perlahan memudar ke dalam relung kesadaran batinnya.
Rian memejamkan kedua matanya, membiarkan aliran energi Qi meresap ke dalam setiap sel tubuhnya, menyatu dengan keheningan malam dan keluasan semesta tanpa batas. Di dunia fana ini, ia mungkin dikenal sebagai seorang siswa SMA beasiswa atau ketua dewan penasihat riset muda; namun di dalam dimensi jiwanya, ia adalah seorang kultivator agung yang memegang kendali penuh atas takdir keabadiannya sendiri.