NovelToon NovelToon
DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Mengubah Takdir / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:968
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pecahan Kaca yang Diinjak dengan Senyuman

Tahun-tahun berganti, merampas kemudaan dan kecantikan dari wajah Dara, menggantikannya dengan gurat-gurat kelelahan yang terpahat dalam. Bagi ibu dan anak itu, dunia tidak pernah berhenti menjadi arena penyiksaan yang tak kenal ampun. Beranjak remaja, di usianya yang baru menginjak belasan, Juwita telah duduk di bangku sekolah menengah atas berkat program akselerasi dan rentetan beasiswa yang ia menangkan. Namun, duduk di bangku sekolah elit bersama anak-anak dari kalangan atas bukanlah sebuah keberuntungan, melainkan kutukan baru.

Di lorong-lorong sekolah berlantai marmer itu, Juwita bagaikan hantu yang tak kasat mata, hanya disadari keberadaannya ketika mereka butuh bahan tertawaan. Seragam Juwita selalu tampak kusam, sepatunya lembaran kanvas yang sudah dijahit ulang entah untuk keberapa kalinya. Bagi anak-anak pejabat dan pengusaha di sekolah itu, keberadaan Juwita adalah sebuah noda.

"Hei, Anak Haram! Lewat jalan belakang sana, jangan injak lantai yang baru dipel. Sepatu lo bau selokan!" seru Rania, putri seorang bankir terkemuka, saat Juwita melangkah menuju perpustakaan. Tawa teman-teman Rania meledak, menggema memantul di dinding-dinding loker.

Juwita menghentikan langkahnya. Tangannya meremas erat buku usang di dadanya. Rahangnya mengeras, namun ia tak membalas. Ia mengingat pesan ibunya untuk selalu menelan racun itu dalam diam. Tanpa sepatah kata, Juwita memutar balik langkahnya, memilih berjalan memutar melewati gudang demi menghindari keributan. Ia terbiasa dikucilkan. Ia terbiasa makan siang sendirian di bawah tangga darurat, menghabiskan bekal nasi putih dan separuh telur rebus yang disisihkan ibunya subuh tadi.

Sementara Juwita bertarung dengan penghinaan batin di sekolah, Dara bertarung dengan rasa sakit fisik yang meremukkan tulang di luar sana. Dara tidak lagi sekadar buruh cuci. Ia mengambil pekerjaan apa pun yang bisa menghasilkan uang halal demi membeli buku-buku bekas, komponen komputer rongsokan yang selalu diminta Juwita, dan vitamin agar otak putrinya tetap tajam. Dara menjadi tukang pel di sebuah pusat perbelanjaan grosir dari pagi hingga sore, lalu beralih menjadi pencuci piring di sebuah restoran padang hingga tengah malam.

Suatu sore yang basah oleh sisa hujan, Dara tengah mengepel lantai di depan sebuah kios pakaian mewah. Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya berpakaian sutra dengan perhiasan mencolok keluar dari kios dan tak sengaja menginjak lantai yang masih basah. Wanita itu terpeleset, meski tidak sampai jatuh.

"Heh! Perempuan tolol! Matamu taruh di mana?!" bentak wanita itu, suaranya melengking menarik perhatian para pengunjung mal. "Kau sengaja mau membuatku celaka, ya?! Dasar babu miskin, kerjamu becus sedikit kenapa?!"

Dara segera meletakkan gagang pelnya, menunduk dalam-dalam dengan tubuh gemetar. "Maaf, Nyonya... sungguh saya minta maaf. Lantainya baru saja saya pel, papan peringatannya ada di sebelah sana..."

"Berani kau menjawab?!" Wanita itu melangkah maju dan, tanpa peringatan, menendang ember berisi air kotor hingga tumpah membasahi celana kain usang dan sepatu karet yang dikenakan Dara. "Panggil manajermu sekarang! Aku mau kau dipecat hari ini juga! Perempuan rendahan seperti ini tidak pantas kerja di sini!"

Dara langsung bersimpuh di atas genangan air pel yang kotor itu. Air matanya menetes, namun ia buru-buru menyekanya. Ia tidak peduli pada rasa malu ditonton puluhan orang. Yang terlintas di kepalanya hanyalah tagihan listrik bulan ini dan sebuah buku pemrograman lanjutan yang sangat diinginkan Juwita.

"Tolong, Nyonya... saya mohon ampun," suara Dara bergetar hebat, tangannya menangkup memohon di depan lutut wanita arogan itu. "Tolong jangan laporkan saya. Anak saya butuh biaya sekolah... saya janda, saya tulang punggung satu-satunya. Potong saja gaji saya untuk ganti rugi, tapi tolong, jangan buat saya dipecat..."

Wanita itu mendengus jijik, meludah ke arah lantai di dekat lutut Dara, lalu berlalu pergi sambil terus mengomel. Dara menghela napas panjang yang terasa menyayat dada. Di tengah tatapan iba sekaligus merendahkan dari orang-orang yang lalu lalang, Dara mengambil kain pelnya kembali, membersihkan tumpahan air matanya sendiri bersamaan dengan kotoran di lantai itu. Senyum tipis terukir di bibirnya yang pucat. Rasa sakit ini bukan apa-apa, pikirnya. Selama Juwita bisa memegang pena, Dara rela jika dunia memaksanya memakan tanah.

Malam harinya, Juwita sedang memperbaiki sebuah CPU rusak hasil pungutan di tempat pembuangan akhir ketika Dara pulang dengan langkah terseret. Tubuh ibunya basah kuyup oleh keringat dan sisa hujan, wajahnya lebih pucat dari biasanya. Namun, yang membuat jantung Juwita berhenti berdetak adalah saat melihat tangan ibunya memar kebiruan dan membengkak.

"Ibu! Tangan Ibu kenapa?!" Juwita melompat dari kursinya, berlari menghampiri Dara. Tangannya yang mungil dan cekatan meraih jemari ibunya yang kasar dan penuh kapalan.

Dara tersenyum lembut, menarik tangannya perlahan. "Tidak apa-apa, Nduk. Tadi Ibu kepleset sedikit di dapur restoran. Cuma memar biasa. Nih, Ibu bawakan nasi bungkus sisa pesanan orang yang batal. Masih enak, ada rendangnya."

Juwita menatap bungkusan nasi itu, lalu menatap wajah ibunya. Mata Juwita yang tajam dan analitis tidak bisa dibohongi. Ia melihat noda lumpur di lutut celana ibunya, ia melihat gurat keletihan yang nyaris membunuh. Tiba-tiba, rasa sesak yang selama ini ia pendam meledak tak tertahankan. Juwita membanting obeng di tangannya ke lantai.

"Cukup, Bu! Cukup!" teriak Juwita, suaranya pecah oleh tangis yang langsung menderas. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang kotor oleh debu komputer. "Juwita nggak mau sekolah lagi! Juwita mau berhenti! Juwita mau kerja, mau ikut pungut rongsokan, mau cuci piring!"

Dara terkesiap, bungkusan nasi di tangannya hampir terjatuh. "Juwita... kamu bicara apa? Jangan sembarangan!"

"Bu, Ibu pikir Juwita buta?!" isak Juwita histeris, jatuh berlutut di hadapan ibunya, memeluk kaki Dara erat-erat. "Tiap hari mereka panggil Juwita anak haram. Tiap hari mereka anggap kita sampah. Ibu diinjak-injak di luar sana, dihina, diperbudak... buat apa, Bu?! Buat piala-piala kertas yang nggak ada harganya di mata mereka?! Buat apa Juwita pintar kalau Ibu harus mati pelan-pelan begini?!"

Hening sejenak. Hanya suara isakan Juwita yang memenuhi bilik reot berdinding triplek itu, berpadu dengan ritme rintik hujan di luar.

Dara berlutut, menyejajarkan tubuhnya dengan putrinya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Dara memegang kedua bahu Juwita, mencengkeramnya dengan kelembutan yang menyakitkan. Mata Dara tidak meneteskan air mata. Sebaliknya, mata itu memancarkan nyala api yang begitu terang, sebuah keteguhan yang tak bisa dipatahkan oleh penderitaan sekelam apa pun.

"Dengarkan Ibu, Juwita," bisik Dara, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Bagi Ibu, rasa sakit, hinaan, air kotor yang tumpah ke tubuh Ibu... itu semua tidak ada rasanya. Ibu sudah mati sejak malam gerbang emas itu ditutup di depan wajah Ibu belasan tahun lalu."

Dara mengusap air mata putrinya dengan ibu jarinya yang kasar dan memar. "Tapi kamu... kamu adalah nyawa Ibu yang baru. Setiap kali Ibu dihina di luar sana, Ibu selalu membayangkan hari di mana namamu dipanggil di panggung besar. Setiap kali Ibu menggosok lantai kotor, Ibu membayangkan kamu sedang mengetik di depan komputer-komputer canggih yang akan mengubah dunia. Keikhlasan Ibu menerima semua cacian ini adalah investasi untuk masa depanmu, Nak."

"Tapi rasanya sakit, Bu... sakit sekali melihat Ibu begini," isak Juwita, menelusupkan wajahnya ke pelukan ibunya yang beraroma keringat dan sabun cuci murah.

"Maka jadikan rasa sakit itu bahan bakarmu," balas Dara dengan tegas, memeluk punggung bergetar putrinya. "Jangan menangis karena kita miskin. Menangislah kalau kamu menyerah pada kemiskinan ini. Mereka boleh memanggilmu anak haram, mereka boleh menginjak kepala Ibu. Tapi mereka tidak bisa mencuri isi kepalamu. Teruslah belajar, Juwita. Kalahkan mereka semua dalam diam. Biarkan kesuksesanmu yang nanti memekakkan telinga mereka. Ibu rela menjadi pijakan kakimu, meski Ibu harus hancur jadi abu, asalkan kamu bisa terbang tinggi melampaui mereka semua."

Malam itu, di pelukan ibunya yang lelah, Juwita tak lagi menangis layaknya anak kecil yang terluka. Tangisannya berubah menjadi sumpah darah yang tak bersuara. Ia menatap deretan angka dan kode di layar monitor tabung bekasnya dengan sorot mata sedingin es. Dunia telah merampas segala bentuk keadilan dari ibunya. Maka, dengan kejeniusannya, Juwita bertekad tidak akan memohon keadilan pada dunia; ia sendiri yang akan menciptakan keadilan itu, lalu memaksakan keadilan tersebut ke tenggorokan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaan ibunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!