“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”
Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.
Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.
Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.
Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Emma yang mendengar itu dengan ragu menjawab, "Tuan Galileo adalah putra pertama tuan besar dan beda ibu dengan tuan Dreven. Namun dalam sepengetahuan saya hubungan tuan Galileo dan tuan Dreven cukup dekat. Bahkan sejak kecil tuan Galileo menjaga adiknya dengan sangat baik sampai tuan besar sangat percaya meninggalkan tuan Dreven yang ditinggal mati oleh mendiang nyonya sebelumnya kepada tuan Galileo." Ucap Emma dengan pelan.
Elara terdiam, "Dia dibawah perawatan pria itu?"
Emma mengangguk, "Tuan Galileo sangat sabar dengan kejahilan tuan Dreven. Bahkan saat tuan Dreven membakar gudang mansion saat berusia lima tahun, tuan Galileo lah yang melindunginya bahkan menyembunyikan peristiwa itu pada tuan besar yang masih di luar negeri."
Elara terdiam sejenak sebelum berbicara, "Kau yakin Dreven melakukannya tanpa ada orang yang mengajarinya?"
Emma terdiam sejenak, seolah menimbang-nimbang jawabannya sebelum akhirnya berkata dengan suara pelan, "Itulah yang selalu menjadi misteri, Nyonya. Tuan Dreven memang anak yang nakal, tapi tidak mungkin seorang bocah lima tahun bisa melakukan hal seperti itu tanpa pengaruh seseorang."
Elara mengetukkan jarinya pelan di pagar balkon, pikirannya mulai tersusun. "Dan kakaknya, Galileo, selalu melindunginya?"
Emma mengangguk. "Ya, setiap kali tuan Dreven berbuat onar, tuan Galileo selalu ada untuk menutupi. Sejak kecil mereka sangat dekat, meskipun...."
"Meskipun apa?" desak Elara, matanya menatap lurus ke arah Emma.
"Meskipun ada kalanya Tuan Galileo terlihat... terlalu protektif. Seolah-olah dia ingin memastikan Tuan Dreven tetap berada di bawah kendalinya." Emma menelan ludah sebelum melanjutkan, "Beberapa pelayan lama bahkan berbisik bahwa ada saat-saat di mana Tuan Galileo tidak hanya melindungi, tetapi juga mengontrol."
Elara mencengkeram pagar balkon lebih erat. Semua ini semakin menegaskan perasaannya yang tidak nyaman.
"Kau tahu sesuatu yang lain, Emma?" tanyanya dengan nada serius.
Emma menunduk sedikit, sebelum akhirnya berbisik, "Saya tidak tahu banyak, Nyonya. Tapi ada rumor bahwa ada persaingan posisi pada kakak beradik itu. Tapi ada juga yang mengatakan jika tuan Dreven sepertinya akan dipilih tuan besar karena tuan Dreven anak yang terlahir karena cinta sedangkan tuan Galileo lahir karena perjodohan. Sayang sekali kedua nyonya Dastan harus meninggal saat melahirkan putra mereka."
Elara yang mendengar itu menghela nafas, "Tapi melihat sifat Dreven sepertinya dia tak terlalu memikirkan posisinya. Dia juga pria yang terlalu kanak-kanak."
Emma tersenyum tipis, "Tapi anda menyukainya kan, nyonya?"
"Menyukainya? Cih, dia jauh dari tipe idamanku. Aku suka pria yang dewasa, tak suka membuat masalah dan juga bukan pemain wanita. Karena aku suka pria yang bersih." Ucap Elara dengan santai tanpa mengetahui jika pembicaraan mereka tadi di dengar oleh Dreven yang berada di depan pintu dengan kursi rodanya, pintu yang sedikit terbuka.
Emma yang mendengar itu tersenyum tipis, "Tapi anda sudah menikah, bukankah seharusnya anda menerima kekurangan pasangan anda?"
Elara menghela napas dan berjalan ke arah ranjangnya, lalu duduk dengan tangan yang menopang dagunya. "Menerima kekurangan pasangan? Emma, aku bahkan sudah merencanakan perceraianku dengan matang."
Sebelum Emma menjawab, pintu kamar terbuka lebar. Menampilkan Dreven yang tengah berada di kursi rodanya dengan wajah datar disana.
"Jika ingin masuk ketuklah pintu dulu." Kata Elara yang tak peduli apakah pria itu mendengarnya atau tidak percakapan mereka tadi.
"Keluarlah." Kata Dreven dengan dingin pada Emma yang masih berdiri dengan kepala menunduk ketakutan.
Emma buru-buru keluar dan menutup pintu kamar itu kembali.
Begitu pintu tertutup, Elara menatap Dreven, "Ada apa?"
Dreven langsung memindahkan dirinya dari kursi roda ke ranjang dengan susah payah—karena kakinya yang lumpuh, dia harus menggunakan kekuatan tangannya untuk mengangkat tubuhnya sendiri. Elara yang melihat itu hanya diam, tak menawarkan bantuan karena tahu pria itu terlalu keras kepala untuk menerimanya. Akhirnya Dreven berhasil berbaring di samping Elara yang duduk di tepi ranjang.
"Aku hanya ingin tidur. Badanku rasanya sakit." Gumamnya sambil menenggelamkan wajahnya ke bantal.
Elara menatap itu dengan bingung, dia kira pria itu mendengar ucapannya tadi dan ingin marah. Tapi ini apa?
"Mana yang sakit?" tanya Elara dengan sedikit lembut karena merasa kasian pada pria itu yang berkorban untuk melindunginya dari tembakan meskipun dalam kondisi lumpuh.
Dreven membuka sebelah matanya, menatap Elara yang kini duduk di tepi ranjang dengan ekspresi sedikit lebih lembut dari biasanya.
"Seluruh tubuhku sakit," gumamnya, sebelum kembali menutup mata dan menarik napas dalam.
Elara mendesah pelan. "Jika begitu kembali ke rumah sakit. Kau itu masih pasien."
"Tidak. Disana sepi, aku tak suka."
Elara mengerutkan keningnya, "jika kau tak suka sepi ya panggil saja temanmu yang berisik itu."
"Sepertinya mereka marah padaku. Mereka tak menghubungiku sejak di Dubai kemarin."
Mendengar hal itu Elara mengangguk, "baguslah."
"Baguslah?! Kau suka aku tak berteman dengan mereka?" Tanya Dreven sambil melirik ke arah Elara.
Elara menghela nafas, "Temanmu itu hanya membawa pengaruh buruk. Apalagi teman pria mu itu. Sepertinya dia punya niat terselubung dalam hubungan baik denganmu itu."
Dreven mendengus, "Jangan menuduh mereka, kau hanya tak suka mereka saja."
Elara menghela nafas, ingin mengatakan apa yang dia dengar saat di hotel kemarin.
"Kita tak bisa mempercayai sepenuhnya seseorang bahkan bayangan kita sendiri. Jika tidak? Kau akan hancur. Hati-hatinya pada Leandro."
Dreven menatap Elara dengan ekspresi penuh tanda tanya. "Leandro?"
Elara mengangguk. "Jika kau tak mempercayainya ya sudah." Katanya dengan santai sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menyandar di kepala ranjang.
Dreven terdiam sejenak, memang akhir-akhir ini banyak proyek miliknya yang mengalami masalah. Dan masalah terbesarnya adalah yang kemarin.
Tapi...
"Leandro tak mungkin mengkhianatiku. Dia temanku sejak kami sekolah dasar, dan dia teman pertamaku. Dia tak mungkin melakukan hal kotor itu. Jika dia ingin menghancurkanku maka seharusnya sudah dari lama."
Elara menghela nafas, lalu menatap ke arah Dreven dengan serius. "Jika kau ingin tahu kenapa kau tak menyelidikinya? Sudah kubilang jika kau terlalu percaya orang maka kau akan hancur."
Dreven terdiam dan hal itu membuat Elara semakin geram.
Bersambung...
🤭🤭🤣🤣🤣