NovelToon NovelToon
Terlarang, dengan Sengaja

Terlarang, dengan Sengaja

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Cinta Terlarang / Dark Romance / Tamat
Popularitas:2
Nilai: 5
Nama Author: Ophelia Blaire

Satu foto. Terkirim ke orang yang salah. Dengan sengaja.

Kirana Adiwijaya punya satu rahasia yang ia jaga rapat-rapat: ia berpacaran dengan Bram Kusuma, dan tak seorang pun di keluarganya boleh tahu. Tapi malam itu, sebuah pesan panas yang ia niatkan untuk sang kekasih justru mendarat di layar ponsel pria yang paling tak boleh ia sentuh—Krisna Kusuma. Kakak Bram. Tunangan kakaknya sendiri.

Krisna tak membalas. Ia hanya menyimpannya. Dan sejak saat itu, garis antara "terlarang" dan "menginginkan" mulai kabur.

Krisna dingin, penuh perhitungan, terbiasa memiliki apa pun yang ia mau. Kirana pandai berpura-pura polos, padahal setiap langkahnya sudah ia rencanakan. Di antara pesta keluarga, ruang kerja bertirai kaca, dan perjalanan mewah yang jauh dari mata orang, keduanya memainkan permainan berbahaya yang tak boleh ketahuan siapa pun—terutama oleh dua orang yang paling mereka khianati.

Tapi rahasia punya harga. Dan ketika kebenaran mulai retak satu per satu—tentang masa lalu Kirana yang ia kubur dalam-dalam, tentang alasan sesungguhnya semua ini bermula—pertanyaannya bukan lagi apakah mereka akan tertangkap.

Melainkan: seberapa jauh keduanya rela jatuh, saat menyadari bahwa yang paling terlarang justru adalah yang paling mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ophelia Blaire, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter-002

Bab 2: Untukmu

Kirana menumpahkan mainan itu dari kantungnya ke atas ranjang, lalu kembali mengunci pintu. Ia mengetes gagangnya dua kali.

Ibunya kadang lupa mengetuk. Pelayan masuk membawa cucian. Malam ini ia tak mau ambil risiko.

Kirana mematikan lampu utama dan membiarkan lampu di samping ranjang menyala redup.

Ia memutar pesan suara terakhir dari Bram.

"Masih nunggu permintaan maafmu,"* katanya. "Yang meyakinkan, ya."*

Kirana tersenyum. Bram menghabiskan hampir seluruh hari ulang tahunnya membujuk agar Kirana datang. Ia tahu Bram kesal. Ia juga tahu Bram akan memaafkannya, dan itu membuatnya lebih senang daripada seharusnya.

Kirana melonggarkan ikat jubahnya dan duduk bersandar ke kepala ranjang. Udara menyentuh kulit yang masih hangat dari air mandi. Ia mencoba membayangkan Bram di sini—penuh kasih yang tak bisa diam dan percaya diri khas cowok tampan—berusaha membuatnya tertawa sebelum kembali meminta hal yang sama.

Ia suka membayangkan Bram di sini. Menyelundupkannya melewati kamar ibunya adalah perkara lain.

Setidaknya malam ini ia tak perlu memikirkan itu.

Ia meraih mainan itu.

Dengung rendah memenuhi kamar.

Mulanya ia menahan pandangan pada pesan-pesan Bram. Ia biarkan suara menggoda Bram mengisi kehadiran yang absen, membiarkan getaran itu menekan klitorisnya sampai pahanya melonggar terbuka di balik jubah.

Ia berusaha memusatkan pikiran pada suara Bram.

Tubuhnya tetap merespons. Selalu begitu. Panas berkumpul di bawah, basah dan mendesak, dan Kirana benci betapa jujur tubuhnya sendiri. Ia menyingkap jubahnya dan menatap dirinya: payudara merona sehabis mandi, puting mengeras, lutut terbuka, mainan itu bergerak dalam lingkaran-lingkaran kecil di pusat tubuhnya yang licin.

Bram belum pernah melihatnya begini. Mungkin Bram akan berhenti menyebutnya pemalu kalau sampai melihat.

Ia menaikkan setelan getarnya dan memejamkan mata. Sesaat ia masih bisa mendengar Bram menggodanya. Lalu ia teringat sehelai dasi hitam dan Krisna yang menyebut namanya di teras.

Tangannya berhenti.

"Jangan," bisiknya.

Tunangan kakaknya. Ia bahkan nyaris tak pernah bicara dengannya.

Kirana mencoba memikirkan hal lain dan menaikkan lagi getaran mainannya.

Mainan itu berdenyut lebih keras di klitorisnya, dan pinggul Kirana terangkat dengan sendirinya. Cairan mengalir licin di antara belahan tubuhnya, membuat gerakannya makin mulus, makin nakal, mustahil dipura-purakan sebagai sekadar rasa gatal.

Ia masih melihat Krisna setiap kali memejamkan mata. Ia teringat cara pria itu melirik ponselnya, dan bertanya-tanya apa yang akan Krisna katakan seandainya Rosalia tak ada di sana.

Kirana menggigit pangkal telapak tangannya agar tetap diam.

Ia tak bisa mengusir pikiran itu. Kenikmatan menumpuk selagi ia masih berusaha, sampai ia lupa mengapa tadi ingin berhenti.

Orgasmenya datang cukup keras hingga membuat punggungnya melengkung lepas dari ranjang.

Beberapa detik lamanya, ia sama sekali tak bisa berpikir. Pahanya bergetar mengapit mainan itu. Bagian dalamnya mengejang dalam denyut-denyut basah, kosong dan rakus, sampai gelombang terakhir surut dari tubuhnya dan meninggalkannya menatap langit-langit dengan napas berantakan.

Ia meraih ponsel dan membuka percakapan dengan Bram.

Bram sendirian di hari ulang tahunnya, sementara ia di ranjang, klimaks karena memikirkan satu-satunya pria yang tak berhak ia pikirkan.

Ia membuka kamera. Permintaan maaf seperti ini seharusnya mengakhiri semua ngambek itu.

Ia mengatur sudut kamera depan dengan hati-hati, memotong bingkai tepat di bawah bibirnya. Tanpa wajah. Tak ada apa pun di latar yang menunjukkan kamarnya. Hanya jubah yang terlonggar, lengkung payudaranya di bawah tangan, dan garis terbuka pahanya.

Terlalu banyak.

Ia hampir menghapusnya.

Lalu ia menurunkan ponselnya.

Bingkai kedua lebih kotor sekaligus lebih bagus. Ia menangkap kilau di antara kedua paha, mainan yang masih menempel di klitorisnya, jari-jari yang meremas satu payudara seolah menyodorkan seluruh gambar itu pada siapa pun yang melihat.

Ia memperbesar foto dan memeriksa tepinya, sebagaimana ia memeriksa rekaman audisinya. Wajahnya di luar bingkai. Begitu pula kamarnya.

Bram mungkin akan menelepon bahkan sebelum sempat memikirkan apa yang mau dikatakan. Kirana tersenyum membayangkan membuatnya menunggu beberapa deringan.

Ia memilih foto itu, membuka daftar kontak pesan, dan mengetuk ikon yang biasa di bagian atas.

Ia mengetik *Untukmu* dan mengirimnya. Di bawah foto, muncul Terkirim.

Kirana menaruh ponsel di bantal dan menutup jubahnya, tersenyum sendiri. Bram takkan ngambek lama-lama lagi.

Beberapa menit berlalu. Tak ada telepon, pesan pun tidak.

Ia mengernyit. Bram menghabiskan sepanjang malam meminta perhatiannya. Kini setelah mendapatkannya, ia malah mengabaikannya?

Ia mengambil ponsel untuk menuntut jawaban, membuka percakapan, dan akhirnya menatap namanya.

Krisna Kusuma.

Kirana terduduk tegak dan membacanya lagi.

Tunangan kakaknya. Kakak kekasihnya.

Dan ia menulis Untukmu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!