NovelToon NovelToon
Mengasuh Anak Dari Maduku

Mengasuh Anak Dari Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Pengkhianatan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 10- Bisik-Bisik tetangga

Ep. 10- Bisik-Bisik tetangga

Aroma bunga melati yang menyengat beradu dengan dinginnya uap embun pagi yang menyusup lewat celah jendela.

Di tengah ruang tamu yang biasanya dipenuhi gelak tawa Keisya saat menonton televisi, kini terbentang dua buah tempat tidur lipat besi yang ditutupi kain batik panjang berlapis helai-helai bunga gading.

Dua jasad terbujur kaku di sana, sejajar, membisu dan membawa rahasia besar yang belum sempat terurai sepenuhnya.

Suasana rumah duka riuh rendah oleh lantunan ayat-ayat suci Yasin yang dibaca setengah berbisik oleh puluhan tetangga, kerabat, serta pengurus RT setempat.

Namun, di antara lantunan ayat suci tersebut, ada riak gelombang lain yang menjalar cepat dari satu telinga ke telinga lainnya.

Tatapan mata para pelayat terus tertuju pada Kirana. Wanita yang kini berdiri mematung di ambang pintu depan, dengan mengenakan piyama tidur yang kusut dengan wajah pucat pasi.

Di dalam dekapannya, terlelap seorang anak balita perempuan berumur dua tahun yang jemari kecilnya masih mencengkram erat kerah baju Kirana.

"Itu... bukankah itu ambulans yang membawa dua keranda?" bisik seorang wanita paruh baya berkerudung hijau pada tetangganya di barisan belakang.

"Iya, Jeng. Satu Pak Rendra... tapi yang satu lagi itu jenazah perempuan! Siapa ya? Kok dimasukkan ke rumah Pak Rendra juga?" balas wanita di sebelahnya sambil menutup mulut dengan kipas tangan.

"Mana Bu Kirana pulang-pulang membawa anak kecil lagi. Itu anak siapa? Setauku anak Pak Rendra dan Bu Kirana cuma Keisya yang umur empat tahun itu, 'kan?"

Bisik-bisik itu makin riuh, bagai kawanan lebah yang beterbangan di dalam ruangan. Rasa penasaran warga komplek yang selama ini mengenal keluarga Rendra sebagai keluarga harmonis, terpandang, dan tanpa cela, mendadak membumbung tinggi.

Kehadiran jenazah wanita asing dan seorang balita di tengah musibah kecelakaan tragis itu menghadirkan teka-teki yang liar.

Kini, langkah Kirana terasa kaku saat ia menyusuri lantai keramik dingin menuju dalam rumah.

Setiap pasang mata seolah menghakiminya, menelanjanginya dengan berbagai spekulasi. Hatinya yang baru saja hancur dihantam duka, kini harus menahan rasa tegang dan malu yang mendera.

Tiba-tiba, seorang wanita tetangga sebelah rumah yang terkenal vokal dan gemar mencampuri urusan orang yang bernama Bu Siska, tengah berdiri dari duduknya.

Dengan langkah perlahan namun penuh selidik, ia mencegat jalur jalan Kirana.

"Bu Kirana... turut berduka cita yang mendalam ya, Bu," ucap Bu Siska dengan suara yang disengaja agak keras agar terdengar oleh sekeliling.

Matanya tidak menatap wajah Kirana yang sembap, melainkan menatap tajam ke arah wajah anak kecil yang ada di pangkuan Kirana.

"Aduh, kasihan sekali Pak Rendra... Tapi, Bu Kirana, kalau boleh tau... anak kecil yang digendong Bu Kirana ini anak siapa, ya? Dan jenazah perempuan di sebelah Pak Rendra itu... siapa?"

Pertanyaan itu meluncur bagai anak panah yang melayang tepat menghantam dada Kirana. Suara lantunan Yasin dari para tetangga mendadak mengecil dan semua orang memiringkan telinga mereka seakan menunggu jawaban dari bibir sang pemilik rumah.

Kirana membeku di tempatnya. Tenggorokannya serasa tersekat gumpalan batu yang menyiksa. Lidahnya terasa sangat kaku.

Bagaimana bisa ia menjelaskan di hadapan puluhan pasang mata bahwa wanita yang terbaring di dalam kain kafan itu adalah madunya, istri rahasia dari suaminya?

Bagaimana ia bisa mengatakan bahwa balita di dalam dekapannya adalah anak dari pengkhianatan pria yang jasadnya kini terbujur di sebelah wanita tersebut?

Rasa iba pada Aura beradu hebat dengan sisa-sisa harga diri dan rasa sakit hatinya yang menganga.

"Jika aku mengatakannya sekarang... mereka akan menjadikan almarhumah Rendra dan Ayu bahan gunjingan paling hina. Tapi... jika aku diam, bagaimana status anak ini?" batin Kirana.

Melihat raut wajah Kirana yang memucat dan kebingungan, Mbok Darmi yang berdiri di dekatnya pun langsung sigap melangkah mendekat. Asisten rumah tangga yang sudah mengabdi belasan tahun itu menyadari kepedihan mendalam yang sedang ditanggung majikannya.

"Bu... mari, biar Aura saya pegang dulu," bisik Mbok Darmi, seraya mengulurkan tangannya dengan hati-hati.

Kirana menoleh pada Mbok Darmi. Tanpa mengumbar kata, ia pun mengangguk pelan. Kirana lalu memindahkan tubuh mungil Aura yang masih tertidur pulas ke gendongan Mbok Darmi.

Anak kecil itu sempat melenguh pelan, dan mengusap hidungnya di bahu Mbok Darmi, lalu kembali terlelap karena kelelahan setelah menangis semalaman di rumah sakit.

"Mbok, tolong tidurkan Aura di kamar belakang dulu ya. Amankan dia," instruksi Kirana.

"Baik, Bu," sahut Mbok Darmi dengan berbisik, lalu bergegas membawa Aura masuk ke dalam lorong arah kamar belakang, menghindar dari tatapan-tatapan lapar para pelayat.

Setelah Aura tak lagi berada di pelukannya, Kirana membetulkan posisi selendangnya, lalu memutar badan menatap Bu Siska dan puluhan tetangga yang masih menantikan jawabannya.

Mata Kirana yang merah dan berkaca-kaca menatap Bu Siska secara langsung dengan tatapan yang dingin, kaku, namun memancarkan keteguhan seorang wanita yang sedang berdiri di atas puing-puing hidupnya.

"Anak ini... adalah putri dari almarhumah," jawab Kirana singkat, namun cukup membungkam keheningan ruangan.

Akan tetapi, Bu Siska mengernyitkan dahinya karena tidak puas dengan jawaban yang begitu pendek itu. "Putri dari almarhumah? Maksudnya almarhumah perempuan yang di keranda itu, Bu? Lalu... almarhumah itu siapanya Pak Rendra? Kenapa dimakamkan dan dibawa ke rumah sini?"

Kirana mengepalkan kedua tangannya di balik lipatan selendang hingga kuku-kukunya memutih. Rasa sakit di hatinya berdenyut makin kencang. Namun, ia enggan menjadikan musibah dan keaiban rumah tangganya sebagai panggung tontonan gratis bagi orang-orang yang hanya haus akan gosip.

"Beliau adalah kerabat yang terlibat dalam kecelakaan yang sama dengan Mas Rendra," potong Kirana, dengan memilih kata-kata yang paling netral namun membentengi rahasia tersebut untuk sementara waktu.

"Saya tidak bisa bicara banyak sekarang. Saya harus berganti pakaian dan bersiap-siap, karena proses pemakaman Mas Rendra dan almarhumah akan segera dilaksanakan pagi ini begitu liang lahat selesai digali."

Tanpa menunggu balasan atau pertanyaan susulan dari Bu Siska maupun warga lainnya, Kirana membalikkan badan. Dengan langkah kaku dan dagu yang terangkat walau hatinya hancur, ia berjalan melintasi koridor menuju kamar utamanya.

Namun, suara kasak-kusuk di belakang punggungnya kembali pecah, bahkan makin riuh.

"Kerabat? Kerabat kok Bu Kirana bilangnya seperti asing begitu?"

"Iya, lagipula kalau cuma kerabat, kenapa sampai tidak ada keluarga lain yang datang menjemput?"

"Aneh... ada yang tidak beres ini."

Kirana menutup pintu kamar utamanya rapat-rapat dan menguncinya dari dalam.

KLIK.

Begitu kunci pintu berputar, pertahanan diri Kirana runtuh seketika. Ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu kayu yang tebal, lalu merosot jatuh terduduk di atas lantai.

Kirana menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan dan meredam tangisan yang akhirnya meledak tanpa suara. 😫😫😫

Di dalam kamar yang dulu menjadi saksi bisu kehangatan ikatan pernikahannya bersama Rendra, kini hanya ada kehampaan. Baju-baju kerja Rendra masih tergantung rapi di dalam lemari kaca, parfum favorit suaminya masih tercium tipis di sudut meja rias, namun sang pemilik tak akan pernah kembali lagi.

"Kenapa kamu tinggalkan beban sebesar ini padaku, Mas...?" bisik Kirana dalam isaknya yang sesak. "Bagaimana aku harus menjelaskan pada dunia? Bagaimana aku harus membesarkan anakmu dan wanita itu di rumah ini? 😭😭😭"

Bersambung...

1
Lisa
Aura keras kepala juga y..hayo g bisa dibiarin tuh.
Lisa
Wah Aura mulai ngambek nih 😊
Lisa
Aura ingin juga disuapi sama Kirana...teruslah bersikap adil pada kedua putrimu Kirana..
Lisa
Wah sepertinya Aris ini bakal jadi teman deketnya Kirana..lucu banget 2 pengawal cilik itu 😊
Lisa: 😊 iya Kak..
total 2 replies
Lisa
👍👍 ayo Kirana lawan si nenek itu..
Anonim
Kok gini sih
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Lisa
Benar Kak.
Lisa
Syukurlah Kirana sudah menyadari kesalahannya dan mau menyayangi Aura..
Lisa
Cpt sembuh Aura..Kirana kamu harus sadar jgn dendam terus pada Aura..
Lisa
Amin..kasihan banget Aura..moga Kirana mampu menyayangi Aura..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Aurora: terimakasih.../Rose/
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Suka banget Kak
total 2 replies
Banu Tyroni
... akhirnya Aura mendapatkan kasih sayang seorang ibu.
Banu Tyroni
Aura.... kasihan kamu 😭
Banu Tyroni
... siapin tisu yg banyak.
Banu Tyroni
... sedih banget lihat Aura, besok kedepannya bagaimana ya? 😭
Banu Tyroni
... menarik.
Aurora: terimakasih /Rose/
total 1 replies
Banu Tyroni
Baca di awal ini nampaknya cerita akan penuh konflik dan menguras air mata... siap² tisu 😄
Irmha febyollah
lanjut lagi kk.
Aurora
kaya tega banget ya Kirana 🤭
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!