Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK
BOOOOM!!!
Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.
"Turun!" teriak Bayu.
Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.
*TAT... TAT... TAT...*
Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.
Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.
Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 : MEREBUT SENJATA
Sore itu kabut turun tebal, menyelimuti jalur setapak yang melintasi lembah sempit di antara dua bukit. Bayu bersandar di batang pohon besar, napasnya teratur namun wajahnya masih tampak pucat menahan nyeri di lengan kanan yang kini kaku dan bengkak. Di sampingnya, Karta berjongkok diam, matanya menatap tajam ke arah tikungan jalan yang samar terlihat di bawah sana.
"Mereka lewat jalur ini setiap sore," bisik Karta pelan tanpa menoleh.
"Tiga orang. Satu di depan, dua di belakang. Selalu sama."
Bayu mengangguk pelan, matanya menyapu jalur tanah yang licin dan sempit itu. Di sisi kiri tebing curam menjulang tinggi, di sisi kanan jurang dalam tertutup semak lebat. Tak ada tempat untuk berlindung. Tak ada ruang untuk melarikan diri dengan cepat. Tempat yang sempurna.
"Mereka merasa aman," ucap Bayu pelan.
"Karena tak pernah ada perlawanan di jalur ini. Mereka berjalan lengang, senjata di pundak, pikiran santai."
"Makin santai makin gampang disambar," Karta menyeringai tipis, tangannya meremas sebilah kayu runcing yang sudah disiapkan sejak tadi.
"Rencananya?"
Bayu menunjuk batu-batu besar yang tersusun rapat di tepi tebing tepat di atas jalur sempit itu.
"Saat mereka berjalan tepat di bawah... dorong batu ke jalan. Tutup jalan di depan. Tutup jalan di belakang. Mereka terjebak di tengah."
"Lalu?"
"Lalu kita ambil apa yang kita butuhkan," jawab Bayu tenang.
"Senapan. Peluru. Tas bekal. Cepat. Sebelum bantuan datang. Lenyap sebelum mereka sempat melihat wajah kita."
Karta mengangguk mantap. Ia segera memposisikan diri di samping batu besar yang sudah diganjal batu kecil agar mudah didorong. Bayu berdiri di sisi lain, matanya terus menatap tikungan jalan di bawah sana.
Tak lama, terdengar suara sepatu bot menginjak batu dan tanah becek. Langkah teratur. Santai. Tepat seperti yang Karta katakan.
Tiga prajurit Belanda muncul dari balik tikungan. Berjalan beriringan, senapan tersampir santai di bahu. Mereka tampak lelah, saling berbicara pelan sambil berjalan perlahan menanjak.
"Deze weg is altijd hetzelfde... saai en nat," (Jalan ini selalu begitu... membosankan dan basah) gumam prajurit di depan sambil mengusap keringat di dahi.
"Ja, maar geen gevaar. Niemand durft hier te komen," (Iya, tapi tak ada bahaya. Tak ada yang berani ke sini) jawab prajurit di belakang sambil terkekeh pelan.
Ketiga orang itu berjalan tepat di bawah tumpukan batu besar di tepi tebing. Jarak mereka tak sampai sepuluh langkah dari tempat Bayu dan Karta bersembunyi.
"Sekarang!" bisik Bayu pelan namun tegas.
Mereka berdua mendorong batu besar itu bersamaan dengan sekuat tenaga.
GLUDUK... GLUDUK!!!
Batu besar itu meluncur deras dari tepi tebing, menghantam jalan tanah tepat di depan prajurit pertama. Tanah dan kerikil beterbangan. Debu tebal menyelimuti jalan seketika.
Ketiga prajurit itu tersentak kaget seketika, melompat mundur serentak. Belum sempat napas mereka teratur, batu kedua jatuh menghantam jalan tepat di belakang prajurit ketiga. Jalan tertutup rapat di depan dan di belakang. Mereka terjebak di ruang sempit tak lebih dari sepuluh langkah panjangnya.
"Wat is dit?! Wie is daar?!" (Apa ini?! Siapa di sana?!) teriak prajurit pertama sambil mengangkat senapan gemetar menatap ke arah tebing yang tertutup debu tebal.
"Turunkan senjata!" suara Bayu menggema dari atas, tegas dan berwibawa.
"Kalian sudah dikepung. Tak ada jalan keluar."
"Siapa di atas?! Tunjukkan wajahmu!" seru prajurit kedua sambil mengangkat senapan hendak menembak ke atas.
Belum sempat jari-jarinya menarik pelatuk, batu-batu kecil dan kerikil mulai menghujani mereka dari segala arah. Suara teriakan datang dari kiri dan kanan, seolah puluhan orang sedang mengelilingi tebing itu.
"Turunkan senjata atau kami lemparkan batu besar berikutnya!" suara Karta ikut membumbung tinggi, nadanya diubah kasar seolah suara orang lain.
Ketiga prajurit itu saling pandang dengan wajah pucat pasi. Di depan batu besar menutup jalan. Di belakang batu kedua menghalangi mundur. Dari atas terus terdengar suara teriakan dan gesekan batu yang siap diluncurkan kapan saja. Mereka tak tahu berapa banyak musuh yang mengelilingi mereka. Yang mereka tahu... senjata mereka tak berguna menembak ke arah tebing tertutup kabut dan debu tebal.
"Ze hebben ons omsingeld... we hebben geen schijn van kans..." (Mereka mengepung kita... kita tak punya peluang) bisik prajurit ketiga dengan suara gemetar ketakutan.
"Leg het wapen neer! Nu!" (Letakkan senjatanya! Sekarang!) suara Bayu kembali terdengar tegas. "Kami hanya mengambil senjata dan bekal. Nyawa kalian aman jika tidak melawan."
Pemimpin regu itu ragu sejenak, namun saat terdengar suara batu besar bergeser tepat di atas kepala mereka, ia akhirnya menurunkan senapan perlahan.
"Goed... goed... we geven over..." (Baiklah... baiklah... kami menyerah) ucapnya pelan sambil meletakkan senapan di tanah. Dua prajurit lainnya segera meniru, meletakkan senapan dan tas bekal di sampingnya.
"Mundur menghadap tebing! Jangan menoleh!" perintah Bayu.
Ketiga prajurit itu segera berbalik membelakangi jalan, menghadap dinding batu tebing dengan tangan terangkat ke atas.
Bayu memberi isyarat tangan ke arah Karta. Cepat. Ambil semua.
Karta meluncur turun dengan gerakan gesit seperti kera, melompati batu-batu besar hingga mendarat di jalan sempit itu. Tanpa membuang waktu, ia segera merampas ketiga senapan yang tergeletak di tanah. Di sampingnya tergeletak tas bekal dan beberapa butir peluru yang terselip di ikat pinggang prajurit. Matanya berbinar melihat deretan peluru yang tersimpan rapi di kantong senapan itu.
"Senapan Mannlicher M1895..." bisik Karta pelan sambil memeriksa salah satu senapan itu. "Masih baru. Pelurunya banyak."
Ia segera menyelipkan peluru ke ikat pinggang, menyampirkan ketiga senapan di bahu, lalu mengangkat tas bekal yang berat dan penuh. Semua dilakukan dalam hitungan detik.
"Sudah!" seru Karta ke arah atas.
"Pergi sekarang!" teriak Bayu ke arah ketiga prajurit itu.
"Sebelum kami berubah pikiran!"
Ketiga prajurit itu berbalik perlahan, melihat bahu Karta yang penuh senjata dan tas bekal yang menjauh dengan cepat naik ke tebing. Mereka tak sempat melihat wajah Karta dengan jelas. Debu dan kabut masih menyelimuti sebagian besar jalan.
"Ze zijn maar één persoon! Achtervolgen!" (Mereka hanya satu orang! Kejar!) teriak pemimpin regu itu menyadari keadaan. Mereka segera melompat ke atas batu penghalang depan, berusaha mengejar ke arah tebing.
Namun Bayu sudah kembali mendorong batu-batu kecil dari atas, menghujani jalan tanjakan yang licin. Setiap kali mereka berusaha naik, batu-batu beterbangan menghantam jalan di depan mereka.
"Kembali! Jangan mendekat!" teriak Bayu dari tempat tersembunyi.
"Kalau terus mengejar, batu besar berikutnya jatuh tepat di kepala kalian!"
Ketiga prajurit itu terpaksa berhenti. Mereka tak tahu berapa banyak orang yang masih bersembunyi di atas sana. Tak berani mengambil risiko. Mereka hanya bisa berdiri terpaku melihat bayangan Karta yang perlahan menghilang di balik rimbunan pepohonan di puncak bukit, membawa senjata dan bekal mereka pergi begitu saja.
Bayu dan Karta terus berjalan menjauh hingga suara teriakan di bawah sana tak lagi terdengar. Mereka berhenti di gua kecil yang tersembunyi di balik semak berduri jauh dari jalur itu. Karta meletakkan ketiga senapan dan tas bekal itu di atas tanah yang rata, napasnya memburu namun matanya berbinar gembira tak terlukiskan.
Lihat ini, Bayu!" seru Karta sambil memegang senapan yang baru dirampas itu dengan kedua tangan.
"Tiga senapan Mannlicher M1895. Dan lihat pelurunya!" Ia mengeluarkan bungkusan kain berisi puluhan butir peluru yang berkilau terkena cahaya sore.
"Cukup untuk melawan satu peleton!"
Bayu mendekat perlahan, menatap senjata-senjata itu dengan pandangan campur aduk. Senjata-senjata yang dirancang untuk menaklukkan tanah ini... kini berada di tangan mereka.
"Hadiah pertama perjuangan kita," ucap Bayu pelan sambil menyentuh permukaan besi senapan itu.
"Bukan dirampas dengan kekuatan besar. Tapi dengan akal dan keberanian."
Karta tersenyum lebar, wajahnya berseri-seri. Ia mengangkat satu senapan ke bahu, mencoba memegangnya dengan tegap.
"Mulai hari ini... kita tak lagi hanya membawa bambu runcing dan batu. Kita membawa senjata yang sama dengan mereka. Dan kita tahu cara menggunakannya lebih baik dari mereka."
Bayu menatap senjata itu, lalu menatap Karta.
"Senjata ini bukan untuk dipamerkan, Karta. Senjata ini untuk melindungi warga yang tak bersenjata. Untuk memberi peringatan kepada mereka yang datang merampas. Setiap butir peluru ini harus bernilai nyawa."
Karta mengangguk mantap, menurunkan senapannya perlahan.
"Aku paham. Kita tak menembak tanpa alasan. Tapi kalau mereka datang membawa api... kita siap membalas dengan api yang sama."
Bayu mengangguk pelan. Ia mengambil sepasang senapan dan sebagian peluru, menyimpannya di tempat tersembunyi di dinding gua agar tak terlihat siapa pun. Satu senapan dan beberapa butir peluru disisakan untuk dibawa setiap saat.
"Mulai sekarang," ucap Bayu pelan sambil menatap ke arah mulut gua yang menghadap ke lembah,
"mereka akan berpikir dua kali sebelum berjalan sendirian di jalur sempit mana pun. Mereka akan takut pada setiap batu yang tergelincir. Mereka akan waspada pada setiap bayangan yang bergerak."
Karta menyandang senapan di bahu, berdiri di samping Bayu menatap lembah yang mulai gelap.
"Mereka tak akan pernah tahu... bahwa yang merampas senjata mereka tadi... hanya kita berdua."
Bayu tersenyum tipis. Cahaya matahari terbenam menyinari wajah mereka berdua yang penuh debu dan keringat. Namun di mata mereka kini terpancar sesuatu yang tak pernah ada sebelumnya. Keyakinan. Bahwa dua orang pun bisa merampas senjata dari pasukan bersenjata lengkap. Bahwa tanah yang mereka injak selalu memberi jalan bagi mereka yang berani berjuang.
Dan di dalam gua kecil itu, tersimpan senjata-senjata itu. Sebuah tanda bahwa perjuangan mereka bukan lagi sekadar menyembunyikan diri dan lari. Mulai hari ini... mereka siap menyambut siapa pun yang datang dengan niat buruk. Dengan senjata yang sama. Dengan keberanian yang lebih besar.