NovelToon NovelToon
Warisan Dewa Kematian: Naga Bintang & Hantu Pedang

Warisan Dewa Kematian: Naga Bintang & Hantu Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Anak Genius
Popularitas:116k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.

Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.

Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masalah Datang Tanpa Diminta

Suara hujan deras masih mengguyur pegunungan tanpa henti. Api unggun di tengah goa terus menari, memantulkan cahaya jingga ke dinding-dinding batu. Sha Nuo masih tertawa puas dengan cerita-ceritanya sendiri, sementara Gao Rui mendengarkan dengan penuh perhatian.

"...Lalu setelah itu, mereka semua langsung berlutut sambil memanggilku senior," ujar Sha Nuo dengan wajah penuh keyakinan.

"Benarkah, Paman?" tanya Gao Rui dengan mata berbinar.

"Tentu saja."

Sha Nuo menganggukkan kepala tanpa ragu sedikit pun.

"Bahkan ada yang ingin menjadikanku patriark sekte mereka."

"Hebat sekali..."

Gao Rui benar-benar kagum.

Namun, tepat ketika Sha Nuo hendak melanjutkan cerita berikutnya, senyumnya perlahan menghilang.

"..."

Ia sedikit memiringkan kepalanya. Pada saat yang hampir bersamaan, Gao Rui juga mengangkat wajahnya.

"..."

Keduanya saling berpandangan. Mereka sama-sama merasakan sesuatu. Ada seseorang yang sedang mendekat. Suara langkah kaki yang bercampur dengan suara hujan terdengar samar dari luar goa. Langkah itu tidak teratur, seolah pemiliknya sedang menahan rasa sakit.

Pembicaraan mereka pun langsung terhenti. Sha Nuo menoleh ke arah mulut goa, sementara Gao Rui ikut mengalihkan pandangannya ke tempat yang sama.

Tak lama kemudian, sebuah sosok muncul dari balik derasnya hujan. Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahunan berjalan tertatih-tatih memasuki goa.

Seluruh tubuhnya basah kuyup. Pakaiannya robek di beberapa bagian, sementara pada lengan kiri serta bahunya tampak beberapa luka yang masih mengeluarkan darah. Air hujan yang membasahi tubuhnya membuat pria itu sesekali meringis kesakitan ketika mengenai luka-lukanya.

Begitu memasuki goa, pria itu langsung membeku. Ia jelas tidak menyangka tempat ini telah lebih dulu ditempati orang lain.

Tatapannya bergantian melihat Sha Nuo dan Gao Rui. Wajahnya seketika dipenuhi kewaspadaan. Dengan sedikit gugup, ia segera menangkupkan kedua tangan.

"Ma... maaf telah mengganggu."

Suaranya terdengar hati-hati.

"Hujan di luar terlalu deras."

Ia menelan ludah sebelum kembali berkata,

"Bolehkah... aku berteduh di sini sampai hujan reda?"

"Aku berjanji, setelah hujan berhenti, aku akan segera pergi."

"..."

Gao Rui memperhatikan pria itu beberapa saat. Ia dapat merasakan bahwa pria tersebut memang seorang pendekar.

Namun kekuatannya tidak tinggi. Paling-paling hanya berada di ranah pendekar tahap pertama.

Tatapannya kemudian jatuh pada luka-luka di tubuh pria itu. Setiap kali angin dingin bertiup membawa percikan hujan ke dalam goa, pria tersebut tampak meringis menahan nyeri.

Rasa iba segera muncul di hati Gao Rui. Ia tersenyum ramah.

"Tentu saja boleh, Senior."

Gao Rui menggeser duduknya sedikit.

"Silakan mendekat ke api unggun. Di sini lebih hangat."

Pria itu tampak sedikit terkejut.

"Benarkah?"

Gao Rui menganggukkan kepala.

"Silakan."

Pria itu membungkukkan badan berkali-kali.

"Terima kasih... terima kasih banyak."

Dengan langkah pelan, ia berjalan mendekati api unggun sebelum duduk dengan hati-hati di sisi yang berlawanan. Tubuhnya masih sedikit gemetar akibat udara dingin.

Melihat keadaan itu, Gao Rui kembali mengusap cincin ruang di jarinya. Kilatan cahaya tipis muncul. Sebuah selimut tebal berpindah ke tangannya.

"Ini."

Gao Rui mengulurkannya.

"Pakailah dulu."

Pria itu menatap selimut tersebut beberapa saat. Tangannya sedikit gemetar saat menerimanya.

"..."

Perlahan, kedua matanya mulai berkaca-kaca.

"Terima kasih..."

Suaranya terdengar serak. Ia segera menyelimuti tubuhnya.

Kehangatan dari selimut serta api unggun perlahan mengusir rasa dingin yang sejak tadi menyelimuti tubuhnya. Beberapa saat kemudian, pria itu kembali menangkupkan kedua tangan.

"Perkenalkan, namaku Sung Wen."

"Aku berasal dari Desa Qinghe."

Gao Rui membalas salam itu dengan senyum hangat.

"Namaku Gao Rui."

"Ini Paman Sha Nuo."

Sha Nuo hanya menganggukkan kepala tipis sebagai balasan.

Melihat wajah Sung Wen yang masih pucat, Gao Rui kembali mengambil sepotong ayam bakar yang masih tersisa. Ia mengulurkannya.

"Silakan dimakan. Kau pasti belum sempat makan malam."

Sung Wen menatap potongan ayam itu dengan mata yang kembali memerah. Bibirnya sedikit bergetar.

"..."

Untuk sesaat, ia bahkan tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya ia menerima ayam tersebut dengan kedua tangan.

"Terima kasih... Tuan Muda."

Sha Nuo yang sedari tadi hanya memperhatikan seluruh kejadian itu tanpa sadar tersenyum tipis.

Di dalam hati, ia menggeleng pelan.

"Bocah ini... benar-benar berbeda sekali dengan Tuan Muda Chang."

Kalau orang yang duduk di sampingnya adalah Boqin Changing, kemungkinan besar hal pertama yang akan dilakukan bukanlah memberikan selimut atau makanan, melainkan menginterogasi orang asing itu terlebih dahulu. Sementara Gao Rui justru lebih dulu memikirkan keadaan orang tersebut.

Sha Nuo tidak mengatakan apa pun mengenai pikirannya. Ia hanya menyandarkan punggungnya ke batu besar sebelum akhirnya memandang Sung Wen.

Tatapannya berubah sedikit lebih serius.

"Baiklah. Apa yang sebenarnya terjadi padamu?"

"Mengapa kau terluka hingga seperti ini?"

Sung Wen terdiam beberapa saat. Tatapannya bergantian memandang Sha Nuo, lalu Gao Rui.

Di matanya, Gao Rui tampak seperti seorang tuan muda dari keluarga bangsawan. Pakaiannya bersih dan berkualitas tinggi, tutur katanya sopan, serta cincin ruang yang dimilikinya jelas bukan barang yang mampu dimiliki orang biasa.

Sementara itu, pria bertubuh tinggi besar yang dipanggil "Paman Sha Nuo" itu terlihat seperti seorang pengawal yang selalu mendampingi sang tuan muda ke mana pun pergi.

Menarik napas panjang, Sung Wen akhirnya membuka mulut.

"Sore tadi... desa kami didatangi kawanan perampok."

Ekspresi Gao Rui langsung berubah serius. Sementara Sha Nuo tetap diam mendengarkan.

Sung Wen melanjutkan dengan suara yang mulai bergetar.

"Mereka datang dalam jumlah besar."

"Mereka membakar beberapa rumah, merampas harta kami, dan mengumpulkan seluruh penduduk desa."

Kedua tangannya tanpa sadar mengepal.

"Kepala desa... memanggilku."

"Ia menyuruhku melarikan diri untuk mencari bantuan ke desa terdekat."

Sung Wen menundukkan kepala.

"Aku berusaha kabur melalui jalan belakang."

"Namun..."

Ia mengusap luka di bahunya sambil meringis.

"Mereka menyadarinya."

"Salah seorang dari mereka berhasil melukaiku."

Ia mengembuskan napas panjang.

"Untungnya aku masih bisa meloloskan diri."

"Kalau tidak..."

Sung Wen tidak melanjutkan kalimatnya. Semua orang sudah mengerti maksudnya.

Gao Rui mengernyit.

"Perampok itu... apakah jumlah mereka banyak?"

Sung Wen langsung mengangguk.

"Lebih dari seratus orang."

"..."

Mata Gao Rui sedikit membesar. Lebih dari seratus orang. Jumlah itu jauh lebih besar daripada kawanan perampok biasa.

Ia kembali bertanya,

"Kalau begitu... apakah Desa Qinghe jauh dari tempat ini?"

Sung Wen menggeleng.

"Tidak terlalu jauh. Kalau berlari, mungkin hanya sekitar satu jam dari sini."

Mendengar jawaban itu, Gao Rui langsung berdiri dari tempat duduknya. Tatapannya dipenuhi tekad.

"Kalau begitu... ayo kita ke sana."

Sung Wen tertegun.

"Eh... apa?"

Gao Rui menatapnya dengan wajah serius.

"Kita harus menyelamatkan penduduk desa."

Sung Wen membeku. Ia sama sekali tidak menyangka pemuda yang baru dikenalnya itu akan mengatakan hal seperti ini tanpa sedikit pun keraguan.

Di sisi lain, alis Sha Nuo perlahan berkerut. Ia melirik ke arah luar goa. Suara hujan deras masih mengguyur pegunungan tanpa menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Angin malam bertiup semakin kencang, sesekali membawa percikan air hujan hingga ke mulut goa.

"Sekarang?"

Sha Nuo menghela napas pelan di dalam hati.

"Di tengah hujan seperti ini?"

Ia mengusap dahinya perlahan.

"Aku baru kembali beberapa hari ke tanah kelahiranku... Kenapa masalah selalu datang silih berganti?"

"Bahkan tanpa kuminta."

Baru saja ia berniat menikmati perjalanan santai bersama Gao Rui. Kini, tanpa diduga, mereka kembali dihadapkan pada urusan lain yang tidak ada hubungannya dengan misi mencari Permaisuri Kekaisaran Zhou.

Sha Nuo hanya bisa mengembuskan napas panjang sambil menatap kobaran api unggun yang mulai bergoyang tertiup angin dari luar goa.

1
mbono keling
👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yayat
bantai jangn kash ampun tujukan pada paman nou rui murid dr boqin
Adek Darmansyah
udh mulai menyebalkan ni authorr...
Nanik S
Bantai semua dan ambil semua Cincin ruang musuh seperti biasanya
Nanik S
Rui... tunjukan pada Paman Nuo, bahwa mampu membantai mereka dan tidak selembut hatinya🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Ridwan Pasirjambu
😍😍😍😍
budiman
satu mawar 🌹
Raju
tiba dilokasi, bertatap muka, mengetahui tingkt kultivasi musuh, di izinkan bertarung seraya mencabut pedang... udah.... slsai....🤣🤣🤣
tariii
jangan remehkan bocil itu, wooooyyyyy.... jangan lihat tampangnya yg polos, dia itu monster kecil yg siap membant*i kalian para perampokk...🤭🤭🤭😂😂😂
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Muantebz
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Makjlebz 🔥🌽
kute
super seru enak alur ceritanya tidak membosankan
alexander
bagus ceritanya rekomen untuk dibaca
y@y@
👍🏻🌟👍🏾🌟👍🏻
y@y@
💥⭐👍🏼⭐💥
y@y@
👍🏿🌟👍🏾🌟👍🏿
y@y@
⭐💥👍🏼💥⭐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!