Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.
Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Tanpa terasa, langit sore telah berganti menjadi malam yang pekat. Kerlip bintang mulai menghiasi langit ibu kota, sementara lampu-lampu taman bernuansa kuning hangat otomatis menyala, menerangi sudut-sudut kediaman Mahendra dengan suasana yang begitu romantis dan menenangkan.
Bi Nita muncul dari arah pintu utama, membungkuk sopan seraya menyampaikan bahwa makan malam sudah siap di ruang makan utama.
Malam ini, meja makan kembali dipenuhi oleh canda tawa. Papa Mahendra dan Mama Bella benar-benar memperlakukan Nadia sebagai anggota keluarga inti, memastikan gadis itu mengambil porsi makanan terbaik dan mendengarkan setiap ketikan kalimat yang ditulis Nadia di buku catatannya dengan penuh perhatian.
Pukul sembilan malam, rangkaian acara makan malam dan kebersamaan keluarga itu pun akhirnya usai. Papa Mahendra meregangkan kedua tangannya sebentar, lalu menoleh ke arah sang putra tunggal yang duduk tenang di sampingnya. Pria paruh baya itu melirik jam tangan mewahnya sebelum berujar dengan nada tegas namun santai.
"Aksa," panggil Papa Mahendra.
Aksa menoleh, mengangkat sebelah alisnya menatap sang papa. "Ya, Pa?"
"Udah malam, kamu pulang sana ke apartemen kamu," usir Papa Mahendra.
"Aksa gak boleh nginep disini?" tanya Aksa, penuh harap.
"Gak boleh," jawab Mama Bella.
"Beneran gak boleh, Ma?" tanya Aksa.
Mama Bella menatap Aksa dengan tatapan tajam yang dibuat-buat, meskipun sudut bibirnya jelas-jelas menahan senyum geli.
"Enak saja mau menginap! Kamu sama Nadia itu belum sah secara agama dan hukum, Aksa. Pamali kalau tidur satu atap terus-terusan sebelum ada ikatan resmi. Lagian, apartemen mewah kamu itu kan hanya berjarak dua puluh menit dari sini. Sana, pulang!" jawab Mama Bella.
Aksa menghela napas pelan, "Iya, Pa, Ma. Aksa pulang," ucap Aksa pasrah, meski pandangannya sempat terarah sekilas ke arah Nadia yang duduk di seberang meja. Gadis itu menunduk malu, menyembunyikan senyuman kecil di balik buku catatan kecilnya.
...###...
Waktu bergulir tanpa ampun. Tanpa terasa, satu bulan penuh telah berlalu dalam sekejap mata. Selama kurun waktu tersebut, kediaman keluarga Mahendra disibukkan oleh berbagai persiapan pernikahan yang digelar secara megah dan tertutup. Hari yang dinanti-nantikan oleh seluruh keluarga besar, serta hari yang paling mendebarkan dalam hidup Nadia, akhirnya tiba juga.
Pagi buta, kamar hotel mewah yang ditempati Nadia, sudah dipenuhi oleh kesibukan luar biasa. Sejak pukul empat pagi, tim perias pengantin profesional dan para penata busana terkenal sudah mulai bekerja.
Nadia duduk di depan meja rias berbingkai ukiran emas, menatap pantulan dirinya sendiri dengan perasaan yang sulit dijabarkan. Wajahnya yang semula pucat dan kerap menyisakan bayang-bayang kesedihan kini tampak begitu bersinar, kulitnya yang bersih dipoles dengan riasan flawless yang menonjolkan keanggunan alaminya, alis yang dibentuk rapi, pulasan perona pipi sewarna mawar muda, serta lipstik merah muda lembut yang mempermanis bibirnya.
Mama Bella berdiri tepat di belakang kursi Nadia, kedua tangannya bertumpu di kedua bahu gadis itu sambil menahan air mata haru yang menggenang di pelupuk matanya.
"Ya Tuhan, Nadia... kamu terlihat seperti bidadari turun dari langit," puji Mama Bella dengan suara bergetar.
Mama Nadia meraih kerudung pengantin berbahan tulle putih yang dihiasi sulaman mutiara halus, lalu menyematkannya dengan sangat hati-hati di atas tatanan rambut Nadia yang disanggul.
Nadia menggunakan kebaya berwarna putih yang tampak begitu mewah, memancarkan pesona yang begitu menakjubkan. Ia mendongak, menatap bayangan Mama Bella dari cermin, lalu meraih buku kecilnya dan menuliskan kalimat penuh rasa terima kasih.
[Terima kasih banyak, Mama... untuk semuanya.]
Mama Bella tersenyum hangat, membungkuk dan mengecup puncak kepala Nadia penuh kasih sayang. "Jangan berterima kasih, sayang. Hari ini adalah hari bahagia kamu, kamu berhak mendapatkan semua ini," jawab Mama Bella.
Sementara itu, di lantai dasar, suasana di ruang tunggu VVIP Grand Ballroom Hotel Bintang Lima Paramarta sudah dipenuhi oleh ketegangan yang elegan. Hotel mewah di pusat ibu kota itu telah disewa penuh untuk satu hari penuh oleh keluarga Mahendra, dekorasi ribuan tangkai white roses dan white hydrangeas mendatangkan nuansa bak negeri dongeng, berpadu dengan lampu crystal chandelier raksasa yang memantulkan cahaya berkilau ke seluruh penjuru ruangan.
Aksa berdiri di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke panorama kota, pria itu mengenakan setelan jas hitam yang melekat sempurna di tubuh atletisnya. Kemeja putih di dalam jasnya mempertegas rahang tegas dan auranya yang mendominasi.
Meskipun dikenal sebagai seorang pria yang dingin terbiasa menghadapi miliarder dan negosiasi bisnis bernilai triliunan tanpa pernah berkedip, hari ini untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tangan Aksa tampak sedikit basah oleh keringat dingin. Jantungnya berdegup tidak beraturan, pikirannya dipenuhi oleh satu bayangan, gadis bisu yang telah mengubah warna di balik kepekatan dunianya.
"Tarik napas, Tuan Muda Aksa. Jangan pasang muka tegang begitu, tamu-tamu penting di luar sana bisa mengira kamu mau pergi berperang, bukan mau menikah," goda Papa Mahendra yang baru saja melangkah mendekat sambil merapikan jasnya sendiri.
Aksa melirik sang papa dengan ekor matanya, namun tidak memberikan bantahan, "Di mana penghulu dan saksi?" tanya Aksa dengan suara beratnya yang serak.
"Semua sudah siap di ruang akad di sisi timur ballroom. Sebentar lagi waktunya," jawab Papa Mahendra sambil menepuk pelan bahu putranya.
"Ingat, Aksa... mulai hari ini, Nadia adalah tanggung jawabmu sepenuhnya. Jaga dia dengan seluruh sisa hidupmu," pesan Papa Mahendra.
Aksa mengangguk pelan, sorot mata hitam pekatnya memancarkan ketegasan yang mutlak. "Tanpa Papa suruh pun, Aksa tidak akan membiarkan Nadia terluka," jawab Aksa.
Beberapa menit kemudian, suara alat musik tradisional mengisi keheningan di ruang akad nikah yang hanya dihadiri oleh keluarga inti dan kerabat terdekat. Meja akad berbahan kayu mahoni berukir dipoles mengkilap, di atasnya terletak mikrofon kecil, dokumen pernikahan, serta kotak cincin berlian.
Aksa duduk dengan punggung tegak di kursi utama dan menatap lurus ke depan dengan raut wajah yang sulit diartikan, pintu ganda bercorak klasik di sisi ruangan perlahan terbuka lebar.
Nadia melangkah masuk perlahan, didampingi oleh Resya. Detik itu juga, seluruh pasang mata yang berada di dalam ruangan tersedot sepenuhnya oleh pesona luar biasa yang terpancar dari diri gadis itu. Kebaya putih panjang berhiaskan ribuan kristal swarovski berkilauan lembut di bawah pendar lampu ballroom, sementara kerudung veil tipis yang menjuntai di belakang menambah kesan anggun bak seorang putri kerajaan.
Aksa mematung di tempatnya, napas pria itu seakan tertahan di tenggorokan dan untuk kesekian kalinya, dunia di sekelilingnya mendadak senyap. Yang tertinggal di dalam retinanya hanya sosok Nadia yang berjalan semakin dekat, menatapnya dengan binar mata bulat yang berkaca-kaca menahan haru.
Nadia tiba di hadapan meja akad. Ia mendudukkan dirinya di kursi yang telah disediakan tepat di samping Aksa. Aroma parfum floral yang lembut menguar dari tubuh gadis itu, berpadu sempurna dengan aroma khas sandalwood milik Aksa.
.
.
.
Bersambung.....
*Seingat Author di Bab sebelum-sebelumnya Author pernah bilang kalau pernikahan Aksa dan Nadia melakukan pemberkatan, itu typo ya. Harusnya akad, Author udah coba cari dan mau perbaiki, tapi gak ketemu atau udah Author perbaiki, tapi lupa🙏🙏🙏🙏