Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Jala Maut di Sepertiga Malam
Malam pertama setelah ritual pengikatan darah itu tidak membawa selembar pun kehangatan ke dalam gudang kayu Sektor Belakang. Di luar sana, langit Planet Akuma-0 seolah runtuh, mengalirkan hujan merkuri yang semakin deras menabrak seng-seng tua hingga mengeluarkan suara berisik yang bising. Ryuken duduk diam bersandar pada tiang kayu yang sudah retak dimakan usia. Kain hitam yang membungkus tubuh kurusnya masih terasa kaku karena noda darah kering sisa pertarungan melawan Ren dan Valen Vorash tadi siang. Remaja empat belas tahun itu mengatur napasnya dengan sangat lambat, membiarkan uap hangat tipis keluar dari mulutnya sebelum langsung lenyap ditelan udara malam yang sedingin es.
Rasa linu yang luar biasa hebat menusuk di setiap persendian tulang kakinya. Gravitasi bumi Akuma yang seratus kali lipat lebih ekstrem terus menekan dadanya, memaksa aliran darahnya bekerja dua kali lebih keras agar tubuhnya tidak hancur. Namun, mata hitam legam milik Ryuken tetap menatap kosong ke kegelapan sudut ruangan. Pikirannya sama sekali tidak ada di tempat ini. Pikirannya terkunci mati pada sebilah ranting kayu pohon Akuma yang tergeletak di atas kedua pahanya yang penuh kapalan kasar. Ranting tua itu tampak rapuh, tapi serat kayunya sudah mengeras sepadat baja karena ratusan malam dihantam merkuri cair.
Di seberang kompleks kuil bawah, di dalam kamar tidur Menara Kuil Tinggi yang megah, pintu kayu tebal dikunci rapat dari dalam. Sayuri melemparkan pakaian tidurnya ke lantai dengan kemarahan batin yang luar biasa hebat. Air mata frustrasinya menetes basah, meratapi status dirinya yang sekarang sudah resmi menjadi milik seorang budak cacat yang paling ia benci di perguruan ini. Tidak ada rasa cinta di dalam ruangan yang hangat itu. Yang ada hanyalah rasa ngeri dan gengsi bangsawan yang hancur lebur berkeping-keping. Sayuri meremas jemarinya yang mendadak dingin kaku, bersumpah tidak akan pernah memaafkan takdir yang menyeret martabat keluarganya masuk ke dalam lubang kehinaan bersama sang anak buangan.
Sementara itu, di dalam ruangan utama Sektor Delapan yang kedap suara, sebuah rencana berdarah yang baru sedang disusun dengan sangat rapi. Cahaya lampu menyala redup, memancarkan aroma oli mesin yang tajam dan mengotori udara. Tetua Kaelen duduk kaku di atas kursi besinya, memandang dingin ke arah Ren yang tubuh kekarnya masih dibalut perban tabib akibat sisa tebasan besi tua Ryuken siang tadi. Di samping mereka, Valen Vorash berdiri tegak dengan sisa komponen baju besinya yang masih mengeluarkan percikan listrik akibat kekalahan yang memalukan di depan umum.
"Kekalahan kalian di atas Altar Baja sudah merusak seluruh perjanjian dagang kita bersama Kekaisaran Vorash!" desis Tetua Kaelen. Suaranya yang berat terdengar bergetar parau memancarkan kepuasan sadis yang tertahan di balik topeng logamnya. "Jurota dan para pendekar veteran menggunakan kemenangan bocah cacat itu untuk mengunci hak penerus takhta di Kuadran Utara. Kita tidak bisa membiarkan benalu kotor peninggalan mendiang Juro Shinto itu tetap bernapas di atas tanah planet ini hingga minggu depan. Meskipun perintah pengusiran sudah dijatuhkan, dia masih memegang ikatan darah pernikahan dengan Sayuri secara sah."
Valen Vorash mengepalkan tangan kanannya yang dibalut sisa lempengan besi, memancarkan cahaya merah yang penuh dengan amarah keserakahan. "Aku menolak membiarkan takdir kekaisaranku dipermalukan oleh seonggok cacing kotor Sektor Belakang, Kaelen!" raung Valen. Suaranya yang berat terdengar aneh karena sistem mesin leher zirahnya yang rusak. "Perjanjian perjodohan paksa Gendo Kuil Tinggi telah mengunci akses perdagangan kristal suci kita! Jika budak itu tidak segera dihapus dari muka bumi, aku sendiri yang akan menggerakkan pasukan luar angkasa untuk membakar habis kompleks perguruan ini tanpa sisa!"
Selir tiri Renka melangkah maju dari balik tirai sutra emas. Mata palsunya berkilat pekat memancarkan aura kelicikan yang luar biasa tajam. Ia melipat kipasnya dengan ketukan yang keras di atas meja batu, menyuntikkan intrik kelicikan politik yang sangat kejam. "Kita tidak perlu memicu perang saudara yang bising bersama barisan pendekar veteran Jurota murni hanya untuk membunuh Ryuken, Utusan Valen," ucap Renka dengan senyum liciknya yang sangat sinis. "Sore tadi, darah Sayuri telah resmi diikat pada darah Ryuken di dalam kuil. Jika kita meluncurkan gerakan penyerangan rahasia malam ini, kita bisa menggunakan tangan sindikat penjahat antar-galaksi, Black-Void, untuk menerobos masuk ke dalam kompleks kuil."
Renka mempererat cengkeraman tangannya, menjabarkan rencana berdarah mereka dengan gerakan tubuh yang sangat dingin. "Kita akan mematikan seluruh sistem gerbang pelindung kuil bawah tanah tepat pada sepertiga malam. Kita kirimkan kode rahasia untuk membuka jalur udara luar. Biarkan seratus pembunuh bayaran Black-Void membantai pasukan pengawal kuil, menjarah seluruh pusaka kristal, dan menyeret Sayuri keluar untuk dijual ke pasar budak luar angkasa. Dengan begitu, Sayuri akan terhapus dari klan, dan Ryuken akan mampus dicabik-cabik sebagai suami tidak berguna yang gagal menjaga istrinya di depan semua orang. Jalur takhta akan kembali kosong, dan Ren bisa naik memegang kendali penuh seumur hidup."
Mendengar rencana konspirasi yang sangat sadis itu, Valen Vorash dan Tetua Kaelen serentak melayangkan senyum kepuasan yang luar biasa kejam. Mereka menyetujui rencana pembantaian tersebut sepenuhnya, membiarkan nafsu keserakahan Sektor Delapan merajut jala maut yang siap melumat habis sisa-sisa nama besar Juro Shinto dalam sekejap mata. Kaelen menekan beberapa tombol di monitor meja komando, mengirimkan sinyal rahasia ke arah kapal perang siluman milik sindikat Black-Void yang sedang bersembunyi di luar atmosfer planet.
Di dalam kegelapan gudang lapuk Sektor Belakang yang bocor ditiup angin badai, Ryuken mendadak membuka sepasang mata hitam legamnya yang setenang kematian. Jantung anehnya tiba-tiba berhenti berdetak total selama beberapa saat, mengirimkan sebaris firasat dingin yang meretas kesunyian ruangan. Ryuken tidak tahu mengenai rencana berdarah yang sedang dirancang Kaelen di menara depan, namun tubuh fisiknya merasakan adanya perubahan aliran udara lokal yang tidak stabil. Tekanan udara di sekeliling gudang kayunya terasa meliuk aneh dan kaku. Ia mempererat cengkeraman tangan kanannya pada gagang ranting kayu pohon Akuma miliknya, bersiap menahan malam pertama pernikahannya yang akan segera berubah menjadi genangan darah murni seutuhnya.