Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Janji darah dengan pion baru
Club Vortex, Pukul 20.40 WIB
Dentum bass yang menghantam dinding Club Vortex getarkan dada siapa pun yang melangkah masuk. Lampu strobo merah-biru menyapu ruangan secara acak, memotong kerumunan liar menjadi serpihan bayangan kacau. Bau alkohol murah, asap rokok tebal, keringat basah, dan aroma anyir darah tua dari selokan kayu menyatu di udara. Ini adalah sarang utama Raven Claw.
Altair Reyn yang dikenal dunia sebagai Altair Aldebaran melangkah menembus keriuhan itu. Jaket kulit hitamnya yang tergores di siku membungkus tubuh tegapnya. Kedua tangannya terbenam santai di dalam saku celana kargo. Tak ada belati terikat di paha, tak ada senjata terselip di pinggang. Namun, cara berjalannya yang tenang menyimpan kewaspadaan tingkat tinggi.
Wajah Altair malam ini terlihat pahatan batu mendatar, namun matanya pekat menyimpan badai. Kelopak matanya menyempit tipis, sementara rahangnya mengeras hingga otot pipinya menonjol kaku. Ada kilat kebencian yang terukur di balik mata hitamnya bukan cermin dari seorang algojo biasa, melainkan sorot mata seorang anak yang datang menagih utang darah.
Di garis waktu lain yang terpatri dalam ingatannya, ia pernah berdiri di tempat ini atas perintah Mr. Daniel untuk menghabisi Albert. Waktu itu, ia berhasil menikam Albert di toilet, namun mayatnya ditemukan hanya dalam hitungan tiga menit. Akibatnya, anak buah Zander menyeretnya ke gudang pelabuhan.
Tujuh hari tujuh malam ia disiksa tanpa henti. Kukunya dicabut paksa dengan tang hingga darah membasahi lantai, tiga tulang rusuknya dihantam palu hingga remuk, dan mukanya babak belur hingga sukar dikenali. Kesalahan berdarah itu tak akan pernah ia ulangi malam ini.
Altair mengambil tempat di sudut bar paling remang. Posisi ini memberinya jarak pandang sempurna ke seluruh penjuru: pintu masuk, tangga VIP lantai dua, dan lorong pelarian belakang. Ia memesan segelas bourbon pada bartender bertato ular. Cairan berwarna amber itu hanya diletakkan di meja sebagai penyamaran agar kehadirannya tak mencolok.
Dua menit berlalu. Pintu belakang baja berderit terbuka. Albert muncul. Kepalanya plontos mengilap memantulkan lampu sorot, tubuhnya kekar berbahu lebar dengan tato burung gagak membentang dari bahu hingga siku lambang hierarki Raven Claw. Empat anak buah mengawalnya dengan jemari yang menempel erat di balik jaket.
Albert terkekeh keras, lalu dengan santai menampar pipi seorang penari wanita yang melintas di dekatnya sekadar untuk bersenang-senang.
Altair menarik napas panjang, memasok paru-parunya dengan udara pengap klub. Saat napas itu diembuskan perlahan, seluruh keraguan di dadanya meluap. Ia bangkit dari kursi bar, melangkah lurus menembus kerumunan. Sorot matanya begitu dingin dan mengancam hingga beberapa pengunjung klub secara refleks mundur memberi jalan.
Anak buah Albert menyadari kehadiran asing itu. Keempatnya bergerak serentak melingkari Albert, tangan mereka sudah meraba gagang pistol.
“Siapa kau?” gertak Albert dengan suara berat bergema.
“Altair Reyn,” jawab Altair. Suaranya datar, tanpa nada tinggi mau pun getaran. Stabil seperti danau membeku. “Aku di sini untuk bicara dengan Zander.”
Tawa meremehkan mendadak pecah dari mulut Albert. “Anjingnya Mr. Daniel tersesat ke sarang ini?” Ia meludah tepat di samping sepatu bot Altair. “Bos tidak terima tamu dari keluarga Andrea’s.”
Wajah Altair tak menunjukkan guncangan sedikit pun. “Sampaikan pada Zander,” ucapnya pelan namun sarat tekanan yang menembus deru musik, “aku datang membayar utang nyawa Reynold Reyn. Dua belas tahun lalu di Dermaga Tujuh Belas, papaku menyelamatkan nyawa Zander dari peluru polisi.”
Tawa Albert terhenti seketika. Sorot matanya berubah liar. Nama Reynold Reyn bukan nama sembarangan di telinga petinggi Raven Claw, pengusaha pelabuhan jujur yang mendadak bangkrut dalam semalam.
“Kau... anaknya?” suara Albert merendah, dipenuhi kecurigaan.
Altair sedikit mengangkat dagunya. “Aku ke sini bukan untuk membunuhmu. Aku di sini untuk menawarkan kepala Mr. Daniel di atas nampan perak untuk Zander.”
Albert menatap Altair selama tiga detik yang terasa membeku, sebelum akhirnya memberi isyarat dengan dua jarinya. “Ikut aku.”
Pintu besi tebal berderit mendesis saat terbuka. Suasana di dalam ruangan sangat kontras, hening, remang, dan mencekam. Di atas kursi tunggal yang menyerupai singgasana, duduklah Zander.
Pria berusia awal tiga puluhan itu bertubuh tegap dengan tato gagak melilit lehernya. Namun hal yang paling mengerikan adalah bekas luka jahitan panjang yang membelah wajahnya dari pelipis kiri hingga rahang. Di tangannya menggantung gelas kristal berisi whisky. Enam anak buah bersenjata laras panjang berdiri tegak di belakangnya.
Setelah Albert membisikkan sesuatu di telinganya, pandangan Zander perlahan terangkat. Matanya menyapu Altair dari kepala hingga ujung kaki dengan tatapan predator yang menilai mangsa.
“Jadi, eksekutor kepercayaan Mr. Daniel masuk ke sarangku untuk bertemu?” Zander terkekeh sinis, tawa kering tanpa humor. “Kau bawa nyawa cadangan berapa?”
Altair berhenti tiga langkah di depan meja kaca tebal. Tangannya tetap berada di dalam saku. “Aku tak bawa nyawa cadangan. Aku membawa kepala Mr. Daniel.”
Zander mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit tajam. “Kenapa aku harus percaya pada anjing suruhan musuhku?”
“Karena aku punya alasan paling sah untuk menggorok lehernya,” sahut Altair. Suaranya rendah, namun kilatan amarah di matanya memancar hebat. Bayangan siksaan tujuh hari dan derita masa lalu melintas kilat di benaknya.
“Papamu... Reynold Reyn,” kata Zander pelan, menunjuk bekas luka di pelipisnya. “Dua belas tahun lalu, aku terkepung polisi di Dermaga Tujuh Belas. Papamu mengendarai truk kontainer dan menabrak barikade polisi hanya untuk memberiku jalan kabur. Padahal dia tak kenal siapa aku. Lalu tak lama, perusahaannya hancur dan dia mati.”
“Papaku tidak mati karena bangkrut!” potong Altair. Kelopak matanya melebar, urat-urat di leher dan pelipisnya menegang hebat. Suaranya bergetar menahan dentum emosi yang tertahan bertahun-tahun. “Orang tuaku dibunuh! Dibuang ke hutan rimba oleh eksekutor lama Mr. Daniel. Ibuku ditemukan tanpa jantung... dan mayat papaku tak pernah ditemukan sampai hari ini!”
Zander mengepalkan tangannya di meja hingga buku-buku jarinya memutih. Nama Mr. Daniel terdesis tajam dari selah giginya.
“Dia mengadopsiku setelahnya,” lanjut Altair, bibirnya mengukir senyum miring yang getir dan mengerikan. “Pura-pura menjadi penyelamat, membesarkanku untuk jadi pisau berdarah dingin yang menghabisi musuh-musuhnya. Dia bahkan menjodohkanku dengan anak angkatnya, Aquilla, agar aku punya rantai leher yang bisa dia tarik kapan saja.”
Zander menatap Altair dalam-dalam, mencari retakan kebohongan di wajah muda itu. “Lalu kenapa tidak kau racuni saja dia saat tidur?”
“Karena mati cepat terlalu indah untuknya,” jawab Altair dingin, tatapannya membeku penuh dendam. “Aku ingin dia hancur perlahan. Aku ingin melihat bisnisnya runtuh, melihat putri kesayangannya menangis, dan merasakannya mati dikhianati oleh pisaunya sendiri.”
Keheningan melingkupi ruangan itu sebelum akhirnya Zander meledakkan tawa lepas. “Gila. Kau sama gilanya dengan papamu.”
“Aku main dua kaki,” tegas Altair tanpa membuang waktu. “Satu kaki untuk Mr. Daniel sebagai eksekutornya—memberinya laporan dan mayat palsu. Satu kaki lagi untukmu kubuka jalan ke bisnis pelabuhannya dan kubawakan kepalanya kepadamu.”
“Apa imbalan yang kau minta?” tanya Zander.
“Pembalasan dendam untuk orang tuaku lunas, dan akses langsung padamu tanpa perantara.”
Zander melirik foto di tangan Albert, lalu menguji Altair. “Kenapa tidak kau bunuh saja Albert malam ini? Bukankah itu tugas utamamu dari Mr. Daniel?”
Tanpa sepatah kata, Altair merogoh sakunya, mengeluarkan lembaran foto Albert pemberian Mr. Daniel. Dengan gerakan tenang, ia menyalakan pemantik api dan membakar foto itu tepat di atas meja kaca hingga menjadi abu.
“Di mata Mr. Daniel, Albert sudah mati malam ini,” ucap Altair dingin. “Dia mengirimku ke sini bukan untuk berhasil, tapi agar aku mati di tanganmu. Kalau aku mati, dia tak rugi. Kalau aku berhasil, dia untung besar. Aku muak jadi pion di papan catur miliknya.”
Zander menyeringai lebar, senyum serigala yang akhirnya menemukan serigala lain. Ia menunjuk Albert dengan dagunya. “Mulai besok, ajari dia aturan Raven Claw. Dia anak buahku sekarang, meski di luar dia tetap berpura-pura jadi anjing Mr. Daniel.”
Albert menunduk patuh. “Siap, Bos.”
Zander mengulurkan tangannya yang bertato gagak ke depan. “Utang nyawa dibayar nyawa, Anak Reynold. Aku terima tawaranmu. Tapi ingat, jika kau mengkhianatiku, akan kukubur kau bersama istrimu.”
Altair menyambut uluran tangan itu. Cengkeramannya kuat, keras, dan tanpa ragu. “Dan jika kau mengkhianatiku, kupastikan Raven Claw akan terbakar menjadi abu bersama keluarga Andrea’s.”