Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yena Dalam Bahaya
Malam kian larut, langit penuh kelam tanpa bulan. Jam menunjukkan pukul 20.30 saat Yena menyetir mobilnya perlahan menuju pulang. Jalan yang ia lalui sepi panjang, hanya sesekali melintas kendaraan lain.
Saat melintasi tikungan sepi di pinggir kota, pandangannya tiba-tiba menangkap sesuatu di tengah jalan. Di sana, di bawah cahaya lampu jalan yang remang, terlihat sosok seseorang tergeletak di aspal bersama motornya yang terbalik. Tubuhnya tak bergerak, seolah tak bernyawa.
Jantung Yena berdegup kencang karena cemas.
" Ya ampun... korban tabrak lari!"
Tanpa berpikir dua kali, Yena langsung menginjak rem, menepikan mobilnya ke pinggir jalan, dan turun dengan langkah cepat. Ia tak memikirkan bahaya—hanya niat tulus untuk menolong.
Yena berlari mendekat ke arah sosok yang terbaring itu.
Namun tepat saat kakinya berhenti tak jauh dari orang itu, tiba-tiba dari belakang punggungnya muncul sosok lain yang menyergap dengan cepat. Sebuah tangan kasar menahan kedua pergelangan tangannya dan memeluk tubuhnya erat dari belakang, membuat Yena tak bisa bergerak sedikit pun.
"LEPASKAN AKU! SIAPA KALIAN?!" teriaknya histeris, berusaha meronta sekuat tenaga.
Dan saat itu, sosok yang tadi terbaring tak bergerak di jalan perlahan bangkit berdiri. Ia merapikan pakaiannya, lalu menatap Yena dengan senyum seram yang membuat darah gadis itu membeku.
"Hehehe... mangsa datang sendiri ke dalam perangkap," ucap pria yang tadi pura-pura terjatuh itu dengan suara serak dan kasar.
Yena menatap keduanya bergantian—tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membasahi punggungnya. Mereka berdua adalah perampok yang sengaja menjebaknya.
"JANGAN BERANI MENYENTUH AKU! LEPASKAN AKU!" teriak Yena sekuat tenaga, suaranya memecah keheningan malam. "TOLONG! TOLONG AKU!"
Namun teriakannya hanya memantul di dinding kegelapan dan hilang tanpa jejak. Jalanan itu terlalu sepi, terlalu jauh dari pemukiman. Tak ada siapa pun yang akan mendengarnya. Tak ada yang akan datang.
Pria yang memegang Yena dari belakang tertawa sinis tepat di telinganya.
"Udah, jangan teriak-teriak. Gak ada yang bakal denger, dan gak ada yang bakal nolong juga. Mendingan kamu nurut, layani kita berdua dengan baik... mungkin kami akan bersikap lembut sama kamu."
Kata-kata itu membuat bulu kuduk Yena meremang ketakutan. Ia meronta lebih keras, menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan kanan, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman yang mencekik itu.
"JANGAN! JANGAN DEKAT-DEKAT! AKU MOHON LEPASKAN AKU!"
Namun bukannya melepaskan, pria di depannya tiba-tiba melangkah maju, mengangkat tangannya, dan menampar pipi Yena dengan keras. PRANG! Suara tamparan itu menggema di udara malam. Setelah itu laki-laki yang sedang memegang tangan yena menjatuhkan yena membuat tubuh Yena terlempar ke samping dan jatuh keras ke aspal yang kasar.
"Aarrghh..." erangnya tertahan, rasa sakit membakar pipinya yang langsung memerah. Saat ia mencoba menahan tubuhnya agar tidak jatuh, lututnya bergesekan dengan aspal hingga tergores dalam—darah segar langsung merembes keluar, membasahi kulit.
Yena meringkuk di atas aspal yang dingin dan kasar, menahan rasa sakit di pipi dan lututnya. Air mata deras mengalir tanpa henti, bercampur dengan rasa takut yang melumpuhkan seluruh tubuhnya. Dua pria itu berdiri tak jauh darinya, menatapnya dengan tatapan serakah dan jahat, perlahan melangkah mendekat.
Tak ada mobil yang lewat. Tak ada pejalan kaki. Tak ada suara siapa pun. Hanya ada dia, dua penjahat itu, dan kegelapan yang seolah menelan segalanya.
"Tuhan..." rintihnya lirih di tengah isak tangis. "Tolong aku... tolong aku... tolong kirim seseorang... siapa pun... tolong datang selamatkan aku..."
Ia memejamkan matanya rapat-rapat, berdoa dengan sepenuh hati, menanti mukjizat yang mungkin takkan pernah datang.
Di tengah keputusasaan yang menyelimuti, tak jauh dari sana, sosok Juvan melaju dengan motornya yang terlihat lesu. Ia baru saja hendak pulang, pikirannya masih kacau balau, hatinya masih terasa perih mengingat pemandangan di toko kue tadi. Namun saat melewati tikungan sepi itu, matanya yang masih merah mendadak menangkap sesuatu di kejauhan—sosok perempuan yang dikerubuti dua pria kasar, suara tangis yang samar, dan pemandangan yang membuat darahnya mendidih seketika.
"Itu... sepertinya ada keributan di depan!" seru Juvan, matanya membelalak ngeri. "Sepertinya perempuan itu sedang dirampok! Aku harus menolongnya!"
Tanpa berpikir dua kali, Juvan langsung memacu motornya mendekat, berniat menolong tanpa tahu siapa perempuan itu. Semangat untuk melindungi mengalahkan rasa sakit di hatinya sendiri. Semakin dekat ia melaju, semakin jelas pemandangan itu—dan saat matanya menangkap mobil yang terparkir di pinggir jalan, mobil yang sangat ia kenal, jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Itu... itu mobil Kak Yena!"
"Kak Yena!" teriaknya nyaring, suaranya memecah keheningan malam. Ia langsung mengerem motornya dengan kasar, melompat turun, dan berlari sekuat tenaga menuju gadis itu.
Namun tepat saat kakinya hendak melangkah lebih jauh, sebuah mobil hitam meluncur cepat dari arah depan dan berhenti mendadak di hadapannya, memblokir jalan. Kaki Juvan terhenti tak berdaya, napasnya tercekat. Pintu mobil terbuka, dan turunlah seorang pria—tubuh tinggi tegap, dada bidang, wajah tampan namun matanya memancarkan amarah yang menggelegar.
Tanpa sepatah kata pun, pria itu melangkah lebar menghampiri kedua preman yang masih berdiri mematung karena kaget. Dalam sekejap, tangan kekarnya bergerak cepat—satu pukulan ke arah rahang preman pertama, lalu siku yang menghantam perut preman kedua. Suara hantaman bergema di udara malam. Tak butuh waktu lama bagi pria itu untuk menghajar mereka berdua hingga babak belur, terkapar di aspal sambil meringis kesakitan.
Pria itu adalah Arga.
Arga menatap kedua preman itu dengan tatapan membunuh, lalu berbalik dan segera berlutut di samping Yena yang masih meringkuk gemetar di tanah.
"Yena! Sayang!" panggilnya lembut namun cemas.
Melihat sosok yang datang menolongnya, Yena seketika bangkit dan berlari kecil menuju pelukan itu, menyandarkan tubuhnya yang gemetar erat di dada Arga sambil menangis histeris.
"Arga! Aku takut... aku sangat takut..." isaknya memeluk pria itu sekuat tenaga.
Arga langsung melingkarkan lengannya yang kuat di tubuh Yena, memeluknya erat seolah tak akan membiarkannya terluka lagi. Ia mengusap punggung Yena berulang kali dengan gerakan menenangkan, senyum tipis namun penuh kepuasan terukir di bibirnya.
"Tenang, sayang... aku di sini. Semuanya sudah selesai. Tak ada yang akan menyakitimu lagi," ucapnya lembut, namun matanya memancarkan kilat dingin saat melihat wajah Yena.
Jari-jarinya menyentuh pipi Yena yang memerah dan bengkak bekas tamparan, lalu beralih ke lutut gadis itu yang berdarah dan penuh luka. Tatapannya berubah tajam dan penuh amarah.
"Pipi kamu kenapa? Apa yang orang-orang itu lakukan padamu?" tanyanya dengan nada yang menggelegar.
Yena menceritakan semuanya di sela-sela isak tangis—mulai dari mereka yang menjebaknya, ancaman yang dilontarkan, hingga tamparan yang mendarat di wajahnya.
Mendengar itu, rahang Arga mengeras, urat-urat di lehernya menonjol. Ia menatap kedua preman yang masih terbaring lemah di tanah dengan tatapan membunuh.
"Sialan... beraninya mereka menyakiti pacarku!" geram Arga penuh ancaman, suaranya terdengar begitu mengintimidasi.
Namun yang aneh—saat itu, Yena sama sekali tidak merasakan rasa takut kepada Arga. Tatapan tajamnya, genggaman tangannya yang kuat, kehadirannya yang begitu dominan... justru membuatnya merasa aman. Perlindungan yang ia berikan begitu nyata, begitu kuat, membuat rasa takut yang tadi melanda perlahan-lahan sirna. Ia merasa nyaman di pelukan pria itu.
Tanpa banyak bicara lagi, Arga dengan lembut namun tegas mengangkat tubuh Yena dan menggendongnya menuju mobil. Ia meletakkannya perlahan di kursi penumpang, memastikan ia duduk dengan nyaman, lalu masuk ke sisi pengemudi dan menyalakan mesin.
Di kejauhan, di balik bayang-bayang pohon yang gelap, Juvan berdiri mematung. Kakinya tak mampu melangkah maju, mulutnya terkatup rapat, dan seluruh dunianya runtuh untuk kedua kalinya hari ini. Matanya menatap lurus ke arah mobil hitam itu—melihat Yena yang memeluk pria itu dengan begitu erat, begitu percaya, begitu penuh rasa aman.
Hatinya terasa disayat ribu pisau, perih yang tak terlukiskan.
"Oh... pasti itu pacarnya Kak Yena," batinnya hancur, air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi pipi.
"Pria yang aku lihat di toko kue tadi... pria yang selalu bersamanya..."
Ia melihat bagaimana pria itu melindunginya dengan kekuatan yang begitu besar, bagaimana Yena bersandar padanya tanpa keraguan sedikit pun. Juvan menyadari sesuatu yang tak bisa ia sangkal lagi—ia, anak laki-laki berusia tujuh belas tahun yang lugu dan belum punya apa-apa ini, tak akan pernah bisa menandingi sosok seperti pria yang bersama yena itu. Tak dalam hal kekuatan, tak dalam hal status, dan tak dalam hal hati Yena.
"Aku... aku benar-benar sudah tak punya kesempatan lagi," batinnya lirih, penuh kepasrahan yang pahit. Dia butuh seseorang yang bisa melindunginya... bukan anak kecil yang lemah sepertiku.
Mobil hitam itu perlahan melaju menjauh, membawa serta wanita yang ia cintai ke dalam pelukan pria yang memang ditakdirkan untuknya. Juvan tetap berdiri di sana, sendirian dalam kegelapan malam, membiarkan angin malam memeluk tubuhnya yang kedinginan, sementara hatinya hancur berkeping-keping—kali ini, benar-benar hancur tanpa ada harapan yang tersisa.
Selamat jalan, Kak Yena... semoga kau selalu aman dan bahagia di sisinya. Dan selamat tinggal... cintaku yang tak sempat terucap.
Di tengah keheningan yang menyelimuti jalanan sepi itu, Juvan masih berdiri mematung memandang ke arah mobil hitam yang perlahan menjauh hingga akhirnya lenyap ditelan kegelapan. Angin malam menerpa wajahnya, namun ia tak merasakan dinginnya—rasa sakit di dadanya jauh lebih menyiksa daripada apa pun. Tapi tiba-tiba ia teringat dengan wajah penjahat itu.
Wajah mereka... ciri-ciri bekas luka di pipi kiri pria yang lebih tinggi,Tanpa keraguan sedikit pun, Juvan mengenali mereka. Mereka adalah dua orang yang sama yang beberapa waktu lalu menghadang dan menghajarnya di jalan,sampai membuat pipinya memar dan bibirnya terluka.
"Mereka... orang yang sama... "batinnya bergetar, namun rasa penasaran itu hanya menyala sekejap sebelum dipadamkan kembali oleh rasa sakit yang mendominasi seluruh jiwanya.
Ia menggeleng pelan, menepis pikiran itu seolah tak penting lagi. Sekarang, apa pun alasannya, siapa pun yang menyuruh mereka—semuanya sudah tak ada artinya. Tak ada gunanya bertanya-tanya, tak ada gunanya menyelidiki. Satu-satunya hal yang terlihat jelas di matanya saat ini hanyalah satu kenyataan pahit yang tak bisa dibantah: " kak Yena sudah punya pelindungnya, dan dia bukan aku."
Pikiran itu menutup segalanya. Ia tak lagi peduli siapa yang mengirim mereka, tak lagi peduli motif di balik semua ini. Seluruh fokusnya tersedot sepenuhnya ke satu titik—rasa sakit yang menghancurkan di dadanya, rasa malu yang membakar dirinya sendiri, dan kesadaran bahwa ia benar-benar tak punya tempat lagi di hidup wanita yang dicintainya itu.
air mata perlahan menetes membasahi pipi yang masih menyisakan bekas luka lama.
"Mungkin dari awal aku hanya sekadar pelipur lara sementara. Dan saat dia kembali aman di pelukan pria yang sebenarnya—aku harus pergi. Menghilang. Seolah tak pernah ada."
Juvan memandang ke arah jalan yang kosong di depannya, Ia menghela napas panjang, napas yang terasa berat dan menyakitkan, seolah setiap tarikan napas membawa serta kepingan hatinya yang hancur. Perlahan ia berbalik, berjalan gontai menuju motornya yang terparkir tak jauh dari sana. Kakinya terasa berat, seolah ada rantai tak kasat mata yang menyeretnya ke bawah.
Sebelum menaiki motornya, ia menatap sekali lagi ke arah kejauhan—ke arah tempat di mana ia melihat Yena berlari ke pelukan pria lain dengan wajah penuh kelegaan dan rasa aman. Pemandangan itu terukir tajam di benaknya, menjadi lukisan terakhir yang akan ia simpan dalam ingatan sebelum ia memutuskan untuk menjauh sepenuhnya.
Juvan menaiki motornya, menyalakan mesin dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia tak lagi menoleh ke belakang. Motornya melaju perlahan, menjauh dari tempat itu—membawa serta seorang remaja yang hatinya baru saja patah dua kali dalam satu hari, dan membiarkan kenangan tentang wanita yang tak bisa dimilikinya perlahan memudar bersama kegelapan malam.