NovelToon NovelToon
Ustadzah Pengganti Pengantin

Ustadzah Pengganti Pengantin

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO / Tamat
Popularitas:21.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Gema doa yang dipimpin oleh Abah baru saja usai seiring berlalunya salat Subuh.

Satu per satu santri mulai bangkit untuk kembali ke asrama atau melanjutkan setoran hafalan.

Di saf pria, Adrian, Ustaz Damar, dan Bryan secara bergantian mencium tangan Abah sebelum berniat melangkah kembali ke Kamar Pengabdian.

Adrian berjalan paling belakang sambil memijat pelan tenggorokannya yang terasa kering setelah mengumandangkan azan tadi.

Baru saja kakinya hendak melewati pintu keluar masjid, sebuah suara lembut menghentikan langkahnya.

"Adrian," panggil Umi yang rupanya sudah menunggu di dekat koridor penghubung ndalem.

Adrian menoleh cepat, lalu menunduk takzim. "Inggih, Umi? Ada apa?"

"Umi mau ke pasar pondok untuk belanja kebutuhan dapur ndalem. Antarkan Umi sekarang, ya?" ucap Umi dengan senyum keibuan yang hangat.

Adrian sempat tertegun. Mengantar ke pasar? Di dunia bisnisnya dulu, ia selalu menggunakan jasa sopir pribadi atau aplikasi daring, namun di sini ia harus menjadi seorang pengantar.

Sebelum Adrian sempat mengangguk, pandangan Umi beralih ke arah Bryan yang berjalan di samping Ustaz Damar.

"Bryan, kamu juga ikut Umi, ya? Kita bawa barang belanjaan yang agak banyak hari ini. Mengingat tangan kanan Adrian masih terluka dan diperban, tidak mungkin dia yang memikul keranjang," lanjut Umi dengan nada penuh pertimbangan.

"Siap, Umi. Saya dengan senang hati membantu," jawab Bryan sigap, langsung mengambil posisi di sebelah kiri Umi dengan sikap tegapnya yang khas.

Adrian melirik Bryan dengan tatapan sedikit tidak rela, namun ia tahu apa yang dikatakan Umi sangat benar.

Dengan tangan yang masih digendong arm sling, ia hanya bisa mengemudikan mobil atau menemani berjalan, tidak akan sanggup membawa barang berat.

Sementara itu, Ustaz Damar yang ditinggal sendirian hanya menatap keberangkatan mereka dengan senyum tipis.

Beliau tahu, ini adalah bagian dari ujian pengabdian yang digagas oleh Abah dan Umi untuk melihat sejauh mana ketulusan hati para pria tersebut.

"Ayo, kita berangkat sekarang sebelum pasarnya terlalu ramai," ajak Umi.

Dengan Umi yang berjalan di depan, diikuti oleh Adrian dan Bryan di belakangnya, mereka bertiga melangkah menuju pelataran parkir, memulai tugas pagi yang akan menguji ego dan kerja sama di antara dua pria yang pernah menjadi atasan dan bawahan tersebut.

Baru saja mesin mobil SUV hitam itu dinyalakan oleh Bryan, terdengar suara ketukan pantofel yang tergesa-gesa dari arah pintu samping ndalem.

"Umi, Fatma ikut!"

Suara kelantang yang sangat familier itu membuat Adrian dan Bryan seketika menoleh serempak ke arah sumber suara.

Di sana, Fatma tampak setengah berlari menuruni anak tangga teras.

Ia sudah mengenakan gamis harian dengan jilbab instan panjang berwarna khimar pastel.

Namun karena terburu-buru dan kain gamisnya yang agak longgar, kaki Fatma sempat tersangkut di anak tangga terakhir.

Tubuhnya limbung ke depan, hampir saja kehilangan keseimbangan dan tersungkur ke atas paving blok halaman.

"Nduk!!" pekik Umi dengan wajah pucat karena terkejut.

Adrian yang berada di kursi kemudi reflex membuka pintu mobil dengan tangan kirinya, bersiap untuk melompat keluar demi menangkap mantan istrinya.

Begitu pula dengan Bryan yang sudah membuka pintu baris belakang dengan sigap, insting proteksinya sebagai pengawal langsung aktif.

Namun, sebelum kedua pria itu sempat menyentuh tanah, Fatma berhasil menguasai keseimbangannya kembali.

Ia bertumpu pada pilar kayu di dekat tempat parkir dengan napas sedikit terengah-engah.

Bukannya menangis atau mengeluh sakit pada lukanya, Fatma justru menutup mulutnya dengan tangan kiri lalu tertawa kecil.

Tatapan matanya yang jernih tampak berbinar jahil, sesuatu yang sudah sangat lama hilang dari wajahnya selama berbulan-bulan didera tekanan batin.

"Hehehe... maaf, Umi. Fatma tidak apa-apa, cuma sedikit kurang konsentrasi," ucap Fatma diselingi sisa tawa kecilnya yang renyah.

Umi mengembuskan napas panjang sembari mengelus dadanya yang naik turun karena kaget.

"Astagfirullahaladzim, Fatma. Kamu ini baru saja sembuh dari rumah sakit, luka di punggungmu itu belum kering benar. Kalau sampai jatuh dan jahitannya robek lagi, bagaimana? Jangan membuat Umi jantungan, Nduk."

Adrian dan Bryan perlahan kembali menarik diri ke posisi masing-masing, namun mata mereka tetap tidak lepas memandangi Fatma.

Bagi Adrian, mendengar tawa kecil Fatma yang begitu lepas adalah sebuah kemewahan yang tak ternilai harganya—suatu hal yang dulu tak pernah bisa ia hadirkan saat masih menjadi suaminya.

Sementara bagi Bryan, senyuman wanita itu adalah bukti bahwa kedamaian pesantren mulai mengembalikan jiwa Fatma yang sesungguhnya.

"Habisnya Umi kalau ke pasar, selalu beli jajanan pasar yang enak. Fatma mau ikut memilih sendiri," rajuk Fatma dengan nada manja kepada ibunya, mengabaikan atmosfer canggung di antara Adrian dan Bryan yang kini sedang memperhatikannya dalam diam dari dalam mobil.

Pintu mobil terbuka, dan aroma harum sisa parfum mobil bercampur udara subuh yang segar langsung menyambut mereka.

Umi masuk terlebih dahulu ke kursi baris kedua, diikuti oleh Fatma yang bergerak hati-hati agar punggungnya tidak bergesekan kasar dengan sandaran kursi.

Di kursi depan, Adrian bertindak sebagai pengemudi dengan tangan kiri yang mengendalikan setir, sementara Bryan duduk tegap di sampingnya, siap siaga.

Begitu mobil mulai melaju perlahan meninggalkan gerbang pesantren, suasana canggung sempat menyelimuti kabin. Namun, keceriaan Fatma pagi itu seolah menjadi pencair suasana yang paling ampuh.

"Umi, nanti di pasar Fatma mau beli lupis, pastel, sama martabak ya, Umi," celetuk Fatma dengan mata berbinar, menghadap ke arah ibunya.

"Sudah lama sekali rasanya tidak makan lupis pasar yang gulanya kental."

Umi tersenyum lembut, mengelus punggung tangan putrinya.

"Iya, Nduk. Nanti kita cari mbah penjual lupis yang di dekat gerbang barat. Kamu harus makan yang banyak supaya pipimu tidak sepadat kemarin."

"Terus nanti siang Umi masak sayur asem, ya? Segar sepertinya kalau makan sayur asem pakai ikan bakar yang semalam masih ada," lanjut Fatma, menyandarkan kepalanya di bahu Umi dengan manja.

Mendengar celotehan Fatma tentang makanan khas kesukaannya, Adrian yang sedang fokus menyetir hanya bisa tersenyum tipis melalui spion tengah.

Jantungnya menghangat. Dulu, saat masih hidup bersama dalam kemewahan, ia jarang memperhatikan keinginan-keinginan sederhana Fatma seperti ini.

Ia selalu membelikan makanan mahal yang belum tentu membuat wanita itu bahagia.

Bryan yang duduk di samping Adrian pun diam-diam mencatat setiap detail ucapan Fatma dalam ingatannya—lupis, pastel, martabak, dan sayur asem.

Sebagai pria yang juga menaruh harapan, Bryan tahu bahwa jalan menuju hati Fatma bukan lagi tentang kemewahan, melainkan tentang bagaimana memahami kesederhanaan hidup yang dicintai wanita itu.

Mobil itu terus membelah jalanan subuh yang mulai berkabut, membawa empat orang dengan sejuta rasa di dalam hati mereka menuju ramainya pasar tradisional.

1
Soviani
masih adakah lanjutannya
Umi Maryam
ko ada ya org yg ga punya adab dan ga waras otak nya ,sama2 korban di selingkuhin pasangan nya ,kasian fatma nya ,adrian kaya orang ga punya iman aja ....
sri hastuti
kok ya ternyata ustad damar spt itu, kl nikah sm fatma blm tentu sayang itu, bisa keluar arogannya 🙏🤭🤭
Rizki Lestari
jadi males bacanya
Rizki Lestari
sakit jiwa si Adrian mh,,
ahs@
luar biasa kelakuan seorang yang notabene "ustadz" Damar yang ingin menjatuhkan Adrian....bersaing dengan cara kotor untung menjatuhkan Adrian... memalukan sekali dengan gelar yang di sandangmu ustadz Damar.... wkwkwk 🤭
Emi Sudiarni
awl yg menarik
ahs@
sakit jiwa,c adrian....
ahs@
Adrian stress... melampiaskan kekesalannya kepada fatma yang tidak tahu apa" .Liana sendiri yang selingkuh dengan Jamie..
falea sezi
mau like kasih hadiah yo males
falea sezi
🤣🤣 uda di aniyaya tp di beri kesempatan 🤣🤣 maaf ya thor. pantes like sepi wong goblok
falea sezi
males MC nya oon skip aja😒 emosi q liat cwek bloon lulusan pesantren tp goblok
falea sezi
goblok klo. uda. ketauan belangnya jangan ampe balikan mending crrai😒
falea sezi
🤣 orang gila cari tau dlu calon istri mu yg gatel nyalahin orang😒
Soviani
lanjut up ny
sri hastuti
huuhh goblok banget sih fatma ini, mau mati ya, sdh bongkar aja kejahatan suamimu, bikin jengkel, jd wanita jangan ngalah terus, km gak salah, ayolah thor kelamaan, cepet dibongkar kejahatan Adrian 😡😡😡
sri hastuti
huuh pengen tak bunuh aja adrian thor, bikin jengkel aja, kelamaan thor ,bisa mati itu fàtma, 😡😡😡😡
sri hastuti
pie to ini,sdh gila si adrian,ah jd males aku, orang kok goblok dan kejam spt itu dibiarkan thor , huuhhh bikin 😡😡😡
keynara
si Adrian emang bener bener udah gila nyiksa Fatma tanpa ampun
Himna Mohamad
lanjut kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!