Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.
Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.
Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 Bangga
Zivanna berdiri dari tempat duduknya dan akhirnya meninggalkan meja makan tersebut tanpa menghabiskan makanannya.
"Zivanna kamu mau ke mana?"
"Makanan kamu belum habis, Zivanna!" Sekar bahkan sejak tadi memanggilnya dan diabaikan oleh Zivanna membuat Sekar menghela nafas.
"Dikta. Papa minta maaf atas kejadian ini. Zivanna masih sangat labil dengan usianya yang masih terbilang mudah, mungkin mengalami banyak tekanan dalam dunia pekerjaan membuatnya belakangan ini suka marah-marah dan bahkan tidak menghargai kamu sebagai suaminya. Papa akan bicara dengannya agar bisa perlahan menenangkan diri dan tidak melakukan segala sesuatu hanya dengan emosi," ucap Andra.
"Papa tidak perlu mengatakan apapun kepada Zivanna, semakin ditegur dia akan semakin merasa dianggap salah, masalah juga akan semakin besar dan bahkan tidak ada selesainya," ucap Dikta.
"Lalu bagaimana dengan keputusan Zivanna? Apa kita akan mengizinkannya untuk mengambil Dokter spesialis secepat itu?" tanya Sekar memang tidak memiliki keyakinan pada putrinya jika mampu melakukannya.
"Saya rasa biarkan saja dia ingin mengambil spesialis, Zivanna sudah dewasa dan perlahan akan mengerti apakah yang diambil mampu dia lakukan atau tidak, jika terus dilarang dan menunjukkan keraguan kepadanya, dia akan terus merasa terasingkan dan merasa tidak berguna, dalam keadaan seperti ini dengan usianya yang masih labil akan membuatnya lebih sering sensitif, tekanan yang didapatkan bisa merusak mentalnya dan lebih baik memberi dukungan atas apapun yang dia lakukan," jawab Dikta.
"Kamu memang paling bisa memahami bagaimana Zivanna. Papa hanya mengikut saja pada keputusan kamu. Kamu berada di rumah sakit yang otomatis kamu akan selalu menjaga Zivanna, memantau dan bisa melindunginya. Kami sebagai orang tua Pasti lega dan menyerahkan semua kepada kamu," sahut Andra ternyata keputusan yang mereka ambil hanya berdasarkan keputusan Dikta.
Dikta di depan Zivanna mungkin seperti orang yang tidak pernah mendukungnya dalam hal apapun dan siapa sangka di belakangnya, Dikta yang justru menahan orang tuanya untuk tidak terlalu menekan Zivanna dan menyetujui keinginan Zivanna.
Mungkin Dikta gengsi harus memberikan persetujuan dan dukungan kepada istrinya.
*******
Zivanna seperti biasa kunjungan ke ruang rawat pasien. Kunjungannya di rumah sakit sendiri juga bahkan dibatasi karena kemampuannya yang selalu dianggap kurang.
Zivanna memeriksa pasien anak laki-laki yang mengalami kecelakaan dengan kepalanya dipenuhi dengan perban yang lilit sehingga kepala itu terbungkus perban.
"Siapa nama kamu?" tanya Zivanna terlihat begitu ramah pada bocah laki-laki yang sudah sadar itu.
"Rain," jawabnya.
"Namanya sangat indah sekali. Pasti kedua orang tua kamu menyukai hujan," ucap Zivanna.
Seorang wanita paruh baya terlihat memotong buah yang duduk di sofa.
"Tidak tahu. Rain tidak punya orang tua dan selama ini tinggal dengan Nenek," jawabnya.
Hati Zivanna tersentuh mendengar pernyataan itu membuat senyumnya hilang dan melihat ke arah wanita yang sudah tua itu sekitar berusia 70 tahun, tetapi harus bolak-balik ke rumah sakit karena cucunya yang kecelakaan.
"Dokter namanya siapa?" tanya Rain.
"Zivanna," jawab Zivanna.
"Dokter Zivanna cantik sekali," pujinya membuat Zivanna tersenyum.
"Rain sudah lama berada di rumah sakit dan tidak pernah melihat Dokter," ucap Rain dengan suara mendayu.
"Ini memang baru pertama kali Dokter masuk ke ruangan kamu," jawab Zivanna.
"Lalu kapan Rain akan pulang?" tanyanya sepertinya sudah tidak sabaran untuk meninggalkan rumah sakit.
"Jika kamu cepat sembuh dan rajin minum obat, maka akan segera diberi izin untuk pulang," jawab Zivanna.
"Rain sudah lelah meminum obat terlalu banyak, tetapi tetap saja tidak pulang," jawabnya dengan kesal.
Zivanna hanya tersenyum mendengar keluhan dari anak kecil itu.
"Dokter suntik ya...." Zivanna sudah mengeluarkan suntiknya Rain sama sekali tidak takut.
"Biar saya saja yang melakukannya?" Zivanna tiba-tiba tidak jadi melakukan hal itu ketika mendengar suara wanita yang tidak asing membuatnya menoleh ke arah pintu.
Rania datang bersama dengan Dikta. Memang sepengetahuan Zivanna pasien anak kecil itu adalah pasien Rania.
"Rain, maaf ya Dokter terlambat, sekarang biar Dokter yang menyuntikkan kamu, daripada terjadi kesalahan yang membuat kamu tidak lekas sembuh," ucap Rania dengan tersenyum bahkan mengambil suntikan itu dari tangan Zivanna.
"Geserlah Zivanna, aku kesulitan untuk memberi vitamin pada pasien," ucap Rania.
Zivanna menghela nafas dan kemudian bergeser, sementara terlihat Dikta memeriksa kondisi yang lain.
"Tidak mau!" Rain tiba-tiba menjauhkan tangannya ketika jarum suntik itu hampir menyentuh kulitnya.
"Kenapa sayang?" tanya Rania cukup heran karena selama ini dia yang menangani pasien tersebut.
"Rain, ayo. Nak, kamu harus segera disuntik vitamin agar cepat pulang," wanita paruh baya itu langsung berdiri ketika kedua Dokter memasuki ruangan.
"Tidak mau. Rain maunya disuntik Dokter Zivanna," jawabnya.
Rania terdiam dan langsung melihat Zivanna, sementara Zivanna cukup kaget dengan permintaan anak kecil tersebut yang menginginkan dia yang melakukannya dan padahal selama ini pasien banyak takut padanya.
"Rain, jika ingin sembuh. Maka, Dokter yang akan melakukannya kepada kamu," sahut Rania.
"Memangnya Dokter tuhan. Rain tetap tidak mau dan hanya mau dipegang oleh Dokter Zivanna," jawabnya dengan keras kepala.
Rania terdiam sepertinya sekarang tidak bisa membujuk anak kecil tersebut.
"Lakukanlah!" titah Dikta memberi perintah pada Zivanna.
"Hah!" Zivanna cukup kebingungan tetapi akhirnya Rania memberikan suntikan itu kepada Zivanna dan dengan terpaksa Rania harus bergeser dari posisinya dan diambil kembali Zivanna, tanpa ragu Rain mengulurkan tangannya tahu di mana letak dia akan disuntik oleh dokter cantik itu.
"Dokter mulai ya," ucap Zivanna dengan sangat lembut membuat Rain menganggukkan kepala.
"Bismillah," Zivanna melakukannya tidak lupa mengawali dengan bismillah dan akhirnya jarum suntik itu menusuk lengan bocah yang terlihat begitu santai dan tampak tenang dengan ekspresi biasa saja sampai akhirnya vitamin itu masuk ke dalam tubuhnya.
"Seperti semut kecil yang nakal menggigit lengan Rain, tetapi rasanya tidak terlalu sakit dan berbeda selama ini seperti serangga besar yang menggigitnya," Rain memberi komentar dan ternyata membandingkan suntikan Zivanna dengan Rania. Zivanna menyuntik dengan penuh kelembutan membuat pasien merasa senang dan berbeda dengan Rania.
Wajah Rania terlihat begitu kesal dan seolah-olah dipermalukan di depan Dikta, bagaimana untuk kali ini dia tidak berhasil memikat hati pasien dan justru selama ini pasien tersebut tidak nyaman.
"Dokter tampan, besok-besok datang bersama do Dokter Zivanna saja. Rain pasti cepat sembuh jika dirawat oleh Dokter Zivanna," ucap Rain.
"Benarkah?" tanya Dikta membuat Rain mengangguk-anggukkan kepala.
"Rain kesembuhan itu bukan berdasarkan siapa yang datang mengunjungi, tetapi keinginan pasien yang harus rajin meminum obat agar secepatnya sembuh," ucap Dikta.
"Baiklah Dokter," sahut Rain.
Zivanna tersenyum dan entah mengapa ada kebanggaan bagi dirinya sendiri karena telah melakukan pasien yang ternyata sangat menyukai dirinya.
****
"Serius, yang bernama Rain itu tersenyum dan mengatakan bahwa dia menyukai kamu dan ingin kamu yang merawatnya?" tanya Sherina terlihat begitu excited mendengarkan cerita teman yang sejak tadi mengeluarkan senyum.
"Benar, aku juga tidak menyangka jika dia memberikan respon yang positif seperti itu dan kamu tahu tidak dia justru mengatakan semua itu di depan Dokter kedua senior yang selalu menguasai rumah sakit ini," jawab Zivanna terdengar begitu sewa dan pasti Sherina sudah tahu siapa yang dimaksud oleh temannya itu.
"Wau, kamu keren sekali dan aku yakin kamu memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu," ucap Sherina.
"Hmmmmm, bocah laki-laki itu bukankah korban kecelakaan?" tanya Zivanna.
"Benar, anak itu mengalami kecelakaan tabrak lari saat pulang sekolah menggunakan sepedanya," jawab Sherina.
"Aku sudah melihat kondisinya baik-baik saja dan kenapa dia belum pulang?" tanya Zivanna.
"Secara fisik mungkin terlihat baik-baik saja, tetapi setelah dilakukan pemeriksaan ulang benturan di kepalanya juga parah membuat pasien mengalami permasalahan pada otaknya. Entahlah belum ada hasil lab yang jelas yang aku dengarkan, karena dokter Dikta masih melakukan pemeriksaan berkali-kali terhadap pasien tersebut," jelas Sherina.
"Begitu," sahut Zivanna.
Bersambung......