Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.
Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Begitu mereka bertiga kembali dari warung makan, pria yang menemani Arin berpamitan dan langsung beranjak pulang. Setelah memastikan pria itu pergi dan Zayyan melangkah masuk ke dalam kamar mes terlebih dahulu, Arin berniat menyusul langkah putranya.
Namun baru saja ia memegang gagang pintu, bulu kuduk Arin mendadak meremang. Nalurinya mengatakan ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasi gerak-geriknya dari kegelapan lorong mes yang remang-remang.
Arin membalikkan badan dengan cepat. Benar saja, dugaannya sama sekali tidak meleset. Beberapa meter dari tempatnya berdiri, sosok Regan tampak melangkah keluar dari balik bayangan tiang semen. Pria itu menatapnya lurus-lurus dengan pandangan yang sulit diartikan.
Arin mengembuskan napas pendek, enggan ambil pusing atau memedulikan kehadiran pria itu lagi. Ia menganggap Regan tak lebih dari sekadar angin lalu. Arin kembali memutar tubuhnya, berniat cepat-cepat masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Set!
Sebelum jemarinya sempat mendorong pintu, sebuah cengkeraman kuat dan dingin mendadak mencekal pergelangan tangannya dari belakang.
"Lepasin!" desis Arin tajam, berbalik dengan tatapan menghunus.
"Mau kamu apa lagi sih, Regan?!"
"Aku mau bicara. Ikut aku sekarang," ucap Regan dengan nada suara yang rendah, namun sarat akan penekanan yang mutlak.
"Nggak mau! Lepas, Regan! Sakit!" Arin memberontak sekuat tenaga, mencoba melepaskan pergelangan tangannya yang terkunci rapat oleh jemari kokoh pria itu.
Bukannya melepaskan, Regan justru menarik tubuh Arin dengan paksa, menyeretnya menjauh dari area pintu kamar menuju ke sudut belakang mes yang gelap, sepi, dan tertutup oleh rimbunnya tanaman liar. Beruntung Zayyan sudah berada di dalam kamar dan tidak melihat keributan ini.
Begitu sampai di sudut yang terisolasi itu, Regan langsung memutar tubuh Arin hingga menghadapnya. Kobaran amarah dan kecemburuan yang sejak tadi ia tahan di dalam mobil kini meledak sepenuhnya.
"Siapa laki-laki tadi, Rin?!" tuntut Regan dengan napas yang memburu. Wajahnya mengeras, menatap Arin dengan sorot mata menuntut penjelasan.
"Bisa-bisanya kamu ketawa selembut itu sama laki-laki lain, sedangkan sama aku kamu selalu pasang muka tembok?! Siapa dia bagi kamu dan Zayyan, hah?!"
Arin menatap Regan dengan pandangan tidak percaya. Alih-alih takut, dada Arin justru ikut bergemuruh hebat mendengar amarah pria egois di depannya. Ia sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan konyol itu. Arin memilih bungkam rapat-rapat, memalingkan wajahnya dengan angkuh.
"Jawab, Arin!" bentak Regan tertahan, mencengkeram kedua bahu wanita itu.
"Nggak penting buat aku jawab!" sahut Arin ketus. Ia menepis kasar tangan Regan dari bahunya, lalu bersiap untuk melangkah pergi meninggalkan tempat sepi itu.
Namun, gerakan Arin kembali dipatahkan. Regan yang sudah sepenuhnya dikuasai oleh rasa frustrasi, cemburu, dan kerinduan yang memuncak, langsung menahan tubuh Arin. Dengan satu sentakan kasar namun terukur, ia mendorong tubuh wanita itu hingga punggung Arin membentur dinding semen di belakang mereka.
Dug!
Sebelum Arin sempat memprotes atau memaki, Regan sudah mengunci pergerakannya. Kedua telapak tangan Regan bertumpu kokoh di dinding, tepat di sisi kanan dan kiri kepala Arin, menutup seluruh celah untuk melarikan diri.
"Regan, kamu gila...."
Kalimat Arin terputus di udara. Regan mencondongkan tubuhnya ke depan dan langsung membungkam bibir ranum itu dengan ciuman yang menuntut.
Ciuman itu datang dengan begitu tiba-tiba, kasar karena dorongan amarah, namun di saat yang sama terasa begitu rapuh karena menyalurkan rasa rindu yang teramat sangat yang telah Regan pendam selama sembilan tahun lamanya. Arin terbelalak sempurna, tangannya langsung memukul-mukul dada tegap Regan demi meminta pelepasan, namun pria itu justru semakin memperdalam ciumannya.
......................
Arin memukul dada tegap Regan dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Ia meronta, mencoba memalingkan wajah, tetapi rengkuhan Regan pada tubuhnya terlampau erat. Pria itu mengunci pinggangnya dengan satu tangan besar, sementara tangan lainnya menangkup rahang Arin, memperdalam ciuman yang dipenuhi keputusasaan dan rasa cemburu yang membakar.
Sentuhan yang teramat familier itu perlahan mengirimkan sengatan yang menyakitkan sekaligus memabukkan ke seluruh saraf Arin. Air mata Arin mendadak menetes, membasahi pipinya yang memanas. Rasa perih akibat pengkhianatan masa lalu, kesulitan yang ia pikul sendirian selama sembilan tahun, dan kenyataan bahwa pria ini kembali hadir untuk mengacaukan hidupnya, melebur menjadi satu.
Menyadari ada tetesan air mata yang membasahi sela-sela pagutan mereka, perlahan ciuman menuntut dari Regan melunak. Ciuman itu berubah menjadi sebuah kecupan lembut yang sarat akan permohonan maaf dan kerinduan yang teramat dalam, sebelum akhirnya Regan menjauhkan bilah bibirnya.
Napas keduanya memburu di antara jarak yang hanya tersisa beberapa senti.
Regan tidak melepaskan kunciannya. Ia menyandarkan keningnya pada kening Arin yang masih terengah-engah, ikut memejamkan mata dengan dada yang naik turun tidak beraturan.
"Rin..." bisik Regan, suaranya terdengar serak dan begitu rapuh. "Tolong... jangan siksa aku kayak gini. Aku bisa gila kalau lihat kamu sama laki-laki lain."
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat telak di pipi kanan Regan. Hantaman tangan Arin begitu kuat hingga membuat wajah pria itu terenggang ke samping.
Arin mendorong dada Regan sekuat tenaga hingga cengkeraman pria itu terlepas. Wanita itu berdiri dengan tubuh bergetar hebat karena amarah dan penghinaan yang baru saja diterimanya. Ia menyeka bibirnya dengan punggung tangan dengan kasar, menatap Regan dengan sorot mata yang dipenuhi kebencian terdalam.
"Kamu bajingan, Regan!" desis Arin dengan suara bergetar menahan tangis agar tidak pecah di tempat sepi itu.
"Hak apa yang kamu punya sampai berani sekasar ini sama aku? Kamu pikir aku ini apa, hah?!"
Regan memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut. Ia menatap Arin dengan tatapan penuh penyesalan. "Rin, aku minta maaf... Aku cuma cemburu, aku gak tahan..."
"Cemburu?" Arin tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar sangat menyedihkan di telinga Regan. Air matanya mengalir semakin deras.
"Kamu cemburu sebagai apa? Status kita udah mati sembilan tahun lalu, Regan! Kamu yang buat aku pergi, kamu yang buat aku harus berjuang sendirian di saat aku gak punya siapa-siapa lagi di dunia ini!"
Arin maju satu langkah, menunjuk dada Regan dengan jari telunjuknya yang gemetar. "Siapa pun laki-laki yang jalan sama aku, siapa pun yang dekat sama Zayyan, itu bukan urusan kamu lagi! Bahkan kalau aku mau menikah lagi sama dia besok, kamu gak punya hak sedikit pun buat melarang aku!"
Mendengar kata menikah lagi keluar dari bibir Arin, jantung Regan rasanya seperti berhenti berdetak. Kenyataan itu menghantam logikanya dengan keras.
"Sekali lagi kamu berani sentuh aku atau muncul di depan anakku..." Arin menatap Regan lurus-lurus dengan tatapan paling dingin yang pernah Regan lihat seumur hidupnya.
"...aku bersumpah, Regan, aku bakal bawa Zayyan pergi jauh dari kota ini, ke tempat yang gak akan pernah bisa kamu temukan lagi sampai kamu mati."
Setelah mengucapkan kalimat ancaman yang mutlak itu, Arin berbalik dan melangkah cepat meninggalkan sudut mes yang gelap, tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.
Regan hanya bisa berdiri terpaku di bawah temaram cahaya bulan. Tangannya perlahan turun dari pipinya, jatuh lunglai. Dadanya terasa begitu lapang oleh kehampaan, menyadari bahwa ego dan kecemburuannya malam ini justru semakin mendorong Arin masuk ke dalam jurang yang menjauh darinya.