NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Yang Terluka

Istri Pengganti Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.

​Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!

​"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.

​Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.

​Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!

Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Malam telah larut sepenuhnya di belahan utara kota. Langit di luar dinding kaca kediaman mewah keluarga Oliver tampak sehitam legam, tanpa ada satu pun bintang yang berani menembus pekatnya awan.

Di dalam kamar pengantin yang luas dan megah, keheningan terasa begitu tebal dan menekan. Hanya ada suara desau halus dari sistem pendingin ruangan terpusat yang sesekali memecah kesunyian, menyebarkan hawa dingin yang membekukan marmer lantai.

Hilmira Hazelya duduk di tepi ranjang king size bernuansa abu-abu perak.

Ia masih mengenakan pakaian kuliahnya yang utuh, gamis khaki pastel dengan khimar hitam panjang yang menjuntai. Cadar sifon hitamnya belum ia lepas.

Wanita itu duduk membungkuk, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. Bahu sempitnya bergetar hebat. Isak tangis yang tertahan terdengar begitu lirih, menyayat hati, dan sarat akan keputusasaan yang mendalam.

Setiap jengkal ingatan tentang pertengkaran di ruang kuliah pagi tadi kembali berputar otomatis di pelupuk matanya, disusul oleh tatapan-tatapan penuh intimidasi dari Arkan sepanjang hari di kampus.

"Siapa aku di hidupmu, Kak Arkan ?" jerit batin Hilmira di sela-sela tangisnya.

Rasa sesak yang teramat pekat mencekik lehernya. Ia merasa seperti burung di dalam sangkar emas yang dikunci rapat-rapat dari segala arah. Di satu sisi, Arkan menuntutnya untuk berpura-pura asing dan menjaga jarak sejauh mungkin demi reputasi dan rahasia kontrak Satu Semester.

Namun di sisi lain, pria itu mengekangnya dengan begitu kejam, melarangnya memiliki teman, membuang hadiahnya, dan memelototinya setiap kali ada pria lain yang sekadar menyapanya.

Semua kekangan itu dilakukan tanpa status yang jelas. Arkan bertindak seolah ia adalah pemilik mutlak atas hidup dan tubuh Hilmira, namun di saat yang sama, bayang-bayang kebencian Arkan di malam pertama pernikahan mereka, saat pria itu mencacinya sebagai wanita penipu yang tidak lagi suci, masih melekat kuat di dinding ingatan Hilmira bagai tato berdarah.

Hubungan tanpa dasar ini menyiksanya, menguliti habis sisa-sisa harga diri yang ia miliki sebagai seorang wanita.

Cklek.

Suara mekanisme kunci pintu kamar yang terbuka memecah keheningan malam dengan bunyi klik yang renyah.

Hilmira tersentak kecil. Dalam kepanikan instingtifnya, ia buru-buru menghapus sisa air mata di sudut netranya melalui balik kain cadar hitam, mencoba menegakkan tubuhnya agar tidak terlihat lemah.

Sesosok pria bertubuh tinggi tegap setinggi 185 sentimeter melangkah masuk ke dalam kamar.

Arkan Oliver.

Pria itu baru saja kembali dari ruang kerja privatnya. Jas kasual hitamnya sudah ia tanggalkan, menyisakan kemeja rajut putih bersih yang melekat pas pada dada bidang dan bahu kokohnya, dengan dua kancing atas yang sengaja dibiarkan terbuka.

Rambut hitamnya tampak sedikit berantakan karena terus-menerus disugar dengan jari. Jam tangan perak di pergelangan tangan kirinya berkilau temaram di bawah lampu dinding kristal.

Langkah kaki Arkan yang berat dan berwibawa mendadak terhenti di tengah ruangan.

Sepasang mata elangnya yang tajam langsung mengunci sosok Hilmira yang duduk di tepi ranjang. Meskipun Hilmira berusaha bersikap tegap, Arkan bukanlah pria bodoh yang bisa dikelabui dengan mudah.

Ia melihat dengan sangat jelas bagaimana khimar hitam di bahu Hilmira masih bergetar samar, dan yang paling membuat dadanya terasa dihantam palu godam adalah sepasang mata bulat istrinya yang terbingkai kain hitam itu tampak memerah, sembab, dan basah oleh genangan air mata baru.

"Dia menangis lagi. Karena perbuatanku."

DEG.

Jantung Arkan seolah berhenti berdetak di detik itu juga. Seluruh keangkuhan dan ego maskulin seorang pewaris tunggal Oliver Group yang ia agungkan sepanjang hari di kampus mendadak runtuh tanpa sisa.

Rasa bersalah yang teramat pekat, rasa bersalah yang sama seperti malam saat ia membaca dokumen investigasi ayahnya, kembali merayap naik, mencekik tenggorokannya hingga ia merasa kesulitan untuk sekadar menghirup oksigen di dalam kamar luas ini.

Arkan meletakkan tablet digitalnya di atas meja marmer dengan gerakan yang sangat pelan, hampir tanpa suara. Wajah tampannya yang biasa sedingin es pahatan kini tampak retak oleh kabut kepedihan dan penyesalan yang amat dalam.

Dengan langkah kaki yang sengaja diperlambat agar tidak mengejutkan Hilmira, Arkan berjalan mendekat. Setiap ketukan langkahnya terasa begitu berat oleh beban dosa emosional yang ia pikul. Begitu ia tiba di hadapan Hilmira, Arkan tidak mengambil posisi berdiri yang mengintimidasi.

Pria itu menurunkan tubuh tegapnya. Arkan berlutut dengan satu kaki di atas lantai marmer yang dingin, tepat di depan Hilmira yang duduk di atas ranjang. Sebuah gestur ketundukan mutlak khas cold CEO drama Korea yang siap menyerahkan seluruh sisa harga dirinya demi menebus air mata wanita yang dicintainya.

Aroma parfum maskulin yang mewah bercampur kesegaran mint dari tubuh Arkan langsung mengepung seluruh indra penciuman Hilmira, membuat wanita itu refleks meremas seprai kasur di bawah jemarinya.

"Mira..."

Suara bariton Arkan keluar dalam nada yang sangat rendah, berat, parau, dan bergetar hebat. Tidak ada lagi otoritas mutlak atau nada ketus yang ia gunakan di ruang kuliah tadi pagi. Yang tersisa hanyalah keputusasaan seorang pria yang jiwanya sedang di ujung tanduk.

Arkan mengulurkan tangan kanannya yang kekar. Jemarinya yang kokoh bergerak dengan sangat lambat, ragu-ragu, dan penuh kehati-hatian, hingga akhirnya ia menempelkan telapak tangannya di atas marmer tempat kaki Hilmira berada, tetap menjaga jarak aman tanpa berani menyentuh kulit atau kain baju Hilmira secara langsung, karena ia teramat takut akan memicu serangan panik traumatis istrinya.

"Maafkan aku..." bisik Arkan, matanya yang setajam elang kini meredup sepenuhnya, menatap lurus ke dalam netra bulat Hilmira yang berair. "Maafkan keegoisanku pagi tadi. Aku... aku membuang kado itu bukan karena aku menganggapmu remeh. Aku melakukannya karena..."

Arkan menjeda kalimatnya, tenggorokannya terasa tersumbat oleh ego prianya yang masih bergejolak hebat di dalam dada. Ia mengepalkan tangan kirinya di atas lutut, merasakan denyut kecemburuan yang kembali mencubit hatinya saat membayangkan tulisan manis di kartu kado tersebut.

"Karena aku tidak tahan melihat ada nama pria lain yang mencoba mendekatimu, Mira," lanjut Arkan dengan suara yang kian rendah, berbisik jujur di depan lutut wanitanya. "Aku berdalih ini semua demi alibi kontrak satu semester kita, tapi kenyataannya... egoku meradang. Aku cemburu setengah mati melihat dunia luar mencoba mengambil perhatianmu dariku."

Hilmira tertegun di balik cadar hitamnya. Sepasang mata bulatnya membelalak kecil menatap wajah tampan Arkan dari jarak sedekat ini. Ia bisa melihat dengan sangat jelas ada lapisan air yang menggenang di sudut mata tajam suaminya, sebuah pemandangan langka yang menunjukkan betapa hancurnya hati pria angkuh ini melihat air matanya sendiri.

Namun, Hilmira tidak melepaskan kebungkamannya begitu saja. Luka yang digoreskan Arkan di masa lalu dan kekangan tanpa status yang jelas di kampus telah terlanjur membeku menjadi rasa sakit yang tebal di hatinya.

Mira perlahan menggelengkan kepalanya, memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca besar, menolak menatap mata Arkan. Dari balik cadar hitamnya, sebutir air mata baru kembali menetes lambat, membasahi kain sifon yang menutupi pipinya.

"Kekanganmu menyiksaku, Kak," bisik Hilmira lirih, suaranya begitu parau dan bergetar menahan tangis. "Kau memintaku menjadi orang asing di kampus, tapi kau memperlakukanku seperti tawanan di rumah ini. Aku tidak tahu... di mana posisiku di matamu. Apakah aku ini istrimu, atau hanya sekadar objek penebusan dosa keluargamu yang harus kau awasi setiap detiknya?"

Mendengar kalimat retorik yang sarat akan kepedihan itu keluar dari bibir Hilmira, dada Arkan terasa seperti diremas oleh tangan besi yang tak terlihat. Rasa sakit emosionalnya begitu nyata hingga membuat rahang tegasnya bergetar menahan sesak.

Ia menyadari sepenuhnya bahwa egonya yang terlalu besar dan keposesifannya yang liar telah kembali menorehkan luka baru di atas trauma lama istrinya.

Arkan menarik napas panjang yang tersengal melalui hidung, menatap punggung mungil Hilmira yang masih bergetar membelakanginya. Atmosfer di dalam kamar pengantin mewah itu mendadak berubah menjadi begitu canggung, berat, namun dipenuhi oleh ketegangan emosional yang kian memuncak di antara malam yang kian menggelap.

Batasan kontrak Satu Semester yang semula ia rancang sebagai sangkar perlindungan yang aman, kini resmi berubah menjadi bom waktu yang siap menghancurkan hati mereka berdua dalam sandiwara kampus yang kian hari kian berdarah-darah.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
cemburu tanda cinta ...❤️
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼‍♀️😅
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
makanya jangan so nolak kamu Arkan jadi pusing sendiri kan 😤🤣🤣🤣
Eva Karmita
seriyus mau nanya apa nama pu nya di ganti ...??
padahal bagus Liam
Eva Karmita
kenapa namanya di ganti otor yg tadinya Liam kenapa berubah jadi Arkana. 🤔🤔🤔
Riana Utami
puasssss
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
Lovita BM
kq jd Arkan Oliver namanya, bukanya Liam Oliver ????
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Lovita BM
luar biasa
Lovita BM
👍👍👍👍👍💪
Eva Karmita
kita lihat apakah liam mampu merebut hati Mira
Eva Karmita
ya Allah kasihan Mira jadi korban penculikan dan pemerkosaan 🥺
Eva Karmita
percuma menjelaskan Mira lebih baik kamu diam ... biarkan waktu yang berbicara
Eva Karmita
Liam edan main talak" aja ...awas aja nanti kamu menyesal 🥺
Dibalik Senja
Lebih baik diem mira biarkan liam dngn asumsinya krn wlupun kau membela diri dia tdk akan percaya ...talak sdh diucapkan dan mira pasti akan pergi liam tnpa dimintapun
Dibalik Senja
Tdak apa2 dicerai sdh bkn jdohnya jngn dtangisi lebih baik begitu dr pd setiap hari disiksa dan direndahkan....CEO gemblung mainya kekerasan tnpa tau permasalahan merasa pnya dinasti diluar angkasa sungguh awak gemess
N Wage
apa maksud dr paragraf "Di sana,di atas seprai putih bersih yang tertutup beberapa kelopak mawar,tidak ada tanda2 kesucian yang biasanya dst..."

emangnya seperti apa?
N Wage
bukan altar KK...meja akad😊
Lovita BM
👍👍👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!