Bagi Laras, gadis sederhana yang terjebak dalam lilitan utang besar demi menyelamatkan nyawa ayahnya, tawaran itu terdengar seperti mimpi buruk sekaligus satu-satunya jalan keluar. Pemberinya bukan orang sembarangan — Raka Dirgantara, pria terkaya dan paling berkuasa di negeri ini, dingin, penuh rahasia, dan dikenal tak pernah berhubungan lama dengan siapa pun.
“Kau hanya perlu menemaniku sampai matahari terbit. Setelah itu, kau bebas pergi dan uang itu sepenuhnya milikmu.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahraal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
janji dibawah langit desa
Suasana di lapangan kecil itu terasa sunyi sesaat setelah Raka memperkenalkan dirinya. Ratusan pasang mata menatapnya dengan perasaan bercampur—ragu, penasaran, dan juga sedikit berharap. Nama Dirgantara bukanlah nama asing di telinga banyak orang; ia dikenal sebagai salah satu pengusaha paling berpengaruh dan dihormati, namun juga dianggap jauh dari kehidupan rakyat biasa.
Salah satu tetua desa, Pak Surya, melangkah maju dengan tongkat kayu di tangannya, wajahnya menunjukkan kewaspadaan yang teruji oleh waktu. “Maafkan kami jika terlihat curiga, Tuan Raka. Kami mendengar nama Anda, tapi kami tidak mengerti mengapa seseorang sebesar Anda bersedia datang ke desa terpencil ini dan membela kepentingan kami? Apa yang Anda harapkan sebagai balasannya?”
Pertanyaan itu mewakili keraguan di hati semua warga. Raka mengangguk memahami, lalu tersenyum tipis—senyum yang tenang dan tulus, bukan senyum pebisnis yang penuh perhitungan.
“Saya mengerti keraguan Bapak dan semuanya,” jawabnya dengan suara yang terdengar tegas namun ramah. “Banyak orang hanya melihat apa yang bisa didapatkan dari sesuatu, tapi saya datang justru karena melihat apa yang bisa hilang jika tempat ini jatuh ke tangan yang salah. Wilayah ini bukan sekadar sebidang tanah—ia adalah sumber kehidupan, warisan yang harus dijaga agar tetap ada untuk anak cucu kita nanti. Dan saya datang karena saya tahu kebenaran ada di pihak kalian.”
Ia lalu memberi isyarat pada Bimo, yang segera membuka map besar dan menaruhnya di atas meja kayu yang disediakan. “Tim saya telah meneliti dokumen-dokumen yang digunakan perusahaan itu. Kami menemukan banyak ketidaksesuaian, data yang tidak lengkap, dan tanda-tanda pemalsuan untuk mempercepat proses izin. Selain itu, berdasarkan catatan sejarah dan peraturan lingkungan yang berlaku, kawasan hutan dan sumber air di sini sudah ditetapkan sebagai kawasan lindung sejak puluhan tahun lalu, yang tidak boleh dialihfungsikan untuk kepentingan komersial apa pun.”
Saat Raka menjelaskan poin demi poin dengan bahasa yang mudah dimengerti, keraguan di wajah warga perlahan berubah menjadi perhatian dan harapan. Namun pandangan Laras tidak lepas dari sosok itu—ia masih berdiri di tempat yang sama, mencoba mencerna semuanya.
Setelah pertemuan umum selesai dan warga mulai bubar dengan perasaan lebih tenang namun masih penuh tanya, Raka mendekati Laras yang memilih berdiri agak terpisah dari kerumunan. Angin sore berhembus lembut menerpa rambutnya, membawa bau tanah basah dan bunga liar khas desa.
Mereka saling menatap selama beberapa detik tanpa berbicara, seolah ada banyak kata yang terjebak di tenggorokan masing-masing. Akhirnya, Laras yang lebih dulu membuka suara, nadanya bercampur antara kekesalan dan kebingungan.
“Kamu melanggar janji, Raka. Kita sepakat bahwa setelah matahari terbit, semuanya selesai. Tidak ada pertemuan lagi, tidak ada keterlibatan apa pun dalam hidup masing-masing.”
Raka menunduk sedikit, seolah mengakui kebenaran itu, lalu menatap matanya kembali dengan pandangan yang dalam dan jujur. “Aku tahu. Dan aku sadar aku melanggar batas yang kita buat. Tapi katakan padaku, Laras—apakah janji itu masih berlaku jika ketenangan dan keselamatan yang ingin aku jaga untukmu justru terancam? Apakah aku harus berdiam diri dan membiarkan kamu serta seluruh orang di sini kehilangan tempat tinggal dan sumber hidupnya hanya demi mematuhi kata-kata yang kita ucapkan saat itu?”
Pertanyaan itu membuat Laras terdiam. Ia tidak bisa menyangkal logika di baliknya, namun rasa bingung itu tetap ada. “Tapi mengapa harus kamu? Mengapa kamu terlibat sampai sejauh ini? Duniamu terlalu besar, terlalu jauh dari sini. Ini bukan masalah yang harus kamu pikul.”
“Karena sejak malam itu, duniamu dan duniaku sudah terhubung tanpa kita sadari,” jawab Raka dengan nada yang lebih lembut, namun tegas. “Awalnya aku pikir aku hanya memberikan bantuan sebagai ganti waktu dan cerita yang kau bagikan. Tapi semakin hari, aku sadar—apa yang tumbuh di hatiku bukan sekadar rasa berterima kasih. Aku khawatir padamu, Laras. Ketika aku mendengar bahaya mengancam tempat tinggalmu, aku tidak punya pilihan selain datang. Aku tidak sanggup membayangkan jika sesuatu yang buruk menimpamu dan aku hanya bisa menonton dari jauh.”
Pengakuan itu terucap begitu jujur, membuat pipi Laras memerah perlahan. Jantungnya berdegup kencang, sama seperti malam itu. Selama ini ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia rasakan hanyalah rasa terima kasih, namun kenyataannya, ia juga tidak bisa melupakan sosok pria yang terlihat kuat namun menyimpan kesepian itu.
“Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?” tanya Laras pelan, suaranya sedikit bergetar. “Jika kita melawan mereka, ini tidak akan berakhir dengan mudah. Mereka punya uang dan kekuasaan yang tidak sedikit. Kamu bisa terlibat dalam masalah yang lebih besar, dan aku tidak ingin menjadi alasan kamu terjerat ke dalamnya.”
Raka melangkah lebih dekat, cukup dekat sehingga Laras bisa merasakan ketenangan yang terpancar darinya. “Dengarkan aku baik-baik. Masalah ini memang berat, tapi bukan hal yang tidak bisa dihadapi. Aku sudah siap dengan segala konsekuensinya. Dan satu hal yang harus kau ingat—kita tidak berjuang sendirian. Aku punya tim hukum, bukti yang kuat, dan niat yang benar. Selama kita berdiri di jalur kebenaran, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa.”
Ia lalu mengulurkan tangannya, menawarkan genggaman yang penuh keyakinan. “Kau tidak perlu merasa terbebani atau berhutang apa pun. Anggap saja ini bagian dari perjalanan yang sudah ditakdirkan untuk kita lalui bersama. Maukah kau mempercayaiku, setidaknya kali ini?”
Laras menatap telapak tangan itu, lalu mengangkat wajah menatap mata Raka yang tulus. Dalam pandangannya, ia melihat ketenangan dan kekuatan yang membuat segala keraguannya perlahan memudar. Dengan napas panjang, ia mengangguk perlahan, lalu meletakkan tangannya di atas telapak tangan Raka yang hangat dan kokoh.
“Aku percaya padamu, Raka,” jawabnya mantap. “Tapi ingat—jika nanti ada bahaya yang datang, kita hadapi bersama. Jangan pikir aku hanya akan berdiri diam sebagai penonton.”
Raka tersenyum, senyum yang terasa lebih tulus dan bebas dari beban apa pun dibandingkan senyum yang pernah ia tunjukkan sebelumnya. “Baiklah. Kita hadapi semuanya bersama-sama.”
Malam itu, di rumah sederhana milik Laras, mereka duduk mengelilingi meja makan bersama Pak Harjo. Mendengar penjelasan lengkap dari Raka, Pak Harjo menghela napas panjang, lalu menatap putrinya dengan pandangan yang penuh pengertian.
“Aku mengerti sekarang, Nak,” katanya lembut. “Rasa terima kasih saja tidak cukup menjelaskan ikatan yang terbentuk antara kalian berdua. Yang terpenting adalah niatnya tulus dan jalannya benar. Jika Tuan Raka bersedia membela kita, maka ini adalah kesempatan yang diberikan untuk kita mempertahankan hak yang seharusnya kita miliki.”
Ia lalu menoleh ke arah Raka, matanya yang tua namun tajam menatap lurus ke mata pria itu. “Saya hanya punya satu pesan. Jagalah dia, Raka. Dia satu-satunya harta yang paling berharga bagi saya. Jika kalian berjalan bersama, bimbinglah dia dengan kebaikan, dan lindungilah dia dengan segenap kemampuanmu.”
“Janji saya, Pak Harjo,” jawab Raka dengan nada hormat dan tegas. “Saya akan menjaga Laras dan semua warga desa ini seolah itu adalah tanggung jawab hidup saya sendiri.”
Malam semakin larut, namun suasana di desa kini terasa berbeda. Kabut ketakutan perlahan terangkat, digantikan oleh harapan yang mulai menyala kembali. Namun di kejauhan, di kantor mewah di kota besar, sekelompok pria sedang duduk mengelilingi meja panjang dengan raut wajah marah dan kecewa.
“Raka Dirgantara berani ikut campur urusan ini?” bentak pemimpin kelompok itu dengan suara menggelegar. “Dia pikir dia bisa menghalangi jalan kita begitu saja? Kita sudah mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk mengurus dokumen dan dukungan pejabat. Jika dia ingin bermain, maka kita akan tunjukkan padanya bahwa dia tidak bisa sembarangan mengganggu rencana kita.”
Pria di sebelahnya, yang menjabat sebagai direktur perusahaan kedok itu, menambahkan dengan nada dingin. “Kita tidak bisa bertindak terang-terangan sekarang. Raka sudah membawa bukti ke permukaan, jika kita bertindak kasar justru akan merugikan diri sendiri. Tapi kita punya cara lain. Kita cari kelemahan dia—dan kabarnya, gadis serta keluarganya di desa itu sangat berarti baginya. Jika kita mengganggu ketenangan mereka, pasti Raka akan kehilangan fokus dan membuat kesalahan.”
Perencanaan licik itu mulai disusun di balik kegelapan malam, tanpa disadari oleh siapa pun. Di satu sisi ada kepercayaan dan harapan yang tumbuh, namun di sisi lain, jaringan bahaya perlahan ditenun untuk menjerat mereka.
Namun Raka dan Laras tidak lagi berdiri dalam kegelapan. Di bawah langit desa yang bertabur bintang, janji telah terucap, dan perjuangan untuk membela kebenaran serta melindungi apa yang berharga baru saja dimulai.