NovelToon NovelToon
Takhta Berdarah Sang Don

Takhta Berdarah Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.

Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.

Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 - Bayangan Black King

Hujan kembali mengguyur kota sejak dini hari.

Di ruang kerja mansion Alvaro, Raven masih memandangi layar monitor yang telah mati. Nama Black King terus berputar di benaknya.

Selama bertahun-tahun ia menguasai dunia mafia, tetapi belum pernah sekali pun mendengar julukan itu.

Leo berdiri di samping meja dengan wajah serius.

"Aku sudah menyuruh orang-orang kita menyelidikinya."

"Bagaimana hasilnya?" tanya Raven.

Leo menggeleng.

"Tidak ada."

"Tidak ada?"

"Nama Black King seolah tidak pernah ada. Tidak ada catatan polisi, tidak ada informasi dari organisasi mafia lain, bahkan jaringan intelijen kita pun tidak menemukan apa pun."

Raven menyandarkan tubuhnya di kursi.

"Berarti dia sengaja menghapus semua jejaknya."

Saat itulah pintu ruang kerja diketuk.

Tok... tok...

Aurora masuk sambil membawa secangkir kopi.

"Kalian belum tidur?"

Leo tersenyum kecil.

"Kalau Tuan belum tidur, kami juga tidak berani tidur."

Aurora meletakkan kopi di depan Raven.

"Kau juga harus istirahat."

Raven menatap wajah Aurora beberapa saat.

"Kau mulai sering mengaturku."

"Aku dokter."

"Itu alasan favoritmu."

Aurora tersenyum tipis.

"Dan akan terus kupakai."

Untuk sesaat, ketegangan di ruangan itu mencair.

Namun tidak berlangsung lama.

Seorang penjaga berlari masuk dengan napas terengah-engah.

"Tuan!"

"Apa lagi?"

"Kami menangkap seorang mata-mata di gerbang belakang."

"Bawa masuk."

Tak lama kemudian, seorang pria muda dengan tangan terikat dilempar ke tengah ruangan.

Wajahnya penuh lebam akibat perlawanan saat ditangkap.

Raven berdiri.

"Siapa yang mengirimmu?"

Pria itu diam.

Raven mengambil pistolnya.

"Aku hanya akan bertanya sekali."

Pria itu tetap membisu.

Dor!

Raven menembak lantai tepat di samping kaki pria tersebut.

Pria itu langsung gemetar.

"Aku... aku hanya kurir!"

"Untuk siapa?"

"Aku tidak tahu."

Raven menatap tajam.

"Kau masih ingin berbohong?"

"Tidak!"

Pria itu buru-buru menggeleng.

"Aku hanya disuruh menyerahkan surat."

"Sekarang suratnya di mana?"

Pria itu menunjuk ke dalam saku jaketnya.

Leo mengambil sebuah amplop hitam dan menyerahkannya kepada Raven.

Di bagian depan hanya tertulis satu kalimat.

Untuk Raven Alvaro.

Raven membuka amplop itu.

Di dalamnya terdapat selembar kartu remi bergambar raja berwarna hitam.

Di balik kartu itu tertulis tangan.

"Kalau ingin menemukan Black King, datanglah ke Gereja Saint Raphael besok malam. Datang sendiri."

Aurora langsung menggeleng.

"Jangan pergi."

Leo ikut mengangguk.

"Ini pasti jebakan lagi."

Namun Raven justru tersenyum tipis.

"Kalau mereka terus mengundangku..."

"...berarti mereka takut aku menemukan mereka lebih dulu."

Keesokan malam...

Meski semua orang melarangnya, Raven tetap berangkat seorang diri.

Gereja Saint Raphael telah lama terbengkalai.

Bangunan tua itu dipenuhi lumut dan bangku-bangku kayunya mulai lapuk.

Raven melangkah masuk dengan waspada.

"Aku datang."

Suara berat tiba-tiba terdengar dari balik altar.

"Tepat waktu."

Seorang pria berjubah hitam muncul perlahan.

Wajahnya tertutup topeng perak.

"Kau Black King?"

Pria itu terkekeh pelan.

"Bukan."

"Lalu siapa kau?"

"Hanya utusan."

Raven mengangkat pistolnya.

"Aku tidak punya waktu untuk permainan."

Utusan itu sama sekali tidak takut.

"Aku datang membawa pesan."

"Apa?"

"Black King ingin kau berhenti mencari masa lalu."

"Kalau tidak?"

"Semua orang yang kau sayangi akan mati."

Tatapan Raven berubah dingin.

"Itu ancaman?"

"Itu peringatan."

Belum sempat Raven bergerak, terdengar suara langkah kaki dari luar gereja.

Brak!

Pintu utama terbuka.

Aurora berdiri di sana dengan napas memburu.

"Aku tahu kau pasti datang ke sini!"

Raven langsung menoleh.

"Aku sudah bilang jangan ikut."

Aurora belum sempat menjawab ketika utusan itu tertawa pelan.

"Menarik."

"Jadi inilah kelemahanmu."

Dalam hitungan detik, utusan tersebut melemparkan bom asap ke lantai.

Bumm!

Asap putih langsung memenuhi seluruh gereja.

Raven segera menarik Aurora ke belakangnya.

"Tutup matamu!"

Saat asap mulai menghilang, utusan itu telah menghilang tanpa jejak.

Yang tersisa hanyalah sebuah kalung perak berbentuk mahkota hitam.

Raven mengambil benda itu.

Di bagian belakangnya terukir sebuah simbol yang sama persis dengan lambang pada kartu remi.

Aurora memandang wajah Raven.

"Apa artinya?"

Raven menggenggam kalung itu erat.

"Artinya..."

"...Black King benar-benar ada."

Dan untuk pertama kalinya sejak menjadi Don Mafia, Raven merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari dirinya.

Bukan rasa takut.

Melainkan firasat bahwa musuh yang sebenarnya akhirnya mulai memperlihatkan bayangannya.

1
Sunflower_6520
Nurut ae Ra, dr pada nyawa lo melayang...
Sunflower_6520
Itu tandanya Aurora punya hati Raven... emang kayak elo? jangan kan hati, simpati aja kayaknya lo gak punya🗿
Sunflower_6520
Urusan Aurora lah, orang dia kan dokter? dimana" dokter itu tugasnya menyelamatkan, gak mungkin ada orang kritis dia biarin gitu aja
Sunflower_6520
Lama kelamaan sih Aurora bisa trauma...
Sunflower_6520
Tamu modelan apa? ini namanya penculikan 🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!