Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.
Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19
Sementara itu...
Jauh di kampus.
Suasana yang biasanya riuh oleh suara langkah mahasiswa, derit sepeda listrik, dan gema bola basket yang memantul di lantai lapangan kini terasa berbeda. Angin siang berembus pelan, membawa dedaunan kering melintasi halaman kampus yang megah. Entah mengapa, atmosfer yang biasanya penuh energi berubah menjadi ganjil, seolah ada sesuatu yang hilang.
"Eh, kalian sadar nggak?"
Seorang mahasiswi menoleh ke arah lapangan basket yang tampak lengang. Ring basket berdiri diam tanpa seorang pun berlatih di bawahnya.
"Raymond belum kelihatan dari kemarin."
"Iya, biasanya jam segini dia udah latihan."
"Terus Angela juga nggak masuk."
"Jangan-jangan mereka lagi jalan berdua?"
"Eh, jangan ngarang, deh."
Bisik-bisik itu menyebar begitu saja di antara para mahasiswa. Nama Raymond memang terlalu besar untuk diabaikan. Sebagai pewaris keluarga konglomerat sekaligus ikon kampus, setiap gerak-geriknya selalu menjadi bahan pembicaraan. Sementara Angela, mahasiswi penerima beasiswa yang hidup sederhana, perlahan ikut terseret menjadi pusat perhatian karena kedekatannya dengan pria dari dunia yang begitu berbeda.
Di kantin fakultas yang dipenuhi aroma gorengan hangat dan kopi hitam, Maya duduk sambil memainkan sedotan minumannya. Tatapannya kosong mengarah ke luar jendela, sementara wajahnya terlihat gelisah sejak pagi.
Tak lama kemudian, Rio dan Kevin datang membawa nampan berisi makanan.
"May, sendirian?" tanya Kevin sambil menarik kursi di hadapan Maya.
Maya mengangguk pelan.
"Iya."
Rio langsung menangkap perubahan ekspresi di wajah gadis itu.
"Angela belum masuk?"
Maya mengembuskan napas panjang.
"Bukan cuma hari ini."
"Semalam dia nelepon aku."
Kevin yang baru saja hendak menyuap bakso langsung menghentikan gerakannya.
"Terus?"
"Ibunya sakit."
"Sekarang lagi dirawat di rumah sakit kabupaten."
Rio perlahan meletakkan sendoknya ke atas nampan.
"Pantes aja."
"Raymond juga nggak bisa dihubungi."
Maya kembali mengangguk.
"Dia nemenin Angela."
Kevin menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menghela napas pelan.
"Kalau urusannya Angela..."
"...udah pasti Raymond ninggalin semua kegiatan."
Rio terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala.
"Jangankan latihan basket."
"Rapat organisasi aja dia pernah cabut gara-gara Angela hampir kehujanan."
Kevin langsung menunjuk Rio sambil tertawa.
"Nah, itu!"
"Padahal dulu siapa yang paling anti sama cewek?"
Rio langsung memasang wajah sedingin Raymond, lalu menirukan nada bicaranya.
"Hubungan itu buang-buang waktu."
Kevin seketika tertawa terbahak-bahak hingga nyaris tersedak.
"Sekarang?"
Rio mengangkat bahu sambil menahan tawa.
"Sekarang..."
"Angela udah makan belum?"
"Angela udah istirahat belum?"
"Angela di mana?"
Maya yang sejak tadi murung akhirnya ikut tertawa kecil. Suasana yang semula dipenuhi kecemasan perlahan mencair.
"Bener banget."
Kevin menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum geli.
"Fix."
"Pangeran kampus kita udah kena penyakit."
Rio memasang ekspresi panik yang dibuat-buat.
"Penyakit apa?"
Kevin menyeringai lebar.
"Penyakit bucin stadium akhir."
Ketiganya kembali tertawa. Namun, di balik candaan ringan itu, mereka sama-sama menyadari satu hal.
"Nikahin Angela."
"Plak!" Rio langsung menepuk kepala Kevin.
"Mulut lo!" Kevin mengusap kepalanya sambil nyengir.
"Lah, salah?" Maya tersenyum geli melihat tingkah keduanya. Meski begitu, raut khawatir masih tersisa di wajahnya.
"Aku cuma berharap, Ibu Angela cepat sembuh." Rio dan Kevin langsung mengangguk bersamaan.
"Aamiin." Saat suasana kembali tenang, tiba-tiba ponsel Rio bergetar. Nama di layar membuat matanya membulat.
Raymond.
"Woi!" Rio langsung mengangkat telepon.
"Bos!" Dari seberang terdengar suara Raymond yang tetap tenang.
"Rio," panggil Raymond di seberang sana.
"Iya."
"Latihan basket minggu ini kamu yang pegang."
Rio langsung duduk tegak.
"Siap."
"Kalau dosen nanya."
"Iya."
"Bilang aku izin." Rio mengangguk.
"Beres." Rio sempat terdiam sebelum bertanya,
"Gimana kondisi Tante?" Suara Raymond sedikit melembut.
"Masih dirawat."
"Angela lagi butuh ditemenin." Rio menghela napas.
"Oke."
"Kalau ada yang bisa kita bantu, bilang aja."
Kevin yang sejak tadi mendengarkan dari samping langsung berteriak pelan,
"Sampaikan salam buat Angela!" Rio mengangguk.
"Iya."
"Kevin sama Maya juga nitip doa." Terdengar jeda beberapa detik. Lalu Raymond menjawab singkat,
"Makasih." Telepon pun berakhir, Rio menatap layar ponselnya beberapa saat. Kemudian ia tersenyum tipis.
"Dia memang berubah." Kevin mengangkat alis.
"Ke arah yang lebih baik." Rio mengangguk mantap.
"Iya."
"Dulu dia cuma hidup buat kuliah, basket, sama perusahaan."
"Sekarang..."
"...dia juga hidup buat seseorang yang berhasil membuka hatinya."
Di saat yang sama, di Rumah Sakit Kabupaten. Lampu ruang tindakan masih menyala. Angela berdiri di depan pintu dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Bibirnya tak henti-hentinya melafalkan doa. Sementara Raymond berdiri di sampingnya.
Diam, namun tetap setia menemani. Tanpa sepatah kata pun. Karena terkadang, kehadiran seseorang jauh lebih berarti daripada ribuan kalimat penghiburan.
Pria paruh baya itu tetap berdiri di ujung koridor. Tongkat kayu hitam di tangannya diketukkan pelan ke lantai. Tatapannya tak pernah lepas dari Raymond.
Di sampingnya, salah satu pengawal berbisik pelan.
"Tuan Edward sudah memberi tahu kalau Tuan Besar ingin datang, tapi Tuan Raymond belum sempat membalas." Pria itu tersenyum tipis.
"Memang sengaja."
"Hah?"
"Aku ingin melihat cucuku apa adanya."
"Bukan Raymond yang sedang menjadi pewaris keluarga."
"Tapi Raymond yang sedang jatuh cinta."
Pengawal itu hanya mengangguk pelan.
Di sisi lain, Angela menyodorkan kotak makanan ke arah Raymond.
"Ayo."
"Giliran kamu." Raymond menggeleng pelan.
"Kamu habisin dulu." Angela langsung memasang wajah cemberut.
"Ray."
"Hm?"
"Aku paling nggak suka makan sendirian." Raymond menghela napas kecil.
"Baik."
"Nah, gitu dong." Angela tersenyum puas.
Raymond membuka kotak makanannya.
Baru saja hendak menyuap nasi...
Angela menghentikannya.
"Tunggu." Raymond mengangkat alis.
"Kenapa?" Angela mengambil tisu dari atas meja.
"Di pipi kamu ada noda."
"Lho?"
"Iya." Raymond refleks menyentuh pipinya.
"Sebelah mana?"
"Bukan di situ." Angela tertawa kecil.
"Ih, geser dikit." Tanpa berpikir panjang, Angela berdiri di depan Raymond.
Dengan hati-hati, ia mengusap sudut bibir Raymond menggunakan tisu.
"Nah."
"Udah bersih." Raymond terdiam. Tatapannya jatuh pada wajah Angela yang begitu dekat.
Angela baru sadar posisi mereka. Mata mereka saling bertemu. Jaraknya terlalu dekat. Pipinya langsung memanas.
"E-eh..." Angela buru-buru mundur selangkah.
"Maaf, Aku refleks." Raymond tersenyum tipis.
"Nggak apa-apa. Kan... aku memang berantakan." Angela menggaruk tengkuknya sambil nyengir canggung.
"Hehe. Iya juga." Belum sempat mereka melanjutkan percakapan, suara tepukan tangan pelan memecah keheningan koridor.
Angela dan Raymond serempak menoleh.
Dari ujung lorong, seorang pria lanjut usia berjalan perlahan dengan tongkat kayu eboni di tangan kanannya. Jas abu-abu gelap yang dikenakannya tampak sederhana, tetapi aura wibawa yang terpancar membuat beberapa perawat tanpa sadar menyingkir memberi jalan.
Dua pengawal mengikuti beberapa langkah di belakangnya. Tatapan pria tua itu lurus mengarah kepada Raymond. Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Nggak nyangka," gumamnya pelan sambil menggeleng kecil. "Cucu Kakek ternyata masih bisa senyum." Raymond spontan berdiri. Raut wajahnya berubah dari santai menjadi hormat.
"Kakek?" Pria tua itu berhenti tepat di depan mereka. "Bukannya nyambut Kakek," ujarnya sambil mengangkat sebelah alis. "Malah bengong." Raymond menghela napas pelan.
"Kakek ngapain datang ke sini? Bukannya lagi di Singapura?"
"Habis rapat langsung pulang." Pria tua itu mengangkat bahu santai.
"Katanya cucu Kakek lagi sibuk ngejar cewek."
"Kakek," Nada suara Raymond terdengar pasrah. Angela yang berdiri di sampingnya langsung membelalak.
"Ngejar cewek?" Pelan-pelan ia melirik Raymond dari samping. Pipinya mulai menghangat.
"Jangan-jangan..."
Belum sempat pikirannya selesai...
Pria tua itu sudah tertawa lepas.
"Hahaha!"
"Tenang aja, Nak."
"Tadi Kakek cuma bercanda."
Raymond memijat pelipisnya.
"Kakek sengaja, ya?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Soalnya ekspresi kamu lucu." Angela refleks menutup mulutnya, berusaha menahan tawa.
Namun bahunya sudah bergetar.
Raymond melirik tajam.
"Kamu juga ketawa?" Angela buru-buru menggeleng.
"Nggak."
"Bohong."
"Nggak... beneran." Ujung bibirnya malah makin terangkat. Melihat itu, pria tua tersebut kembali terkekeh.
"Nah."
"Begini kan enak."
"Kalau ada yang berani ngetawain Raymond."
Raymond menggeleng pasrah.
"Hari ini semua kompak banget."
Pria tua itu lalu mengalihkan pandangannya kepada Angela. Tatapannya lembut, penuh rasa ingin tahu.
"Kamu Angela?"
Angela refleks membungkukkan badan.
"Iya, Kek."
"Perkenalkan..."
"Saya Angela."
Pria tua itu mengangguk pelan.
"Sopan."
"Bagus."
Angela tersenyum kikuk.
"Terima kasih."
"Tapi..."
Pria tua itu sengaja menggantung ucapannya.
Angela mengedip bingung.
"Tapi apa, Kek?"
"Tapi Kakek penasaran."
"Penasaran?"
"Iya."
"Gimana caranya kamu bisa bikin cucu Kakek berubah?" Angela spontan menunjuk dirinya sendiri.
"Hah?"
"Saya?"
"Iya." Angela langsung melambaikan kedua tangan.
"Nggak, Kek."
"Saya nggak ngapa-ngapain."
"Bahkan..." Dia melirik Raymond sekilas.
"...yang sering nolong malah dia."
Pria tua itu menoleh kepada Raymond.
"Benar?" Raymond mengangguk singkat.
"Iya."Pria tua itu mendecakkan lidah.
"Heran."
"Apa lagi, Kek?"
"Dulu..." Beliau menunjuk Raymond dengan ujung tongkatnya.
"Disuruh nemenin Kakek makan siang aja susah." Raymond hanya diam.
"Disuruh liburan nolak."
"Disuruh kenalan sama cucu teman Kakek..."
Beliau mengangkat kedua tangan dramatis.
"...langsung kabur." Angela refleks menoleh ke Raymond.
"Bener?" Raymond berdeham pelan.
"Sedikit."
"Sedikit?"
Angela terkekeh.
"Itu mah banyak." Pria tua itu langsung menyambung sambil tertawa.
"Sekarang?"
Beliau menatap Raymond penuh arti.
"Demi satu perempuan..."
"...rapat ditinggal."
"Latihan basket libur."
"Bahkan perusahaan diserahin sementara ke papanya." Angela perlahan menoleh ke Raymond.
Matanya membulat.
"Ray..."
"Kamu..."
"...ninggalin semua kerjaan?"
Raymond mengusap tengkuknya pelan.
"Nggak semua."
Angela menyipitkan mata.
"Jujur."
Kamu sebagai editor novel, aku memerintahmu memeriksa kesalahan struktur kata dan memperbaiki naskah ini menjadi lebih mengalir baik dan terbaca indah, tambah kan sensorik bila perlu agar kesan sebuah novel urban kekayaan, dan urban penindasan terasa kental pada naskah ini :
Raymond menghela napas.
"Iya."
"Tapi itu karena..."
Belum selesai menjelaskan...
Angela sudah lebih dulu memukul pelan lengan Raymond.
Bug.
"Kamu tuh gimana, sih!"
Raymond mengusap lengannya sambil tersenyum tipis.
"Sakit."
"Rasain!"
Angela mendelik.
"Aku nggak pernah minta kamu ninggalin kerjaan."
"Aku tahu."
"Terus kenapa dilakuin?"
Raymond menatap Angela beberapa detik.
Sorot matanya berubah begitu lembut.
"Karena..."
"...nggak ada pekerjaan yang lebih penting daripada memastikan kamu baik-baik aja."
Deg.
Jantung Angela seperti berhenti sesaat.
Koridor rumah sakit yang ramai mendadak terasa sunyi.
Pipinya memerah sampai ke telinga.
Ia buru-buru mengalihkan pandangan.
"Kamu..."
"...kalau ngomong suka bikin orang bingung."
Raymond tersenyum kecil.
"Bingung?"
"Iya."
"Mau marah..."
"...nggak jadi."
"Mau nolak..."
"...juga susah."
Pria tua itu memperhatikan keduanya dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.
Dalam puluhan tahun hidupnya...
Beliau belum pernah melihat Raymond berbicara selembut itu kepada siapa pun.
Lelaki yang selama ini dijuluki "Pangeran Es" di keluarga Wijaya...
Kini rela menurunkan seluruh benteng yang dibangunnya hanya demi satu gadis sederhana.
Sang kakek mengetukkan tongkatnya pelan ke lantai.
Tok... tok...
"Angela."
"Iya, Kek?"
"Tolong..."
Beliau tersenyum hangat.
"...jangan pernah ubah sifatmu."
Angela tampak bingung.
"Memangnya kenapa?"
"Soalnya..."
Pria tua itu melirik cucunya yang kini sedang menatap Angela tanpa berkedip.
"...baru kali ini Kakek lihat Raymond hidup."
Ucapan sederhana itu membuat Raymond terdiam.
Sementara Angela menoleh perlahan ke arah Raymond.
Untuk pertama kalinya...
Ia benar-benar menyadari satu hal.
Bukan hanya dirinya yang perlahan jatuh cinta.
Raymond ternyata sudah lebih dulu mempertaruhkan seluruh hatinya.
kalau bisa up nya di tambahin
padahal seru kenapa sepi komen nan y