NovelToon NovelToon
Antara Pagar Dan Detak Jantung

Antara Pagar Dan Detak Jantung

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Persahabatan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Dalgichigo

Varendra Malik Atmadja, seorang arsitek muda yang tampan, ramah, dan sangat telaten, baru saja pindah ke Blok C-17. Sebagai penganut paham "tetangga adalah saudara", Malik bertekad untuk menjalin hubungan baik dengan seluruh penghuni kompleks.

Namun, rencananya membentur tembok tinggi setinggi pagar Blok C-18.

Di sanalah tinggal Vanya Ayudia Paramitha, seorang Game Developer yang lebih suka berinteraksi dengan baris kode daripada manusia. Baginya, ketenangan adalah segalanya, dan tetangga baru yang terlalu ramah seperti Malik adalah gangguan sinyal bagi kedamaian hidupnya.

Awalnya, Malik hanya berniat memberikan camilan sebagai tanda perkenalan. Tapi, setiap sapaan Malik dibalas dengan debuman pintu, dan setiap perhatiannya dianggap sebagai gangguan oleh Ayu.

Lalu, bagaimana jika sebuah paket yang salah alamat dan aroma masakan dari dapur Malik perlahan mulai meruntuhkan pertahanan Ayu? Bisakah Malik merancang fondasi cinta di hati gadis yang bahkan enggan membuka pintu rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dalgichigo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesona Gadis Desa

Kula, sang anak teknik kebanggaan Mami yang biasanya hanya akrab dengan mesin dan layar laptop, kini harus menghadapi kenyataan pahit di kampung halaman mbahnya. Bagi Kula yang terbiasa dengan kenyamanan Kota, perjalanan ke desa ini terasa seperti masuk ke dalam set film dokumenter alam.

Pagi itu, udara desa masih berkabut saat Paman Kula mengajaknya ke ladang jagung di lereng bukit. Kula yang tampil "salah kostum" dengan sepatu kets putih bersih dan hoodie bermerek, tampak sangat antusias melihat deretan tanaman jagung yang sudah menguning dan siap panen.

"Kula, ayo bantu Paman! Pilih yang kulitnya sudah mulai kering, itu tandanya sudah tua," seru Pamannya dari barisan sebelah.

Kula mengangguk mantap. "Siap, Paman! Tenang saja, ini kan cuma soal mekanika sederhana," gumamnya sok tahu.

Namun, masalah muncul saat Kula berdiri di depan batang jagung pertamanya. Ia bingung bagaimana cara memisahkan tongkol jagung dari batangnya yang keras. Alih-alih memutar atau menariknya dengan teknik yang benar, Kula justru menggunakan logikanya sendiri.

Ia berdiri tegak, lalu dengan telaten mulai mengupas kulit jagung itu satu per satu langsung di pohonnya. Setelah biji jagung kuningnya terlihat bersih tanpa sehelai rambut pun yang tersisa, barulah ia memetik "isinya" saja, membiarkan kulit jagungnya tetap menempel dan menggantung di batang pohon seperti sampah plastik.

Paman dan sepupu Kula yang sedang sibuk memasukkan jagung (lengkap dengan kulitnya) ke dalam karung, menoleh ke arah Kula. Mereka terdiam sejenak melihat pemandangan ajaib tersebut.

"Loh, Kula! Opo toh itu?!" Paman Kula langsung tertawa terbahak-bahak sampai harus memegang lututnya.

"Kenapa, Paman? Ini kan lebih efisien, biar di rumah nggak usah capek-capek ngupas lagi. Langsung bersih, kan?" jawab Kula dengan wajah polos tanpa dosa.

Sepupunya ikut terpingkal-pingkal sambil menunjuk ke arah barisan pohon jagung yang kini tampak "telanjang" berkat kerja keras Kula. "Bang Kula, itu namanya cari penyakit! Nanti kalau dibawa ke rumah, jagungnya kotor semua kena tanah, lagian kulitnya itu buat pelindung biar nggak cepat busuk!"

Wajah Kula seketika memerah, lebih merah dari warna sambal katering Mami. Ia baru menyadari bahwa dalam hal pertanian, logika mesinnya sama sekali tidak berlaku.

[Grup WA: Warga Guweh]

Kula: (Mengirim foto jagung kupas di pohon) "Guys, ternyata panen jagung itu lebih ribet daripada bongkar transmisi motor. Gue diketawain satu desa."

Adit: "WKWKWK! Kula, Kula! Lu mah bukan panen, itu mah lu lagi maling jagung tapi versi sopan banget dikupasin dulu!"

Vino: " Anak teknik macam kau itu memang tak bisa dilepas ke alam liar. Balik saja kau ke komplek, biar katering Mami kau saja yang urus!"

Pak RT: "Papi doakan jagungnya manis ya Kul, semanis perjuangan kamu jadi anak desa dadakan!"

Setelah insiden "bedah jagung" yang memalukan di siang hari, suasana malam di desa berubah menjadi hangat dan meriah. Di halaman rumah Mbah yang luas, api unggun kecil sudah dinyalakan untuk berpesta jagung bakar hasil panen tadi. Namun, sebelum acara dimulai, Kula memutuskan untuk berkeliling desa menikmati sisa senja.

Kula membonceng Lilis, sepupu jauhnya yang masih duduk di bangku SMA, menggunakan sepeda listrik yang ia bawa dari kota. Di bawah langit desa yang mulai jingga, Kula melaju pelan melewati pematang sawah dan rumah-rumah penduduk yang asri.

"Bang Kula, di kota emang cowok-cowoknya putih-putih kayak Abang ya?" tanya Lilis tiba-tiba, suaranya sedikit malu-malu di balik punggung Kula.

Kula tertawa kecil, merasa kepercayaan dirinya kembali setelah jatuh di ladang jagung tadi. "Ah, nggak juga, Lis. Mungkin karena Abang lebih sering di bengkel atau di depan laptop, jadi jarang kena matahari langsung."

Lilis terdiam, tapi tangannya perlahan memegang ujung jaket Kula lebih erat. Baginya, Kula yang punya potongan rambut rapi, wangi parfum kota, dan bicara dengan logat Jakarta yang halus terlihat seperti aktor drama yang tersesat di desanya. Diam-diam, Lilis merasa beruntung bisa membonceng "Mas Kota" yang sangat ganteng ini.

Malam harinya, aroma jagung bakar yang manis memenuhi udara. Seluruh keluarga besar berkumpul melingkari api unggun. Kula sibuk mengipas jagung dengan gaya yang sok ahli, berusaha menebus kesalahannya siang tadi.

"Lis, nih jagungnya udah matang. Spesial buat kamu yang udah nemenin Abang jalan-jalan tadi," ucap Kula sambil menyodorkan setongkol jagung panas.

Lilis menerimanya dengan pipi yang mendadak memerah, jauh lebih merah daripada bara api unggun di depan mereka. Mbah yang melihat itu hanya tersenyum simpul, sementara Paman mulai menggoda.

"Wah, Kula, hati-hati! Lilis itu biasanya galak sama cowok desa, tapi kalau sama kamu kok jadi kalem kayak kucing belum makan?" goda Pamannya yang langsung disambut tawa riuh keluarga.

Suasana pesta jagung bakar di halaman rumah Mbah semakin hangat, diiringi suara jangkrik dan gemertak kayu yang terbakar. Paman Kula, dengan sarung tersampir di bahu dan kopi hitam di tangan, menatap keponakannya yang sedari tadi kesulitan memutar jagung agar tidak gosong.

"Kul," panggil Pamannya, sambil menyodorkan jagung yang sudah matang sempurna.

"Iya, Paman?" Kula menoleh, wajahnya sedikit cemong karena jelaga api.

"Abis lulus kuliah teknik itu, mending kamu pindah ke sini saja. Bantuin Paman berkebun. Tanah di sini luas, daripada kamu di kota cuma pusing liat macet sama kabel-kabel motor," tawar sang Paman dengan nada serius tapi santai.

Kula meringis, membayangkan dirinya harus bergelut dengan lumpur setiap hari. "Duh, Paman... Kula mah biasanya pegang kunci pas, kalau pegang cangkul bisa-bisa punggung Kula copot."

Paman tertawa terbahak-bahak, lalu melirik Lilis yang sedang asyik mengipasi jagung di sebelah Kula. "Halah, gaya kamu! Begini saja, kalau kamu mau tinggal di sini dan bantu Paman, Lilis ini buat kamu saja. Jadi pacar kamu, gimana? Biar ada yang nemenin ke ladang, kan Lilis sudah naksir berat sama kamu."

Seketika Lilis menunduk sangat dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah bara api di depan mereka. "Bapak ih! Apaan sih!"

Mami Kula yang duduk di kursi rotan tak jauh dari sana langsung tertawa renyah mendengar tawaran itu. "Aduh, Pakde! Jangan ditawarin yang aneh-aneh. Anak manja satu ini mana bisa hidup di desa kalau nggak ada Mami? Makan saja masih suka ditanyain mau lauk apa, apalagi disuruh berkebun. Bisa-bisa jagung dipanen pake gunting kuku sama dia!"

Kula pun ikut tertawa, meski dalam hati ia merasa terselamatkan oleh ejekan Maminya. "Setuju banget sama Mami! Paman, mending Kula jadi turis saja kalau ke sini. Kula nggak sanggup kalau tiap pagi harus bangun jam lima buat liat jagung.

Paman hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Dasar anak kota! Ya sudah, habiskan jagungmu itu, besok pagi ikut Paman ke sungai, awas kalau bangun kesiangan!"

Kula hanya menyengir lebar, sambil menikmati manisnya jagung bakar desa yang memang jauh lebih enak daripada yang biasa ia beli di pinggir jalan komplek.

[Grup WA: Warga Guweh]

Kula: (Mengirim foto selfie bareng Lilis yang lagi tersipu malu di samping api unggun) "Lapor warga! Meski gagal jadi petani, sepertinya pesona anak teknik masih sangat ampuh di pedesaan. Ada yang naksir nih, gawat!"

Adit: "Woy! Lu jangan bikin anak orang baper ya Kul! Inget, Zahra di komplek lagi nungguin lu (nungguin katering Mami lu sih sebenernya)!"

Vino: "Bah! Sok paten kali kau es kul Kul! Bilang saja kau cuma jadi supir sepeda dia kan? Tak percaya aku kalau ada yang naksir kau!"

Sarah: "Waduuuh, berita baru! 'Kula Si Anak Manja Jadi Rebutan Kembang Desa'. Langsung gue jadiin bahan konten kalau lu balik nanti!"

Juned: "Hati-hati Kul, biasanya kalau di desa itu tantangannya berat. Jangan sampai lu disuruh mahar pake kerbau satu kandang!"

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Dalgichigo: siaapp💪
total 1 replies
Jumi Saddah
👍👍👍👍👍👍👍🌹🌹🌹🌹
Dalgichigo: 🫰🏻🫰🏻🫰🏻
total 1 replies
Juli Idyawati
menarik ceritanya
Dalgichigo: Makasihh Kak Juli <3, jangan lupa lanjutin baca ya, karena ceritanya bakal makin menarik nihh
balas
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!