Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Aneh
Kedua bola mata Kenzie yang sedang persentasi sedari tadi diam-diam melirik memperhatikan Jeevan yang duduk tidak jauh darinya. Sepertinya Jeevan sedang gundah karena sedari tadi tidak memperhatikan apa yang sedari tadi Kenzie sampaikan, selalu menatap ponsel yang ada di atas meja, tepat di depan matanya. Entah pesan dari siapa yang ditunggu olehnya sehingga tidak seperti biasanya mengabaikan persentasi sewaktu rapat.
"Nunggu pesan dari siapa sih?" tanya Kenzie setelah selesai rapat menghampiri Jeevan yang masih terlihat gundah dan muram.
Seperti tidak ada semangat untuk hidup saat ini Kenzie melihat sahabatnya, sedikit lemas dan malas melakukan sesuatu. Yang bisa dilakukan olehnya hanya terus menatap layar ponselnya.
"Nggak ada," jawab Jeevan singkat sambil hendak bangkit dari duduknya menghindari pertanyaan Kenzie yang akan merepotkannya.
"Boong banget," ledek Kenzie sedikit kesal karena tahu Jeevan sedang berbohong.
Ada yang berbeda dari Jeevan akhir-akhir ini ketika bertemu dengan Valerie, tidak seperti biasanya Jeevan selalu melamun seolah memikirkan perempuan yang baru saja dikenalnya. Berbeda saat dirinya bersama Maura dulu yang terkesan cuek dan biasa saja jika Maura tidak menghubunginya. Tapi sekarang saat Valerie tidak ada kabar, seolah Jeevan kehilangan semangat hidupnya.
"Ngapain gue bohong," eles Jeevan berjalan meninggalkan Kenzie dengan nada terdengar malas menjawab pertanyaan sahabatnya.
"Nggak usah bohong sama gue. Sekarang lo lagi mikirin Vale, kan?" tebak Kenzie bangkit dari duduknya mencoba menahan kepergian Jeevan.
Kali ini Kenzie berhasil menghentikan langkah Jeevan saat mendengar nama Valerie seketika langkah kakinya terhenti, namun membelakangi Kenzie tidak menoleh ke arahnya. Kini Kenzie tahu kelemahan Jeevan adalah Valerie. Jeevan masih terdiam membeku saat membahas soal Valerie, sepertinya ia tidak bisa berbohong kepada Kenzie.
"Kenapa harus galau? Tinggal telepon aja apa susahnya?" sindir Kenzie mencoba menasehati namun membuat Jeevan kesal.
Lelaki yang mempunyai hobi berenang membalikan tubuhnya dan spontan melempar sesuatu kepada Kenzie, yaitu pulpen yang ada di saku kemejanya. Reflek Kenzie langsung menghindarinya ketika tahu Jeevan bisa melukainya. Kedua bola mata Kenzie membulat sempurna karena kaget. Ternyata suasana hati Jeevan sedang tidak bersahabat.
Prak....suara pulpen jatuh menghantam dinding tembok ruangan dan jatuh ke lantai. Tidak ada rasa bersalah terlihat di wajah Jeevan, hanya tatap dingin dan santai tanpa sepatah kata.
"Resek lo, main lempar aja. Salah gue apa?" Kenzie sedikit ketakutan khawatir jika Jeevan masih akan melemparkan sesuatu kepadanya.
Jarak mereka berdua tidak begitu jauh mungkin ada 4 meter saja, namun Kenzie masih harus waspada kedua kedua bola matanya mengawasi setiap gerak-gerik Jeevan.
"Bawel banget lo!" semprot Jeevan kesal namun dengan ekspresi wajah dingin dan datarnya hanya tatapan mata tajam yang mengintimidasi Kenzie.
"Gue cuman tanya, emang salah? Kalau kesel belum dapet kabar dari Vale, kenapa nggak telepon dia?"
"Ngomong sekali lagi gue robek mulut lo!" ancam Jeevan namun tidak membuat Kenzie jera untuk terus menggoda sahabatnya yang sepertinya mulai jatuh hati kepada Valerie.
Jeevan bisa menutupi perasaannya karena mungkin gengsi, tapi Jeevan lupa jika Kenzie sudah mengenal dirinya sejak lama.
"Masih aja gengsi, tinggal cari nama dia terus telepon. Ribet banget jadi lo, kalau kangen nggak usah dipendem jadi gabut kaya gini, kan?" Kenzie terus meledek dan menyindir Jeevan dan membuat lelaki phobia kucing semakin kesal.
Rasanya Jeevan sudah tidak tahan lagi dengan semua sindiran Kenzie yang membuat dirinya semakin merasa bersalah, sesaat Jeevan menarik napas panjang sambil memejamkan kedua bola matanya. Sekarang waktunya bagi Jeevan memberi Kenzie pelajaran karena sudah membuatnya kesal dan emosi. Dikejarnya Kenzie meski masih berada di dalam ruangan rapat. Melihat Jeevan mengejarnya secepat kilat Kenzie lari menghindari kejaran Jeevan, mereka berdua saling mengejar satu sama lain memutari meja rapat yang ada di ruangan itu. Wajah Jeevan memerah padam seperti hendak memakan sahabatnya. Sementara Kenzie selalu berusaha menghindari dan waspada akan amukan Jeevan.
"Kerjaan lo itu bikin gue nunggu lama kalau nggak bikin gue kesel!" semprot Jeevan sambil teriak berlari mengejar Kenzie yang mencoba menghindarinya.
"Lo aja yang repot, apa-apa harus sempurna nggak bisa diajak nyantai dikit," jawab Kenzie membela diri seraya mengatur napasnya yang baru saja dikejar Jeevan dua putaran sudah merasa napasnya tidak baik-baik saja.
Jeevan memang tipe lelaki yang suka hal yang perfect, ambisius dalam hal positif, dominan, bersikap dingin kepada perempuan, tidak bisa romantis. Berbeda dengan Kenzie yang mempunyai sifat tenang, santai dan bebas, mungkin karena dia hidup sebatang kara membuat dirinya tidak harus memikirkan siapa-siapa selain dirinya.
"Lama-lama bikin kesel juga nih anak!" Jeevan terus mencoba menangkap Kenzie yang selalu berhasil menghindarinya.
"Kita udahan sekarang. Bukannya kita harus berangkat buat foto prewed lo sekarang?" Kenzie mencoba mengganti topik pembicaraan agar Jeevan mau mengakhiri semuanya karena napasnya sudah tidak kuat lagi.
"Kenapa? Udah mulai bengek napas lo? Makanya jangan sering ngerokok?" ledek Jeevan menyindir dengan senyuman sinis terkesan bahagia melihat Kenzie yang mulai kelelahan.
"Setaaaaan! Gue ngerokok juga gara-gara lo yang ngajak dulu pas masih SMA! Pake nyalahin gue lagi!" semprot Kenzie tidak mau kalah.
Jeevan sudah menjadi perokok sejak SMA. Awalnya iseng melihat teman sekelasnya merokok dengan alasan membuang rasa penat, penasaran hal itu bisa menghilangkan rasa gundah dan penat akhirnya Jeevan mengikutinya. Alhasil Jeevan masih merokok sampai sekarang meski bukan perokok berat.
Mereka berdua sudah biasa seperti ini, sikapnya kadang seperti anak kecil jika mereka berdua bersama. Mungkin karena Jeevan dan Kenzie seumuran, dan sudah seperti teman lama ketika mereka pertama kali mereka kenal. Bagi Jeevan, Kenzie bukan sekedar sahabat dan anak angkat papanya, tapi dia adalah teman bercerita hal sekecil apapun yang tidak diketahui oleh keluarganya.
Kenzie adalah tempat Jeevan bersandar dan meluapkan semua resah di hatinya, tidak jarang Jeevan sering menangis di hadapan Kenzie jika memang dirinya sudah sangat lelah dan menyerah menghadapi dunia yang kadang tidak adil baginya. Kedua kakaknya yang sangat sukses membuat Jeevan harus bisa melebihi mereka berdua.
Meski suasana hatinya masih terasa gundah dan gelisah tidak membuat Valerie terlihat gugup di depan kamera. Sebagai seolah model profesional sudah keharusan Vale bisa membedakan masalah dan pekerjaannya. Tidak pernah sedikitpun terlihat di wajah Valerie yang menunjukkan jika dirinya sedang merasa sedih dan gelisah karena hubungannya dengan Nathan. Justru wajah cantiknya semakin bersinar tanpa ada orang lain yang menduganya.
Baru saja Valerie menyelesaikan sesi pemotretan terakhir untuk majalah, datang seseorang yang sebenarnya sedang dihindari olehnya, dia adalah Nathan. Memang selama mereka berdua pacaran, Nathan sudah sering sekali main ke tempat pemotretan Valerie, bahkan Nathan sudah mengenal staf yang sedang bekerja sama dengan Valerie.
Seperti saat ini ketika Nathan datang tidak ada rasa canggung saat mereka berpapasan, hanya saling menyapa dan tersenyum. Namun berbeda dengan Valerie yang terdiam membisu melihat kedatangan Nathan yang tiba-tiba tanpa memberitahukan dirinya lebih dulu.
"Hai," sapa Nathan masih dengan sikap ramah dan hangat saat Valerie hendak mengganti pakaiannya.
Valerie tidak menyangka jika Nathan akan menemuinya di tempat kerja, wajahnya terlihat begitu jelas tidak menyukai dengan kedatangannya, tidak ada senyum atau sikap hangat yang menyambutnya. Hanya tatapan kosong dan sikap dingin dengan garis bibir lurus membuat Nathan merasa sedih da yakin jika Vale ingin mengakhiri hubungan mereka berdua. Tapi Valerie harus bersikap biasa saja karena semua yang ada di sini tidak tahu tentang hubungan antara dirinya dan Nathan akan segera berakhir.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Vale yang sedikit merasa gelisah akan kedatangan Nathan di saat yang tidak tepat.
Bagaimana Valerie tidak merasa gelisah karena setelah pekerjaannya selesai akan ada pemotretan dirinya dengan Jeevan di sini untuk foto prewedding. Valerie berharap jika Jeevan akan datang terlambat dan Nathan harus segera pergi dari sini sebelum semua menjadi kacau.
"Jemput kamu. Kita makan siang bareng, yu?" ajak Nathan seolah tidak terjadi apa-apa kemarin.
Sikap Nathan masih sama seperti dulu yaitu seolah tidak pernah terjadi pertengkaran antara mereka kemarin, seperti Nathan melupakan apa yang sudah mereka bicarakan, membuat Valerie merasa bingung bagaimana lagi harus bicara kepada Nathan jika hubungannya harus segera berakhir.
"Aku nggak bisa, masih banyak kerjaan," jawab Valerie berbohong mencari alasan agar Nathan bisa pergi sesegera mungkin.
"Ya udah aku tunggu," jawabnya singkat seraya duduk di sofa yang sudah disediakan di sana untuk para stafnya.
Valerie kaget melihat sikap santai Nathan yang sedang duduk sambil memainkan ponsel miliknya, cara apa lagi yang harus Valerie lakukan agar Nathan tahu jika hubungan mereka berdua harus berakhir. Kepala Valerie mulai terasa pusing ketika memikirkan apa yang harus dilakukan olehnya. Melihat Vale yang masih berdiri mematung di hadapannya membuat Nathan kebingungan.
"Kenapa kamu melamun?" tanya Nathan menatap Valerie yang terlihat gelisah.
"Kayanya kamu lupa sama ucapanku kemarin?" Valerie mencoba mengingatkan kejadian kemarin.
Perubahan raut wajah Nathan terlihat begitu sangat jelas ketika Valerie menyinggung soal kejadian kemarin. Wajah tampan yang tadinya berseri-seri kini mendadak datar terkesan dingin dengan tatapan tajam menatap Valerie, seakan berkata jika dirinya tidak mau membahas lagi soal kemarin.
"Aku nggak mau bahas soal itu lagi. Anggap aku nggak pernah dengar!"
"Tapi Nathan..." ucap Vale mencoba menjelaskan namun sayang Nathan lebih dulu memotong pembicaraannya.
"Jangan bahas itu lagi, paham!" sela Nathan memotong pembicaraan dengan nada tegas.
"Ikut aku!" ajak Valerie merasa sudah sangat frustasi menghadapi Nathan.
Valerie berjalan lebih dulu menuju ruangan ganti di susul oleh Nathan dari belakang, memang di sana tidak begitu ramai hanya ada beberapa orang saja karena sebagian sudah pulang. Hanya tim yang akan mengurus foto prewedding Valerie saja di sana. Hati Valerie campur aduk dan pikirannya kacau bukan main, harus dengan cara bicara apa lagi memberitahu Nathan.
"Kamu ngerti nggak sih?" amarah Valerie mulai terlihat ketika mereka sampai di ruang ganti untuk bicara berdua saja.
Tatapan Nathan mulai tidak bersahabat menatap Valerie yang mulai kesal dan marah karena sikapnya, tapi Nathan ingin sekali melupakan kejadian kemarin. Baginya semua yang sudah Vale ucapkan adalah mimpi belaka. Wajah lelahnya begitu terlihat saat harus menghadapi Nathan yang egois.
"Aku bilang kalau hubungan kita harus berakhir!" tambah Valerie lagi dengan nada sedikit meninggi menatap Nathan dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena merasa lelah menghadapi Nathan.
"Aku nggak mau!" Tolak Nathan mentah-mentah dengan nada tegas menatap tajam Valerie.
Deg, mereka berdua saling menatap satu sama lain begitu tajam dan lekat. Sepertinya sekarang akan ada perselisihan lagi di antara mereka berdua. Valerie mencoba untuk bersabar dan tenang menghadapi Nathan.
"Terserah kamu. Tapi aku mau hubungan kita harus berakhir!"
"Kenapa harus berakhir? Kita nggak pernah ada masalah dan baik-baik aja! Kenapa harus aku yang ngalah?" suara Nathan mulai terdengar meninggi membentak Valerie dengan kedua bola matanya mulai memerah memendam amarah.
Glek, hari Valerie mulai terasa sakit karena merasa sangat jahat sekali kepada Nathan. Suasana mulai memanas dan Valerie berharap jika pembicaraan mereka berdua tidak sampai terdengar keluar sana.
"Kita nggak bisa menikah, Nathan!"
"Bisa! Aku akan menemui orang tuamu!"
"Kamu tuh nggak ngerti ya!" suara Valerie semakin meninggi karena sudah merasa kesal dan tidak bisa lagi menahan amarahnya.
Suasana semakin kacau perdebatan tidak bisa dihindari lagi oleh mereka berdua, amarah mereka berdua tumpah dan pecah. Suara nada meninggi terdengar samar-samar keluar ruangan membuat staf kaget dan saling menatap satu sama lain, seolah bertanya apa yang sedang terjadi di dalam sana antara sepasang kekasih itu.
"Kamu yang nggak ngerti, Vale!" Balas Nathan membentak Valerie dengan wajah yang merah padam serta kedua bola mata membulat sempurna.
Valerie sudah sering melihat amarah Nathan, namun baru kali ini melihatnya begitu sangat murka kepadanya dengan wajahnya yang memerah.
"Apa yang kamu mau selama ini aku beri! Gedung! Fasilitas transportasi! Uang! Apalagi yang kurang?" Nathan mengungkit apa yang sudah diberikan kepada Valerie selama mereka bersama.
Selama ini Valerie sudah mendapatkan gedung baru, transportasi seperti mobil dan uang dari Nathan, tapi itu semua bukan untuknya melainkan untuk rumah sakit kanker yang sedang dijalaninya. Ada alasan Vale mendapatkan semua itu dari Nathan.
"Akan aku kembalikan semuanya!"
"Aku nggak butuh semua itu! Apa dariku masih kurang sehingga kamu mencari yang lain?" Nathan semakin emosi membuat Valerie merasa sedikit ketakutan karena hanya mereka berdua saja di dalam.
"Siapa dia? Siapa orang yang akan menikah denganmu!?" Teriak Nathan lagi setelah melihat Valerie masih terdiam menahan air mata yang mulai memenuhi pelupuk matanya.
"Kamu nggak perlu tahu siapa dia! Yang aku mau hubungan kita harus berakhir!" Valerie semakin histeris dan tangisnya pecah di hadapan Nathan.
"Nggak! Aku nggak akan pernah mau putus! Kalau kamu masih mau kita udahan, lebih baik aku mati!" Tolak Nathan tegas mengancam Valerie membuatnya ketakutan.
Mendengar kata mati membuat Valerie semakin ketakutan, kata-kata yang mengerikan bagi Valerie untuk diingat dan diucapkan. Tidak lama kemudian Jeevan dengan Kenzie datang, yang baru saja sampai. Memang pemotretan yang dilakukan oleh Valerie berempat di sebuah kamar hotel mewah karena ingin terkesan santai. Baru saja Jeevan dan Kenzie memasuki ruangan kamar hotel sudah dibuat aneh dengan suasananya. Terasa sepi dan kaku. Jeevan dan Kenzie melihat para staf sedang berdiri berkumpul seolah sedang membicarakan sesuatu. Suasana di sana terkesan sangat dingin.
"Sepi baget. Pada kemana ini?" tanya Kenzie menatap sekeliling ruangan yang terlihat sepi.
Jeevan melihat di pojok dekat jendela kamar beberapa staf sedang berkumpul dan berbicara seperti berbisik, namun tidak ada Valerie diantaranya, kemana dia pergi? Saat Jeevan sedang mencari sosok Valerie tiba-tiba mereka yang ada di sana dikejutkan dengan suara pecahan kaca dari sebuah ruangan kamar, membuat semuanya panik.
Prank......Seperti suara pecahan kaca begitu terdengar jelas di telinga sehingga membuat Jeevan kaget dan ketakutan.
ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪