Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.
Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.
Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?
Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi ke kota (2)
Mereka bertiga menyelesaikan makanannya dan mulai mengemas perbekalan, Adam telah melakukannya terlebih dahulu, jadi dia mencoba membiasakan diri dengan senjata barunya.
Pipa besi sepanjang 100 cm itu digenggam Adam dengan solid, ketebalannya sekitar 4 cm jadi kemungkinan benda ini akan bertahan paling tidak sampai Adam menemukan senjata yang layak.
Adam mengambil kuda-kuda, cengkeramannya diperkuat saat ia mengerahkan kekuatannya untuk mengayunkan senjata barunya.
Angin mendesing saat besi yang dingin melesat dengan cepat. Titik tumpu beratnya sedikit kacau, Adam hampir tergelincir dan menjatuhkan benda itu yang beratnya sekitar 4 kg.
Adam mengangguk, benda ini cukup untuk saat ini. Meski begitu dia harus membiasakan diri terlebih dahulu.
Berbeda dengan linggis Rifana yang memiliki berat kurang dari 2 kg, fungsi dan kelayakannya tentu jauh berbeda di tangan mereka.
Rifana tak sanggup mengangkat pipa besi itu untuk waktu yang lama, sedangkan Adam dapat menggunakan keduanya dengan leluasa.
Jika linggis Rifana digunakan untuk serangan cepat yang mengganggu musuh, maka pipa besi Adam adalah penyerang yang akan menghancurkan tubuh musuhnya dengan [Skull Crusher] miliknya.
Ayunan demi ayunan dikerahkan, Adam terus menjaga posisinya.
Ziva masih mengambil peran yang sama, dia mengendap ke halaman rumah untuk mengambil batu sebagai amunisi cadangan. Meskipun bidikan dan akurasinya bisa dibilang rendah, Ziva tak menyerah dan tetap melatihnya setiap ada kesempatan.
Dia kembali ke dalam setelah mengambil jumlah yang cukup. Dan memasukkannya kedalam tas ransel miliknya, kotak P3K masih disana dengan rapi, ketiganya mempersiapkan perbekalan yang cukup dan akhirnya.
Mereka menggendong tas masing-masing dan berjalan dalam formasi yang ditentukan, melewati ambang pintu. Mereka pergi sekali lagi.
. . .
Di bawah langit yang penuh robekan, sosok-sosok misterius merayap menelusuri kegelapan, bau anyir yang familiar telah terintegrasi di seluruh tempat.
Suara rintihan aneh, bergema di seluruh tempat membuat Trio itu gemetar.
Adam dengan pipa besi dalam genggamannya melewati gang kecil perumahan, disusul oleh Rifana beserta Ziva di belakangnya.
Mereka berusaha pergi setenang mungkin dari tempat ini, berpacu dengan waktu, keringat dingin mulai menetes dari tubuh mereka.
Death Zone telah menyebar lebih jauh, spora kemerahan itu hampir mengambil alih sisi lain perumahan ini. Menciptakan kengerian merah tua sejauh mata memandang, sedangkan.
Di arah sebaliknya, mutan spesial yang tinggal di danau itu juga melakukan ekspansi wilayah di saat yang sama, reptil-reptil keturunannya bahkan kini muncul dalam kelompok lengkap 6-7 ekor.
Kelompok Rifana tentunya tak bisa menang melawan jumlah itu, mereka bersembunyi di sudut dan mengambil jalan memutar saat bertemu monster mutan.
Ini membuat perjalanan yang seharusnya singkat, diperpanjang tanpa daya.
Tak ada pilihan lain.
Mereka terhimpit ditengah dua kekuatan besar yang tak lama lagi akan bentrok, Rifana meneliti di sepanjang jalan, meski tubuh mereka terasa baik-baik saja, dia tetap merasa ada yang janggal.
Sifat kedua lingkungan sebenarnya sama, tidak, seluruh bumi mungkin sama sekarang.
Meski sulit, Rifana dapat melihat partikel-partikel kecil yang hampir tak kasat mata di seluruh tempat.
Layaknya partikel spora kemerahan itu, wilayah yang ditandai Abomination Crocodile juga bertukar ciri yang sama, memang tak sejelas spora merah, namun di seluruh tempat antek-anteknya meninggalkan sesuatu yang aneh.
Itu tampak seperti organ dalam, yang berdenyut dalam ritme yang lamban. Setiap denyut yang disebabkannya, cahaya halus tersebar ke sekitar, persis seperti kengerian merah tua itu.
Rifana tak ingin terlibat masalah lebih jauh, mereka terus menghindari monster hingga akhirnya sampai di pintu keluar.
Sekarang hanya ada satu masalah terakhir.
Ketiganya melihat jalur yang terbentang di hadapan mereka, aspal dingin dibangun sejauh ratusan meter, di ujungnya sebuah pos jaga ditinggalkan dalam kesunyian.
Tumpahan cahaya langit menyinari jalan mereka yang mudah, kebersihan yang mengerikan.
Meneguk ludah, ketiganya sedikit paranoid.
Mereka harus bertaruh sekarang, hutan yang rimbun mengelilingi kedua sisinya, pepohonan diselimuti oleh kabut sunyi layaknya tabir yang menutup dunia.
Tak ada bangunan lain di sepanjang jalan, selain pos jaga dan gerbang di ujung.
Mereka tak lagi bisa bersembunyi, ini saatnya menghadapi kebebasannya.
Langkah pertama diambil Adam, keluar dari kegelapan bulu kuduk mereka menegang, jari-jemari mereka kaku saat udara turun bersama tekanannya yang gila.
Ketiganya saling menatap satu sama lain, dengan gemetar mereka maju bersama.
"Terlalu sepi" Ucap Rifana singkat, instingnya telah memperingatkan dirinya sejak tiba di tempat ini "Ya. Ini gak normal" Ziva membalas dari belakang, memperbaiki posisi tasnya yang mengendur, dia mulai mempercepat langkahnya.
Ketiganya menutup jarak dan berjalan selangkah dari masing-masing tempat.
Ingatan tentang pengetahuan biasanya selalu disambut dengan baik, namun Rifana tertegun menghentikan langkahnya.
Kalimat sakral yang selalu dikatakan orang-orang saat mereka kembali dari alam liar.
"Saat alam menjadi sunyi, kau tahu apa yang harus dilakukan."
Sejarah umat manusia telah terbentang selama ribuan tahun, bahkan sejak zaman nenek moyang mereka ada satu hal yang tak pernah berubah.
Semua manusia mewarisinya dalam darahnya.
Itu tak pernah hilang, melainkan memudar.
Kata terakhir dalam ingatan Rifana di teriakkan dengan keras, ketiganya membuang seluruh tenaganya tak berani setengah-setengah.
Dan saat ini, warisan 'Itu' bangkit dalam tubuh mereka.
Insting bertahan hidup!
Hanya satu alasan yang masuk akal saat alam kehilangan suaranya, adanya seseorang predator!
Dan benar saja, tepat setelah mereka mulai berlari, di kedalaman hutan kerusuhan terjadi.
Benda-benda diterbangkan tinggi ke langit, mengacak-acak fitur hutan yang subur dan rindang itu, merobeknya menjadi dua.
Rifana tak berani mengalihkan pandangannya.
Dia terus mendorong ketiganya untuk berlari, namun sepertinya Ziva telah mencapai batas tubuhnya.
Ugh.. Dia tersandung hampir terjatuh, Rifana membantunya di saat terakhir, dia memanggil Adam.
"Bawa Ziva, kita harus cepat!"
Adam dengan fisiknya menggendong adiknya dan mulai berlari tanpa pamrih, meninggalkan Rifana jauh dibelakang.
'Sialan' Langkahnya mulai melambat, kaki Rifana berdenyut hebat, teman lama ini datang di waktu yang buruk.
Dia tertinggal cukup jauh di belakang, langkahnya mulai tertatih dan.
Brukk!
Gelondong kayu terlempar tepat di sisinya, tanpa sadar Rifana menoleh kebelakang.
Tirai hijau dirobek sepenuhnya mengungkap sosok dibaliknya, dengan bulu hitam mengkilap tubuh ramping makhluk itu bersimbah cahaya.
Tubuhnya menjulang hampir tiga meter dari permukaan tanah, dengan cakar tajam yang menjorok keluar di kedua kaki depannya, makhluk itu merobek batang kayu dengan mudah layaknya selembar tisu.
"F*ck" Rifana membanting kepalanya kembali ke jalurnya, darahnya mendidih dengan gila, nafasnya semakin berat saat skillnya aktif tanpa sadar.
Kekuatan melonjak dari tubuhnya, seluruh ototnya diperkuat dengan cepat mengembalikan Rifana kembali berlari menuju gerbang.
Makhluk apapun itu!
Gua harus lari—