NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam yang Mengubah Segalanya

Perjalanan dari Bandung menuju rumah di pinggiran kota kecil Jawa Barat terasa lebih panjang dari biasanya. Biasanya tiga jam, malam ini terasa seperti tiga tahun.

Rafiq Al Farisi menatap jalanan gelap di depan matanya, sesekali menyeka keringat dingin yang membasahi dahinya, meskipun suhu di dalam Fortuner hitam itu dingin karena AC dinyalakan penuh.

Mimpi itu masih membekas jelas di pelupuk matanya. Mimpi yang sama, untuk kesekian kalinya dalam setahun terakhir. Ia melihat rumahnya—rumah yang ia bangun dengan jerih payah bersama istrinya—berada dalam kegelapan total, dan dari dalam rumah itu terdengar suara-suara yang tidak bisa ia jelaskan.

Suara yang membuat bulu kuduknya berdiri. Tapi malam ini berbeda. Malam ini, ia tidak hanya bermimpi. Ia merasakannya. Firasat yang begitu kuat, seperti ada tangan dingin yang mencengkeram jantungnya dan memaksanya untuk pulang.

Istri tercinta, Aisyah, sudah setahun belakangan ini menunjukkan perubahan. Awalnya Rafiq pikir itu hanya ujian dalam rumah tangga. Aisyah menjadi lebih pendiam, lebih sering menyendiri, dan yang paling mengganjal adalah tatapan matanya yang kadang terasa kosong, seperti sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh Rafiq.

Rafiq, sebagai suami yang agamis dan berusaha menjalankan syariat dengan baik, selalu mencoba mendekati istrinya dengan lembut. Ia mengajak bicara, ia berusaha menghidupkan kembali kehangatan yang dulu selalu ada di antara mereka.

Namun Aisyah selalu mengelak. "Tidak apa-apa, Mas. Aku hanya lelah."

Begitu terus. Bulan demi bulan.

Tono. Sahabatnya sejak bangku SMA. Mereka berdua, bersama-sama dari nol, merintis perusahaan konstruksi kecil yang kini mulai berkembang pesat. Tono adalah orang yang selalu ada untuk Rafiq dalam suka dan duka.

Mereka berbagi mimpi, berbagi keringat, bahkan di awal pernikahan Rafiq, Tono-lah yang paling sibuk membantu persiapan.

Hubungan Tono dengan Aisyah pun akrab, wajar karena Tono sering datang ke rumah untuk diskusi pekerjaan atau sekadar ngopi bersama.

Rafiq menarik napas panjang saat mobilnya mulai memasuki jalanan kampung yang semakin sempit. Pepohonan rindang di kiri kanan jalan menciptakan bayangan-bayangan aneh yang bergoyang diterpa angin malam.

Jarum jam di dashboard menunjukkan pukul 23.47 WIB. Setengah jam lagi menuju tengah malam.

Ia seharusnya baru pulang besok pagi. Ada urusan proyek yang belum selesai di Bandung. Namun sekitar pukul 20.00 tadi, setelah Isya, ia kembali mendapatkan mimpi buruk itu meskipun hanya terlewat sejenak saat beristirahat di hotel. Kali ini berbeda.

Dalam mimpinya, ia mendengar suara Aisyah. Bukan suara lembut yang biasa ia dengar setiap pagi. Suara yang aneh. Suara yang bercampur antara tangisan dan tawa. Dan ada suara lain. Suara yang familiar. Suara Tono.

Rafiq menggelengkan kepala, mencoba membuang pikiran-pikiran buruk itu.

"Astaghfirullah," gumamnya. "Jangan berpikiran buruk pada istri sendiri. Jangan berpikiran buruk pada sahabat sendiri."

Tapi firasat itu tidak bisa ia bohongi. Setahun terakhir, ia merasa ada yang ganjil. Panggilan telepon yang sering kali tidak dijawab Aisyah ketika ia sedang di luar kota. Kedatangan Tono ke rumah yang semakin sering, bahkan ketika tidak ada urusan pekerjaan.

Dan yang paling mengganggu adalah tanda-tanda tak lazim yang ia rasakan—seperti ada energi negatif yang menyelimuti rumahnya setiap kali ia pulang, meskipun ia selalu berusaha membacakan ayat-ayat suci sebelum memasuki rumah.

Fortuner itu akhirnya melambat. Rumahnya sudah terlihat dari kejauhan. Rumah permanen berlantai satu dengan cat krem yang dulu begitu hangat dipandang, kini di tengah malam seperti terlihat asing. Rafiq tidak langsung memarkirkan mobil di halaman depan seperti biasa.

Ia mematikan lampu mobil, memundurkan sedikit, dan memarkirkan kendaraannya di bawah pohon rindang milik tetangga yang jarang ditempati, sekitar lima puluh meter dari rumahnya.

Ada sesuatu yang membuatnya enggan terlihat. Firasatnya berkata: jangan masuk dengan cara biasa.

Ia turun dari mobil dengan gerakan pelan, membuka pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Udara malam dingin menusuk pori-porinya. Mengenakan kemeja putih lengan panjang yang sudah sedikit kusut dan celana bahan hitam, Rafiq terlihat seperti pria metropolitan yang kelelahan.

Wajahnya yang tirus dengan jenggot yang terawat kini tampak tegang. Matanya yang biasanya teduh ketika membaca Al-Qur'an, malam ini menyala dengan kegelisahan yang sulit dijelaskan.

Ia berjalan menyusuri pinggir jalan, langkahnya pelan dan senyap. Sandal kulitnya ia lepas dan genggam di tangan kiri. Kaus kakinya yang tipis meredam langkah di aspal kasar. Setiap langkah terasa berat, seperti kakinya diikat oleh beban yang tak terlihat.

Rumah itu semakin dekat. Lampu teras masih menyala, seperti biasa. Lampu berwarna kuning hangat yang selalu ia pasang untuk menerangi jalan pulang Aisyah jika ia sedang di luar kota. Tapi malam ini, lampu itu tidak terasa hangat. Cahayanya seperti pucat, seperti menerangi sesuatu yang seharusnya tidak diterangi.

Rafiq berhenti sejenak di depan pagar. Matanya mengamati setiap sudut rumahnya. Daun jendela kamar tamu terbuka sedikit, padahal ia yakin sebelum berangkat ia menutup rapat semua jendela. Pintu depan—ia melihatnya dari kejauhan—tampak tidak terkunci rapat. Ada celah kecil antara daun pintu dan kusennya.

Tidak mungkin Aisyah lupa mengunci pintu. Ia selalu mengunci pintu setiap malam, apalagi ketika aku sedang tidak di rumah.

Dadanya berdebar semakin keras. Ia bisa merasakan detak jantungnya hingga ke ujung jari-jari kaki.

Keringat dingin kembali membasahi punggungnya. Rafiq membuka pagar pelan-pelan, engsel pagar yang biasanya berdecit anehnya malam ini diam seribu bahasa. Seperti alam pun ikut mendukung misinya untuk tidak terdeteksi.

Halaman depan terasa lebih gelap dari biasanya. Tanaman hias yang biasa ia rawat bersama Aisyah setiap Sabtu pagi kini terlihat seperti semak-semak tak beraturan. Rafiq melangkah melewati teras. Ia memegang gagang pintu depan—dingin, sangat dingin. Ia tekan perlahan. Pintu terbuka. Tanpa suara.

Tidak terkunci.

Rafiq menelan ludah. Ia melangkah masuk ke dalam. Kegelapan menyambutnya. Ruang tamu yang biasa ia gunakan untuk mengaji bersama Aisyah setelah Maghrib kini gelap gulita.

Hanya ada cahaya tipis dari lampu teras yang masuk melalui jendela, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang bergoyang seolah-olah ada sesuatu yang bergerak di sudut-sudut ruangan.

Ia tidak menyalakan lampu. Instingnya berkata untuk tetap dalam kegelapan.

Sepatu kets yang ia kenakan sudah ia lepas di teras. Kini hanya dengan kaus kaki, ia melangkah menyusuri lorong menuju kamar tidur utama.

Setiap langkah terasa seperti melangkah di atas bara api. Kakinya terasa panas, tapi juga dingin. Sensasi yang membingungkan.

Dan kemudian ia mendengarnya.

Suara itu. Dari kamar utama.

Desahan.

Rafiq membeku di langkah ketiga. Tangannya yang memegang tembok mulai gemetar. Kepalanya terasa berdenyut. Telinganya seperti ingin menolak suara yang masuk, tapi suara itu terus menusuk gendang telinganya.

Desahan nikmat. Suara yang ia kenal dengan sangat baik. Suara yang biasanya ia dengar di telinganya ketika malam-malam penuh cinta bersama istrinya. Suara yang selalu membuatnya merasa menjadi suami yang paling beruntung di dunia.

Tapi malam ini, suara itu terasa seperti belati yang menikam dadanya berulang-ulang.

"Hmm... iya... di situ..."

Suara Aisyah. Jelas. Tidak mungkin salah.

Dan kemudian tawa. Tawa bahagia, ringan, seperti tawa Aisyah ketika sedang sangat menikmati sesuatu. Tawa yang dulu hanya ia dengar ketika ia membelai rambut panjang istrinya sambil membisikkan kata-kata cinta.

Tapi tawa malam ini bukan untuknya.

Rafiq merasakan dadanya sesak. Matanya mulai panas. Ada sesuatu yang mengalir di pipinya—air mata, yang jatuh tanpa izin. Ia menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah. Jantungnya seperti diremas-remas oleh tangan tak kasat mata.

Pergi saja. Kamu tidak perlu melihat ini. Cukup kamu tahu. Pergi, Rafiq. Pergi dan jangan pernah kembali.

Suara di dalam kepalanya berteriak. Rasa sakit yang menusuk ingin membuatnya berlari keluar, masuk ke mobil, dan melaju kencang tanpa arah. Tapi kakinya tidak bergerak. Ada sesuatu yang lebih kuat dari rasa sakit—kebutuhan untuk melihat.

Bukan untuk menyakiti dirinya sendiri lebih dalam, tapi untuk memastikan. Untuk tidak hidup dalam kebohongan. Untuk tidak menjadi suami yang bodoh yang terus menerus dimanfaatkan.

Ia butuh melihat.

Setiap langkah yang ayunkan terasa seperti mendaki gunung dengan seribu kilo beban di pundaknya. Suara itu semakin jelas. Desahan. Tawa. Bisikan-bisikan mesra yang membuat bulu kuduknya berdiri karena ia tahu—ia tahu persis—bibir siapa yang membisikkan kata-kata itu.

Dan satu suara lagi. Suara pria. Suara yang familiar seperti suaranya sendiri karena telah ia dengar sejak belasan tahun lalu. Suara yang pernah menjadi tempatnya berbagi mimpi, berbagi suka duka, berbagi roti di masa-masa sulit membangun perusahaan dari nol.

Suara Tono.

"Kamu cantik sekali malam ini, Ay."

Panggilan itu. Ay. Panggilan sayang yang selama ini hanya Rafiq yang berhak mengucapkannya. Kini keluar dari mulut sahabatnya sendiri.

Rafiq sampai di ujung lorong lantai atas. Kamar tidur utama ada di ujung sana. Daun pintu kamar itu tidak tertutup rapat. Ada celah sekitar sepuluh sentimeter, dan dari celah itulah cahaya redup lampu tidur menyembur keluar, menciptakan garis cahaya tipis di lantai kayu lorong.

Ia mendekat. Langkahnya kini seperti hantu—tanpa suara, tanpa napas, seolah-olah ia sendiri sudah mati saat itu juga. Jantungnya berdegup kencang, tapi tubuhnya terasa kosong. Seperti ada yang mencabut seluruh isi dirinya dan menyisakan hanya cangkang.

Rafiq berdiri di depan pintu. Tangan kanannya terangkat, gemetar, dan menyentuh permukaan kayu pintu. Dingin. Sama dinginnya dengan pintu depan.

Ia mendorong. Perlahan.

Pintu terbuka lebih lebar.

Dan ia melihat.

Kamar itu—kamar yang ia desain sendiri bersama Aisyah, dengan tempat tidur berukuran king yang mereka beli dari hasil tabungan pertama pernikahan, dengan sprei warna krem kesukaan Aisyah, dengan rak buku kecil di pojok kanan yang berisi kitab-kitab dan buku-buku Islami—kini menjadi tempat yang sangat asing.

Cahaya lampu tidur berwarna oranye samar menyinari pemandangan di depan matanya.

1
La Rue
Sensasi horornya benar² terasa. Tapi aku suka,karena gaya penulisan yang khas dari Sang Penulis. Semoga banyak yang mampir karena ceritanya bagus dan jarang typo 👍
La Rue: sama-sama
total 2 replies
La Rue
Waduh makin seram tapi semakin penasaran 😱🤭
La Rue
seram tapi penasaran 😱🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!