Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Definisi 'Usaha' Ala Gisel
Pagi harinya, suasana dapur sudah sibuk. Gisel dengan cekatan menyiapkan sarapan, namun ada yang berbeda. Ia tampak sudah rapi, tidak seperti biasanya yang hanya memakai daster atau baju rumahan.
Alya yang turun duluan langsung mengernyit bingung. "Sel, rapi amat? Mau ke mana?"
"Kerja," jawab Gisel singkat sambil menaruh piring.
"Kerja?!" Alya melongo. Sejak kapan ibu sambungnya yang ajaib ini punya kantor?
Tak lama, Raka turun dengan gaya santainya. Ia pun terhenti melihat penampilan Gisel. "Wih, sudah rapi. Mau ke mana lo?"
"Kerja," jawab Gisel lagi. Dalam hati Gisel membatin, “Kurang baik apa coba aku jadi ibu kamu, Raka? Demi bantuin Hana, aku rela kerja rodi di kantor Bapakmu!”
"Kerja? Tiba-tiba banget?" Raka mengernyit, merasa ada yang aneh.
"Iya, Papamu yang nyuruh semalam," sahut Gisel enteng.
Tepat saat itu, Dewa muncul dari arah tangga, sudah rapi dengan setelan jasnya. "Aku nyuruh apa?" tanya Dewa bingung saat mendengar namanya disebut-sebut.
"Nyuruh kerja," jawab Gisel mantap.
"Kapan? Kok aku lupa?" Dewa mengernyitkan dahi.
"Semalam! Mas bilang begini: 'semua itu tergantung usaha kamu'. Ya artinya aku harus kerja, kan? Makanya hari ini aku mau ke kantor Mas, kasih aku jabatan apa saja deh ucap Gisel dengan nada penuh semangat juang.
Semburrr!
Raka yang sedang asyik meminum susunya seketika menyemburkan cairannya kembali ke gelas (dan sebagian ke meja). Ia terbatuk-batuk hebat, wajahnya memerah menahan tawa yang meledak. Sebagai cowok yang baru lulus SMA dan sudah cukup umur, Raka paham betul arah kata-kata "usaha" yang dimaksud ayahnya semalam.
"Raka! Ih, jorok banget sih!" omel Alya sambil menjauhkan piringnya.
Dewa menatap Raka dengan tatapan tajam dan bingung. "Raka, pelan-pelan kalau minum."
"S-sorry, Pa..." Raka berusaha mengatur napasnya, lalu menatap Gisel dengan tatapan geli. "Sel, lo beneran nggak tahu arti 'tergantung usahamu' yang dimaksud Papa?"
"Tahu, kok!" jawab Gisel dengan nada menantang.
"Apa coba?" pancing Raka sambil melirik ayahnya yang mulai terlihat salah tingkah.
"Ya harus kerja! Mas Dewa kan CEO, mana mungkin dia kasih bantuan gratis kalau akunya malas-malasan di rumah. Makanya aku mau membuktikan kalau aku sanggup 'usaha' di kantornya!" jelas Gisel dengan sangat yakin.
Raka langsung tertawa ngakak sampai memegangi perutnya. Sementara itu, wajah Dewa yang biasanya sedingin es kini berubah menjadi merah padam. Ia merasa sangat malu karena ternyata anak tertuanya jauh lebih "berpengalaman" dalam menangkap sinyal dewasa dibanding istri kecilnya yang polos tapi bermulut berani itu.
"Diam, Raka. Lanjutkan sarapanmu," desis Dewa dengan suara tertahan, sambil membuang muka agar Gisel tidak melihat betapa malunya dia saat ini.
Dewa tidak tahan lagi mendengar tawa Raka yang semakin menjadi-jadi di meja makan. Dengan wajah yang masih memerah menahan malu, ia segera menarik tangan Gisel. "Ikut aku sebentar," tegas Dewa sambil membawa Gisel kembali naik ke lantai atas menuju kamar mereka.
"Loh, Mas! Kok malah balik ke kamar lagi? Nanti telat loh ke kantornya! Aku juga harus absen jam delapan, kan?" protes Gisel yang masih semangat ingin jadi "karyawan teladan".
Sesampainya di dalam kamar, Dewa menutup pintu dan berbalik menatap Gisel lekat-lekat. Ia menghela napas panjang, mencoba menetralkan rasa frustrasinya menghadapi kepolosan istrinya yang ajaib ini.
"Gisel, dengar aku," ucap Dewa sambil memegang kedua bahu Gisel. "Kamu di rumah saja. Jaga Diego, urus keperluan rumah. Kamu tidak usah kerja di kantor."
Gisel mengernyitkan dahi, tampak protes. "Ih, gimana sih? Semalam bilangnya 'tergantung usaha', eh pas udah pagi malah disuruh jaga anak! Mas maunya aku gimana sebenarnya? Labil banget!"
"Jaga anak," ulang Dewa dengan nada mutlak yang tidak bisa dibantah. "Itu 'usaha' yang aku maksud untuk saat ini. Menjadi ibu yang baik buat mereka."
Gisel melipat tangan di dada, matanya menyipit penuh selidik. "Terus... masalah Hana gimana? Mas janji mau bantu kalau aku 'usaha', kan? Kalau aku cuma di rumah, Mas tetap bantu dia?"
Dewa terdiam sejenak, lalu tangannya beralih mengusap kepala Gisel dengan lembut—sebuah gerakan yang jarang ia lakukan tapi selalu berhasil membuat Gisel terdiam. "Iya. Biar Mas yang urus semuanya.
Gisel langsung berbinar. "Beneran? Mas nggak bohong?"
"Kapan aku pernah bohong sama kamu?" jawab Dewa pelan. "Sekarang, ganti bajumu. Pakai baju rumahan lagi, temani Diego main. Jangan sampai Raka liat kamu pakai baju kantor lagi, dia bisa ketawa sampai tahun depan."
Gisel akhirnya nyengir lebar. "Oke bos! Siap laksanakan! Makasih ya Mas-ku yang paling ganteng sejagat raya!" Gisel memberikan kecupan singkat di pipi Dewa sebelum berlari menuju lemari pakaian.
Dewa hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Ternyata, mengurus satu istri kecil yang smart tapi gagal paham ini jauh lebih menguras tenaga daripada memimpin rapat pemegang saham.