Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.
Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.
Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.
Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Hari Sial yang Menguntungkan”
Nayla melihat dari kejauhan para pengasuh anak kecil itu berjalan mendekat ke arahnya. Ia mengerutkan kening, bertanya-tanya dalam hati, ada urusan apa lagi mereka.
Anak laki-laki itu masih memberengut, tangannya tetap bersedekap di dada. Entah kenapa, ekspresi itu justru terlihat lucu di mata Nayla. Wajahnya juga sudah tidak semerah sebelumnya.
Saat para pengasuh itu sampai di depan Nayla, mereka langsung membungkuk dan meminta maaf. Nayla tetap memasang wajah cemberut, sengaja menjaga gengsi. Mereka kemudian memberikan uang sebesar lima juta rupiah sebagai kompensasi.
Caca langsung angkat bicara, “Nay, mereka minta maaf tuh. Mereka juga ngasih kompensasi, kamu bisa terima, kan?”
Sementara itu, Karen dan Mirna memberi isyarat dengan bahasa tubuh agar Nayla menerimanya. Gerakan mereka malah terlihat aneh, hampir seperti orang kejang, membuat Nayla ingin tertawa.
Dalam hati, Nayla sebenarnya terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka akan diberi kompensasi sebesar itu hanya karena kejadian yang menurutnya sepele. Namun, ia berusaha tetap tenang agar tidak terlihat terlalu tergiur.
Lima juta? Gak seberapa buat kesalahan kayak gini,” ucap Nayla dengan nada jual mahal. “Uangnya aku terima… dan makasih.”
Ia masih sempat melempar tatapan sinis ke arah anak laki-laki itu. Namun jauh di dalam hati, ia justru merasa anak itu terlihat menggemaskan.
**
Setelah mereka pergi, Nayla langsung menghela napas lega. Wajahnya berubah cerah dalam sekejap.
“YES! Lima juta! Dikasih cuma-cuma!” serunya kegirangan.
Karen dan Mirna ikut heboh. “Ayok, kita makan lagi!”
Mereka bertiga tertawa bersama, suasana kembali cair.
Nayla kemudian memutuskan untuk mengganti pesawat mainan yang rusak akibat insiden tadi, sekaligus membelikan yang baru untuk anak Mirna. Setelah itu, mereka mulai mencari tempat makan, dengan kondisi kening Nayla yang masih diperban.
Setelah berkeliling sebentar, mereka akhirnya memilih sebuah kedai ramen di dalam mall.
“Katanya ramen di sini enak, makan di sini aja yuk,” ajak Caca.
Yang lain langsung mengiyakan. Mereka pun membagi tugas—ada yang memesan, ada yang mencari tempat duduk karena kedainya cukup ramai.
Setelah mendapatkan tempat dan menunggu pesanan datang, mereka mengobrol santai sambil sesekali tertawa. Hingga akhirnya, Karen menatap Nayla dengan ekspresi serius.
“Nay… serius deh. Tadi kamu gak sakit banget? Kening kamu sampai diperban gitu.”
Suasana sedikit berubah. Nayla yang sedang minum berhenti sejenak, lalu tersenyum santai.
“Ya sakit lah, masa enak. Tapi gak sampai trauma juga,” jawabnya ringan. “Anggap aja rezeki nomplok.”
Mirna langsung menimpali, “Rezeki nomplok apaan, itu mah kamu hampir jadi korban pesawat tempur bocil.”
Mereka pun kembali tertawa.
Caca yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara, “Tapi serius, Nay… itu anak dari tadi ngeliatin kamu terus. Kayaknya dia ngerasa bersalah banget.”
Nayla terdiam sejenak. Ia memang sempat menyadari hal itu. Ekspresi anak itu terlihat aneh—campuran antara kesal, malu, dan bersalah.
“Ya bagus dong, berarti dia masih punya hati,” jawab Nayla santai. “Walaupun mukanya nyebelin.”
Karen langsung tertawa, “Kamu juga dari tadi adu sinis sama dia!”
“Ya masa aku kalah sama bocil,” balas Nayla sambil tersenyum.
Namun di tengah suasana itu, pikiran Nayla sesekali kembali ke kejadian tadi.
Ke anak laki-laki itu.
Ke ekspresinya.
Dan ke caranya tetap berdiri diam saat pengasuhnya meminta maaf.
“Hm…”
Caca langsung menyadarinya. “Kenapa? Kepikiran ya?”
Nayla buru-buru menggeleng. “Enggak.”
“Tuh kan, kepikiran,” goda Karen.
“Ih, enggak ya enggak!” protes Nayla, meski akhirnya ikut tertawa.
Namun jauh di dalam hatinya…
Ia memang sedikit penasaran pada anak itu.
Sedikit saja.
**
Nay, kamu kenapa sih? Aku tahu kamu agak kekanakan, tapi tadi kamu berlebihan, tahu!”
Karen menatap Nayla serius. Di antara mereka, Karen memang yang paling peka. Wajar saja—ia anak psikologi.
Nayla tidak langsung menjawab. Ia hanya diam, menyusun kata-kata di kepalanya.
“Nayla tadi nerima pesan,” ujar Caca tiba-tiba, mengambil alih. “Dan raut wajahnya langsung berubah. Kalian juga tahu kan… kalau Nay lagi kesal atau benci, kelihatan banget.”
“Nay, cerita dong,” timpal Mirna. “Masalah disuruh cepat nikah itu?”
“Nay—”
Mereka bertiga memanggilnya hampir bersamaan.
Nayla menghela napas. “Kalian kok kompak banget sih…”
“Hahaha!” Mereka semua tertawa, suasana mencair sejenak.
Setelah menarik napas panjang, Nayla akhirnya mulai bercerita.
“Jadi gini… tadi aku dapat pesan dari kakak pertamaku. Aku disuruh pulang minggu depan. Katanya cuma kenalan doang…”
Ia berhenti sebentar, wajahnya mulai menunjukkan ketidaksukaan.
“Tapi kalian tahu sendiri kan, aku paling anti yang namanya perkenalan. Aku tuh gak suka mulai dari nol. Dan ini… kakakku bilang wajib.”
Caca, Karen, dan Mirna langsung diam, mendengarkan.
“Terus tadi ada yang minta save nomor…” lanjut Nayla dengan nada kesal. “Kesel banget. Aku paling gak suka nomor baru ngechat, apalagi aku gak kenal. Rasanya kayak… ganggu banget.”
“Jadi anak kecil tadi cuma pelampiasan?” tanya Karen sambil mengangkat alis. “Sekarang gimana? Udah agak plong?”
“Iya…” jawab Nayla singkat.
“Plak!”
Ih, Mirna! Sakit tahu!” Nayla refleks memegang lengannya.
“Kasian tahu itu anak! Lo marahin segitunya!” Mirna menatapnya dengan wajah iba. Meski bar-bar, Mirna memang paling lembut kalau soal anak kecil.
“Ya dia juga salah,” bela Nayla. “Kalau takut ya harusnya takut. Ini malah nantangin.”
“Udah, udah,” potong Caca dengan nada tenang tapi tegas. “Gak usah bahas itu lagi. Yang penting sekarang—gimana, Nay? Kamu gak bisa terus menghindari keluargamu.”
“Coba dulu aja, Nay,” sambung Karen. Mirna ikut mengangguk setuju.
Nayla terdiam lagi. Kali ini lebih lama.
“Tapi aku takut ngecewain orang…” ucapnya pelan. “Gimana kalau nanti pada saat perkenalan kita ngerasa cocok… terus deket… terus tunangan… nikah…”
Ia menelan ludah.
“Terus setelah nikah, ternyata sifatnya beda banget. Kita berantem, terus aku minta cerai…”
Ia menggeleng pelan.
“Aku gak enak sama mamanya dia. Dia baik banget… dan dekat sama mama aku. Mereka bahkan bisa dibilang sahabatan.”
“Loh, jadi kamu udah kenal?” Mirna langsung menajamkan tatapannya. “Tadi kamu bilang orang asing!”
Aku cuma tahu namanya doang,” jawab Nayla cepat. “Nggak pernah ngobrol, bahkan papasan aja jarang. Aku juga gak tahu dia sekarang kayak gimana.”
“Tadi kamu udah balas chat dia?” tanya Caca hati-hati.
Nayla menatap mereka sebentar.
“Aku blokir.”
“ASTAGHFIRULLAH, NAYLA!”
Ketiganya langsung berseru bersamaan.
Nayla buru-buru meletakkan jari telunjuk di depan bibir. “Ssttt! Orang-orang pada ngeliatin kita!”
“Ya kamu sih, Nay… ada-ada aja,” gumam
Karen.
“Nay, sini HP kamu!” kata Mirna tiba-tiba.
“Buat apa sih, Mir?”
“Sini aja! Cepetan! Nay! Nayla!”
Dengan enggan, Nayla menyerahkan ponselnya. Mirna langsung mengambil alih sambil terus mengomel panjang lebar—tentang harus ketemu dulu, harus bersikap sesuai umur, tidak boleh terus menghindar, dan berbagai “harus” lainnya.
Nayla hanya diam. Ia tahu, menjawab Mirna
Hanya akan membuat omelannya semakin panjang.
Akhirnya ia mengalah.
Dalam hati, ia juga sadar… ucapan teman-temannya tidak sepenuhnya salah.
Mau sampai kapan ia menghindar?
Omelan Mirna akhirnya berhenti saat makanan datang. Seperti biasa, kalau sudah berhadapan dengan makanan, fokus Mirna langsung berpindah.
Nayla bahkan sempat berharap, semoga setelah makan Mirna tidak lanjut mengomel lagi.
Setelah selesai makan, mereka mengobrol santai sebentar. Topik tentang masalah Nayla pun tidak dibahas lagi, apalagi setelah ia berjanji akan mencoba untuk tidak menghindar.
Mereka kemudian memutuskan berkeliling ke lantai empat, tempat yang tadi belum sempat mereka kunjungi.
**
Ketiga temannya sibuk memilih-milih tas di sebuah toko, sementara Nayla berdiri sedikit menjauh, memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang.
Hingga tiba-tiba—
Buk!”
Seorang anak kecil menabraknya.
Nayla refleks menangkap tubuh anak itu sebelum jatuh. Namun es krim di tangan anak tersebut malah menempel di celana putihnya.
Ia menghela napas.
Dan saat melihat wajah anak itu—
ternyata bocah yang membuat keributan tadi.
Anehnya, kali ini Nayla tidak marah. Mungkin karena suasana hatinya sudah membaik.
Anak itu menatapnya dengan mata melotot, masih seperti menantang, dengan es krim penyok yang mulai meleleh di tangannya.
Namun ada yang berbeda.
Tatapannya tidak sesinis sebelumnya.
Nayla justru mengulurkan tangan dan mengusap kepala anak itu dengan lembut.
“Hati-hati, ya. Jangan lari-larian, nanti kamu terluka,” ucapnya pelan.
Anak itu terdiam.
Raut wajahnya berubah.
Lalu, dengan suara kecil… ia memanggil Nayla dengan sebuah sebutan—
yang membuat Nayla membeku di tempat.