NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Teen / Putri asli/palsu
Popularitas:18.8k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Setelah Clarissa diusir paksa oleh petugas keamanan atas perintah dingin Devan, keheningan kembali menguasai ruang kerja CEO Dirgantara Group. Namun, keheningan kali ini tidak lagi terasa mencekam seperti suasana rapat bisnis. Ada getaran listrik yang tertinggal di udara, sebuah ketegangan yang jauh lebih personal dan intim.

Adelard mencoba memperbaiki letak kerah jasnya yang sedikit miring, berusaha mengumpulkan kembali serpihan martabat profesionalnya yang hampir runtuh. Ia berdehem, matanya tertuju pada tablet digital di atas meja.

"Tuan Dirgantara, seperti yang saya katakan sebelumnya, kontrak ini—"

"Tuan Dirgantara?" Devan memotong dengan nada tidak percaya. Ia melangkah maju, memaksa Adel mundur hingga punggung gadis itu membentur meja mahoni yang dingin. "Tiga tahun aku menunggumu, dan kau menyapaku seolah aku adalah orang asing yang ingin meminjam uang di bank?"

Adel mendongak, mencoba memasang wajah sedatar mungkin. "Kita berada di lingkungan kantor, Devan. Profesionalisme adalah kunci."

Devan tertawa kecil, suara baritonnya bergetar di dada. Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja, mengurung tubuh Adel di antara kedua lengannya. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap lekat-lekat mata cokelat Adel yang selalu berhasil menghantuinya setiap malam.

"Kau jauh lebih pandai bicara sekarang," bisik Devan. Ia mengamati wajah Adel dari dekat—garis rahang yang lebih tegas, tatapan yang lebih berani, dan bibir yang kini terulas lipstik merah bata yang sangat menggoda. "Tiga tahun lalu, kau adalah kuncup bunga yang berusaha bertahan hidup di tengah badai. Sekarang... kau telah mekar dengan begitu menawan, Adelard. Kau tahu betapa sulitnya bagiku untuk tidak menyentuhmu saat kau berdiri di podium kementerian kemarin?"

Pipi Adel mulai memanas. "Hentikan omong kosongmu, Devan. Kau hanya ingin menggodaku agar aku memberikan diskon pada nilai kontrak ini, bukan?"

"Diskon?" Devan menyeringai, matanya berkilat nakal. "Aku bahkan bersedia memberikan seluruh aset Dirgantara Group kepadamu jika kau memintanya. Uang bukan masalah bagiku. Masalahku adalah janjimu."

Adel mencoba mengalihkan pandangan. "Janji apa? Aku tidak ingat pernah menandatangani perjanjian hukum apa pun denganmu tiga tahun lalu."

"Bukan perjanjian hukum, tapi perjanjian jiwa," Devan merendahkan suaranya, menarik satu tangan Adel dan meletakkannya tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang. "Ingat malam itu? Di bawah hujan, saat kau menolak cincinku? Kau bilang: *'Tunggu sampai aku sejajar denganmu'*. Nah, sekarang lihatlah dirimu. Kau adalah CEO yang paling dicari, kau berdiri di puncak kesuksesanmu sendiri. Kau sudah sejajar, Adel."

Adel terdiam. Sentuhan tangan Devan terasa seperti api yang membakar kulitnya. Rasa bersalah yang selama ini ia tekan muncul kembali ke permukaan. Ia sadar betapa egoisnya ia membiarkan pria sesempurna Devan menunggu tanpa kepastian.

"Maafkan aku, Devan..." bisik Adel pelan. "Aku hanya... aku hanya takut jika aku menerimamu dulu, orang-orang akan menganggap keberhasilanku hanyalah karena bantuanmu."

"Aku tahu. Itulah sebabnya aku membiarkanmu berjuang sendiri. Tapi sekarang, masa berlaku penolakanmu sudah habis," Devan semakin mendekatkan wajahnya, hidung mereka hampir bersentuhan. "Aku di sini untuk meminta pertanggungjawaban."

Adel mengerutkan kening, mencoba menahan tawa yang tiba-tiba ingin keluar karena ekspresi Devan yang mendadak sangat serius. "Pertanggungjawaban apa? Aku tidak merusak mobilmu, aku tidak merugikan perusahaanmu—"

"Kau menghamiliku, Adel!" seru Devan dengan wajah sungguh-sungguh.

Adel melotot, mulutnya terbuka lebar karena syok. "APA?! Kau bicara apa, Devan?! Kau gila? Bagaimana mungkin aku—"

"Kau menghamiliku dengan rindu selama seribu hari lebih!" Devan memotong dengan nada mendramatisir, namun matanya tetap menatap Adel dengan penuh damba. "Setiap hari aku memikirkanmu, setiap malam aku membayangkan saat ini. Rindu ini sudah membesar, membengkak di dalam dadaku, dan sekarang ia menuntut untuk dilahirkan dalam bentuk komitmen. Kau harus bertanggung jawab, Nona Mahendra. Kau tidak bisa lari setelah membuat perasaan pria suci sepertiku menderita seperti ini."

Adel tidak tahan lagi. Ia tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa yang lepas dan tulus yang sudah lama tidak ia keluarkan. "Pria suci? Kau? Sejak kapan CEO Dirgantara Group yang kejam ini menjadi sangat puitis dan... konyol?"

"Sejak kau meninggalkanku di tengah hujan seperti kucing yang dibuang," balas Devan, ia ikut tersenyum melihat tawa Adel. Ia merasa seolah beban tiga tahun ini terangkat hanya dengan melihat tawa itu. "Jadi, bagaimana? Apakah kau akan bertanggung jawab atas 'bayi rindu' ini?"

Adel meredakan tawanya, menatap Devan dengan pandangan yang lebih lembut. Ia bisa melihat guratan kelelahan di mata Devan, namun juga ada binar kebahagiaan yang sangat besar di sana.

"Kau benar-benar tidak berubah, ya? Tetap pemaksa dan penuh percaya diri," ucap Adel lembut. Tangannya yang masih berada di dada Devan kini bergerak mengusap jas pria itu. "Aku mengaku salah. Aku bersalah karena membiarkanmu menunggu terlalu lama."

Devan menangkap tangan Adel, mengecup telapak tangannya dengan lembut. "Lalu, apakah ini artinya A-Shield dan Dirgantara Group akan melakukan merger... secara personal?"

Adel tersenyum misterius. "Mungkin. Tergantung bagaimana performa klien saya dalam menjalin hubungan baik dengan CEO-nya."

Devan tertawa rendah, ia menarik pinggang Adel lebih rapat. "Oh, aku akan memberikan performa terbaik yang pernah kau lihat. Aku akan membuatmu lupa bahwa kau pernah ingin hidup sendirian."

Wajah Devan kembali mendekat. Kali ini tidak ada lagi gangguan. Ia menatap bibir Adel dengan intensitas yang membuat Adel menahan napas. "Boleh aku menagih angsuran pertama dari janji itu sekarang?" bisik Devan.

Adel memejamkan matanya, sebuah isyarat izin yang sudah lama dinanti oleh Devan. Namun, tepat saat bibir mereka hampir bersentuhan, ponsel di saku jas Adel bergetar hebat.

*Drrrtt... Drrrtt...*

Adel tersentak dan segera melepaskan diri dari dekapan Devan dengan wajah merah padam. Ia merogoh sakunya dan melihat nama yang tertera di layar: **Tuan Mahendra (Ayah)**.

Ekspresi Adel yang tadinya lembut seketika berubah menjadi dingin dan tajam. Devan yang melihat perubahan itu pun langsung mendengus kesal.

"Tua bangka itu benar-benar punya selera waktu yang buruk," gerutu Devan sambil menyisir rambutnya dengan tangan, berusaha meredakan rasa frustrasinya.

Adel menatap layar ponselnya sejenak sebelum mematikannya. "Dia pasti sudah mendengar kabar tentang tender kementerian. Dan dia pasti tahu bahwa klien misteriusku adalah kau."

"Abaikan saja dia," ucap Devan, kembali mendekati Adel. "Mari kita lanjutkan 'pembahasan' kita yang tadi."

Adel menahan dada Devan dengan telapak tangannya, tersenyum kecil. "Bisnis dulu, Tuan Dirgantara. Tanda tangani kontrak ini, tunjukkan padaku bahwa kau serius dengan proyek ini, baru kita bicara soal... pertanggungjawaban rindu itu."

Devan menghela napas pasrah, namun matanya berkilat penuh janji. "Baiklah. Aku akan menandatangani apa pun yang kau mau. Tapi ingat, Adel, kau tidak akan bisa lari dariku lagi. Aku sudah memesan seluruh sisa hidupmu, dan aku tidak menerima pembatalan pesanan."

Adel tertawa kecil, merasakan kehangatan yang sudah lama hilang dari hatinya. Di tengah persaingan bisnis yang kejam dan pengkhianatan keluarganya, ia akhirnya menemukan satu tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri—di samping pria yang rela menunggunya tumbuh menjadi seorang ratu.

---

1
evi carolin
WOW ..... BADASSS .... rencana kalian benar benar sempurna 👏👏👏
Aletheia: banyak kejutan lainnya kak👍
total 1 replies
Aletheia
besok ya kak🙏
No Nong
lanjuttt thor
HjRosdiana Arsyam
Luar biasa
Aletheia
besok ya kak
Lusisantika
lanjut ka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!